EYang IBU VAN DEN BERG Sakit Rindu 4

1361 Words
Belanda Masih di depan kamar eyang ibu Van Den Berg dan eyang romo Van Den Berg.. "Maturnuwun kanjeng romo", kata Darmi dan Makmur. "Inggih mur, mi, sami-sami", sambung eyang romo Van Den Berg. Indonesia Di rumah Afgan, Di meja makan.. "Alhamdulillah", kata Afgan. "Kenyang, hehe", sambung Zidan. "Oh ya pi, tadi kan kata papi mau ada yang di bicarakan, bicarakan soal apa ya pi ?", tanya Kamil. "Soal eyang ibu di belanda", jawab Titah. "Eyang ibu kenapa mi ?", tanya Kamil lagi. "Dari tadi eyang ibu telepon mami dan papi terus, batin mami tidak enak, dan sudah papi putuskan lusa kita terbang ke Belanda", jawab Afgan. "Berarti kita izin dong pi ?", tanya Silvy. "Tidak sekolah juga dong pi ?", tanya Citra juga. "Iya Silvy, Citra", jawab Afgan lagi. "Oh ya Paijo mana ya mi ?", tanya Afgan. "Mungkin dibelakang pi", jawab Titah. "Jo.., Paijo..", Afgan memanggil Paijo. "Permisi pak Afgan, bu Afgan, saya mau bereskan meja makan, kalau sudah selesai makan malamnya", kata Jumiati. "Oh ya sudah beresin saja saya dan keluarga juga sudah selesai makan kok", sambung Afgan. "Oh ya Jum, Paijo mana ?", tanya Titah. "Di kamarnya bu Afgan", jawab Jumiati. "Oh gitu, ya sudah mas Afgan, saya yang membereskan meja makan saja deh dan kamu Jumiati tolong panggilkan Paijo ke kamarnya ya, bilang di panggil suami saya gitu ya", kata Titah. "Baik bu Afgan, permisi", sambung Jumiati. "Iya", kata Titah lagi. Kring..!! Kring..!!. Suara telepon rumah berbunyi. Di dapur.. "Papi ada telepon di angkat dulu", kata Titah. Di meja makan lagi.. "Iya mi, sekarang kalian buat surat izin, oh ya sekalian kalian buatkan surat izin untuk Zidan ya", kata Afgan. "Oke pi, Silvy minta kertas dan pinjam pulpen sekalian ya", sambung Kamil. "Ini uda", kata Silvy yang memberikan kertas dan pulpen pada Kamil. "Oh ya pi, amplopnya ?", tanya Citra. "Ya beli dong di warung Citra, memangnya papi mu ini pengusaha percetakan amplop apa, haduh..", jawab Afgan dengan mengeluh. "Loh memangnya papi pengusaha apa pi ?", tanya Zidan. Kring..!! Kring..!!. Suara telepon rumah berbunyi. Di dapur lagi.. "Loh kok telepon rumah masih berbunyi sih, mas Afgan..", kata Titah. Di meja makan lagi.. "Iya sayang..", kata Afgan. "Pi jawab dong, memangnya papi pengusaha apa ?", tanya Zidan. "Iya iya papi jawab", kata Afgan. Di dapur lagi.. "Ih benar-benar ya, uda Afgan", kata Titah. Di meja makan lagi.. "Iya sayang, tuh mami sudah panggil papi dan menyuruh papi untuk angkat telepon, nanti papi jawab ya, sekarang papi mau angkat telepon rumah dulu", kata Afgan. "Iya pi, janji ya", sambung Zidan. "Iya si bontot", kata Afgan lagi. Di dapur lagi.. "Uda Afgan..", kata Titah dengan kesal. Di meja makan lagi.. "Iya sayang", kata Afgan yang pergi untuk mengangkat telepon. Di ruang tengah.. ** Percakapan eyang romo Van Den Berg dan Afgan lewat telepon. "Halo", kata Afgan tidak mengetahui eyang romo Van Den Berg yang menelepon. "Hallo Afgan, waarom geef je geen begroetingen, niet beleefd je praat ook met ouders, zoom..", kata eyang romo Van Den Berg yang meminta Afgan untuk mengulangi dengan memberikan salam. ** Masih di ruang tengah.. "Bahasa Belanda, haduh gawat jangan-jangan itu kanjeng romo, ayah mertua saya, blangkon saya mana ya, ini dia, sekarang sungkem", kata Afgan saat mengetahui eyang romo Van Den Berg yang menelepon. ** Percakapan eyang romo Van Den Berg dan Afgan lewat telepon. "Assalamu'alaikum father-in-law", Afgan memberikan salam pada eyang romo Van Den Berg. "Wa'alaikumussalam my son-in-law", eyang romo Van Den Berg menjawab salam dari Afgan. "Where is your wife, your father-in-law wants to talk to him ?", tanya eyang romo Van Den Berg. "There was father-in-law, my wife was in the kitchen", jawab Afgan. "Please call your wife now, about your mother-in-law saying like that to your wife", kata eyang romo Van Den Berg. "Okay father-in-law", sambung Afgan. ** Masih di ruang tengah.. "Titah..", Afgan memanggil Titah. Belanda Di rumah eyang romo Van Den Berg, Di ruang keluarga.. "Eh si Afgan teriak-teriak membuat kuping saya sakit tau", keluh eyang romo Van Den Berg. ** Percakapan eyang romo Van Den Berg dan Afgan lewat telepon. "Afgan Syah Reza", kata eyang romo Van Den Berg. ** Indonesia Di rumah Afgan, Di ruang tengah lagi.. "Waduh gawat kanjeng romo marah lagi, ada apa ya ?", Afgan bertanya-tanya. ** Percakapan eyang romo Van Den Berg dan Afgan lewat telepon. "Yes father-in-law, what's wrong ?", tanya Afgan. "You can not shout, your voice makes my ear hurt", jawab eyang romo Van Den Berg. "Sorry, my father-in-law, I'm calling my wife", kata Afgan. "Yes I know you're calling your wife, but keep your voice from your home phone", sambung eyang romo Van Den Berg. "Okay kanjeng romo", kata Afgan lagi. ** Masih di ruang tengah.. "Tadi kan kata kanjeng romo, suara saya dengan telepon rumah harus berjauhan, ribet banget ya, saya taruh di ketiak saja deh biar tidak ribet, lanjut panggil Titah, sayang..", kata Afgan. Belanda Di rumah eyang romo Van Den Berg, Di ruang keluarga lagi.. "Tadi suara Afgan yang membuat kuping saya sakit, sekarang kok kaya ada bau kecut-kecut ya, bau darimana ya, kalau saya coba saya cium, em tidak, dari sini apa ya tidak juga, em kok baunya dari hpku ya, em benar saja bau kecutnya dari sini, Afgan..", kata eyang romo Van Den Berg. Indonesia Di rumah Afgan, Di ruang tengah lagi.. "Waduh gawat kanjeng romo marah lagi, sekarang apa lagi ya ?", Afgan bertanya-tanya. ** Percakapan eyang romo Van Den Berg dan Afgan lewat telepon. "Yes, father-in-law", kata Afgan. "I want to ask you, where do you put your home phone ?", tanya eyang romo Van Den Berg. "Oh yeah, sorry my father-in-law, I put my home phone in my armpit, father-in-law", jawab Afgan. "No wonder", keluh eyang romo Van Den Berg saat mendengar jawaban dari Afgan. "Meaning father-in-law ?", tanya Afgan. "Ambune kecut", jawab eyang romo Van Den Berg. "Sekali iseh kawula suwun apunten kanjeng romo", kata Afgan. "Nggih sampun pundi putri kawula, garwa panjenengan, kawula karep ngandika padanya soal kanjeng ibu ugi wigatos", sambung eyang romo Van Den Berg. ** Masih di ruang tengah.. "Ih di bilang iya, iya juga dari tadi dasar bawel sama saja kaya istrinya, hem..", keluh Afgan. ** Percakapan eyang romo Van Den Berg dan Afgan lewat telepon. "Hi Afgan, what do you talk ?", tanya eyang romo Van Den Berg. "No, not father-in-law", jawab Afgan. "Okay, okay now quickly call your wife", kata eyang romo Van Den Berg. "Okay kanjeng romo", kata Afgan yang menaruh telepon rumahnya. ** Masih di ruang tengah.. "Heran denai kanapa apak mertua denai biso tau ya a yang denai bicarakan tadi, tapi alah lah panggil urangrumah denai saja biar indak pusiang kapalo denai, sayang..", keluh Afgan yang menaruh telepon rumahnya. Di ruang TV.. "Sayang, loh oh kalian disini, mami mana ?", tanya Afgan. "Tadi habis dari dapur mami ke kamar pi, ambil uang untuk beli amplop kita", jawab Citra. "Oh, tidak usah tunggu mami, ini uang untuk beli amplop", kata Afgan yang memberikan uang pada Citra. "Tapi papi, mami itu titip sesuatu, ya kan mbak Citra ?", tanya Silvy. "Adiak Silvy bana pi, citra tunggu mami saja kaluo dari kamar", jawab Citra lagi. "Ini uangnya Citra", kata Titah yang memberikan uang pada Citra. "Mboten mami, niki papi sampun asih arta kok", sambung Citra. "Oh mekaten, nggih sampun mboten menapa ajrih kirang mangke mami ugi titip sesuatu kaliyan panjenengan ta", kata Titah lagi. "Memangnyo waang titip a sayang ?", tanya Afgan lagi. "Terang bulan uda Afgan", jawab Titah. "Ha..", kata Afgan dengan heran. "Martabak manis papi", kata Silvy menjelaskannya pada Afgan. "Oh.., martabak manih", seru Afgan. "Oke mi", seru Citra. "Rasa keju s**u dong", kata Kamil. "Rasa kacang coklat uda Kamil", sambung Zidan. "Rasa keju s**u enak tau adiak Zidan", kata Kamil lagi. "Rasa kacang coklat lebih enak tau uda Kamil", sambung Zidan lagi. "Begini saja di campur rasanya, jadi Citra nanti beli terang bulan nya kacang, coklat, keju, dan s**u", kata Titah. "Iya mami benar kacang, coklat, keju, dan s**u, terus papi titip yang martabak telur ya dua box", sambung Afgan. "Kurang kali pi", kata Kamil lagi. "Ya ini papi tambahin", sambung Afgan lagi. "Mbak Citra, adiak Zidan ikut", kata Zidan. "Adiak Silvy juga ya", sambung Silvy. "Ya, cepat", kata Citra.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD