Zona Tetangga

1115 Words
Bisakah kita berteman dengan mantan tanpa melibatkan perasaan? -Undefinable- Daniel menatap Shafa sambil tersenyum. Ini adalah pertama kalinya mereka bicara baik-baik setelah sekian lamanya. Kelakuan cewek di hadapannya tidak berubah total, ia tetap menjadi Shafa yang unik. Hanya saja sekarang sikap Shafa terhadapnya menjadi judes karena kejadian setahun yang lalu. "Fa, baikan sama gue ya? Temenan sama mantan nggak ada salahnya kok," ucap Daniel tiba-tiba yang berhasil membuat Shafa tersedak. Daniel segera menyerahkan air minum miliknya, "Kalo minum hati-hati. Gue cuma ngajak baikan, tapi lo udah tersedak aja. Gimana kalo gue ajak balikan? Bisa-bisa ini gelas ketelen sama lo, Fa," celetuknya. Shafa mendengus sebal, "Apaan sih lo! Gue nggak mau ya balikan sama lo!" "Udah gue bilang, kan. Gue cuma ngajak baikan, bukan balikan," sahut Daniel. "Lagian gue udah punya pacar di kampus gue, Fa," lanjutnya. Shafa terdiam. Oh, jadi Daniel sudah punya pacar? Shafa bahkan belum pernah pacaran lagi semenjak putus dengan Daniel. Lalu kenapa Shafa memikirkan hal ini sekarang? Bukannya Shafa udah move on? Shafa menggigit bibir bawahnya lalu berucap, "Oh, bagus deh kalo lo udah punya pacar. Semoga langgeng," "Aamiin, Fa. Gue yakin, doa dari cewek jomblo kayak lo bakal ter-ijabah." Daniel menadahkan tangannya. Shafa menepuk pundak Daniel dengan keras, "Gue single bukan jomblo!" "Sama aja, Fa," sahut Daniel. "Jadi, gimana? Mau nggak baikan sama gue? Gue nggak mau musuhan sama mantan, Fa. Kelihatannya kayak kekanak-kanakan banget." Shafa terlihat berpikir. Hatinya sempat bergetar ketika mengetahui Daniel sudah memiliki pacar. Ada apa ini? Kalau dipikir-pikir, selama ini Shafa juga capek menganggap Daniel adalah musuhnya. Shafa mulai memikirkan hubungan sebab akibat jika dirinya berbaikan dengan Daniel. Apa mungkin Shafa bisa berteman dengan mantan tanpa melibatkan perasaan? "Oke, kita baikan," sahut​ Shafa spontan membuat Daniel sedikit tak percaya. "Tapi gue punya tiga permintaan," lanjutnya lagi. "Permintaan apa, Fa?" Shafa menarik nafas dalam-dalam, "Pertama, gue pengen dikenalin sama pacar lo." Daniel mengangkat satu alisnya. "Itu doang? Permintaan kedua sama ketiga apa?" "Permintaan kedua dan ketiga masih gue pikirin," sahut Shafa. "Gimana?" "Deal." Sejenak, terjadi keheningan diantara mereka. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga Daniel kembali bersuara, "Kok lo ngelamar kerja paruh waktu kayak gini sih, Fa? Ini bukan lo banget, padahal," gumamnya. Shafa menghela nafas gusar, "Jadi anak pertama emang susah. Makanya gue pengen jadi anak mandiri." Anak mandiri? Ingin rasanya Shafa tertawa, menertawakan dirinya sendiri. Anak mandiri seperti apa yang dimaksud Shafa? Bahkan hingga sekarang dirinya selalu bergantung dengan Fabian, tetangga yang mengaku memelihara anjing. Ah, ngomong-ngomong soal Fabian, cowok itu sedang apa? *** Fabian, Arsen dan Caca sedang berada di taman sekolah. Ini bukan waktunya istirahat, tapi guru yang mengajar di kelas mereka sedang absen, alhasil para berandal kelas seperti mereka keluyuran di luar kelas. "Gue bosen, ish, nggak ada Shafa," gumam Caca, tangannya daritadi tidak bisa berhenti memetik lalu membuang daun bunga hias didekatnya. Arsen mengangguk mengiyakan, "Gue juga bosen, Ca. Hidup gue gini-gini aja, jomblo teroooos." Caca melempar daun yang dipetiknya ke arah Arsen. "Gue lagi ngomongin Shafa, ya, bukan nasib jomblo lo!" kesalnya. "Gimana kalo kita pacaran aja, Ca? Gue bosen jomblo nih," "Amit-amit jabang bayi, lebih baik gue menderita jomblo seumur hidup daripada harus pacaran sama lo, Sen. Dasar nggak waras!" Caca merotasikan bola mata. Arsen memegangi dadanya, dramatis, "Nggak boleh ngomong gitu, Ca. Kalo lo jomblo seumur hidup beneran baru tau rasa, nggak ngerasain surga dunia lo!" "Bodo amat!" balas Caca cuek. Arsen ber-istighfar, "Kita udah temenan lama, Ca. Udah sering sayang-sayangan juga. Masa sih lo nggak ada perasaan apapun sama gue?" tanya Arsen. "Lo tuh kenapa sih, Sen? Tiba-tiba jadi aneh gini. Sakit lo?" Caca mendekati Arsen, lalu menempelkan punggung tangannya di dahi cowok itu. "Gue nggak sakit, Ca. Gue cuma bosen jomblo!" kata Arsen, menyingkirkan tangan Caca. "Jomblo ya jomblo, kenapa malah gue yang jadi sasaran? Ha?" Caca menggeram kesal. Arsen beralih merangkul Caca, "Karena kita udah temenan lama. Udah tau sifat jelek masing-masing. Pacaran yuk?" Caca memutar bola matanya malas. Arsen memang gila. Mana ada cewek yang mau diajak pacaran dengan alasan bosen jomblo? Caca rasa tidak ada. Caca mencoba bersabar dan memaklumi kelakuan temannya yang tidak waras itu, "Ngomong ngaco lagi atau gue bacok?" Arsen bergidik ngeri, perlahan melepas rangkulannya di pundak Caca. Caca itu lumayan galak, senggol dikit bacok. Hadeuh. PDKT tahap pertama dinyatakan gagal total. "Udah ah, gue mau ke kantin. Males deket orang nggak waras kayak lo! Bye!" Caca meninggalkan Arsen. Arsen berdecak, lalu duduk di samping Fabian yang daritadi hanya diam, fokus dengan game online yang dimainkannya. "Gue heran sama cewek zaman sekarang," gumam Arsen. "Kenapa emang?" tanya Fabian sekenanya. "WOY TURUN DI CLOCK TOWER WOY, LU KELEWATAN ANJ*NG!" teriaknya tiba-tiba. Saat ini Fabian sedang mabar dalam mode random squad. Orang-orang dalam squad itu tidak saling mengenal. Hal yang lumrah terjadi jika sesama pemain saling mengeluarkan kata-k********r, contohnya seperti yang di ucapkan Fabian tadi. Arsen memasang ekspresi heran melihat Fabian, "Pantesan Shafa sering marah kalo ngeliat lo nge-game. Lo lupa diri, Bian. Orang yang ada disekitar lo, lo abaikan. Termasuk gue sekarang." "Arghh ponsel gue mati lagi, baru juga mulai." Fabian mengacak rambutnya gusar, hampir saja ia membanting ponselnya lagi. "Lo ngomong apa tadi, Sen?" Lagi, Arsen hanya bisa bersabar. Ternyata dirinya bicara tadi sama sekali tidak dianggap oleh Fabian. "Caca ninggalin gue ke kantin. Lo juga kalo diajak ngomong nggak nyambung, malah fokus main game. Kenapa nasib gue sesuram ini sih?!" Fabian menoyor kepala Arsen, "Baperan lo jadi cowok nyet!" "Gue kan juga manusia, Bian. Punya rasa punya hati, wajar kalo gue baperan." sahut Arsen dengan wajah murung. "Serah lo, Sen, serah." "Ekhm, gue mau nanya sesuatu sama lo. Serius," ujar Arsen tiba-tiba. "Tanya ya tanya aja, Sen. Bacot banget kayak sama siapa aja." Fabian meminum minuman isotonik di sampingnya. Sebelum pergi kesini, ia sempat membelinya di kantin tadi. "Lo kan udah temenan dari lama sama Shafa. Lo punya perasaan lebih nggak sama dia?" Fabian hampir tersedak, buru-buru ia mengusap mulutnya, "Perasaan apa?" "Perasaan yang ngebuat hati lo berdebar-debar pas lagi deket Shafa gitu, Bian." Fabian mengangguk-angguk paham, "Oh itu, sering gue mah." Arsen membulatkan matanya. Jadi, Fabian sering berdebar bila dekat dengan Shafa. Itu artinya Fabian sudah jatuh cin— "Shafa itu sering bikin gue kesel. Dia manja banget, tapi gue gemes sama dia. Kalo dia ngeselinnya udah kelewatan banget, gue sering berdebar gak jelas, pengen marahin dia tapi gue sadar, dia itu cewek, dan cewek harus di istimewakan," jelas Fabian membuat Arsen melongo tak percaya. "Bian, ternyata ada cowok yang lebih nggak waras dari gue," gumamnya. "Haha emang ada ya? Tingkat kewarasan minim kayak lo aja udah bikin orang geleng-geleng kepala. Gimana orang yang lebih nggak waras dari lo? Tunjukin sama gue orangnya, Sen. Biar gue ketawain!" Arsen menoyor kepala Fabian, "Orangnya itu elo, nyet!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD