SEBELUMNYA!
"Kenapa, Om?" tanya Raffa.
Sepulang dari Hotel, Yuan mendatangi kediaman Raffa, merasa tidak mood jika harus pulang ke rumah.
"Om Yuan punya sugar baby bayaran. Dia masih gadis, Om suka dengan gundukan kenyalnya yang kembar, rasanya beda, bahkan ukurannya juga pas."
"Terus?"
"Kamu tahu sendiri kan, Raffa? Om Yuan tidak pernah ada hasrat apapun selain ingin itu saja. Tapi beda dengan gadis itu, pertama kali Kak Yuan menyentuhnya, ada hasrat lain selain itu. Om tidak mungkin menyentuh sampai merenggut kesucian gadis itu meksipun sudah Om bayar," papar Tuan Yuan.
"Yasudah, Om nikahi saja sugar baby-nya. Gampang ' kan? Mungkin saja, si sugar baby ini wanita yang selama ini Om Yuan cari," kata Raffa memberikan saran.
Tuan Yuan terdiam, dia tengah mempertimbangkan ucapan Raffa. Sebenarnya Yuan ini sangat trauma dengan yang namanya pernikahan. Phobia karena papanya diselingkuhi oleh mamanya, Yuan jadi takut kelak dia juga akan diselingkuhi oleh pasangannya.
"Om takut menikah, Raffa. Pernikahan itu menyeramkan," ucap Tuan Yuan setelah diam beberapa saat.
"Maksud Raffa, jadikan wanita itu penangan halal kamu, Om. Jadi, Om akan bebas menyentuh dia. Kalau Om udah merasa bosan, kan Om bisa ceraikan dia. Jadi pernikahan ini hanya status doang sih."
Tuan Yuan menghela napas pelan, apa yang dikatakan Raffa emang ada benarnya juga.
"Apakah gadis itu mau? Terus kalau dia sampai hamil bagaimana? Om Yuan tidak mau gegabah."
"Astaga, Om. Om Yuan bisa menggunakan pengaman, atau bisa juga mengeluarkan benih Om di luar. Ya meskipun Raffa tidak pernah melakukannya, tapi Raffa sering baca di artikel," ujar Raffa terkekeh.
"Iya juga sih. Baiklah, akan Om pertimbangkan lagi," ujar Tuan Yuan.
Suara desah Hani masih terngiang-ngiang, Yuan benar-benar ingin sekali menikmati semua milik Hani tanpa terkecuali. Hani memang gadis yang berbeda, tidak biasanya Yuan segila ini sampai ingin mencium bibir Hani, bahkan ingin memasukkan pedang sakti pencipta yang akan menghasilkan bibit unggul silsilah Atalla.
***
"Gimana Hani? Saya menunggu jawaban kamu?" tanya Tuan Yuan, jari telunjuknya terus menyentuh bibir Hani, ingin sekali lagi dia mencium bibir Hani yang ranum.
"Ke-kenapa Tuan jadi ingin menikahi denganku?" tanya Hani, tubuhnya masih gemetar.
"Karena saya ingin tubuhmu, Hani. Tidak lebih. Kau tetap menjadi teman nafsu saya tapi dengan status yang halal," ujar Tuan Yuan, "tidak akan pernah ada satu orangpun yang mengetahui tentang status hubungan kita, Hani."
"Ta-tapi, Tuan. Kalau saya hamil bagaimana? Saya tidak mau ya, baiknya saya jadi begini saja." Hani langsung menolak, dia takut benar-benar takut jika dirinya sampai hamil.
"Tidak akan sampai hamil, tenang saja. Jadi bagaimana? Bayaran kamu akan saya tambah."
Hani terdiam. Meskipun bayarannya naik, tapi tetap saja Hani merasa takut. Jika hanya menjadi ibu s**u saja tidak akan ada bekasnya, berbeda jika Hani merima tawaran Tuan Yuan untuk menjadi teman di ranjang dengan status halal, otomatis akan ada bekasnya. Akan jadi pertanyaan dari suaminya kelak.
"Jawab, jangan diam!" Mulut Hani sampai dicengkeram. Tak sabar Tuan Yuan ingin segera mendengar jawaban Hani.
"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa. Saya tetap tidak mau," tolak Hani.
"Apa kau bilang?"
Tuan Yuan merasa tidak terima dengan penolak dari Hani. Ia mendorong tubuh Hani kasar sampai tubuh Hani terhempas di atas sofa.
"Tuan! Tuan mau ngapain?" Hani melotot saat Yuan melepas pakaiannya bagian atas sampai d**a bidangnya terlihat jelas di mata Hani.
Tubuh Tuan Yuan yang kotak-kotak seperti roti sobek membuat Hani menelan ludahnya kasar.
"Jika kau menolak. Terpaksa saya akan main kasar," ancam Tuan Yuan, dia sudah berada di atas tubuh Hani.
"Jangan, Tuan, jangan." Hani berusaha berontak, namun tenaganya tetap kalah dengan tenaga Yuan.
Bibir Yuan semakin mendekati bibir Hani. Namun, tiba-tiba saja Yuan tersungkur karena asetnya mendapatkan serangan maut dari kakinya Hani.
"s**t!" teriak Yuan kesakitan.
"Maafkan saya, Tuan. Maaf," ucap Hani lirih, air matanya terus mengalir.
Yuan beranjak berdiri, dia meringis menahan sakit.
"Kalau gitu, kau harus mau menerima tawaran saya, Hani. Menikah dengan saya, menjadi teman ranjang saya, " ucap Yuan.
Sebenernya barusan hanya cara Yuan untuk menakut-nakuti Hani saja. Yuan Attala tidak sejahat itu, meksipun dia sangat menginginkannya, tapi Tuan Yuan ingin statusnya halal dulu. Tidak mau sampai melanggar janjinya sendiri, meskipun kadang wanita wanita yang dia bayar menawarkan dirinya untuk disentuh namun Yuan selalu menolak.
"Apa mau ibumu mati dulu, baru kau mau menerima tawaran saya?" Lagi-lagi Hani harus mendapatkan ancaman dari Tuan Yuan.
Saat ini Tuan Yuan tengah menggunakan pakaiannya lagi.
"Jika kau setuju, saya akan mempersiapkan semuanya," ucap Yuan yang tetap memaksa Hani, "tidak masalah kau menolak, tapi jangan salahkan saya jika nanti kau melihat jasad ibu dan bapakmu."
Hani geleng-geleng kepala, dia benar-benar menyesal karena sudah menjadi salah satu karyawan di perusahaan ini sehingga dia dilibatkan pilihan sulit seperti ini.
"Tuan jahat!" pekik Hani terisak, "kenapa Tuan jadi pengen menikah denganku?"
"Suruh siapa kau menggoda. Jadi jangan salahkan saya jika saya tergoda," ucap Tuan Yuan santai.
Hani masih menangis, bibirnya yang tadinya masih suci kini sudah ternoda seperti dua gundukan kembarnya.
"Jangan munafik, Hani. Kau juga pasti menginginkannya. Selain mendapatkan bayaran banyak dari saya, kau juga akan mendapatkan kenikmatan surga dunia dari saya," ucap Tuan Yuan enteng.
Hani tertunduk. Dia merasa tidak ada harga dirinya sama sekali sebagai perempuan, kenapa nasibnya sampai seperti ini. Harga dirinya ditukar dengan sejumlah uang.
Ancaman Tuan Yuan sepertinya terlihat sangat serius.
"Kalau begitu, Tuan Bu — Nuh saya saja!" ucap Hani.
BRAKK
Tuan Yuan malah memukul kasar meja kerjanya, mana mungkin dia melenyapkan gadis yang sudah membuat dirinya gila seperti ini.
"Jangan bertele-tele, Hani. Baiknya segera kau putuskan sebelum saya berbuat yang tidak-tidak," ucap Yuan melotot, napasnya sudah mulai memburu.
Hani memejamkan matanya, tubuhnya masih terlihat gemetar. Hani benar-benar dilema, dia masih ingin menjaga keperawanannya. Meksipun Hani melakukannya dengan Tuan Yuan yang akan menjadi suaminya, tetap saja pernikahan ini hanya status saja, status Hani akan tetap menjadi teman ranjang Tuan Yuan.
"Ba-baik, Tu-Tuan, saya bersedia. Saya akan menjadi b***k nafsu Tuan dengan status sebagai istri Tuan," ucap Hani menunduk.
"Nah bagus dong! Sekarang kau boleh keluar. Saya akan mempersiapkan semuanya, nanti saya akan hubungi kamu."
Hani mengangguk. Namun, Hani bertekad kalau dirinya akan membuat Tuan Yuan jatuh cinta padanya.
'Pernikahan bukanlah permainan. Sepertinya aku harus bisa menaklukkan Tuan Yuan agar dia bisa jatuh cinta padaku. Tapi ... gimana caranya? Toh aku saja belum pernah pacaran. Hmm, sepertinya aku harus baca-baca artikel cara menaklukkan pria aneh seperti Yuan Attala.' Hani berkata dalam hatinya.