Kini Andreas menginjak kelas 3 SMA. Penampilannya keren, tampan, cerdas, tapi sayang sekali kelakuannya seperti berandalan. Tidak mencerminkan sebagai anggota keluarga Wirawan Adhitama yang terhormat.
Hampir setiap hari Wirawan mendapat laporan tentang prilaku buruk anak bontotnya itu. Hampir setiap bulan Wirawan mendapat surat teguran dari sekolah Andreas, karena banyak pelanggaran peraturan yang dilakukan Andreas. Sebenarnya Andreas hanya ingin mendapatkan perhatian lebih dari keluarganya terutama Ayahnya yang bersikap dingin pada Andreas karena terlalu sibuk mengurus pekerjaan.
Saat Andreas masih SMP, dia menjadi salah satu siswa berprestasi di sekolahnya. Waktu kelas 1 SMP dia memdapat ranking pertama di kelasnya. Hati Andreas sangat senang, ia berpikir bahwa Ayahnya akan bangga dan semakin memperhatikan Andreas. Tapi apapun hasil yang ia capai, selalu dianggap biasa oleh Wirawan. Awalnya ia merasa biasa, tapi setelah naik kelas 3 SMP, ia selalu merasa sendiri dan kesepian di rumah. Merasa tak berharga dan tak dianggap. Sehingga sejak ia SMA, Andreas sama sekali tidak pernah belajar serius. Dalam pikirannya hanya mencari hiburan, kesenangan, agar bisa melupakan penderitaan mental yang ia alami selama ini.
Namun Wirawan dan kedua kakak Andreas justru berpikir bahwa Andreas menjadi anak nakal karena memang salah pergaulan. Mereka merasa peduli dan menyayangi Andreas, tapi perhatian yang mereka berikan tidak cukup membuat Andreas yakin bahwa keluarganya tidak menyia-nyiakannya. Kesalah pahaman ini lah yang membuat pertengkaran antara Andreas dan keluarganya sering terjadi.
Penampilan Andreas terkesan berantakan. Rambutnya sedikit panjang dan acak-acakan, pelipis wajah yang diberi plester, baju seragam yang jarang dimasukkan, jas sekolah yang jarang dikancing. Walau seperti itu, karisma ketampanan yang ia miliki masih membuat banyak gadis terpesona dengan gaya badboynya. Namun sayang, Andreas tidak pernah mempedulikan gadis-gadis yang menyukainya. Sikapnya dingin dan jalan pikirannya sulit ditebak.
Semester 2 telah berjalan, sebentar lagi kelas 3 SMA akan menghadapi ujian nasional, sehingga setelah pelajaran terakhir dan istirahat siang, seluruh kelas 3 IPA dan IPS akan mengikuti pelajaran tambahan untuk membahas soal-soal latihan ujian nasional. Bel pulang sekolah telah berbunyi. Andreas dan teman-teman urakannya berniat untuk membolos. Mereka adalah Bimo, Rio, Andi, dan Alga.
“Hei... Bro... Lu ikut kita kan? Bolos di jam tambahan.” Salah seorang teman Andreas yang bernama Bimo bertanya.
“Iyaaa lah! Ngapain juga gue capek-capek belajar kalau akhirnya selalu nggak dianggap dan nggak dihargai.” Andreas menjawab dengan nada dingin.
“Nah gitu dong! Terus kita mau kemana?” Tanya teman Andreas yang bernama Alga.
“Gimana kalau ke tempat game online? Asik kan?” Andreas melirik ke empat temannya.
“Tapi Ndre... Duit kita mana cukup, gimana kalau lu yang traktir kita, asik nggak tuh?” Saran Rio pada Andreas.
“Keep calm brooo... Kalau masalah duit sih, serahin ke gue!” Sahut Andreas pada teman-temannya.
“Mantap Ndre! Terus gimana caranya kita bolos?” Tanya Andi pada teman-teman berandalnya.
“Ya lewat pintu gerbang lah! Kita lewat aja, seolah-olah kita ini anak kelas 2, naaaaaaahhh... Asik nggak tuh?” Bimo melirik gengnya.
“Good idea!” Sahut Andreas.
“Hahahahahah... Asik nggak tuh? Hahahahaha....” mereka tertawa bersama.
Mereka berhasil keluar gerbang disaat ramai siswa pulang sekolah. Mereka bergegas menuju halte sekolah untuk menunggu bus menuju tempat game online. Walaupun anak konglomerat, Andreas jarang naik kendaraan pribadi ke sekolah sejak SMA. Ia lebih memilih naik kendaraan umum, agar bisa mampir-mampir untuk kongkow atau main ke tempat game online tanpa Ayah dan kakaknya tahu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB. Andreasbdan teman-temannya maaih asik main game online. Namun salah satu dari mereka mengajak pulang.
“Gengs pulang yuk! Gue laper nih!” Ajak Andi pada teman-temannya.
“Ya elah brooo... Baru juga bentar doang, udah minta balik aja! Asik nggak tuh?” Sahut Bimo.
“Gue juga laper, ya udah, yang masih mau di sini main game terserah aja, biar gue yang bayarin, tapi sorry gue mau balik.” Andreas berpamitan.
“Ah nggak asik nih! Kayak anak mami aja!” Sahut Bimo ketus.
Brraaakkkk!!!
Suara meja yang dipukul Andreas di depan Bimo.
“Lu kalau mau main ya udah main aja! Tapi jangan bawa-bawa nama mami! Gue nggak punya mami! Ngerti kan perasaan gue! Rese lu!!! Lagian gue yang bayarin!!! Jangan sotoy lu Bim!!!” Andreas tersinggung dengan ucapan Bimo.
Seisi ruangan melihat ke arah Bimo dan Andreas, tapi Bimo hanya menunduk malu dan menyimpan dendam pada Andreas karena merasa dipermalukan di tempat umum.
“Santai brooo... Udah jangan ribut di sini!” Rio melerai mereka berdua, karena takilut kalau mereka akan berkelahi.
“Udah Ndre kita pulang!” Andi megajak Andre keluar dari tempat game online.
Andre dan Andi keluar dari sana, tapi wajah Andre masih menyimpan marah pada Bimo. Begitu pula dengan Bimo yang masih menggenggam telapak tangannya, seakan menahan amarah sampai otot di wajahnya terlihat sangat tegang.
“Udah Bim... Lanjutin main lagi!” Ajak Rio pada Bimo.
“Iya Bim, lanjutin! Asiiik nggak tuh?” Alga berusaha memperbaiki mood Bimo.
“Gue balik!” Bimo bergegas pulang begitu saja.
Ia berjalan keluar sambil memikirkan cara untuk balas dendam pada Andreas.
“Awas lu Ndre! Gue balas 10 kali lipat dari apa yang lu perbuat ke gue barusan! Lagian lu juga bukan sahabat gue! Lu itu cuma remaja kesepian yang nggak punya teman!” Bimo menggerutu dalam hati.
Andreas tiba di rumah menjelang isya. Kedua kakaknya dan Ayahnya sudah menunggu di ruang makan. Andreas membuka pintu rumah dan masuk dengan raut wajah muram. Ia melihat keluarganya berada di meja makan, Andreas hanya melirik tanpa menyapa mereka.
“Ndre! Baru pulang?” Tanya Ayah pada Andreas.
“Sejak kapan Ayah peduli sama Andre?” Andreas menatap ayahnya dan berlalu begitu saja.
“Astaghfirullah... Andre kenapa jadi begini?” Wirawan sedih melihat sikap anak bontotnya.
“Belagu nih bocah! Ndre... Andre!” Angga berusaha menegur Andreas, tapi ditahan oleh Yudhis.
“Sudah lah... Mungkin suasana hatinya lagi nggak bagus... Kita lanjutkan makan saja, nanti biar Yudhis yang bertanya pada Andreas, setelah suasana hatinya membaik.” Yudhis menenangkan.
Angga memang tipikal laki-laki yang emosional, bersikap frontal, tapi penyayang. Sedangkan Yudhis lebih bersikap tenang, berpikir dewasa, tidak mengedepankan emosi sesaat. Hal ini yang membuat Angga dan Andreas seeing bertengkar. Sedangkan Yudhis selalu bisa menengahi mereka.
Andreas sedang terbaring di atas tempat tidurnya. Suara ketukan pintu terdengar memecah keheningan.
Tok!! Tok!! Tok!!!
“Andre... Kak Yudhis nih! Tolong buka pintunya!” Yudhis memberi tahu Andreas.
“Iya... Tunggu!” Andreas membukakan pintu untuk kakaknya.
“Ada apa kak?” Andreas bertanya pada kakaknya, ia berdiri sambil memegangi pintu kamarnya.
“Kakak mau bicara!” Yudhis menyelonong maauk ke kamar Andreas.
Mereka duduk di karpet lantai kamar Andreas.
“Ndre... Sebenarnya lu kenapa sih? Ada masalah apa?” Yudhis penasaran.
“Nggak ada apa-apa! Kenapa emang?” Andreas menatap Yudhis.
“Kakak hanya mau mengingatkan... Jangan ulangi lagi bersikap tidak sopan pada Ayah!” Yudhis mengingatkan.
“Tapi memang benarkan? Ayah tidak peduli sama Andre!” Andreas menatap kakak pertamanya.
“Apa ayah pernah bilang seperti itu? Nggak kan? Apa Ayah pernah membedakan fasilitas untuk ketiga anak-anaknya? Nggak juga kan? Terus kenapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu?” Yudhis membalikkan semua kata-kata Andreas.
“Karena semua berpikir kalau kehadiran Andre telah merenggut nyawa Ibu!” Dengan suara lirih, Andreas menatap dalam mata kakaknya.
“Sudah berapa kali kakak bilang, tidak boleh berpikir seperti itu Ndre! Kamu sudah dewasa jangan berpikir kekanakan! Ndre kakak yakin kamu sama baiknya dengan Angga, kakak menyayangi kalian, please Ndre! Berubah jadi lebih baik!” Yudhis berlalu dari pandangan Andreas.
Sejak Yudhis berkata seperti itu, Andreas menunduk dan termenung. Ia memikirkan kata-kata kakaknya. Berusaha untuk mencerna dan mengartikan makna dari semua perbuatan yang sudah ia lakukan.
“Apa benar aku salah selama ini?” Andreas bergumam dalam hati.
“Ah... Sudahlah! Lebih baik gue tidur!” Andreas mematikan lampu kamarnya, mengunci pintu, dan tidur dengan cepat.
Hari telah berganti, matahari mulai menampakkan sinarnya untuk menghangatkan ibu pertiwi. Seperti biasa Andreas berangkat kesiangan, kali ini ia akan menuju sekolah dengan menunggangi motor sportnya. Ia selalu dilayani dengan baik oleh Mpok Leila. Seseorang yang merawatnya sejak bayi dan sudah dianggap seperti ibu sendiri.
“Den Andre! Jangan tawuran lagi ya Den! Mpok takut kalau Den Andre kenape-nape!” Mpok Leila berusaha berbicara pada Andreas.
“Siap Mpok! Andre berangkat dulu Mpok!” Andreas tersenyum pada Mpok Leila.
Tak lama kemudian ia melaju dengan motornya. Sesampainya di sekolah, terlihat pintu gerbang akan segera ditutup, Andreas memberi klakson pertanda untuk pak Satpam.
“Ini bocah kebiasaan telat mulu! Ayo buruan!” Pak Satpam melambaikan tangannya pada Andreas.
“Makasih Pak!” Andreas melaju sammbil mengacungkan jempol tangannya pada pak Satpam.
Andreas berlari sampai ujung koridor lantai dua dimana kelasnya berada. Ia memasuki kelas dan menyangka Bimo masih marah padanya, karena kejadian di tempat game online. Ternyata ke empat kawannya itu bersikap seperti biasanya. Geng amburadul trouble maker sekolah Nusantara High School.
“Hai... Brooo... Tumben berangkat pagi, hahahaha....” Alga menyapa dan semua anak geng amburadul tertawa.
“ Gue juga nggak nyangka bisa berangkat pagi, biasanya jam istirahat gue baru datang... Asiiik nggak tuh?” Andreas melempar pertanyaan khas geng amburadul.
“wkwkkwkkw... Asiiik nggak tuh!” Mereka terlihat konyol dan sulit diatur.
Beberapa waktu kemudian guru datang untuk memberi pengumuman bahwa seminggu lagi ujian nasional akan diselenggarakan.
“Pagi anak-anak.” Guru menyapa seluruh siswa kelas 3 IPS 5
“Pagiiii... Buuu.” Seluruh siswa menjawab sapaan gurunya.
“Seminggu lagi kalian akan melaksanakan ujian nasional, kami selaku guru akan selalu mengingatkan dan memberi support pada kalian semua, semoga sukses.”
“Amiiin.” Seluruh siswa berdoa.
Pelajaran berlangsung, guru hanya membahas soal-soal latihan ujian nasional.
“Ndre... Nanti malam belajar yuk di rumah gue!” Bimo berbisik pada Andre karena tempat duduk mereka berdekatan.
“Serius?” Andre kaget karena tidak seperti biasanya Bimo ingin belajar.
“Iyaaa lah... Kan sebentar lagi mau ujian! Gue percaya, walau lu nggak pernah belajar, tapi lu cerdas, lu pasti paham sama soal-soal ini.” Bimo berharap Andre mau mengajarinya.
“Terserah yang lain aja deh!” Andre melirik Rio, Alga, dan Andi.
“Bro... Diajakin Bimo belajar kelompok, hihihihi....” Andre tertawa geli sambil berbisik pada Rio.
“Lu bercanda?” Rio tampak terkejut.
“Ndre... Lu mau kan belajar di rumah gue?” Bimo bertanya lagi pada Andreas.