BAB 17

1063 Words
Karena Hyunjin tidak terlalu suka dengan buku, cowok itu hanya membuntuti Nada kemanapun dia melangkah untuk melihat-lihat buku. "Mending lo duduk di sana deh daripada buntutin gue," ujar Nada yang kesal melihat Hyunjin. Wajah Hyunjin terlihat mencerah. "Boleh?" tanyanya pada Nada yang membuat cewek itu benar-benar tidak habis pikir dengan Hyunjin karena sejak awal tidak ada yang menyuruhnya untuk membuntuti Nada. "Kenapa nggak boleh? Ynag nyuruh lo ngikutin gue kan nggak ada," katanya dan langsung menunjuk sebuah sofa di ujung toko buku. "Tuh ada sofa." "Iya ya, nggak ada yang nyuru. Yaudah gue ke sana," ujar Hyunjin yang langsung melangkahkan kaki menjauh dari Nada, menuju sofa dan melemparkan tubuhnya di sana. Nada menggelengkan kepala melihat tingkah Hyunjin. "Lucu juga dia," katanya yang detik itu juga spontan Nada memukul-mukul mulutnya. Menyadari apa yang telah dia katakan tudak seharusnya keluar dari mulutnya. Dia lalu kembali fokus untuk melihat-lihat buku di sana. Hanya melihat buku-buku yang tersusun rapi saja membuat Nada merasakan euforia tersendiri. Jika orang-orang ingin barang-barang unik untuk hadiah ulangtahunnya, Nada tidak aneh-aneh, dihadiahi satu buku novel saja dia sangat senang minta ampun. Nada menggoyang-goyangkan tubuh Hyunjin yang tertidur di sofa itu. Rupanya cewek itu sudah selesai memilih buku dan membeli satu buku yang paling menarik perhatiannya. Hyunjin terperanjat dan melihat Nada sudah berdiri di depannya. "Kok lo di sini?" tanyanya pada Nada. Rupanya cowok itu masih belum sadar sepenuhnya. "Ya kan kita tadi ke toko buku," kata Nada santai dan menahan tawanya melihat Hyunjin yang terlihat bingung. "Lah iya, nyawa gue belum lengkap," ujarny adan langsung berdiri. "Sudah?" "Sudah." "Ayo, sekarang mau kemana?" "Pulang." Hyunjin mengangguk dan keluar dari koto buku. Saat sudah siap menjalankan motor milik Nada, Ponsel Hyunjin selalu berdering yang mana membuat cowok itu akhirnya memilih untuk mengangkat telepon terlebih dahulu. "Kenapa sih?" tanya Hyunjin pada orang di seberang sana dan beberapa detik kemudian dia langsung kembali mengantongi ponselnya dan melajukan motor dengan kecepatan tinggi. Nada yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi hanya bisa pasrah di jok belakang sambil bersholawat dan berdzikir beberapa kali lantaran jantungnya yang seperti ingin melompat saking cepatnya Hyunjin menjalankan motor.  *** Nada tidak bisa mempercayai apa yang ada di depannya sekarang. Keadaan sangat kacau dan semua orang di sini saling baku hantam. Termasuk Hyunjin, sedang fokus bergelut dengan beberapa orang yang terlihat lebih tua di sana. Nada menelan ludah, tangannya tidak bisa berhenti gemetar, matanya pun tidak bisa lagi menahan air yang hendak jatuh, dia benar-benar terkejut serta sangat takut sekarang. Bagaimana tidak? Sekelompok orang-orang mengerikan sedang berkelahi di hadapannya, walaupun jarak Nada lumayan jauh dari sana, namun dia masih dapat melihat dengan jelas. Prasangka buruknya tentang Hyunjin menjadi semakin berkembang. Padahal baru saja dia mulai mempercayai Hyunjin. Setelah sekitar sepuluh menit yang menurut Nada rasanya seperti satu jam itu akhirnya mereka berhenti. kelompok lawan Hyunjin terlihat kalah di sana, dengan wajah babak belur bahkan darah di mana-mana. Nada tidak tahu harus bersyukur atau marah setelah dia melihat apa yang dilakukan Hyunjin di hadapannya. Orang itu benar-benar kejam. Dengan napasnya yang tersengal, Hyunjin mendekati Nada. "Sorry, Na. Gue tadi lupa lagi bonceng lo," katanya yang membuat Nada semakin tercengang. "Lo nggak papa, kan?" tanyanya pada Nada dengan wajahnya yang terdapat beberapa luka akibat tonjokan. "Lo gila, ya?!" Nada tersenyum tidak habis pikir dengan Hyunjin. "Sorry, kita pulang ya, gue antar." Hyunjin menyengir merasakan wakit di beberapa bagian wajahnya saat berbicara. "Nggak perlu, gue nggak sudi diantar preman kejam kayak lo." Nada memasang helmnya dengan tatapan tak habis pikirnya yang tidak lepas dari Hyunjin. "Na, jangan marah dulu--" Nada tertawa, "Jangan marah? Bener-bener gila ni orang." "Na, gue jelasin dulu." "Apa yang mau dijelasin? Kalau ternyata lo anggota geng motor yang s***s, itu? Nggak usah berlagak keren lo, nyakitin orang lain nggak ada yang keren." Nada benar-benar terlihat kecewa. Nada langsung naik motornya dan meninggalkan Hyunjin di sana. Dia pulang dengan perasaan yang benar-benar syok. Apalagi ini ya Tuhan ... kenapa saya harus melihat itu semua!!! Di tengah-tengah rasa kecewanya pada Hyunjin, Nada mengingat wajah Hyunjin yang terluka dan membuat cowok itu terlihat kesakitan. Dirinya sempat berpikir untuk kembali mendatangi Hyunjin namun dia urungkan lantaran rasa kecewanya lebih besar saat itu. *** Buku yang sudah dia beli tadi bahkan tidak menarik perhatian Nada. Dia hanya duduk di depan meja belajar sambil melamun entah apa yang dia pikirkan. Nada menatap jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul 10 malam, dan Nino belum kunjung pulang. Nada membuka kamar Nino dan benar saja, dia tidak mendapati Adiknya di sana. Bu Ning juga sudah pulang ke rumahnya yang mana Nada benar-benar sendiri di rumah karena Mamanya biasanya jam 10 malam baru pulang. Aktivitas tangannya yang mencari kontak Nino untuk menghubungi anak itu terhenti saat Nada melihat ada benda yang menarik perhatiannya di sudut kasur Nino. Nada masuk ke sana dan benar-benar terkejut saat menyentuh benda itu ternyata adalah sebatang rokok. Darah Nada rasanya mendidih mengingat Nino masih kelas tiga SMP jika dia benar-benar mencoba benda itu. Nada memutuskan untuk duduk di kasur Nino sembari menunggu anak itu pulang. Dan beberapa menit kemudian, Nino muncul dengan seragam sekolahnya yang masih bertengger di tubuhnya. "Loh, kok di kamar Nino, Kak?" tanyanya pada Nada dengan wajah bingung dan menyadari ada yang tidak beres melihat ekspresi Nada yang tidak baik-baik saja. "Ini apa?!" Nada menunjukkan sebatang rokok pada Nino dan langsung berdiri. Matanya memanas benar-benar kecewa terhadap Adiknya itu. Bukan apa-apa, dia hanya khawatir jika Nino melakukan hal-hal aneh lainnya. Bukannya menjawab, Nino melemparkan tubuhnya ke kasur empuk itu. "Kalau Nino bilang nggak tahu, Kakak nggak bakal percaya, kan?" tanyanya pada Nada dengan tertawa mirisnya. Nada benar-benar tidak habis pikir. "Lo beneran ngerokok?" tanyanya sekali lagi dengan nada suara yang agak tinggi. "Kalau iya, kenapa?" Nada berkacak pinggang dan benar-benar syok. "Lo gila, ya?" "Iya gue gila!" "Nino!" "Apa? Kalau lo bisa maafin Papa dan bisa asyik makan bubur ayam kayak kemarin, gue enggak, Kak. Enggak bisa, lo nggak tahu apa yang gue rasain, banyak yang belum gue lakuin sama Papa tapi dia asyik mengurus anak lain, Mama juga, sibuk sibuk sibuk. Keluarga kita hancur, Kak! Sudah nggak ada rumah bagi gue!" Mata Nada memanas. "Tapi masih ada gue, Nino. Masih ada Kakak di rumah. Dan selalu ada rumah buat lo!" Nino membenamkan wajahnya dalam bantal, dia tidak tahu apa yang dia lakukan benar atau tidak, yang dia tahu, hatinya sangat sakit sekarang dan rasanya benar-benar tidak ingin bangun lagi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD