[Pulang dari kantor, saya akan ke rumah kamu. Jangan katakan apapun sebelum saya datang] ~ Yuan Atalla.
Hani baru mengganti seragam kerjanya, dia sudah menggunakan pakaian biasa. Ketika ada chat masuk, Hani segera menyalakan layar ponselnya. Dan benar saja dugaan Hani, chat tersebut dari Tuan Yuan.
[Iya, Tuan], balas Hani.
Sebenarnya, Hani tidak yakin akan mendapatkan restu dari ibu dan bapaknya. Apalagi usia Hani masih terbilang muda, baru sembilan belas tahun, tiga bulan lagi usianya menginjak dua puluh tahun. Hani juga tidak tahu pasti, alasan yang akan Tuan Yuan katakan kepada orangtuanya.
Apalagi, katanya Yuan akan meminta pernikahan ini dirahasiakan.
‘Kenapa harus ada pernikahan sih? Aneh saja Tuan Yuan ini. Kenapa dia jadi ingin menikahi ku?’ gerutu Hani dalam hati.
**
Tepat pukul tujuh malam, rumah Hani yang nampak sederhana ini kedatangan dua orang pria dewasa. Siapa lagi kalau bukan Yuan dan Asistennya, sama-sama menggunakan pakaian berdasi sebab keduanya baru pulang dari kantor.
“Maaf, mau cari siapa?” tanya Ibunya Hani syok dengan kedatangan dua orang pria kaya.
“Bolehkan kami masuk? Ada sesuatu yang ingin kami sampaikan,” ucap Asisten Tuan Yuan terlihat ramah, nada suaranya juga terdengar sopan.
“Oh boleh,” kata Ibunya Hani mempersilahkan dua orang ini masuk kedalam rumahnya.
Hani sudah menduga yang datang bertamu adalah Tuan Yuan, gadis itu masih berdiam diri di dalam kamar, tidak akan keluar sebelum dipanggil.
“Maaf, jika kedatangan kami mengganggu,” kata Asisten Tama.
“Tidak kok, Tuan, sama sekali tidak mengganggu,” kata Pak Nandi, bapaknya Hani.
“Sebelumnya, izinkan kami untuk memperkenalkan diri. Saya Tama Hardian-Asisten pribadinya Tuan Yuan Attala, pria yang duduk disebelah saya namanya Tuan Yuan, dia pemilik perusahaan ATALLA GRUP,” papar Asisten Tama.
“Tentu saja, kedatangan kami kesini ada maksud dan tujuan yang jelas,” lanjutnya.
“Katakan saja, maksud kedatangan kalian berdua apa?” tanya Pak Nandi penasaran.
“Tuan Yuan Atalla, dia begitu tertarik kepada anak gadis Bapak yang bernama Hani. Tuan Yuan Atalla ingin menikahi Hani, menjadikan anak gadis Bapak sebagai istrinya,” kata Asisten Tama.
Ibu dan bapaknya Hani begitu syok sekali mendengarnya, keduanya saling lempar pandang.
“Jadi ... izinkan Tuan Yuan Atalla menikahi anak gadismu, Bapak Nandi. Pernikahan anak gadismu dan Tuan Yuan Atalla tentunya dirahasiakan, jangan sampai ada yang mengetahui tentang status Hani. Kalian tidak akan merasa rugi jika menyerahkan anak gadis kalian kepada Tuan Yuan, alangkah baiknya agar semuanya lebih jelas, Bapak dan Ibu baca saja surat perjanjian ini,” kata Asisten Tama sembari menyerahkan sebuah map.
Ragu, Pak Nandi meraih map itu dari tangan Asisten Tama.
“Putrimu sangat menyenangkan, saya sangat menyukainya, dan saya ingin memilikinya seutuhnya,” ucap Tuan Yuan yang baru buka suara.
Pak Nandi dan Ibunya Hani masih membaca surat perjanjian tersebut, terkesan menjual Hani kepada pengusaha itu, pria paling kaya di kota ini.
Di sana tertera, bahwa Yuan Atalla akan memberikan sejumlah uang 1 Miliar kepada ibu dan bapaknya Hani jika setuju menikahkan Hani dengannya. Dijelaskan juga jika pernikahan ini hanya pernikahan siri, dan hanya sementara sampai batas waktu yang tidak bisa Yuan pastikan. Dijelaskan juga, tidak akan sampai membuat Hani hamil, rahim Hani akan terjaga dengan baik.
“Maaf, Tuan Yuan Atalla, putri saya bukan barang dagangan yang bisa ditukar dengan uang,” tolak Pak Nandi seraya menyatukan kedua telapak tangannya.
“Yakin? Anda mau menolak? Anda sama sekali tidak tergiur dengan bayaran 1 miliar? Atau bayaran ini kurang?” kata Asisten Tama.
“Saya tegaskan, putriku bukan barang dagangan. Pernikahan macam apa ini? Harga diri lebih segalanya dibandingkan uang. Maaf Tuan Yuan Atalla, kedatangan Anda sangat menganggu, jadi baiknya kalian berdua keluar dari rumah saya,” kata Pak Nandi tegas.
Yuan Atalla yang tersadar jika sedari tadi Hani menguping, dengan memberikan kedipan mata kepada Hani membuat gadis itu paham. Dia yakin, meskipun bapak dan ibunya menolak, Hani pasti akan tetap menjadi teman Tuan Yuan di ranjang, tidak mau juga dirinya mendapatkan ancaman.
“Kalau begitu, bersiaplah dengan segala resiko yang akan terjadi karena Pak Nandi sudah menolak tawaran kami,” kata Asisten Tama.
Namun, ibunya Hani sangat menginginkan uang itu. Dengan uang itu akan merubah hidupnya yang jadinya miskin jadi kaya. Lagian, uang lebih segalanya dibandingkan harga diri, bukan? Jika tidak ada uang bisa kelaparan, hidup pun tidak akan damai, tentram jika tidak ada uang.
“Bu, Pak. Hani mau kok menikah dengan Tuan Yuan. Jadi Hani mohon terima tawaran ini. Ibu benar, uang lebih segalanya dibandingkan harga diri, Pak. Lagian, Hani sudah terlanjur ternoda, hik!” Hani langsung bersimpuh di bawah kaki ibu dan bapaknya.
“Maksud kamu apa, Hani?” tanya Pak Nandi.
“Hani sudah tidak suci. Tuan Yuan sudah menodai Hani, maka dari itu Tuan Yuan ingin menjadikan Hani istrinya,” kata Hani lirih.
“Maka berikan saya restu untuk menikahi anak gadismu yang menyenangkan itu, Pak Nandi. Saya tidak akan melukai anak gadismu, saya hanya ingin dia selalu menemani malamku yang kelam,” ucap Tuan Yuan.
“Pak, Bu, Tuan Yuan bukan orang sembarangan, Hani tidak mau sampai keluarga kita kenapa-napa. Tuan Yuan paling berkuasa, dia bisa melakukan apa saja yang dia inginkan. Untuk itu, Hani mohon ... berikan restu kalian,” ucap Hani lirih.
“Astaga!” Pak Nandi mengusap wajahnya secara kasar, dia tidak ikhlas anak gadisnya hanya sekedar dijadikan b***k oleh Tuan Yuan Atalla.
“Hati Bapak sakit, Nak, kamu anak kebanggaan bapak. Rasanya, Bapak tidak rela kamu hanya dijadikan – “ lirih Pak Nandi.
“Sudahlah, pak. Benar kata Hani, kita jangan cari masalah dengan Tuan Yuan,” ucap Ibunya Hani, yang notabene hanya ibu tiri, maka dia setuju-setuju saja jika Hani menikah dengan Tuan Yuan demi uang 1 miliar.
“Tapi ... saya minta satu hal padamu, Yuan Atalla,” kata Pak Nandi serius, air matanya mulai menitik tak bisa dicegah.
“Apa itu?”
“Jangan pernah main fisik, jangan pernah melukai anak gadis saya, karena saya sebagai ayahnya tidak pernah berbuat kasar. Selagi Hani menjadi istrimu, kau jangan main perempuan lagi, cukup dengan Hani saja. Perlakukan dia dengan lembut meskipun dia hanya kau jadikan b***k nafsu? Jika kau membuat luka di tubuh Hani, saya akan mengambil putriku secara paksa. Saya rela nyawa saya melayang, asalkan putriku bisa selamat, dan saya akan kembalikan uang 1 miliar itu. Saya tidak akan menggunakan uang itu, sebelum putriku kau kembalikan lagi padaku,” kata Pak Nandi panjang lebar.
“Pak! Apa-apaan sih! Terus uang 1 miliarnya mau kamu kemana kan?” tanya wanita yang statusnya sebagai istri Pak Nandi.