Tetangga Limited Edition

1055 Words
Karena Fabian satu-satunya. Tetangga limited edition yang diciptakan khusus buat princess Shafa. -Undefinable- Shafa menatap cowok yang sedang sibuk membaca bukunya di meja perpustakaan. Kalau bukan karena Fabian yang menyuruhnya untuk menyelidiki kasus ini, Shafa sangat malas pergi ke tempat yang dipenuhi dengan buku-buku lama ini. Aroma khas buku, Shafa tidak suka itu. Entah berapa kali sudah Shafa bersin karenanya. Tidak ingin berlama-lama di dekat rak buku, Shafa memilih duduk di kursi yang terletak di hadapan Arash. "Hai," Shafa menyapa Arash dengan senyumannya. Arash mengalihkan tatapannya dari buku yang ia baca, lalu menatap heran Shafa, "Tumben banget lo ada di perpus. Kesambet apaan, Fa?" tanya Arash sambil terkekeh. Shafa nyengir, "Gue mau tobat." Arash semakin dibuat bingung dengan tingkah aneh Shafa, "Tobat apanya maksud lo?" "A—anu, Rash. Gue pengen serius belajar sekarang. Tapi gue gak ngerti sama sekali apa yang diterangin guru di kelas," Shafa menarik nafasnya, "Jadi, gue mau belajar sama lo. Bantuin gue ya?" lanjutnya dengan tampang memelas. Dalam hati, Shafa merutuki dirinya sendiri. Shafa itu pemalas, apalagi urusan belajar. Lalu kenapa mulutnya tadi berbicara bahwa ia ingin belajar dengan Arash? Hadeuh, bencana besar bagi Shafa. Arash tertegun, "Serius lo mau belajar?" Shafa mengangguk ragu, "Ya-, serius lah!" "Oke, gue mau bantu lo." Arash tersenyum tipis, "Pelajaran yang menurut lo susah apa aja, Fa?" Shafa terlihat berpikir, "Nggak banyak sih. Pelajaran yang menurut gue susah itu cuma Matematika, Kimia, Fisika, Sosiologi, Ekonomi, Sejarah, Geografi, PKN, Bahasa Indonesia, Seni Budaya, Prakarya, sama—" "Ya itu sih artinya lo kesusahan semuanya, Fa," potong Arash, ia menggelengkan kepalanya. "Nggak kok, Rash. Nilai gue bagus di pelajaran Bahasa Inggris." "Itu doang?" Lagi-lagi Shafa nyengir, "Iya, itu doang. Kebanggaan tersendiri. Kalo Bahasa Inggris sih enteng buat gue." Dasar Shafa. "Lo jadi kerja di kafe milik Daniel sama sodaranya kan? Dapat shift hari apa aja?" tanya Arash. "Gue kerja cuma dua kali seminggu, pada hari Senin dan Selasa, jam pulang sekolah. Daniel mentolerir karena status gue masih pelajar," sahut Shafa panjang lebar. Arash terkekeh, "Ada untungnya juga kan, kerja di kafe milik mantan?" "Ish, apaan sih," sebal Shafa. "Lo punya waktu luang pas pulang sekolah hari apa aja?" tanya Arash lagi. "Jum'at sama Sabtu aja sih. Soalnya kalo Rabu sama Kamis, gue latihan khusus renang. Kalo hari Minggu, gue sibuk quality time sama kasur gue." Arash terdiam sejenak, kata renang sangat berpengaruh untuknya, "Kalo gitu, khusus hari Sabtu, lo bisa luangin waktu buat belajar sama gue?" Ingin menolak, namun Shafa sudah terlanjur basah, lebih baik nyebur sekalian. Dengan hati bergemuruh, Shafa mengangguk, "Bisa kok. Makasih ya udah mau bantuin." Arash mengangguk, "Kalo lo mau jadi lebih baik, kenapa gue harus nolak." Shafa meresponnya dengan senyuman, Arash ingin melanjutkan membaca bukunya, namun Shafa menutup buku tersebut. "Rash, gue pengen nanya boleh nggak?" Arash menautkan kedua alisnya, "Nanya apa, Fa?" "Lo ... kenapa benci renang?" Arash terdiam, raut wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat. Shafa menutup mulutnya, sepertinya ia salah menanyakan ini terlalu cepat. Arash menatap Shafa dengan tatapan tak terbaca, “Kenapa nanya gitu?” *** Shafa pergi ke kantin dengan wajah ditekuk. Di kantin, sudah ada Caca, Fabian dan Arsen yang menunggunya. Melihat ekspresi Shafa yang seperti itu, Fabian angkat suara, "Buset, muka lo kenapa, Fa? Udah jelek tambah jelek aja," Shafa menoyor kepala Fabian, "Ngaca dong, Bian. Lo lebih jelek dari orang paling jelek,” "Pfft," Arsen dan Caca menahan tawanya ketika melihat Fabian mengusap bagian kepalanya yang ditoyor Shafa, "Gimana misi lo, Fa?" tanya Caca. Arsen dan Caca sudah mendengar cerita tentang teror di kolam renang itu dari Shafa dan Fabian. Mereka terkejut, kenapa ada orang kurang kerjaan yang melakukan hal bodoh itu? Walaupun Arsen dan Caca sendiri tidak pintar, setidaknya mereka masih banyak kerjaan sehingga tidak melakukan hal kurang kerjaan seperti pelaku teror itu. Shafa memanyunkan bibirnya, "Kayaknya Arash punya rahasia yang dia simpen sendiri, pas gue tanya soal renang, dia langsung nyuruh gue ganti pertanyaan." Fabian terdiam, tangannya mengepal kuat di bawah meja. Ternyata, si manja itu masih menjadi anak manja yang menyebalkan. Fabian membencinya. "Itu doang yang lo omongin? Kok lama banget?" tanya Caca lagi. Shafa menggeleng pelan, "Gue basa-basi dulu. Entah kenapa mulut gue malah bilang kalo gue mau belajar bareng sama dia." ujar Shafa lalu menelungkupkan kepalanya di atas meja kantin. Fabian, Arsen dan Shafa melongo. Sejak kapan seorang Shafa yang notabene-nya adalah peraih peringkat nomor 5 dari urutan terbawah itu ingin belajar? Menyentuh buku pelajaran saja dia jarang. Lalu apa sekarang? Shafa ingin belajar dengan Arash si ketua OSIS putra dari Kepala Sekolah yang merupakan siswa terpintar seantero sekolah? "Lo serius, Fa?" tanya Fabian. Caca menganga, "Fa, lo nggak sakit kan?" "Lidah lo nggak lagi keseleo kan? Kenapa bisa sampe ngomong gitu, Fa?" Arsen turut menimpali. Shafa mendongak lalu menggeleng pelan, "Sepertinya mulai sekarang hidup gue bakal dipenuhi dengan pelajaran. Ini bukan gue banget. Tapi demi mengetahui dalang dibalik teror itu ... gue rela. Renang segala-galanya buat gue, gue nggak mau klub renang hancur," gumam Shafa, ia mengacungkan genggaman tangannya ke udara. Caca menelan salivanya, "Yaudah, Fa. Semangat ya. Mending sekarang lo makan yang banyak, misi itu bakal menguras banyak tenaga lo." "Mau makan apa, Fa?" tanya Fabian. Mendengar pertanyaan Fabian, senyuman Shafa kembali merekah. "Gue mau ciloknya Bang Jali. Pisang keju di depan gerbang sekolah kayaknya enak juga. Terus, mie ayam punya Mpok Encun kayaknya menggugah selera makan gue banget." Fabian mengangguk, "Ada lagi? Lo mau minum apa?" tanya Fabian lagi. "Es jeruk, tapi es batunya banyakin, sampe penuh. Gigi gue gak sabar pengen ngemilin es batu." sahut Shafa sambil tersenyum manis. "Tunggu disini, gue beliin bentar." Fabian bangkit dari kursinya, lalu membelikan semua makanan dan minuman yang diucapkan Shafa. Arsen dan Caca menganga. Shafa menginginkan makanan sebanyak itu dan langsung dituruti Fabian? Menurut kitab kuning karya eyangnya Arsen, hal ini tidak masuk akal. "Gue suka yang kaya Fabian, tololnya alami tanpa pemanis buatan. Mau-maunya di jadiin babu sama lo," racau Arsen sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Shafa menendang tulang kering Arsen, "Gue nggak ngejadiin Bian babu. Dia baik sama gue karena kita tetanggaan," sinis Shafa. Arsen mengelus-elus bagian yang ditendang Shafa dengan wajah meringis. Caca menggigit bibir bawahnya, "Tapi, Fa ... tetangga macam apa yang baik dan perhatiannya kayak Fabian?" Shafa nyengir lebar, "Karena Fabian satu-satunya. Tetangga limited edition yang diciptakan khusus buat Princess Shafa." Arsen melempar tusuk gigi di hadapannya kepada Shafa, "Princess-princess pala lo peyang!" -Undefinable-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD