Bisa saja, pelaku berasal dari seorang yang tak disangka-sangka.
-Undefinable-
Siluet bayangan seseorang mengenakan hoodie berwarna hitam dengan penutup kepala di seberang Fabian membuat Fabian termangu, "Lo siapa?" tanya Fabian. Matanya tak henti-henti meneliti siapa kira-kira orang dibalik hoodie itu.
Orang itu tak kunjung bersuara. Fabian mencoba mendekat, hingga tangannya menyentuh pundak orang itu. Orang itu menjatuhkan sesuatu yang membuat Fabian salah fokus.
Sialnya, orang dibalik hoodie itu berhasil melarikan diri.
Fabian mengacak rambutnya gusar. "Kenapa gue bisa salah fokus sih?!" ia berjongkok untuk mengambil benda yang sengaja dijatuhkan orang tadi. Ternyata itu adalah sebuah name tag. Namun sepertinya itu bukan name tag resmi sekolah, karena bros dibalik name tag itu seperti ditempel menggunakan lem biasa.
Kening Fabian semakin berkerut ketika membaca tulisan di name tag itu.
Student A
"Siapa Student A?" gumam Fabian entah pada siapa. Setelah menimang-nimang keputusan, ia memasukkan name tag itu ke dalam saku celananya, berharap setelah ini ia dapat menemukan orang kurang kerjaan yang menjadi pelaku teror.
Fabian berjalan keluar gedung olahraga. Malam semakin larut dan besok Fabian juga harus sekolah, maka dari itu ia memutuskan untuk pulang. Ketika Fabian memutar kunci untuk menghidupkan mesin motornya, cahaya menyorot tepat ke wajahnya, membuat Fabian menutupi wajahnya karena silau.
"Loh? Den Fabian? Ngapain ke sini malam-malam?"
Suara yang sangat familiar itu membuat Fabian turun dari motornya, menghampiri pria berkumis tebal yang tadi menyorot wajahnya dengan lampu senter, "Saya ke sini mau ngecek sesuatu, Pak."
Pria berkumis tebal itu adalah Mang Sapri, satpam penjaga sekolah yang hanya bertugas di malam hari. Tapi Fabian lebih terbiasa memanggil Mang Sapri dengan sebutan Bapak.
"Ngecek sesuatu apa, Den? Murid disini nggak boleh keluyuran disekolah pada waktu malam, apalagi sudah selarut ini. Kalau terjadi apa-apa, Den Fabian bisa kena tuduh." jelas Mang Sapri.
"Kenapa, Pak?" tanya seseorang yang baru datang, di belakang Mang Sapri.
Fabian menatap seseorang itu dengan tatapan tak terbaca.
Mang Sapri menoleh, "Oh, Den Arash. Begini, Den Fabian datang ke sekolah malam-malam seperti ini, katanya mau ngecek sesuatu."
"Kata Bapak, murid nggak boleh keluyuran di sekolah waktu malam. Lalu kenapa orang ini bisa ada disini, Pak?" tanya Fabian menatap Arash dengan tatapan tak suka.
"Gue nemenin Mang Sapri patroli," balas Arash cepat. Tatapannya sama seperti biasa, datar.
"Bener, Den Fabian. Den Arash bantuin saya patroli. Soalnya belakangan ini banyak aset sekolah yang rusak, seperti kaca jendela kelas yang pecah malam kemarin," balas Mang Sapri menimpali.
Fabian mengangguk, tapi tatapan tajamnya masih ditujukan untuk Arash.
"Den Fabian sebaiknya pulang,"
"Iya, Pak."
"Hati-hati, Den."
Fabian kembali naik ke motornya lalu memakai helm fullface-nya. Tak berapa lama, Fabian sudah meninggalkan kawasan sekolah. Di perjalanan, Fabian mencoba menyambungkan benang merah antara teror di kolam renang dan beberapa kejadian setelahnya. Banyak pertanyaan yang muncul di benak Fabian.
Siapa Student A? Apa yang membuat orang itu berada di tepi kolam renang dengan hoodie yang menutupi hampir setengah badan dan kepalanya? Fabian sangat yakin, Student A lah yang melakukan teror itu.
Pertanyaan lagi, kenapa Arash mau membantu Mang Sapri berpatroli di sekolah pada malam hari? Padahal yang Fabian tahu, Arash adalah anak yang manja. Ayahnya pasti melarangnya keluar malam. Terkecuali, Arash keluar secara diam-diam.
Fabian berdecak. "Student A berhasil melarikan diri. Setelah keluar dari gedung olahraga, gue ketemu cecunguk itu. Aneh banget," ujarnya, bermonolog dengan diri sendiri.
Seketika Fabian megerem mendadak motor sport-nya karena kucing liar yang menyebrang tiba-tiba. "Ah, sial!"
Fabian kembali menjalankan motornya. Entah kenapa satu pertanyaan yang masuk akal muncul di benaknya.
Apa mungkin Student A adalah Arash?
***
"Hai, Kak Bian. Ini buat kakak." Seorang gadis dengan bandana merah muda dikepalanya menyodorkan sebatang coklat dengan pita terikat di bagian tengahnya sebagai hiasan.
Fabian tersenyum tipis mengambil coklat itu, "Thanks, ya.” ucap Fabian dengan kekehan kecil di akhir kalimatnya. Tadinya ia ingin menolak, hanya saja ia teringat akan sesuatu, rezeki gak boleh di tolak kan?
Gadis itu nampak tersipu, "Iya kak. Y-yaudah, kalo gitu aku ke kelas dulu."
"Belajar yang bener," ujar Fabian pada gadis itu sebelum gadis itu memasuki kelasnya. Gadis itu mengangguk malu dengn pipi memerah. Dasar Fabian, tidak bercermin. Memangnya Fabian sendiri sudah belajar dengan benar?
"Nih, Fa." Fabian menyodorkan sebatang coklat tadi pada Shafa di sampingnya, saat ini mereka sedang berjalan di koridor menuju kelas, tapi tiba-tiba gadis tadi memberhentikan Fabian, otomatis Shafa juga berhenti di lorong kelas sepuluh ini. "Sejak kapan gue suka coklat? Aneh-aneh aja itu cewek. Tapi makasih deh,”
Shafa sibuk dengan ponselnya, sehingga tidak memperdulikan Fabian. Namun mulutnya menganga saat tau Fabian menyodorkan coklat itu untuknya.
"Ck, dasar Shafa!" gerutu Fabian namun tetap menyuapi Shafa potongan coklat itu. Hingga tiba dikelas, potongan coklat itu tersisa sedikit. Fabian ingin menyuapi Shafa lagi, tapi seseorang malah mengambilnya tanpa izin. "Aw, tangan gue kegigit b**o!" teriak Fabian.
Arsen tertawa cengengesan, "Gigi gue suci ya, sebuah keberkahan karena gigi gua nggak sengaja gigit jari lo,"
"Bodo amat, Sen." Fabian duduk di kursinya, acuh tak acuh terhadap ocehan Arsen.
Arsen turut duduk di kursi sebelah Fabian, "Ngomong-ngomong, Irish Bella udah sah jadi istrinya Ammar Zoni. Gercep banget si Ammar," racaunya.
Fabian memutar bola matanya malas, "Terus tujuan lo ngomong itu ke gue apa Bambang?"
"Gue juga jadi pengen halalin Caca." gumamnya sambil menatap gadis berambut pirang yang saat ini sedang mengobrol dengan Shafa.
"Kencing belom lurus aja udah berani ngomong mau ngehalalin anak orang. Hadeuh, dasar manusia akhir zaman," celetuk Fabian.
Arsen menoyor kepala Fabian, "Fabian sayang kalo ngomong suka bener. Emang lo kencing airnya keluar lurus aja tanpa di pegang anunya gitu? Nggak miring? Ha?" tanya Arsen bertubi-tubi.
"Ck! Kok jadi ngomongin kencing sih. Nggak waras emang lo, Sen.”
"Kan lo sendiri yang mulai, Cahyanto!"
Shafa dan Caca menghampiri Fabian dan Arsen yang sedang meracau tak jelas, "Bian, malem tadi lo dapet petunjuk apa?" tanya Shafa dengan raut wajah penuh tanya.
Arsen dan Caca menautkan kedua alis mereka heran karena mereka tidak diberitahu Fabian ataupun Shafa mengenai teror kolam renang itu.
Fabian mengambil sesuatu dari dalam tasnya, lalu menunjukkannya pada Shafa. "Student A?" Shafa membaca name tag yang ditunjukkan Fabian dengan kening berkerut, ia jadi teringat direct messenger oleh akun tak dikenal dari aplikasi i********:-nya.
"Lo berdua ngomongin apa sih?" celetuk Caca namun dikacangi oleh Shafa dan Fabian.
Shafa membuka ponselnya, lalu menunjukkan pada Fabian direct messenger yang diterimanya beberapa waktu lalu, "Akhir-akhir ini ada yang nge-dm gue, username-nya @student_a."
Fabian meng-klik profil akun itu. Hanya ada lima postingan, followers-nya juga sedikit, "Kayaknya ini fake account yang sengaja dibikin buat menyamarkan identitas pelakunya."
Arsen yang daritadi diam lantas mengacak rambutnya, "Argh, lo berdua kesambet apaan sih? Ngomongnya ngaco banget!"
"Iya. Fake account? Pelaku? Pelaku apaan coba? Gaje banget," timpal Caca.
"Nanti gue ceritain," ujar Shafa. "Student A. Maksud dari huruf A itu apa? Nama asli pelakunya? Siapa murid di sekolah ini yang nama awalnya A?"
"Gue huruf A. Lo juga huruf A. Tapi gue nggak tau apa-apa," sahut Arsen.
Fabian berdecak, "Gue udah curiga sama seseorang."
Pintu kelas terbuka lebar ketika cowok dengan postur tubuh ideal dan hidung mancung sempurna itu tiba dikelas mereka. Dia adalah putra dari kepala sekolah SMA Adhyastha, "Ngomong-ngomong, Arash nama awalnya juga huruf A." Caca berujar.
Fabian mengangguk, "Gue tau dia benci berenang. Dan kebetulan malem tadi gue ketemu dia sama Mang Sapri di depan gedung olahraga. Gue rasa itu bukti yang cukup,"
Shafa menggigit bibir bawahnya sambil berpikir, "Maksud lo... Student A adalah Arash?"