"Sarah! Kamu yang bener pemanasannya, masa lesu-lesu gitu?" Tegas pak TiomemelototiSarah dari depan sana, teman-teman yang lain hanya mengabaikannya sementara Johnny entah kenapa ia tiba-tiba ingin tertawa.
Sarah sontak menengok ke belakang "Apa lo?" Teriaknya sebal dengan suara cempreng.
Johnny hanya mengalihkan pandangannya tanpa merespon apapun. Sarah mendengus sebal lalu mendongkak kan kepalanya kearah Johnny. "Ngapain?" Ujarnya
"Ngapain-ngapain! Gue yang harus ngomong ngapain sama loe!"
Johnny lagi-lagi mengalihkan pandangannya, ia berusaha untuk tak peduli sama sekali. Sarah semakin kesal pada Johnny, ia meraih rambut Johnny lalu menariknya dengan sangat keras.
"Aww! Lepasin gue" teriak Johnny yang lalu melepaskan tangan Sarah sangat kasar "Aw" desis Sarah pelan, ia memegangi tangannya yang katanya sakit karena perlakuan Johnny. Johnny memandanginya dengan rasa bersalah "Sakit?" Sarah hanya mengangguk mengerucutkan bibirnya
"Makanya lo jangan macem-macem ke gue!" Johnny meleos tanpa dosa.
Mata Sarah terbelalak "a***y!!!" Teriaknya sebal
Sarah mengibaskan kipasnya tepat ke tubuh indahnya itu, ia sangat gerah karena seharian ini ia berlarian mengitari lapangan ditambah hukuman pak tio pada Sarah karena jajan sebelum olahraga selesai. Sarah memejamkan matanya, ia berusaha untuk serilex mungkin. Sangat rilex... rilex.. rilex...
Bugh! Dentuman nada yang tercipta dari mejanya membuat Sarah membuka matanya lebar-lebar, terlihat sosok aneh yang sangat ia sebal dimuka bumi ini, Johnny.
"Napa sih?" Teriak Sarah
"Kemana sepatu gue!" Ia memelototiSarah jauh lebih seram daripada Sarah
"E.. apaan?"
"Sepatu gue!" Dengan nada yang ditekan, Johnny mengepalkan tangannya.
Sarah hanya melongo yang ia tahu dirinya hanya menyembunyikan sepatu Johnny ditong s****h depan lapangan karena Johnny yang selalu menatapi Sarah dengan tatapan misteriusnya itu sontak membuat Sarah sebal dan melakukan hal tadi saat Johnny bermain bola voli karena melepas sepasang sepatunya, menurutnya itu hanya hal sepele sangat sepele, ia kira Johnny akan sangat mudah menemukannya.
Johnny mendongkak kepalanya "Loe masih idup?" Desisnya pelan pada Sarah yang masih mengingat-ngingat kejadian tadi.
"Hah"
"Sepatu gue!"
"Apaan? Ko jadi nanyain ke gue?"
"Dimana sepatu gue?" Ujarnya lagi darah Johnny rasanya semakin naik saja
"Apaan sih, fitnah itu lebih kej..."
"Aww!" Sarah ditarik paksa oleh Johnny "Loe bawa gue ke mana?" Teriak Sarah membuat telinga Johnny panas, Johnny semakin mencengkeram tangan Sarah.
"Aw! Sakiittttt kenapa sih kasar amat" ia nampak kesakitan, Johnny menghentikan langkahnya. "Ke mana in sepatu gue?" Tegasnya
Sarah menunduk sebal "Tong s****h di lapangan!" Desahnya pelan
"What? Buat apa" Johnny membelalak kaget, dasar cewek gila, cewek super gila
Johnny berjalan meninggalkan Sarah "Dasar cowok aneh! Eeeee gue benci sama loe!" Teriak Sarah selantang mungkin
Johnny membalikkan badannya, tau akan hal itu Sarah segera memasuki kelasnya kembali dengan berlari.
Kantin.
Sarah berjalan seanggun mungkin menuju kantin, ia ditemani Bella di sampingnya. Ia duduk di tempat biasa "Bel, mau beli apa?"
"Seperti biasa"
Sarah mengitari pandangannya ke seisi kantin "Mana sih kelvin" desis nya pelan. Bela menggenggam tangan Sarah "Tuh" ujarnya
Sarah tersenyum dengan lebarnya "Eh iya" ia langsung membenarkan tatanan rambutnya yang ia kuncir rapi.
Kelvin duduk di sampingSarah "Beib, udah makan belum?" Sarah menggelengkan kepalanya
"Ya sudah, tunggu disini! Aku yang pesan" kelvin kembali berdiri dan menuju tukang bakso
"Sekalian buat Bella!" Teriaknya
"Bel, kelvin sweet banget ya?" Desahnya pelan sambil memeluk-meluk Bella erat
"Aw! Sakit bodoh" gerutunya "hehe" Sarah melepaskan pelukannya.
"Jawab bel" teriaknya sebal
"Iya'iya"
"Hmm, dia itu idaman gue banget tau! Gue pengen deh selamanya bareng kelvin" mata Sarah menerawang ke langit, membayangkan dirinya bersama kelvin.
"Anak gila" desis Bella pelan menggeleng-gelengkan kepalanya, Bella ini memang pendiam namun disaat ia berbicara siapa pun tak bisa menduga-duganya.
Tak lama menunggu kelvin datang, entah ada angin dari manaJohnny tiba-tiba mendekati Sarah dengan wajah yang sulit untuk diartikan."Apa?" Teriak Sarah
Mata Johnny nampak kearah kakinya ia menggunakan sepatu yang kotor dengan refleks pun pandangan Sarah menuju kesana, Sarah mengalihkan matanya dengan sangat cepat setelah tahu apa maksud kode Johnny.
"Aduh bel, kayanya kelvin gak tau pesanan lo! Gue kesana dulu ya?"
Tangan Johnnymencengkeram tangannya kuat-kuat "Ganti rugi!" Desisnya pelan tepat ke telingaSarah
"G-gue gak ada waktu Johnny!" Ia berusaha lepas dari tangan Johnny namun Sarah tak bisa mengelak lagi ia tak bisa melawan energi tubuh Johnny."Lepasin gue!"
"Tanggung jawab dong!" Tegasnya
Sontak semua murid memperhatikan perbincangan mereka, kini banyak tebakan berbeda-beda dari setiap siswa.
Masa iya si Sarah perkosa Johnny? Atau si Sarah ngancurin make up Johnny? Eh Johnny kan cowok.Karena topik itulah yang sering muncul di kantin, kala Sarah bertengkar dengan teman-teman cewek, sering-seringnya sih dengan Siska.
"Johnny lepasin gue!" Teriak Sarah, ia kini bingung harus bagaimana ia lari dari Johnny apalagi kalau kelvin sampai tahu semua ini.
"Bersihin sepatu gue!" Bentaknya
"Lo jahat banget sih!"
"Bukannya loe yang ngotorin" kini mereka semua tahu apa yang menyebabkan perkelahian antara cowok misterius nan menawan itu dengan cewek centil ratu drama dan musuh besar bp.
Siapa yang menyangka Johnny ada waktu untuk berkelahi dengan Sarah? Aneh, buang-buang waktu saja.Johnny semakin erat memegang tangan Sarah ia tak peduli dengan keadaan sekitar yang memperhatikannya karena yang ia tahu siapa pun yang dengan sengaja mengusik dirinya ia takkan memaafi orang itu.
"Lepasin pacar gue" tegas kelvin menghalau tangan Johnny ia menatapinya jauh lebih tajam daripada Johnny.
Johnny kini membalas tatapan kelvin, bakalan ada ribut besar nih."Stop!" Tegas Sarah menjauhkan keduanya yang kian semakin memanas
"Bilang sama pacar loe itu gue gak ada waktu buat gangguin pacar nya!" Johnny menatapi Sarah
"Apaan maksud loe? Terus kenapa loe deketin pacar gue hah?" Teriaknya nampak seperti menantang
"Jelasin kedia kalo loe udah cari masalah sama gue!" Nadanya nampak ditekan Johnny menunjuk-nunjuk kelvin tanpa melihat wajahnya, ia hanya fokus menatap wajah Sarah.
"Udah-udah loe pergi John" teriak Sarah menggema seisi kantin
"Kenapa kamu malah belain dia?" Tegas kelvin menatap Sarah aneh
Johnny memutuskan untuk meninggalkan mereka, kelvin menarik tangan Johnny dengan kasarnya mewakili emosi nya kali ini yang kian membara. Johnny masih menatapnya datar "Mengapa pegang-pegang tangan gue? Setelah loe ambil mangkok bakso loe udah pasti in loe cuci tangan dulu sebelum pegang tangan gue?" Desisnya pelan, rahang kelvin mengeras.
Kepalan tangannya kian mengeras karena sudah tak kuat ia tahan lagi ia hendak mendaratkannya di pipi Johnny, namun Johnny menghalaunya dengan cepat.
"Bilang sama pacar loe, jarak satu senti pun dari gue dia musti cuci tangan sesteril mungkin" desahnya pelan, meski itu terdengar oleh orang-orang karena keadaan kantin kian menegang saja.
Kelvin menatapi Johnny dengan penuh amarah "Gue tunggu loe di markas bruzly"
"Sibuk" ia pergi hendak meninggalkan
"Sekali lagi loe deketin pacar gue! Abis zeskate loe itu"
Johnny menoleh ke belakang "Loe bakalan putus, bentar lagi! Gue yang jamin" ia meleos pergi tanpa merasa ada yang salah dalam ucapannya itu, Wah bakalan ada trending topic nih.
Sarah memegang tubuh kelvin "Apa maksud loe? Woy!" Teriak kelvin
"Udah udah sayang! Jangan ladenin dia"
"Kamu kenapa sih jadi Bella-belain dia?" Sarah menghembuskan nafasnya pelan "Bukan gitu"
"Ah udahlah"
"Jangan lupa bersihin sepatu gue!" Teriaknya dari kejauhan. Kelvin mengepal tangannya semakin keras rahang wajahnya pun sama.
Johnny duduk santai di kursinya, ia merasa penat akhir-akhir ini setelah ia mengenal gadis aneh itu, bahkan ia mulai merasa aneh dengan dirinya sendiri kenapa tadi dikantin ia mengatakan hal yang sangat bodoh ia terlihat menantang kelvin untuk merebutkan Sarah, yang sangat tak pantas untuk dirinya.
"Huh, bodoh" decak Johnny pelan, hal tersebut terdengar oleh Lukas dan Karel yang mendadak melirik Johnny bersamaan.
"Napa John?"
"Gak"
Johnny kembali menutup matanya serilex mungkin, sangat rilex, rilex.
"Heuheuheeuuu hmm hikshiks" namun lagi-lagi ada yang mengganggu dirinya ia membuka matanya lebar-lebar dilihatnya Sarah yang lagi-lagi mengusik ketenangannya. Sarah terlihat menangis dan dielus elus punggungnya oleh Bella "Udahlah"
"Tapi kelvin jadi cuek gitu heuuheuu" tangisannya kian menggema seisi ruangan
"Loe bisa diem gak!" Tegas Johnny
Sarah sontak melihat kearahnya dan langsung mendekati dirinya "Ini semua gara-gara lo" bentak Sarah memandangi Johnny benci
Johnny merasa terganggu dan memutuskan untuk pergi meninggalkan gadis aneh itu. "Dasar cowok pembawa s**l, gara gara lo hidup gue jadi berantakan!"
"Gara gara loe kelvin jadi beda ke gue!"
"Gara gara loe semangat gue buat ke sekolah ilang!"
"Gara gara loe gue yang awalnya pendiam jadi teriak-teriak kampungan gini"
Bela menoleh "Gue gak salah denger?" Sarah hanya tersenyum menampakkansederet gigi putihnya
"Astaga dragon! Pokonya gue benci Johnny bel! Seriusan"
Sarah memutuskan untuk duduk dibangkunya berusaha setenang mungkin untuk mengendalikan dirinya, yang ia pikirkan saat ini ialah perkataan Johnnydi kantin yang membuat siapa pun heran jika mendengarnya, nampak seperti ancaman yang sangat diluar nanar Sarah.
Halaman sekolah.
"Jadi pemuda yang membawa golongan tua ke Rengasdengklok" desisnya pelan sambil terus memandangi buku dengan seriusnya
Dua orang dari kejauhan sana nampak mendekati Johnny yang sibuk duduk di halaman yang dikelilingi pepohonan besar, membuat suasana sangat mendukung Johnny untuk belajar.
"Bro! Disini lu?" Gusar Karel, Johnny masih menunduk sibuk membaca dan diam tanpa tertarik untuk bicara.
Kedua temannya pun duduk di sampingJohnny "Ngasih tugas iya! Masuk kelas juga iya" gerutu Lukas
"Yeah, mrs shark! Dua kali repotnya kita menghadapi guru itu"
"Andai ada lelaki yang mau sama bu Sulis, gue orang pertama yang bakal datangi orang itu" jelas Lukas
"Hah? Napa. Loe cemburu?"
"Amit-amit, gue cuma mau ngasih duit sama orang itu, buat jauhi bu Sulis. Gue takut aja dia mati mengenaskan kalo punya istri macam badak bercula dua!"
"Engga! Kalo gue malah mau diemin aja, biar apa yang loe bilang tadi terjadi. Abis itu bu Sulis pasti dipenjarakan, nah baru kita aman!" Bangga Karel dengan senyuman mengembang diwajahnya
Johnny menatapi kedua temannya serius "Kalau punya niat sebejat itu ke seorang guru, mendingan loe berdua masuk SLB aja, baru enak gue dengar nya."
Kedua teman Johnny malah saling tatap "Loe sih awalnya!"
"Loe gokong"
"Diem; gue keganggu!" Serius Johnny dengan santainya
Lukas menatapi Johnny serius "Eh John, nanti ngumpul lagi?"
Johnny hanya mengangguk tanda mengiyakan ucapan Lukas "Akhirnya setelah lama zeskate maen, akhirnya maen lagi" teriak Karel.
Johnny mengerucutkan keningnya "Hehe, saking senengnya! Wajarlah orang ganteng John" jawabnya datar dengan senyum bodoh diwajahnya
"Dia bukan temen gue!"
"Apalagi gue!"
Karel menaikkan ujung bibirnya karena sebal dengan kelakuan teman-temannya ia memang cukup tampan namun perawakannya hampir menyerupai Lukas, tak sedikit orang pun bilang kalau mereka itu kembar padahal kenal pun baru di SMA.
"Denger gak?" Lukas memberi mimik muka tak kalah seriusnya
Johnny kembali mengerucutkan keningnya "Suara motor John!" Teriak Karel semangat, dan kembali membuat Johnny dan Lukas menatapnya datar.
"Oke gue diem" desisnya
"Pulang yuk!" Ajak Lukas pada Johnny
Johnny malah kembali mengalihkan pandangannya kearah buku "Duluan aja! Gue mau ngomong sama bokap"
"Emang bokap loe ada disekolah?" Tanya Lukas
"Ada, lagi mengurusi perluasan sekolah"
Lukas hanya mengangguk paham "Kalo gitu kita duluan" ia menarik kerah baju Karel hingga membuat pemiliknya menatapnya tak suka "Lo ngajak pulang? Ke mana? Rumah? Rumah sakit?"
"Banyak bacot lah, cepetan kek!" Ia pun melepaskan genggamannya dikerah baju Karel dan melangkahkan kakinya meninggalkan mereka berdua.
"Yaelah ngambek! Gue duluan ya John, bilangin salam ke bapa Johan!"
Johnny hanya mengangguk, seperti inilah perkembangan sekolah yang dulu Tristan kelola dan dialih tangankan ke Johan anak lelaki satu-satunya, dan kecerdasan Johan tidak bisa dipungkiri lagi hasil ini pun mampu membuat keluarga nya bangga pada Johan, terutama Ellena.
Johnny menatapi kepergian teman-temannya itu, lalu kembali menenangkan dirinya sebelum ia hendak menemui ayahnya. Ia berjalan santai dengan masih memegangi buku sejarahnya, dan satu tangannya lagi ia masukan ke dalam saku, ia tak meninggalkan aktivitas membacanya, deru angin menerpa dirinya, semakin menambah ketenangan dalam pikirannya.
Sekolah kini mulai sepi, hingga hentakan kakinya mampu ia dengar sendiri.
Semua orang pergi, saat suara kemenenangan itu terdengar, gumam Johnny dalam hati.
Setelah sampai didepan ruang TU, sesuatu membuatnya terhenti, seorang gadis di seberang sana berlarian menyebut nama Johnny. "Gadis gila" desisnya pelan, ia pun meneruskan tujuannya untuk menemui ayahnya.
Sarah menghentikan langkahnya yang kini menurutnya sia-sia saja, pria itu memang susah ditebak. "Mau nya apa sih?"
Ia memilih untuk duduk dikursi, di depan ruang TU ia berniat untuk menunggu lelaki pembawa s**l menurutnya. Kelvin telah memutuskan untuk menjauhi Sarah, bahkan ketika Sarah tadi berusaha mengejar kelvin, kelvin hanya menatapnya tanpa bertutur sapa. "Semua ini gara gara lo Johnny" desis Sarah pelan, ia semakin kesal dengan kelakuan Johnny yang selalu membuat ulah di kehidupannya.
Ia membuka ponselnya, lalu menaruhnya kembali di sampingnya, kejadian itu terjadi berulang-ulang kali.Tak berselang lama, suara pintu ruang TU mendadak membuka, membuat tubuh Sarah berdiri dan berjalan kearah pintu itu tanpa berpikir panjang, Bugh. Tubuhnya mendadak memantul kembali ke belakang seperti bola voli saja.
"Kenapa sih? Halangi jalan gue?" Rusuh Johnny menatap gadis itu sebal
Sarah berdiri sambil membersihkan tubuhnya yang tidak kotor "Elo tuh selalu aja cari masalah, karena lo kelvin sekarang jadi ngejauhin gue! Tanggung jawab lo!"
Johnny mengerutkan dahinya "Udah, itu aja?"
"Omaygattt! Kenapa sih loe gak paham banget?" Teriak Sarah semakin menggema
"Wait-wait-wait, ada apa ini?" Pria berbadan tinggi dan kekar itu menghampiri suara yang membuat ricuh sekolah, ialah Johan. Tubuhnya masih putih dan wajahnya terlihat begitu tampan. "Omaygat? Jadi ini pak Jo-Johan itu?" Teriak Sarah, ia langsung menghalau tubuh Johnny untuk lebih dekat lagi melihat Johan.
"Ternyata bener, bapak ganteng banget ya? Kaya selebgram gitu? Hehe. Ohya, kenalkan pak saya murid disekolah ini, Sarah! Saya penasaran banget sama bapak pengusaha yang terkenal dengan berbagai macam produknya, kata si Bella bapak tuh ganteng! Eh ternyata bener ya, hehe maaf pak saya baru pertama kalinya liat bapak!" Sarah meneliti ke seluruh bagian wajah Johan, hingga membuat Johan susah untuk bernafas.
Johan mengangkat satu alisnya, ia bingung harus menghadapi gadis ini. "Yah, mending pulang aja yuk?" Johnny melangkahkan kakinya dan membuat tubuh Sarah menjauh dari Johan, ia menarik tangan ayahnya itu.
"Hah? Ayah?"
Johanpun pergi dengan wajahnya yang masih bingung dengan semua ini "Itu temen kamu?"
"Bukan yah"
"Pacar kamu?"
"Ayah ini ngomong apa sih? Ya bukanlah!"
"Soalnya kamu kayak cemburu liat gadis itu ngefans ke ayah!"
Johnny berhenti sejenak, lalu menarik nafasnya dalam-dalam. "Dia itu cewek teraneh yah, makannya aku gak suka liat ayah dekat-dekat sama gadis gila!"
"Hmm, kamu yakin?"
"Yakin ayah!"
"Tapi dulu, ibu kamu juga aneh!"
"Apa sih yah? Gak asik banget, materi pembicaraannya" Johnnya meleos mendahului ayahnya memasuki mobil.
"Anak mu Ellena" desis Johan pelan, dengan senyuman menyungging diwajahnya.
Johan memasuki mobilnya, ia menatapi anak semata wayangnya itu dengan lemah lembut. "Kenapa marah John?" Johnny hanya diam.
"Ayahkan cuma pengen tau! Dan satu lagi, ayah juga pengen kamu punya pacar!"
"Apasih?" Johnnya menatap sebal
Johan mengelus-elus kepala Johnny gemas "Jangan ngambek! Ayah cuma mau cek aja, takutnya kamu homo"
Mata Johnny sontak keluar "Ayah ngomong apaan sih? Johnny itu gak punya pacar, karena johnnya mau fokus aja sama hobby Johnny, bukan berarti kalau Johnny itu homo! Emang ayah pengen punya anak gak normal?"
"Sabar bung! Ayah cuma becanda"
"Hmm"
"Kita ke rumah tante Fhani dulu ya?"
"Hah? Tumben"
"Dia baru pulang wisuda"
"Okedeh"
Johan memandangi wajah Johnny serius "Jangan berantem mulu sama Fhani, kasian dia"
"Hmm"
"Kalo diajak ngobrol sama ayah dengerin"
"Hmm"
"Kamu kenapa sih John?"
"Ayah sih selalu aja belain Fhani" gerutu Johnny
"Hush, dia itu lebih tua dari kamu"
"Iya deh Johnny baikin dia, lagiankan sekarang Johnny udah gede, udah lama gak ketemu sama dia, jadi Johnny bakal kangen banget sama Fhani"
"Hmm bagus!" Johan memantapkan pandangannya kedepan, dengan senyuman yang puas.
"Kangen jambak rambutnya"
Johan seketika memelototi anaknya itu dengan sangarnya. "Hehe, galak banget sih" racau Johnny dengan senyuman bodohnya.