1. Klary dan Leon

2635 Words
Di bawah langit sore yang sedang mendung. Seorang wanita tetap keuh-keuh berada di halaman belakang. Dia nampak kesal, emosinya seketika meradang saat mendengar sang suami tengah bermain api di belakangnya. Dengan mata menggelap, dia memegangi senapan yang sudah difokuskan tepat pada arah titik bidiknya. Beberapa detik kemudian terdengar suara tembakan. Tepuk tangan diberikan dari dua orang pengawal yang berada tidak jauh dari wanita itu. "Mantap, Nona. Bidikan Anda sudah sangat bagus. Jika Tuan macam-macam, tembak saja tepat ke arah masa depannya. Selesai semua kan?" Dia tersenyum miring dengan kedua tangan terlipat di pinggang. Masa depan yang dia maksud tentu saja sesuatu dalam tanda kutip. "Aku kesal, rasanya pengen kuhabisi dia!" Melempar senapan itu pada pria bernama Gema Ryon Velosca. Pria jangkung dengan tubuh atletisnya yang terbentuk sempurna. Dia berusia hampir kepala tiga, tapi masih kelihatan muda dan gagah. Statusnya belum beristri, bekerja menjadi pengawal Nonanya. Selain Gema, ada lagi satu pengawal tak kalah menarik perhatian tubuh atletisnya. Dia sering di panggil Jo. Padahal nama aslinya Bram Eric Brahmana. Katanya Jo itu adalah panggilan dari sang ayah sejak dia kecil, entah berasal dari bahasa apa. Sama sekali tidak nyambung dengan nama aslinya. Jo seusia dengan Gema, hanya saja yang membedakan mereka adalah warna kulit. Jo lebih gelap, tapi kalau soal ketampanan ... mereka bisa dikatakan bersaing. Kedua pria itu memiliki tinggi tidak jauh berbeda, hampir dua meter. Bisa dikatakan raksasa, tapi sepadan dengan berat badan yang seimbang. Sehingga Gema dan Jo memiliki tubuh ideal layaknya seorang bodyguard. Mereka setiap hari mengenakan pakaian serba hitam, katanya agar terlihat misterius. Bahkan saat santai begini, mereka mengenakan celana bahan panjang berwarna hitam, dipadukan dengan kemeja senada. Tiga kancing teratas dibiarkan terbuka, menampilkan bongkahan otot yang terukir sempurna. Dadaa mereka sedikit berbulu, begitu pun dengan rahang kokohnya. Wajah mereka kadang terlihat menyebalkan, tapi sangat serius ketika bekerja. Tidak ada senyum, bicara pun seadanya. Gema dan Jo sangat sopan dan profesional dalam pekerjaan. Dia melindungi dan menjaga dengan baik Nonanya, seperti yang diperintahkan sang Tuan--Devano Axelleyc. Keduanya berjanji akan menjadi tameng hidup-hidup, siap mengorbankan nyawa agar Nona mereka tetap selamat. Tapi jangan khawatir, pekerjaan berat ini sesuai dengan bayaran yang mereka terima. Tidak ada yang merasa keberatan, malah inilah yang Gema dan Jo senangi. Mereka adalah bodyguard terlatih yang sudah sangat handal dalam berperang jika terjadi kekacauan. Jo melipat kedua tangannya di depan dadaa, geleng-geleng kepala melihat emosi Nonanya tidak terkontrol. "Selalu saja bilang ingin menghabisi. Tapi nyatanya Tuan tetap hidup sampai sekarang. Mau saya wakilkan, Nona?" tanyanya sarkas, tapi akhirnya dibarengi dengan kekehan agar tidak terlalu kejam. Kaki jenjang wanita itu menapak kasar, lalu duduk di sebuah gazebo. Dia mengenakan celana jeans pendek, mungkin panjangnya hanya sejengkal. Lalu dipadukan dengan tanktop biru langit. Rambut brown silver dengan gaya gelombang miliknya dibiarkan tergerai, beberapa kali diterpa angin hingga berantakan menutup wajah. "Aku nggak paham kenapa dia keras kepala banget. Aku kira dia mencintaiku, ternyata malah playboy cap ikan teri. Dan bodohnyaa, aku sudah kalah duluan. Sejak kami berkencan, aku memang menyayanginya. Aku mau liat seberapa hebat dia bermain. Pernikahan suci jadi kotor gara-gara dia, pengen kubidik akal sehatnya pakai anak panah!" "Tuan Devano mengetahui ini semua, Nona?" "Nggaklah. Jangan sampai Daddy tau, nanti dia sedih. Kamu tahu sendiri gimana Daddy menyayangi menantunya. Aku jadi bingung mau membawa ke mana pernikahan ini. Bener-bener hancur padahal baru banget setengah tahun lamanya. Dia berubah banyak, entah kesalahan apa yang pernah aku lakuin di masa lalu. Balas dendamnya kelewatan kurang ajar!" Wajah cantik itu memberengut masam, menghela napas kasar sembari berpikir keras bagaimana mencari jalan keluar tapi tidak dengan perceraian. Dia tidak ingin kehilangan, meski sering melempari suaminya dengan kalimat kasar. Bodoh dan cinta sedang melangkah beriringan, akal sehat wanita itu sedang dipertaruhkan sekarang. "Nona Klary, Daddy Devano datang. Tuan membawakan roti panggang selai mocca kesukaan Nona." Dari kejauhan, Bibi Giona meneriaki nama Nonanya. Tersenyum lebar, melambaikan tangan dengan ceria. Yap, wanita itu adalah Klarybel Zoe Axelleyc. Putri pertama dari keluarga Axelleyc, kini sudah tumbuh begitu dewasa. Usianya sudah menginjak dua puluh empat tahun, bekerja sebagai seorang CEO di perusahaan ayahnya yang bergerak di bidang industri pertelevisian. Tubuhnya tinggi semampai layaknya model kelas dunia, selain cantik dia juga sangat cerdas. Tidak heran jika diusia mudanya sudah sesukses sekarang. Ada beberapa stasiun pertelevisian yang dia pegang, memperkerjakan banyak orang di dalamnya. Meski sedang banyak masalah, kewajiban dan tanggung jawab tetap nomor satu. Klarybel memiliki seorang adik yang bernama Shane Riley Axelleyc. Lelaki itu juga tumbuh dewasa dan cerdas, dia sedang menempuh pendidikan di Universitas Stanford. Usia mereka terpaut hampir lima tahun, tapi kalau adu kecerdasan mungkin saja Klarybel yang kalah. Riley adalah anak emas--kata Klarybel. Anak dan adik kebanggaan dalam keluarga Axelleyc. Mereka saling menyayangi dan mengasihi. "Jangan bilang apa pun sama Daddy. Kuhajar kalian berdua kalau sampai membocorkan kemirisan rumah tanggaku!" ancam Klarybel pada Gema dan Jo saat ketiganya melangkah menuju rumah. "Aku bakal menyelesaikan sendiri. Cuman menghadapi Leon mah kecil." "Nona sudah terjebak, saya rasa akan sulit menemukan jalan keluar." Gema menaikkan bahu. Saking dekat dan akrabnya mereka, saling mengejek pun bukan perihal serius. Kendati Klarybel masih sering merajuk, tapi tidak pernah saling mendiamkan apalagi membenci. Jo mengusap rahangnya. "Katanya tidak boleh berada dalam kebodohan. Tapi Nona sedang ada di posisi itu. Apa belum sadar juga?" Sebenarnya kedua pengawal itu gemas dengan kelakuan Leon, tapi masih menghormati Devano dan Klarybel. Andai tidak ... sudah habis sejak kemarin. Klarybel berdecak, meninju perut Gema dan Jo secara bergantian. "Sialan kalian berdua. Mau bermain-main dengan senapanku?" Memicingkan mata elangnya, lalu melangkah lebih dulu meninggalkan. Selain pandai bermain dengan senjata, Klarybel juga hebat bela diri. Didikan Devano tidak pernah gagal, termasuk untuk melindungi diri sendiri. Leon adalah suami Klarybel. Usia mereka terpaut tidak jauh berbeda, hanya tiga tahun. Leon juga seorang CEO di perusahaan Devano, tetapi mengurus bagian property. Namanya menantu kesayangan, apa pun yang Leon sukai akan didukung oleh Devano. Mereka sudah seperti anak dan orangtua kandung. Tidak ada yang namanya hanya menantu, tapi posisi Leon sudah sama seperti Riley. Ngomong-ngomong, Leon ini sebatang kara. Tidak memiliki orangtua, dan tidak tahu siapa keluarganya. Katanya dulu Leon kabur dari panti asuhan, kemudian nekat merantau ke Jakarta. Dia pernah bekerja serabutan, hingga menginjak usia delapan belas tahun--sebelum hari beruntungnya ketemu Devano tiba. Mungkin karena dulu Devano pernah berada di posisi Leon, makanya dia simpati. Sangat mengasihi anak itu hingga membiayai semua kebutuhan dan membuat Leon sesukses sekarang. Tidak mengecewakan, Leon emang tahu diri jika bersama Devano. Tapi entah kenapa setelah menikahi Klarybel, semua jadi berubah. Dulu mereka saling membahagiakan. Entah apa yang terjadi sebenarnya, masih menjadi tanda tanya besar. "Daddy, aku kangen. Kapan balik? Keadaan Riley gimana? Anak itu nyebelin, masa dia nggak ada nelepon aku dari kemarin. Liat aja, nanti bakal aku omelin. Mentang-mentang ada Daddy liburan ke sana, aku dilupain. Biasanya kan selalu ngadu semua hal sama aku!" Klarybel mengerucutkan bibir, kemudian duduk di sambil Devano sambil menyandarkan kepala pada bahunya. "Mommy kok nggak ikut, aku lama nggak ke rumah utama. Sibuk kerja. Semalam aja pulangnya subuh, apalagi liat model-model aku pada nggak becus kerja. Bawaannya bikin emosi!" Devano tertawa. "Aduh, anak Daddy. Kenapa marah-marah terus sih? Nggak bosen mulutnya ngomel mulu?" Mengusap puncak kepala putrinya. Membiarkan mulutnya penuh dengan roti panggang mocca, biar lebih sibuk mengunyah daripada mengomel. "Mommy ada di rumah, dia sedang sibuk mengurus kucing kesayangannya. Katanya Mommy bakal menyusul ke sini. Malam ini kami numpang menginap ya?" "Oke, boleh kok. Mas Leon palingan sebentar lagi pulang." Menghela napas. Lelah sebenarnya harus pura-pura baik di hadapan orangtua. Sementara ketika tidak ada mereka, Klarybel dan Leon lebih sering cekcok. "Mama kok suka banget ngurus kucing. Lebih lucuan Hole, Xio, dan ular-ular aku. Bulu kucing bikin gampang bersin." Berbeda dengan ibunya yang lebih suka hewan kecil menggemaskan seperti kucing dan anjing, Klarybel malah seperti Daddynya. Dia senang memelihara ular, buaya, dan harimau. Seperti sudah menjadi kebiasaan, binatang buas dimata mereka menjadi lucu. Kemarin malah ada serigala juga, cuman sudah mati. Klarybel sampai menangis sehari semalaman. "Beda dong, Sayang. Gimana Hole kamu ... udah sembuh kan?" Hole adalah harimau besar milik Klarybel. Sering diajak main di halaman. Mereka memiliki ruangan khusus di sebelah, tempat para hewan peliharaan. "Udah sehat, Dad. Dia udah pecicilan lagi. Bahkan tadi pagi pas makan, suaranya kedengeran sampai ke sini. Mungkin sekarang lagi tidur. Bentar lagi bangun tuh, kan udah jamnya lapar dan harus dikasih makan." Setiap sebulan sekali biasanya dokter hewan datang, mengecek kondisi kesehatan dan memberikan vitamin. Tapi jika musim sedang tidak menentu, bisa juga lebih cepat--dua minggu sekali. Takutnya mereka ikutan sakit akibat perubahan cuaca. "Gema dan Jo selalu ikut kamu pas kerja kan?" Klarybel mengangguk. "Ikut terus. Daddy jangan khawatir, mereka bekerja baik banget. Bahkan selalu tanyain aku lapar atau enggak, ingetin kesehatan aku juga. Kalau lelah sebaiknya segera pulang, dan sebagainya. Aku nyaman sama mereka, kerjaannya juga rapi dan bisa diandalkan." Yang pasti Gema dan Jo adalah pemegang terbesar rahasia kehidupan Klarybel, termasuk pertikaian rumah tangganya dengan Leon. "Selamat sore, Dad. Aku melihat di luar ada mobil, senang Daddy bisa main ke sini. Gimana kabarnya sehabis pulang dari tempat Riley?" Leon memeluk Devano, saling menyapa hangat. "Tadi aku habis teleponan sama Riley, dia bercerit banyak hal saat Daddy di sana." Bukan hanya dekat dengan Devano, Leon juga saling menyayangi dengan Riley layaknya saudara kandung. Dengan Alesha juga, selalu bisa mengambil hati mereka. Klarybel akui, suaminya memang sangat baik dan pekerja keras. Dia juga pintar berbisnis, makanya bisa memegang kepercayaan menjadi pemimpin. "Daddy baik. Kamu sendiri gimana? Jangan terlalu lelah bekerja, harus memiliki banyak waktu berduaan sama Klary. Daddy nunggu cucu nih, maunya kapan, hum?" Klarybel langsung tersedak, mengambil minum. "Dad, apa sih? Aku dan Mas Leon masih sama-sama sibuk. Mungkin nggak tahun ini." Dia duluan menjawab. Bagaimana bisa hamil, mereka berhubungan bisa dihitung jari selama enam bulan pernikahan. Paling cuman tiga kali. Itu pun karena Klarybel yang memaksa dan cekco dulu, saat Leon mabuk, dan malam pertama mereka. Menyedihkan sekali! Entah Klarybel kurang menarik perhatian bagi Leon, hal ini jelas membuatnya sangat terluka. "Mungkin tahun depan, Dad." Leon tersenyum, sama sekali tidak melirik Klarybel. "Aku ke dapur, Dad. Kalian mengobrol aja dulu. Aku sekalian mau ngasih makan Hole sama Xio." Menaikkan bahu, lalu beranjak. Sangat jengah melihat Leon, ingin sekali menonjok wajahnya. "Sedih eh?" Jo menaikkan sebelah alis. Sedang duduk di teras sambil menikmati jus jeruk miliknya. "Sialan, ngagetin aja!" Klarybel memekik, hampir saja daging segar untuk Hole dan Xio jatuh ke lantai. "Mulut kamu dijaga sedikit. Mau kusuruh Hole nyakar muka kamu?" Mendelik tajam dengan bibir mencibir pedas. "Setiap Tuan dan Nyonya ke sini, selalu ditagih cucu ya, Nona?" "Iya. Sampai bosan aku dengernya. Leon kurang ajar, nanti bakal kubicarain sama dia. Berani banget dia nipu Daddy dan Mommy yang udah baik sama dia. Orang nggak tau diri mah susah." "Yakin bakal berhasil?" "Jo, kamu selalu pintar meledekku. Masih mending aku punya suami ya, daripada kamu nggak laku-laku!" "Lebih baik kayak saya, Nona. Jelas statusnya. Sendiri tapi tidak banyak pikiran--bahagia. Daripada Nona punya suami tapi rasa jomblo." Klarybel menyalakan keran, mengarahkan selang tanaman kepada Jo. "Resek. Pergi mandi sana! Kuadukan Daddy baru tahu rasa kamu." Jo melototkan tajam. Jusnya sudah bercampur air keras, sementara surat kabarnya basah. "Nona tidak lucu bercandanya. Saya baru saja mandi dan ganti pakaian. Astaga!" Mengusap rambutnya, geleng-geleng jengkel. Selalu kalah telah ketika bercanda dengan Klarybel. "Siapa suruh meledekku? Sana pergi, aku mau sendirian!" "Haduh, saya yang rugi kalau begini caranya." Menghela napas pasrah, lalu melenggang pergi menuju kamarnya. **** Leon menarik tangan Klarybel, menutup pintu kamar mereka dengan kasar. "Lepasin. Kamu apa-apaan sih narik-narik nggak jelas. Sakit!" Mendorong Leon kasar, berniat melangkah melewatinya. "Minggir nggak?!" "Ngomong apa sama Mommy? Kok kamu bilang lagi berantem sama aku? Jangan suka ngadu, Klary, aku nggak suka." Klarybel menganga, memukul dadaa Leon. "Harusnya kamu yang sadar diri. Kamu itu dihidupin sama orangtua aku sejak dulu. Bukannya terima kasih malah nyakitin anaknya. Kamu sadar nggak udah giniin aku selama kita menikah? Daddy dan Mommy terus-terusan nanyain cucu. Sementara kamu niat nyentuh aku aja enggak. Tapi malah sok-sokan selingkuh di belakang aku!" "Akal sehat kamu dipake ya. Aku bisa aja ngadu sama mereka. Biar semua kejayaan kamu diambil sama Daddy!" Menggertakkan giginya, memperingati Leon dengan tegas. Leon tersenyum miring. "Berani? Silakan lakukan, kamu akan jauh lebih menyesal dari ini. Aku bisa jauh lebih jahat dari yang kamu pikirkan, Klary." "Kenapa nikahin aku kalau gitu? Kamu munafik banget tahu nggak?" Klarybel berdecak dalam kungkungan suaminya. Sedih dan terluka. Dia mencintai Leon, tapi sangat sulit meraih pria itu. Bahkan pernah Klarybel nekat tanpa busana di hadapan Leon, tapi pria itu beneran tidak menunjukkan reaksi apa pun. Harga diri Klarybel benar-benar tidak ada artinya. "Kamu yang main-main duluan, Klary. Aku hanya menunjukkan gimana caranya menyakiti dengan benar." "Apa maksud kamu? Aku mencintai kamu, aku nggak pernah nyakitin kamu. Aku nggak pernah selingkuh, aku nggak pernah bercintaa dengan pria selain kamu. Malam pertama kita aja, kamu yang pertama bagi aku. Kurang jelas gimana lagi? Ayolah, jangan bercanda. Aku pengen juga punya rumah tangga yang manis kayak Daddy dan Mommy. Jangan sakitin aku. Aku mohon. Kembali jadi Leon yang dulu, aku rindu kamu." Berjinjit, memeluk pria itu dengan tubuh bergetarnya. "Aku menyayangi kamu." Terisak pilu, kembali mengalah agar Leon sadar jika cintanya tidak main-main. Leon memijat pangkal hidung, memejamkan matanya untuk menahan sesuatu. "Lepasin, Klary, sebelum aku lebih marah dari ini." "Nggak. Aku bakal penuhi yang kamu mau. Aku bakal jadi istri yang baik. Aku bakal berhenti bekerja kalau kamu maunya itu. Aku mohon jadikan aku istri dan milik kamu seperti pasangan normal lainnya. Jangan cuekin aku mulu. Apa aku kurang menggoda di hadapan kamu begitu? Aku kurangnya apa, Leon?" Leon melepaskan pelukan Klarybel, menjaga jarak dari wanita itu. "Aku nggak cinta kamu." "Bohong! Kamu cinta aku. Kamu dulu perhatian dan selalu sayang sama aku. Tapi setelah kita menikah semuanya berubah. Aku harusnya yang tanya. Kamu kenapa?" "Kamu nggak seharusnya bahagia, Klary. Aku akan ajari kamu gimana rasanya hidup dalam luka." Dengan tangan terkepal, rahang Leon sudah mengetat dengan tatapan menggelap. Klarybel menggeleng, bibirnya bergetar tidak dapat menahan tangis. "Aku bakal teriak biar Daddy dan Mommy tahu keadaan kita. Apa yang harus aku lakuin biar kamu kembali kayak dulu?" "Nggak ada!" "Daddy minta cucu. Apa kamu nggak memikirkan kebaikan Daddy selama ini? Harusnya kamu mencintai aku, menjaga dan menyayangi aku sebagai rasa terima kasih. Bukan malah menyakiti aku sesempurna ini, Leon." "Berhenti menangis! Aku sama sekali tidak tertarik dan merasa kasihan. Malah semakin gedek dengan kelakuan kamu. Mana Klarybel yang kuat dan hebat itu? Jika kamu kesal, kamu bisa membalas dengan memukul atau menembakku." Klarybel mengusap air matanya. "Kalau aku bisa ngelakuinnya, udah dari kemarin kamu mati. Tapi aku punya perasaan. Aku takut kehilangan kamu. Aku menyayangi kamu, kamu suami aku. Sebenarnya bagian mana yang belum kamu mengerti, huh? Kenapa kamu nyiptain pesakitan ini di dalam rumah tangga kita. Aku minta maaf kalau aku ada salah. Aku mau kamu kayak dulu." Dia mendekati Leon lagi, meraih tangan pria itu yang langsung ditepis kasar. "Leon sakit. Jangan jahat sekali aja bisa nggak?!" "Aku memang jahat." "Enggak. Kamu baik. Andai sejak awal kamu jahat, nggak mungkin aku mencintai kamu. Nggak mungkin kita sampai menikah. Aku yakin kamu menyayangi aku." "Harusnya kamu sadar jika aku sedang melakukan permainan. Aku sama sekali nggak menyayangi kamu!" Klarybel menatap nanar Leon. "Begitu?" Lalu mengangguk paham. "Oke. Makasih udah nyakitin aku sebesar ini. Kita tunggu aja seberapa hebat kamu giniin aku. Aku juga bisa balas perlakuan kamu. Jangan heran kalau rumah tangga kita berjalan semakin gilaa!" "Aku tunggu. Lakukan saja!" Tanpa ragu, Leon menantang. Senyuman bak seorang iblis keluar dari dalam diri Klarybel. "Baik. Kamu yang mau ya? Aku harap nggak ada yang menyesal nantinya. Kamu yang nyuruh aku jadi jahat." Melangkah melewati Leon, kemudian berbaring di kasur dengan posisi membelakangi suaminya. Klarybel menangis dalam diam. Luka di hatinya semakin menganga lebar. Bukannya beusaha mengobati, Leon malah kembali menaburkan garam. Mereka bersama, tapi tidak untuk saling mencintai. Akankah berakhir bahagia?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD