Indonesia
Di rumah Afgan,
Masih di ruang TV..
"Oh iya pi, tadi siapa yang telepon ?", tanya Titah.
"Astaghfirullahalazim papi lupa mi, kanjeng romo mau ngomong sama mami", jawab Afgan.
"Oh ya sudah saya ke ruang tengah saja", kata Titah.
"Tunggu mi, papi ikut", sambung Afgan.
Di ruang tengah..
**
Percakapan eyang romo Van Den Berg dan Titah lewat telepon.
"Assalamu'alaikum kanjeng romo", Titah memberikan salam pada eyang romo Van Den Berg.
"Wa'alaikumussalam anakku", eyang romo Van Den Berg menjawab salam dari Titah.
"Kata mas Afgan mau berbicara dengan Titah soal apa ya kanjeng romo, kanjeng romo dan kanjeng ibu apa kabar di sana, di Belanda ?", tanya Titah.
"Ja, mijn dochter, dit is een kwestie van je moeder en nieuws van de goede vader van mijn dochter", jawab eyang romo Van Den Berg.
"Godzijdank, zei vader over moeders vader, moeder waarom vader ?", tanya Titah lagi.
"Je moeder doet pijn aan mijn dochter, het lijkt erop dat ze erg verlangt naar jou en haar kleinzoon, want van gisteren noemde je moeder je, maar je hebt het niet opgehaald", jawab eyang romo Van Den Berg lagi.
"O Allah, ik ben ziek, sorry, mijn vader, ik ben bezig, dus het kan de telefoon niet van moeder tillen", kata Titah.
"Ja, het is niet wat mijn dochter, morgen niet vergeten, bel je moeder, ook al is het een moment ?", sambung eyang romo Van Den Berg.
"Goede vader", kata Titah lagi.
"Ja, dat is alles wat je wilt instellen van de dochter van je dochter, laat groeten achter voor kleinkinderen, vader en moeder", sambung eyang romo Van Den Berg lagi.
"Ja, mijn vader, ik zal Greetings van mijn vader en moeder zeggen voor mijn kinderen", kata Titah lagi.
"Assalamu'alaikum", eyang romo Van Den Berg memberikan salam pada Titah.
"Wa'alaikumussalam", Titah menjawab salam dari eyang romo Van Den Berg.
**
Masih di ruang tengah..
"Titah ku sayang, kamu kenapa ?", tanya Afgan.
"Ibu..", jawab Titah singkat.
"Kanjeng ibu kenapa Titah ku sayang ?", tanya Afgan lagi.
"Ibu sakit mas", jawab Titah.
"Oh sakit, kirain..", kata Afgan.
"Kirain apa mas Afgan ?", tanya Titah.
"Kirain kanjeng ibu meninggal dunia tuan mami, ya kan tuan papi ?", tanya Paijo juga.
"Benar begitu mas Afgan ?", tanya Titah lagi.
"Iya", jawab Afgan.
"Apa!!", kata Titah.
"Eh tidak, tidak, Titah ku sayang", sambung Afgan.
"Awas ya mas Afgan", kata Titah dengan mengancam Afgan.
"Iya Titah ku sayang", sambung Afgan lagi.
"Hehe, susis", kata Paijo meledek Afgan.
"Ih Joya awas ya, hem", kata Afgan yang kesal pada Paijo saat Paijo meledek Afgan.
Di ruang TV lagi..
"Pi, mami kenapa ?", tanya Kamil.
"Papi juga tidak tau mil, tadi habis telepon eyang romo tiba-tiba begitu", jawab Afgan.
"Pi, mami masuk ke kamar ya", kata Titah.
"Iya mi, mi tunggu papi ikut", sambung Afgan.
"Ikut-ikut mulu memangnya mau tour apa tuan papi", kata Paijo.
"Ih kamu ya Joya dari tadi hem..", kata Afgan yang kesal pada Paijo.
Belanda
Di rumah eyang romo Van Den Berg,
Di ruang keluarga..
"Alhamdulillah sudah menelepon Titah, mudah-mudahan besok Titah menelepon Darling, dan semoga besok Darling sudah sembuh", kata eyang romo Van Den Berg.
"Aamiin", sambung Makmur dan Darmi.
"Loh kalian berdua sedang apa disini ?", tanya eyang romo Van Den Berg.
"Ya habis memberikan minum teh hangat dan juga menjenguk kanjeng ibu dong kanjeng romo, ya kan mur ?", tanya Darmi juga.
"Inggih mi", jawab Makmur.
"Oh begitu, darling saya sudah kalian kasih obat belum ?", tanya eyang romo Van Den Berg lagi.
"Alhamdulillah sampun kanjeng romo", jawab Makmur lagi.
"Ya sudah saya mau ke kamar ya, mau tidur", kata eyang romo Van Den Berg.
"Mangga kanjeng romo", sambung Darmi dan Makmur.
"Em..", seru eyang romo Van Den Berg.
Indonesia
Di rumah Afgan,
Di kamar Titah dan Afgan..
"Sayang kamu kenapa sih ?", tanya Afgan.
"Kanjeng ibu, mas, kanjeng ibu", jawab Titah.
"Kanjeng ibu, ada apa dengan kanjeng ibu, Titah ku sayang ?", tanya Afgan yang pura-pura tidak tau kabar dari ayah mertuanya.
"Batin Titah dari tadi tidak tenang dan baru mendapatkan kabar dari kanjeng romo, kalau kanjeng ibu itu mencoba menghubungi Titah dan mas Afgan tapi tidak ada yang angkat, karena kita sibuk kerja, dan sekarang kanjeng ibu sakit mas", jawab Titah jawab Titah yang panik mendengar kabar dari ayah nya.
"Ya sudah kamu kemasi barang-barang mu, kita hari ini berangkat tidak jadi lusa", kata Afgan.
"Tapi mas Afgan..", sambung Titah.
"Sudah bereskan, saya mau bilang ke anak-anak juga hari ini kita berangkat bukan lusa, sekalian saya ingin bicara pada Paijo juga untuk mengantarkan kita malam ini ke bandara", kata Afgan lagi.
"Iya mas", sambung Titah lagi.
Di ruang TV lagi..
"Assalamu'alaikum", Citra, Silvy, dan Zidan memberikan salam pada Kamil dan Paijo.
"Wa'alaikumussalam", Kamil dan Paijo menjawab salam dari Citra, Silvy, dan Zidan.
"Loh mami dan papi kemana uda Kamil, lik jo ?", tanya Silvy.
"Di kamar adiak Silvy", jawab Kamil.
"Iya di kamar mbak Silvy", jawab Paijo juga.
"Kamil, oh anak-anak sudah pulang, jo kamu siapkan mobil, dan untuk anak-anak siapkan barang kalian ya, kita tidak jadi lusa pergi ke Belanda nya, tapi hari ini, oh ya surat izin kalian masukan ke amplop sekarang, oh ya jo habis ini kamu ke ruang TV lagi ya, ada yang ingin saya titipkan ke kamu", kata Afgan.
"Baik tuan papi", sambung Panjo.
"Jum, kamu bantu anak-anak ya", kata Afgan lagi.
"Baik pak Afgan", sambung Jumiati.
"Saya sendiri menghubungi Laras untuk memberitahunya, kalau tidak jadi lusa berangkat ke Belanda nya, melainkan hari ini", kata Afgan di dalam hati.
"Pi suratnya taruh dimana ?", tanya Citra.
"Di meja saja", jawab Afgan.
"Oke..", sorak anak-anak Afgan.
"Duh tidak diangkat lagi, apa Laras sudah tidur ya, padahal kan ini penting", kata Afgan yang mencoba menelepon Laras.
Di kamar Citra dan Silvy..
"Kopernya tolong ambilkan ya mbak Jum, Silvy dan mbak Citra tidak sampai", kata Silvy.
"Inggih mbak", sambung Jumiati.
Di kamar Kamil dan Zidan..
"Kamu siapkan baju kamu dan baju uda ya, uda Kamil mau turunkan koper di atas lemari", kata Kamil.
"Oke uda", sambung Zidan.
Di kamar Titah dan Afgan lagi..
"Sudah selesai sayang ?", tanya Afgan.
"Sudah mas Afgan, punya mas Afgan juga sudah Titah siapkan", jawab Titah.
"Terimakasih ya Titah ku sayang", kata Afgan.
"Iya mas", sambung Titah.
"Ya sudah yuk sayang kita tunggu anak-anak di ruang tengah saja", kata Afgan lagi.
"Yuk mas", sambung Titah.
"Sini kopernya biar mas Afgan yang bawakan, kamu bawa tas saja", kata Afgan lagi.
"Ini mas", sambung Titah lagi.
Di kamar Kamil dan Zidan..
"Selesai yuk kita ke kamar Silvy dan Citra", kata Kamil.
"Iya uda Kamil", sambung Zidan.
Di depan kamar Kamil dan Zidan..
"Loh itu mbak Silvy dan mbak Citra, uda Kamil", kata Zidan.
"Sudah selesai den mas Kamil dan den mas Zidan ?", tanya Jumiati.
"Sudah mbak Jumiati", jawab Zidan.
"Ya sudah yuk sekarang kita langsung ke bawah saja, pak Afgan dan bu Afgan pasti sudah menunggu", kata Jumiati.
"Iya mbak Jumiati", sambung anak-anak Afgan.
Afgan pun menitipkan surat izin anak-anak nya pada Paijo dan juga menitipkan rumah pada Paijo dan Jumiati untuk menjaga rumahnya selama Afgan dan keluarga tidak ada di rumah.