Hari minggu adalah hari yang sangat dinantikan oleh setiap anak, karena dihari minggu semua kegiatan belajar di sekolah diliburkan. Bagi sebagian orang, hari minggu adalah hari untuk bersantai, beristirahat, dan berkumpul bersama keluarga. Begitu juga dengan Andreas, ia sangat senang belajar mengendarai sepeda dihari minggu. Seperti biasanya, Andreas bermain di taman dekat rumahnya. Ada banyak anak yang bermain di sana, ada pedagang dadakan yang hanya menjual dagangannya di hari ini, orang berolah raga, atau pun orang-orang yang duduk santai sambil menikmati udara pagi yang segar.
“Mpok Leila... Ayo temani aku bersepeda!” Andreas mengajak Mpok Leila.
“Iya Den... Tunggu sebentar, Mpok ambilkan sepedanya dulu.” Suara Mpok Leila menyahut dari ruang belakang.
Tak lama kemudian, Andreas berangkat ke taman bersama Mpok Leila dengan diantar Bang Rojak. Saat itu Angga mengetahui bahwa mereka akan bermain di taman, sehingga ia mengikuti dari belakang dengan bersepeda. Bagi Angga bermain bersama Andreas adalah suatu pantangan. Ia merasa gengsi jika harus bermain bersama adiknya itu. Walau ia mengakui bahwa Andreas adalah anak yang lucu, menyenangkan, dan cerdas. Namun terkadang manja dan menyebalkan.
Setibanya di taman, Andreas langsung antusias untuk berlatih sepeda bersama Mpok Leila, karena Bang Rojak langsung kembali ke rumah. Angga juga ikut bermain sepeda sambil mengamati gerak-gerik adiknya bersama Mpok Leila. Terlihat dari kejauhan bahwa Andreas berbisik pada Mpok Leila.
“Mpok... Andre haus tapi ingin minum s**u kedelai.” Andreas meminta Mpok Leila untuk membelikannya.
“Ye udeh Mpok belikan, tapi Den Andreas jangan kemane-mane ye! bermain dimari aje!” Mpok Leila pergi untuk membeli s**u kedelai di ujung taman.
Andreas yang sedang bersepeda tiba-tiba dihampiri oleh tiga anak seusia Angga. Rupanya mereka memalak uang jajan dan berusaha meminjam sepedanya secara paksa pada Andreas. Dari kejauhan Angga masih memantau Andreas. Angga melihat Andreas menangis dan memanggil Mpok Leila, tak lama kemudian Mpok Leila mendengar jeritan Andreas dan datang menghampiri mereka. Mpok Leila merasa bersalah pada Andreas karena membiarkannya sendirian.
“Heh! Bocah! Dasar nakal! Pergi lu sono, kecil-kecil udeh malakin anak orang! Udeh gede mau jadi ape lu? Pergi sono!” Mpok Leila kesal dengan kelakuan anak-anak yang suka memalak uang jajan anak lain.
“Aduh tong... Enggak ape-ape lu? Cep... Cep... Jangan nangis lagi ya!” Mpok Leila berusaha menenangkan Andreas.
“Mpok... Andre mau pulang aja.” Andreas meminta pulang, raut wajahnya masih ketakutan dan suaranya terbata-bata, terlihat matanya menahan air mata yang sudah terlanjur menetes di pipinya.
“Den Andreas pulangnya Mpok gendong aje ye! Sepedanye ditinggal aje dimari, nanti Babeh Rojak yang ambil ye!” Mpok Leila membujuk Andreas.
“Iya Mpok.” Andreas memeluk Mpok Leila.
Setibanya di rumah, Mpok Leila menceritakan semuanya pada tuan Wirawan. Kemudian Andreas bermain di rumah. Tak lama kemudian Angga datang bersama Yudhis. Kelihatannya mereka juga baru pulang jalan-jalan pagi di taman. Namun Wirawan terkejut melihat Angga luka-luka.
“Lho... Angga kenapa?” Wirawan mendekati wajah anaknya.
“Tadi Angga jatuh dari sepeda pas main di taman Yah.” Yudhis menjawab pertanyaan Ayah.
“Tapi kenapa muka kamu seperti habis berantem?” Wirawan memeriksa wajah Angga.
“Iya Ayah... Angga nyungsep ke semak-semak dekat taman.” Angga mempertegas pernyataan Yudhis.
“Ya sudah bilang sama bibi, suruh membantu membersihkan luka kamu ya Nak!” Wirawan menyuruh Angga meminta tolong asisten rumah tangga yang lainnya.
“Iya Ayah.” Angga dan Yudhis bergegas ke belakang.
Wirawan merasa hari minggu ini banyak sekali permasalahn pada anak-anaknya. Hal itu membuat Wirawan kembali mengingat Aruni.
“Semoga kamu tenang di surga... Sampai kapan pun aku akan selalu menyimpan cinta kita.” Wirawan memejamkan matanya untuk sejenak dan berdoa untuk mendiang istrinya.
Ketika senja memancarkan mega jingga, Andreas terlihat sedang belajar di teras belakang rumah bersama Mpok Leila. Dari kejauhan terdengar sayup-sayup suara Angga yang sedang tertawa bersama Yudhis. Tampaknya mereka sedang bercanda di ruang televisi. Spontan Andreas lari menemui kedua kakaknya. Ia melihat kedua kakaknya sedang memegang cokelat dengan merk terkenal dan ukurannya lumayan besar.
“Kakak aku mau.” Dengan polosnya Andreas mengatakan itu, sambil memandang cokelat yang terlihat sangat lezat yang sedang dipegang oleh Angga dan Yudhis.
“Andre mau?” Yudhis menatap wajah adiknya.
“Iya kak.” Andreas mengangguk.
“Jangan kak, aku kan beli cokelat ini buat kak Yudhis dan aku, biar Andre nanti Ayah yang belikan.”Angga masih merasa kesal dengan Andreas.
“Enggak apa-apa, biar nanti kakak bagi dua sama Andreas.” Yudhis menatap Angga.
“Enggak bisa kakak, kan Angga membelikan buat kak Yudhis, pokoknya kak Yudhis jangan memberikan cokelat itu sama Andre!” Angga kesal sambil menatap Yudhis.
Andreas langsung menangis setelah melihat perlakuan Angga padanya. Mpok Leila yang melihat kejadian itu langsung membawa Andreas ke kamarnya. Suaranya memecahkan kesunyian senja itu. Tangisan anak kecil yang sangat merindukan Ibunya saat ia bersedih dengan perlakuan kakaknta.
“Tuh kan jadi nangis! Angga enggak boleh seperti itu sama Andre, dia juga adik kita.” Yudhis menasihati Angga.
“Katanya kamu sayang sama Andre? Tapi kenapa setiap ada Andre sikap kamu jadi culas?” Yudhis kembali bertanya pada Angga yang sedari tadi terdiam dan cemberut.
“Angga masih kesal sama Andre! Gara-gara Andre, sampai hari ini Angga tidak bisa bertemu ibu!” Angga berlalu dari pandangan Yudhis.
“Angga... Angga!” Yudhis berusaha memanggil adiknya yang berjalan menuju kamarnya.
Yudhis bingung dengan keadaan ini. Ia takut hal seperti ini akan berakibat buruk bagi Andre dan Angga ketika mereka dewasa. Yudhis demgan sabar menghadapi tingkah laku kedua adiknya yang sering bertengkar. Ujung-ujungnya Andre hanya bisa menangis dan merekam semua sikap Angga terhadapnya. Padahal Yudhis tahu kalau sebenarnya Angga menyayangi adiknya.
Hari minggu berlalu, kini hari telah berganti. Sepulang sekolah Andreas masih murung karena mengingat kejadian hari kemarin. Setelah makan siang, ia langsung tertidur di kamarnya. Sebenarnya Mpok Leila merasa iba pada Andreas. Anak sekecil itu harus menjalani kehidupan tanpa ibunya. Terlebih sikap Angga yang terlalu culas pada Andreas. Mpok Leila hanya bisa berdoa dan memberi nasihat pada anak-anak Wirawan.
Ketika Andreas terbangun dari tidurnya, ia melihat cokelat yang sama sudah berada di sampingnya. Ia merasa senang dan beranggapan bahwa Yudhis telah membelikannya cokelat.
“Wah... Cokekat, hmmm... Enaaakkk.” Andreas langsung memakan cokelat itu.
Andreas bergegas menemui Yudhis, ia berlari menuju kamarnya.
Tok Tok Tok!!
“Kakak... Kakak!” Andreas masih mengetuk pintu kamar Yudhis.
Tak lama kemudian Yudhis keluar dari kamarnya.
“Eh... Andreas, sini masuk ke kamar Kakak!” Yudhis menggandeng tangan adiknya.
“Ada apa Andre mencari kakak?” Yudhis melihat Andre sedang makan cokelat.
“Makasih ya kak, cokelatnya enak.” Andre tersenyum pada Yudhis.
Yudhis bingung dengan makaud adiknya. Ia tidak merasa membelikan cokelat pada Andre. Yudhis berpikir bahwa Ayah yang membelikan cokelat, tapi Andre berpikir bahwa ia yang membelikannya.
“Oh... Bukan kak Yudhis yang membelikan, mungkin Ayah yang membelikan cokelat ini untuk Andre.” Yudhis memberi tahu Andreas.
“Ga apa-apa kak, Andre senang, kakak mau?” Andre menyodorkan cokelat pada kakaknya.
“Buat Andee saja, kan kemarin kakak sudah makan cokelatnya.” Yudhis tersenyum pada Andreas.
“Ya sudah Andre mau cari Mpok Leila, Andre mau mandi.” Andre tersenyum dan bergegas mencari Mpok Leila.
Yudhis masih penasaran siapa sebenarnya yang membelikan cokelat untuk Andreas. Ia menyelidiki agar rasa penasarannya hilang. Berharap segera mengetahui siapa yang membelikan cokelat untuk Andreas.
Setiap malam Andreas selalu meminta Mpok Leila menceritakan tentang ibunya. Hingga Andreas beranggapan bahwa rindu akan hadirnya ibu adalah hal yang tidak akan mungkin ia dapatkan di dunia ini. Selama ini ia merasa tidak diperhatikan seperti anak-anak seusianya. Sikap dingin Wirawan terekam jelas dalam ingatan Andreas. Hal itu disebabkan kesibukan Wirawan dalam mengurusi pekerjaannya, hanya sesekali ia mengobrol dengan Andreas. Sikap culas Angga juga terekam jelas dalam hati dan pikiran Andreas. Ia merasa hanya Mpok Leila, Babeh Rojak, dan Kak Yudhis yang memperhatikan dan menyayanginya. Hal itu sangat berpengaruh pada psikis Andreas menghadapi masa remaja.
Semakin hari Andreas tumbuh menjadi remaja tampan, cerdas, dengan hati dingin dan urakan. Tapi di masa ini, ia mengalami salah pergaulan. Hal ini adalah imbas dari masa lalunya yang kurang mendapat kasih sayang dari orang terdekatnya. Sehingga ia mencari kebebasan, kebahagiaan di luar bersama teman-temannya. Ia tidak pernah mempunyai teman dekat atau sahabat. Andreas hanya berteman dan sebatas meramaikan suasana hatinya. Rata-rata teman yang sering berkumpul bersamanya juga mempunyai masalah dalam keluarganya. Sehingga kelakuan mereka mencerminkan kenakalan remaja. Sesungguhnya keluarga Andreas sangat menyayanginya, hanya saja Andreas tidak menyadari hal itu.