Pukul 21:30, Hani mengunci pintu kamarnya dari dalam, kemudian ia keluar lewat jendela. Tuan Yuan sudah menunggu Hani di depan gank, sebab mobil Yuan tidak bisa masuk kedalam gank tersebut. Takut ada yang mengenalinya, Hani menggunakan pakaian tomboy, menggunakan topi juga. Hani terlihat seperti laki-laki, sebab suka ada pemuda yang nongkrong di pos ronda.
Tok tok!
“Tuan, buka pintunya. Saya mau masuk.” Hani masih celingukan, takut ada yang mengikutinya.
Tuan Yuan membuka kaca mobil. “Kau beneran Hani?”
“Iya, Tuan.”
Yuan menutup kaca mobilnya terlebih dahulu. Kemudian membuka pintu mobilnya. Buru-buru Hani masuk kedalam mobil, lega sekali karena tidak ada yang mengenalinya.
Hani membuka topinya, rambutnya langsung terurai panjang. Hani terlihat sensual sekali, membuat Tuan Yuan menelan salivanya susah payah.
“Buka sweater nya!” perintah Tuan Yuan.
“Nanti saja, Tuan,” tolak Hani.
Tangan Yuan mencengkram mulut Hani. “Kata saya buka, buka! Cepat buka!” Yuan tetap memaksa Hani untuk membuka switer yang Hani gunakan.
Hani menurut, dia langsung melepaskan switer yang berwarna hitam itu. Hani hanya menggunakan kaos yang terlihat ketat, belahan dadanya pun terlihat, bahkan ukuran dan bentuk dua gundukan kenyal itu pun terlihat nyata di mata Yuan.
“Wow! Indahnya .... “ Tangan Yuan mulai menyentuh lembut.
Seperti biasa tidak ada penolakan dari Hani, takut dengan ancaman Tuan Yuan.
Hani mengigit bibirnya, memejamkan matanya membuat Tuan Yuan jadi bergelora, tak biasanya Tuan Yuan merasakan sesuatu di balik celananya yang mulai terasa sempit seperti ini, aset berharga yang akan membuat perut wanita membengkak selama sembilan bulan itu mulai ON. Milik Yuan ini sama sekali belum pernah bertemu dengan sangkar emas surga loka, dan mendadak jadi tegak sempurna begini.
'Ah, sial! Cewek ini sukses membuat milik saya hidup.’
Namun, Yuan tetap menahannya. Tangannya masih menyentuh lembut dua gundukan kembar yang menggantung di d**a Hani, dua gundukan ini masih tertutup rapat oleh pakaian gadis itu.
“Kita lanjut di Hotel,” bisik Yuan, Hani langsung membuka matanya.
“Iya, Tuan.”
Sebelumnya, Yuan sudah cek in. Sesampainya di hotel, Yuan dan Hani segera ke kamar yang sudah Yuan pesan.
“Berbaringlah di atas ranjang. Dan lepas pakaian atasmu, biarkan polos agar saya bisa leluasa menikmatinya,” ucap Tuan Yuan memerintah.
“T-tapi, Tuan .... “
“Tapi apa? Kau mau menolak?” tanya Yuan dengan tatapan membunuh.
“B-bukan maksudnya begitu, Tuan.”
“Lalu?”
“Tuan janji’ kan? Tuan tidak akan macam-macam? Tuan hanya sekedar ingin menikmati aset saya yang kembar saja’ kan?” tanya Hani memastikan, sekujur tubuhnya sudah gemetar, gadis ini benar-benar sangat ketakutan.
Untuk pertama kalinya, Hani berada di kamar hotel yang menurutnya lebih serem dibandingkan dengan kuburan.
“Tidak akan! Saya hanya ingin itu saja seperti tadi di kantor. Kalau saya sudah tidur, kau boleh pergi. Ongkos taksinya akan saya siapkan di atas nakas.”
Hani percaya. Dia langsung melepas pakaiannya hingga kacamata yang menutupi buah kembar yang menggantung di atas dadanya.
“WOW!” Tuan Yuan menelan salivanya kasar saat melihat tubuh Hani polos sebagian.
Ragu, Hani merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan perasaan hatinya yang sudah berdebar-debar. Jujur saja, Hani benar-benar sangat takut sekali.
Yuan ikut membaringkan tubuhnya disebelah Hani, keduanya tidur miring saling berhadapan.
Sebelah tangan Yuan mulai bermain-main di sana.
Seperti biasa, Hani melenguh, tubuhnya terasa bergelora sekali, sensasinya benar-benar dahsyat.
“Please ... jangan mendesah. Saya gak kuat mendengar suaramu,” pinta Yuan.
Hani langsung mengigit tangannya agar tidak mengeluarkan suara ketika Tuan Yuan lagi menikmati milik Hani yang menjadi kesukaan Yuan.
Tubuh Hani semakin sulit menolak. Hani juga termasuk gadis normal, mendapatkan sentuhan nikmat seperti ini membuat gadis ini malah ingin lebih dari sekedar bermain di situ saja, malah sekilas otak mesumnya traveling kearah plus plus.
Begitu juga Tuan Yuan, dia merasa pedang saktinya semakin menyempit, ternyata Hani berbeda dengan para wanita yang sudah menemani kebiasaan anehnya ini.
“Aahhk, uummmmm!” Desahan lolos dari mulut Hani begitu saja membuat gelora Yuan semakin semakin bertambah.
“Hani, saya menginginkannya?”
“Hah?” Hani melotot, “mak-sud, T-tuan apa?”
Namun, Tuan Yuan malah turun dari ranjang. “Pulanglah!” perintah Yuan.
“Hah? Pu-pulang? Maksud Tuan?”
“CEPAT PERGI!” bentak Yuan, “Atau mau saya bu-nuh?” bentak Tuan yang masih berdiri membelakangi Hani.
“Bukannya kata Tuan, saya pergi itu kalau Tuan sudah tidur.”
“CEPAT KELUAR, GADIS BODOH! KELUAR ATAU MA-TI?”
“I-iya, Tuan.” Buru-buru Hani menggunakan BRA dan juga kaosnya.
Hani tidak mengambil uang ongkos yang sudah disediakan oleh Yuan.
Hani buru-buru keluar setelah dirinya menggunakan pakaian lengkap.
Napas Yuan memburu, dia menjatuhkan bobot tubuhnya di ujung ranjang, Yuan duduk dengan tatapannya yang membunuh, kedua tangan Yuan meremas celananya.
“Kenapa gadis itu malah membuatku bergelora? Kenapa hasratku malah ingin menyentuh gadis itu lebih dari sekedar itu. Sial! Ternyata dia punya daya magnet yang luar biasa, kalau begini caranya lama kelamaan saya pasti akan – ?”
Meskipun Yuan punya kebiasaan aneh, tapi Yuan berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak melakukan penyatuan.
Yuan akan tetap memberikan aset berharganya kepada wanita yang tepat, kepada wanitanya yang akan menjadi pasangannya kelak, setelah halal pastinya.
Aset Yuan semakin ON, terpaksa Yuan menidurkannya sendiri. Saat di ruang kerjanya juga Yuan sudah begini, namun dia masih bisa menahannya, namun berbeda dengan malam ini, Yuan hampir tidak bisa menahan. Maka cara baiknya, Yuan menyuruh gadis itu untuk pergi.
***
Hani tetap masuk kerja, semalam Hani aman karena tidak mengundang curiga ibu dan bapaknya. Seragam kerja yang Hani gunakan memang terlihat pas di body-nya, mungkin karena body Hani semok.
Tuan Yuan melewati Hani yang tengah membersihkan lantai di lantai 6, Yuan merasa tidak suka dengan seragam yang digunakan Hani.
“Minta ganti seragam kamu, jangan ketat seperti itu. Saya tidak suka, milikku kau umbar,” ucap Tuan Yuan berbisik.
Yuan berlalu pergi, tidak mau memancing kecurigaan.
“Ish ... siapa yang mengumbar? Emang baju ini ngepas gitu? Perasaan enggak. Emang dasar mata Tuan Yuan saja yang m***m!” gerutu Hani.
Namun begitu, Hani akan tetap menurut dari pada nanti kena omel lagi. Hani akan meminta ganti kepada Pak Adam dengan seragamnya yang sedikit longgar.
[Setelah selesai membersihkan lantai, masuklah keruangan saya]
Hani menghela napas pelan. Setiap mendapatkan chat dari Yuan, sontak membuat jantungnya berdebar.
Hani masuk kedalam ruang kerja Tuan Yuan membawa peralatan kerjanya.
“Ada apa Tuan?” tanya Hani menunduk.
“Menikahlah dengan saya,” ucap Yuan serius.
“HAH? T-tuan bercanda?” Tubuh Hani kembali gemetaran.
Tuan Yuan mendekati Hani, dia mengunci pintu menggunakan remote.
“Saya serius, Hani. Saya ingin menikahi mu!” ucap Yuan yang kini berdiri di hadapan Hani.
“Ta-tapi, Tu – “
Belum saja selesai bicara, mulut Hani langsung dibungkam oleh bibir Yuan. Hani melotot saat dirinya mendapatkan serangan dadakan dari Yuan. Tuan Yuan mencium bibir Hani yang ranum dengan rakus.
“Mmmmm!”
“Kau gadis luar biasa, Hani. Maka dari itu, saya ingin menjadikan kau istriku, tapi kau tetap menjadi teman di ranjang saja," ucap Yuan, ujung ibu jarinya mengusap sisa saliva dibibir Hani.
"Hah?" Hani terbelalak mendapatkan tawaran menikah dari Tuan Yuan.