Chapter Satu
***
Semu orang yang ada dirumah mewah itu kini hanya bisa terdiam membisu, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Mata mereka hanya tertuju pada satu objek yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Bukan dari segi bentuk, hanya saja segi yang lain.
"Itu beneran pak bos dokter?" Tanya Jenab pada Rijal. Rijal hanya menggeleng tanda tidak tahu harus menjawab apa. Dia juga sama terkejutnya. Benar-benar aneh, tapi nyata.
"Kalau bentuknya emang pak bos dokter, tapi kok begitu?" Ujar Indra sang ahli gizi. Maklum saja, keluarga tersebut memang kaya raya, wajar jika dirumah pun ada seorang ahli gizi hingga koki.
Semua orang masih menerka-nerka dengan apa yang telah terjadi. Banyak pertanyaan dikepala mereka, kenapa sang bos mereka bisa seperti sekarang ini?. Sangat berbeda dari dua hari yang lalu saat sang bos yang katanya pergi ke salah satu wilayah terpencil untuk melihat fasilitas kesehatan disana.
"Bibi, bibi es Aga abis nih, isiin lagi dong bi, yang banyak pokonya! Kalau sedikit Aga mau nangis aja" ancam Aga sambil mengacungkan gelas yang sudah kosong ke hadapan Jenab.
Jenab yang di suruh Aga hanya diam mematung, memastikan apa yang masuk kedalam Indra pendengaran nya itu nyata.
"Bibiiiiii, bibi gak denger ya? Kok diem ajaa" teriak Aga keras.
Jenab yang mendengar teriakkan Aga langsung berlari ke dapur, menyiapkan pesanan sang tuan meskipun dengan pikiran yang masih melayang, apakah ini nyata atau prank saja. Kamerq mana kamera? Jenab ingin ngonten saja rasanya.
"Kenapa sih pada liatin Aga kaya gitu?! Aga gak suka ya! Pak Burhan juga ngapain disini? Kenapa gak jaga didepan? Nanti rumahnya kemalingan, nanti makanan Aga di ambil maling. Sana pak, jaga didepan! Atau mau Aga laporin mama sama papa? Biar Pak Burhan di pecat dan gak punya rumah."
Burhan langsung mengangguk gugup. Dia juga penasaran dengan apa yang terjadi, tapi karena sang punya rumah sudah menyuruhuntuk kembali ke pos. Terpaksa, nanti dia harus bertanya pada Jenab untuk jelasnya.
***
Stephanie menatap putra bungsunya dengan heran, dia juga sama terkejutnya dengan seperti yang lain bahkan lebih.
Anaknya yang sudah berusia 27 tahun, harus berubah seperti sekarang ini. Stephanie tidak ingin mengatakannya, tapi kondisi anaknya memang bisa di sebut 'aneh'
"Jadi Ren, sebenernya ada apa? Apa yang terjadi sama Aga? Kenapa Aga bisa jadi kaya bocah gini?" Tanya Stephanie pada Rendy, sahabat sekaligus asisten pribadi Aga.
"Rendy juga belum tahu jelasnya tante, semalam, setelah berkeliling di desa, kita kembali ke kamar masing-masing, saat pagi, Aga sudah seperti ini tante" jelas Rendy sambil menatap Aga yang kini sedang mengunyah es batu. Tidak peduli dengan sekitar, hanya ada dia dan es batu di dalam mulut dan gelasnya.
"Kamu gak denger apa-apa Ren? Siapa tahu, pas malem ada yang pukul kepala Aga, sampe otaknya begini" tanya Stephanie lagi.
"Tidak tante, Rendy sudah cek, jendela kamar Aga terkunci rapat dan dikepala aga juga tidak ada luka, tidak ada suara ribut dan tidak ada orang mencurigakan di sekitar lokasi, menurut penjaga. Semua aman" jawab Rendy .
"Lalu anak tente kenapa bisa begini Ren? Atau ada yang guna-guna dia pas dia disana? Disana kan desa terpencil, hal mitos begitu pasti masih kental" ucap Stephanie bingung.
"Mama, mamaaa, nanti ke mall ya mah, Aga mau beli baju Ben Ten mah, ke mall ya mah" rengek Aga tiba-tiba, mengalihkan perhatian Stephanie kepada dari obrolannya bersama Rendy.
Stephanie menatap Aga prihatin, kenapa anaknya yang terkadang jutek bisa menjadi seperti ini.
"Mama kok diem, Aga gak boleh ya beli baju Ben Ten?" Tanya Aga lagi, dengan wajah sedihnya.
Semua yang melihatnya sebenarnya merasa geli sendiri, tapi tidak mungkin mereka tertawa disaat Stephanie menampilkan wajah murung.
"Gapapa sayang, boleh kok, Aga mau beli berapa baju?" Jawab Stephanie lembut, tangan halusnya juga mengusap lembut kepala Aga.
"Aga mau banyak mah, banyak banget. Mau delapan, boleh mah?" Tanya Aga dengan antusiasnya.
Stephanie kini tengah manahan agar air matanya tidak menetes, masalah lain belum selesai, kenapa sudah ada masalah baru lagi. Masih mengusap kepala Aga, Stephanie tersenyum hangat.
"Boleh sayang, berapa pun yang Aga mau, mamah belikan" jawab Stephanie. Mengundang kebahagiaan Aga.
"Yes, mama memang terbaik!" Teriak Aga sambil melompat senang.
Stephanie yang melihatnya hanya tersenyum getir. Sesak. Semua terlalu mendadak dan tidak masuk akal.
"Terus Aga juga mau beli mainan ma, mau beli pesawat, mobil, tank. Boleh?" Tanya Aga kemudian.
"Boleh sayang"
"Terus ma, kalau Aga pengen beli balon yang besaaaaaaar-" Aga melebarkan tangannya "terus di simpen di belakang buat perosotan. Boleh?"
"Boleh sayang"
"Aga juga pengen mainan kaya di mall itu maaaa, yang buat main basket, terus motor. Boleh ya ma?"
"Iya sayang"
"Yeeeeyyyy! Mama hebat." Teriak Aga kemudian berlari, menghampiri gelasnya yang ternyata sudah kosong lagi.
"Bi, Aga mau s**u coklat ya bi, sekarang. Tapi pakai es lagi!" Teriak Aga sambil pergi ke dapur membawa gelas.
***
"Gimana pah, masih belum ada info apapun tentang yang Aga alami?" Tanya Stephanie pada Julian, suaminya.
"Belum ada ma, papa sudah panggil psikiater dan belum jelas juga" jawab Julian.
Stephanie menghela nafas, mencoba menerima apa yang sedang terjadi. Tuhan pasti memberi yang terbaik. Meskipun dalam kepalanya terus bertanya, apa yang sebenarnya terjadi.
"Sekarang dia dimana?" Tanya Julian.
"Sudah dikamar, dia bilang capek dan mau istirahat" jawab Stephanie.
Julian menghela napas kasar. "Yasudah, biarkan saja, papa juga sudah pusing sekarang ini, masalah datang bersamaan, sedangkan yang papa andalkan malah jadi bocah seperti itu kelakuannya"
Stephanie menghela nafas, mengusap bahu sang suami.
"Sabar Pa, masalah pasti berlalu. Selain itu, kita pernah menghadapi masalah yang bahkan lebih besar, tapi kita bisa lewati dan tetap berdiri tegak." Stephanie mencoba menenangkan sang suami.
"Selain itu pa, anak kita bukan cuma Aga. Ada Zion. Kita bisa andalkan Zion. Mama yakin, Zion pasti bisa mengatasinya.
Julian menatap wajah sang istri, "mau bagaimana lagi, sepertinya memang harus dia" ucap Julian.
Stephanie tersenyum, membawa Julian kedalam pelukannya "iya pa."
Tok tok tok
Stephanie melepas pelukan dengan Julian. Lalu memperbolehkan siapapun yang mengetuk pintu untuk masuk.
"Mama" panggil Aga.
"Kenapa sayang?" Stephanie turun dari tempat tidur dan melangkah menghampiri Aga yang masih berdiri di depan pintu.
"Gak bisa tidur" jawab Aga.
"Kenapa?" Stephanie mengusap lembut pipi Aga.
"Mau bobo, tapi ditemenin mama"
Stephanie tertawa pelan. Rasanya seperti ditarik ke dua puluhan tahun lalu. Saat anak-anaknya masih begitu kecil dan lucu.
***