Chapter Dua

927 Words
Jovan Aga Raharja, seorang dokter spesialis penyakit dalam yang cukup terkenal, bukan hanya karena profesinya, tapi karena perawakan yang dia miliki. Wajah tampan dengan tinggi tubuh bak seorang model dapat membuat banyak perempuan berbondong mendaftar di poli nya. Selain itu, Aga juga menjadi sasaran empuk bagi perempuan matre karena dia berasal dari keluarga kaya. Pemilik beberapa rumah sakit yang terbilang "wah" dari segi fasilitasnya, pelayanan maupun harganya. Tapi jangan salah, meskipun Aga adalah sosok idola bagi kaum hawa, Aga tetaplah Aga, seorang pria yang belum pernah memiliki pacar selama dia hidup. Padahal, jika dia mau, dia dapat dengan mudah mendapatkannya. Bukan karena dia tidak normal, tapi memang belum ada yang cocok menurutnya. "Bagaimana kondisi Aga?" Tanya Julian. "Masih tetap sama om, dia baru saja tertidur" jawab Rendy, orang kepercayaan Aga yang sudah Julian anggap sebagai anaknya sendiri. "Kamu sudah hubungi dokter-dokter yang saya bilang?" "Sudah om, sudah dihubungi semuanya, tapi om, Rendy perlu bicara sesuatu" "Kita ke ruangan saya" "Baik om" *** "Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan Ren?" "Begini om, seperti yang om tahu kalau menuju pergantian kepala rumah sakit, beberapa orang menyarankan Aga untuk bisa menjadi pemimpin, tapi melihat kondisi Aga seperti ini, apakah itu tidak mengkhawatirkan? orang-orang yang mendukung Aga bisa saja langsung mengubah pemikiran mereka" "lalu?" "bagaimana, jika selama masa penyembuhan, Aga kita sembunyikan" "ide bagus, om juga tidak ingin orang luar sana tahu kondisi Aga yang tiba-tiba menjadi seperti ini" "kamu bersedia untuk temani Aga selama masa persembunyiannya?" tanya balik Julian "saya selalu siap om" "bagus, biar nanti saya segera cari tempat terbaik untuk persembunyian Aga" "baik om" "sekali lagi, tolong kamu awasi jangan sampai kondisi Aga diketahui media, apalagi rumah sakit kita sedang ada masalah" "baik om, saya permisi" ***  "Mah, kok banyak koper? kita mau jalan-jalan ya ma?" tanya Aga dengan polosnya pada Stephanie Stephani hanya tersenyum, mengelus kepala Aga dengan lembut.  "sudah siap semuanya?" tanya Julian pada pegawainya yang dia perintahkan untuk mengatur barang-barang Aga kedalam mobil. "sudah tuan, semua keperluan tuan sudah kami masukan kedalam mobil" jawab Parman "baik, kamu boleh kembali" "baik tuan" jawab Parman lalu mengundurkan diri. "Ren, Lex, Tian, Om titip Aga sama kalian, tolong jaga Aga dan awasi terus pengobatannya dan pastikan tidak ada media yang tahu tentang Aga" petuah Julian. "baik Om, semua aman ditangan kita" jawab Alexander, sahabat Aga. Alexander memiliki tempat pelatihan beladiri yang cukup besar dan terkenal, banyak para calon pengawal dan aktor yang berlatih di tempatnya. Menjadi kepercayaan Julian untuk menjaga Aga dan yang lain karena keterampilan beladiri Alexander juga tidak perlu diragukan lagi. "terimakasih sudah mau om repotkan" Julian menepuk pundak Alexander dan Tian. "sama-sama om, kita kan udah kaya saudara sendiri, kecil dan besar bareng terus, jadi gak ngerasa direpotin kok" balas Tian "tante titip Aga ya, yang sabar hadapi Aga selama disana"  "siap tante" sahut Alexander "yuk Ga" ajak Rendy pada Aga Aga diam, menatap yang lain dengan bingung "kemana? jalan-jalan?" "iya, jalan-jalan. Aga suka naik mobil kan?" jawab Stephanie Aga mengangguk semangat, terlihat lucu tapi tidak untuk Alexander dan Tian yang bahkan ingin tertawa karena geli melihat tingkah Aga. "sama Rendy aja? mama sama papa?"  "Sama Alex dan Tian juga kok" jawab Stephanie sambil mengelus rambut Aga. Aga menatap Alexander dan Tian, membuat kedua pria tersebut menaik turunkan alisnya, seolah menggoda Aga. "mama sama papa gak ikut?" sedih Aga "mama sama papa nyusul kok, yakan Pa?" "iya, Aga berangkat duluan. nanti papa sama mama nyusul" "beneran ya?" "iya sayang, sekarang Aga berangkat ya, nanti keburu sore" Stephani menangkup kedua pipi Aga, menariknya agar Aga sedikit menunduk, dikecupnya kening Aga dengan penuh kasih sayang, berharap anaknya segera kembali seperti biasanya. *** "dedek Aga mau kemana sih?" tanya Alexander dengan nada yang lebih mirip meledek. Setelah mengetahui kondisi Aga yang seperti anak-anak, bukan hanya prihatin, Alexander dan Tian lebih banyak tertawa. disatu sisi mereka berdua memang prihatin, tapi disii lain mereka merasa lucu dan bahagia, karena Aga tidak bisa membully mereka berdua. Aga hanya diam, dia malah membuang tatapannya keluar jendela dibandingkan harus menjawab pertanyaan Alexander. "dih, sombongnya masih ada aja ya ini bocah"  "sombongnya udah mendarah daging Lex, gak mungkin ilang" sahut Tian Aga langsung memberikan tatapan tajamnya pada Tian  "apa dedek Aga, kenapa dedek melotot melotot sama abang Tian? sentil ya itilnya" "ANJIRRRRR TIAAAANNN. HAHAHAHAHA. SAMPAH MULUT LO" teriak Alexander lalu tertawa terbahak. Alexander, Tian dan Rendy memang sahabat Aga dari kecil, Rendy adalah anak dari salah satu pegawai Julian, membuat Aga dan Rendy kenal terlebih dahulu, baru saat memasuki sekolah dasar, mereka bertemu Tian dan Alexander. Mereka melanjutkan sekolah menengah pertama dan menengah atas di tempat yang sama. barulah ketika kuliah mereka memilih jalan masing-masing. Aga memilih kedokteran, Rendy dengan jurusan Administrasi Negara, Tian yang harus terbang ke Jerman untuk mengambil jurusan administrasi bisnis sesuai printah orangtuanya dan Alexander yang memilih tidak melanjutkan pendidikan dan berfokus pada pengembangan tempat pelatiha beladiri miliknya.   Diantara mereka berempat, Rendy adalah orang yang paling dewasa, menjadi tempat curhat dan pemberi soslusi untuk masing-masing. sedangkan Aga memiliki sifat yang cukup keras kepala dibandingkan yang lain, entah mengapa tapi aura yang dimiliki Aga membuat dia nampak berbeda dan lebih ditakuti, mungkin karena pembawaan Aga yang dingin dan terkesan kurang ramah telebih pada orang baru. Lain dengan Tian yang cenderung berisik, sifatnya yang mudah membaur dan ramah pada siapapun dengan kekurangan selalu berbicara ceplas-ceplos dan tidak disaring. Tidak berbeda jauh dengan Tian, Alexander juga memiliki pembawaan yang berisik, sangat aktif seperti anak "kelebihan gula" dan jangan lupakan sifat playboy yang dia miliki. Alexander memang si ahli pengambil kesempatan, memanfaatkan wajahnya yang tampan, tubuh proposional yang terbentuk karena olahraga yang dia tekuni dan jangan lupakan dompetnya yang tebal, menjadikan dia satu-satunya pria antara Aga, Rendy dan Tian yang berganti pacar 6 kali dam setahun.  "Rendy, Tian sama Alex jahat" adu Aga pada Rendy yang tengah menyetir. "gak usah dengerin" "ciyeeeee, sekarang Aga tukang adu yaaaaa, dasar comel" ledek Alex lagi "diem ya kelek! Aga marah ya sama kelek!" sentak Aga pada Alex.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD