Lamunan Wirawan di ruang kerjanya terpecah oleh suara tangisan Andreas.
“Aaaaaa.... Aaaaaa... Andre mau sama Ibu! Ibuuu... Aaaaa....”
“Sudah Den! Sama Mpok aja yaaa...!” Mpok Leila berusaha menenangkan Andreas.
"Aaaaa... Andre mai sama Ibu...." Andre masih menangis sambil meronta dan berusaha lari menuju pintu ruang tamu.
Wirawan yang mendengar tangisan Andreas, bergegas menuju sumber suara. Terlihat Mpok Leila yang membujuk Andreas agar berhenti menangis di ruang televisi. Wirawan berjalan menghampiri.
“Mpok... Ada apa? Kenapa Andreas menangis?” Wirawan menghampiri Andreas.
“Biasa... Berantem sama Den Angga, Tuan.”
“Berantem apa lagi Mpok?”
“Den Andreas mengajak Den Angga main bareng, tapi Den Angga marah-marah... Jadi Den Andreas menangis, ingin bertemu sama Ibu katanya!” Mpok Leila masih membujuk Andreas agar berhenti menangis.
“Andre... Sudah jangan menangis, nanti ayah belikan mainan baru.” Wirawan memeluk Andre.
“Andre mau ketemu Ibu....” Dengan wajah polosnya dan mata yang masih berkaca-kaca, Andreas memandang ayahnya.
Wirawan tidak kuasa menahan kesedihannya saat menatap wajah Andreas.
“Mpok... Jaga in Andreas ya!” Wirawan segera berlalu dari pandangan Andreas untuk menemui Angga.
Dengan wajah polosnya yang menahan suara tangis dan air mata, Andreas naik ke atas sofa dan merebahkan badannya sambil memeluk bantal. Ia merasa tidak diharapkan oleh kedua kakaknya, sedangkan Ayahnya terlalu sibuk dengan pekerjaan. Terkadang Andreas juga merasa sikap ayahnya dingin terhadap dirinya. Ia tidak tahu apa kesalahannya. Namun yang jelas hati Andreas sangat pedih ketika melihat Yudhis (kakak pertamanya) sering memperhatikan Angga (kakak kedua Andreas) ketimbang dirinya, walau usianya masih sangat kecil.
Mpok Leila sering tidak tega melihat Andreas yang sering murung dan mengurung dirinya. Terlihat tidak seperti anak seusianya yang sedang senang bermain bersama keluarga dan teman-temannya.
Wirawan menemui Angga di kamarnya untuk menasihatinya. Saat Wirawan memasuki kamar Angga, terlihat anak berusia delapan tahun itu sedang terbaring di atas tempat tidurnya sambil menutupi wajahnya dengan bantal.
“Angga... Kemari Nak! Ayah mau bicara!” Wirawan duduk di samping tempat tidur Angga.
“Iya Ayah ada apa?” Angga duduk dengan mata sembab.
“Kenapa sikap kamu seperti itu pada adikmu?” Wirawan berusaha mencari tahu penyebabnya.
“Angga benci sama Andre! Gara-gara Andre, Ibu jadi meninggal!” Angga marah pada Andreas.
“Astagfirullah... Nak! Apa yang kamu pikirkan tentang Andre itu salah... Ayah juga sedih sepeninggal Ibu kamu! Tapi bukan Andreas penyebabnya, semua sudah takdir Allah... Seharusnya kamu, Yudhis, dan Andreas saling menjaga, menyayangi, walau sejak kecil kalian hidup tanpa Ibu di samping kalian.” Wirawan berusaha menyadarkan Angga tentang anggapannya pada Andreas.
“Tapi... Ayah juga jarang bermain sama Andre.” Angga merasa bingung dengan sikap ayahnya.
“Maafkan ayah yang terlalu sibuk dengan pekerjaan ayah... Namun yang pasti, ayah menyayangi kalian.” Wirawan memeluk Angga.
“Semoga kamu mengerti Nak! Jangan biarkan adikmu merasa kesepian!” Wirawan memohon pada Angga.
Angga hanya terdiam dan berusaha mencerna nasihat ayahnya. Ia berpikir apa yang dikatakan ayahnya ada benarnya juga. Namun setiap kali melihat Andreas, hati Angga merasa sedih dan marah.
Setelah menemui Angga, Wirawan memasuki kamarnya. Semua kenangan tentang Aruni masih melekat jelas dalam hati dan ingatannya. Wirawan berdiri di samping jendela kamarnya. Ia menatap jutaan bintang di langit yang gelap. Cahaya indah gemerlap bintang tak mampu membuat hatinya berlalu dari rasa hampa.
Raut wajah Aruni yang teduh dan ayu masih tampak nyata dalam pikiran Wirawan. Kehangatan sikap dan perhatiannya membuat Wirawan selalu merasakan kerinduan yang tak bisa ia wujudkan. Terlebih jika ia melihat Andreas, rasa sayang bercampur kesedihan selalu mengganggunya dan membuatnya memilih untuk menghindari Andreas. Itu lah mengapa Andreas merasa sikap Ayahnya dingin pada dirinya.
Wirawan duduk di Sofa dalam kamarnya. Ia melihat cincin pernikahannya dengan Mendiang istrinya. Tak terasa lamunan Wirawan kembali mengingat Aruni. Dahulu ketika Aruni hamil Andreas, kesehatannya sangat lemah. Selain tekanan darah tinggi, lemahnya kandungan pun menjadi faktor yang membuatnya melahirkan di usia kandungan 37 minggu. Hampir setiap hari Aruni mengalami kontraksi disertai pendarahan ringan, tapi ketika usia kandungan 37 minggu, kontraksi yang dirasakan semakin kuat, pendarahan yang keluar diiringi pecah ketuban membuat Aruni panik. Aruni dilarikan ke rumah sakit dan proses persalinan berjalan lumayan menguras waktu dan tenaga. Sampai akhirnya terdengar tangisan bayi yang memecahkan keheningan suasana. Saat itu Wirawan sangat senang, melihat anak ketiganya lahir ke dunia, tapi ia melihat istrinya sangat pucat dan kelelahan. Wirawan masih menggenggam erat tangan Aruni. Namun semakin lama terasa semakin dingin dan mata Aruni terlihat semakin terpejam. Wirawan panik saat tim medis memberikan pertolongan pada Aruni yang ternyata tidak sadarkan diri.
Wirawan diminta untuk menunggu di luar karena tim medis sedang berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan pertolongan dan tindakan pada Aruni. Setengah jam berlalu, tapi belum ada satu pun tim medis yang keluar dari ruangan tempat dimana Aruni berada. Rasa khawatir mulai menyelimuti hati dan pikiran Wirawan. Ia merasa sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya. Keringat dingin mulai bercucuran, hati dan pikirannya gelisah, hanya berdoa yang bisa Wirawan lakukan.
Rojak (supir Wirawan) yang melihat tuannya gelisah, ikut merasakan kekhawatiran yang sedang Wirawan rasakan.
“Tuan... Ada yang bisa saya bantu?” Rojak bertanya dengan sedikit rasa serba salah.
“Tolong bantu doakan yang terbaik buat istri saya, terima kasih bang Rojak.” Raut wajah Wirawan sangat layu.
“ Iya tuan.” Rojak kembali berdoa untuk nyonya Aruni.
Tak lama kemudian terlihat dokter keluar dari ruangan tempat Aruni sedang mendapat pertolongan. Wirawan bergegas menghampiri dokter untuk bertanya.
“Dokter... Maaf bagaimana keadaan istri saya dok?” Wirawan berharap kabar baik yang dokter berikan.
“Anda?” Dokter bertanya pada Wirawan.
“Sa... Saya suami ibu Aruni.”
“Bapak... Sebelumnya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, kami sudah berjuang dan berusaha semaksimal mungkin, tapi takdir berkata lain... Kami minta maaf karena tidak bisa menyelamatkan nyawa istri bapak, kami turut berbela sungkawa... Semoga bapak beserta keluarga diberikan ketabahan dan kesabaran.” Dokter menyampaikan dengan sangat berat hati.
“Innalillahi wa innailaihi rojiun... Aruni... Sayangku.” Wirawan lemas dan terduduk dilantai setelah mendengar kabar duka dari dokter.
“Tuan saya turut berduka, semoga nyonya Aruni Husnul Khotimah, tuan harus melihat nyonya Aruni.” Bang Rojak menemani tuannya.
Waktu menunjukkan pukul 02.15, Wirawan merasa malam itu adalah malam terkelam dalam hidupnya, karena ia kehilangan Aruni. Wanita yang menjadi belaham jiwanya, kekasih hatinya yang menemani suka duka dalam kehidupan mereka. Kini ia telah tiada. Ia berkorban demi buah hati mereka. Wirawan sangat terpukul, tapi ia masih sadar bahwa kini ia harus menjaga tiga cinta yang Aruni berikan pada Wirawan, yaitu Yudhistira, Airlangga, dan bayi mungil yang baru saja dilahirkan.
Sejak saat itu, Wirawan memberi nama anak ketiganya Andreas Adhitama sesuai permintaan terakhir Aruni. Anak yang tidak perrnah melihat dan bertemu ibunya. Ia dibesarkan oleh Mpok Leila, asisten rumah tangga Wirawan.
Angga yang saat itu masih berusia 5 tahun, belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya tahu bahwa sejak kedatangan Andreas, ia tidak pernah melihat ibunya lagi. Itu lah sebabnya Angga kesal dengan Andreas. Ia merasa Ayahnya telah menukar ibunya dengan Andreas.
Berbeda dengan Angga, Yudhis yang saat itu sudah SMP telah mengerti apa yang sebenarnya terjadi, sehingga Yudhis lebih menyayangi dan memperhatikan lagi adik-adiknya. Walau hatinya sangat sedih sepeninggal ibunya, ia tetap berusaha bangkit untuk melanjutkan hidup dan meraih cita-citanya, agar ibunya bangga dan tersenyum di surga.
Wirawan tersadar dari lamunannya tentang masa lalunya. Sejak sepeninggal Aruni, hatinya hampa dan ia merasa sendiri. Terlebih jika melihat Angga dan Andreas sering bertengkar, pikiran Wirawan langsung teringat mendiang istrinya. Pada dasarnya Wirawan sangat menyayangi ketiga anaknya. Namun hati tidak bisa berbohong bahwa ada perasaan sedih dan teringat kembali Aruni ketika Wirawan melihat Andreas. Sehingga Wirawan jarang memgajak Andreas bermain.
Saat ini Andreas merasa sendiri, seolah tidak diharapkan kehadirannya dalam keluarga ini. Ia merasa hanya Mpok Leila dan Babeh Rojak yang mempedulikannya. Sampai pada suatu hari, Andreas sempat ingin tinggal bersama Mpok Leila di rumahnya. Ia tidak ingin tinggal di rumah Wirawan. Namun Mpok Leila berhasil membujuknya agar tetap tinggal di rumah Wirawan.