BAB 16

1080 Words
Sore yang cerah dan tubuh yang sehat adalah anugrah hebat yang dirasakan Nada hari ini. Dia segera mengambil totebagnya, helm, serta kunci motor untuk pergi ke suatu tempat.  Dia mencoba mencari hiburan setelah apa yang terjadi kemarin. Mengingatnya saja membuat kepalanya terasa pusing. Nada selalu tampil dengan pakaian simple yang dia rasa asal nyaman saat mengenakannya. Hari ini dia hanya memakai jins denim dengan kaus putih bertuliskan "I love books." lalu rambut panjangnya selalu dia kuncir kuda. Ya, sama seperti kaus yang dia kenakan, gadis itu akan pergi ke sebuah toko buku. Di mana lagi menemukan surga lautan kata jika bukan di toko buku atau perpustakaan?  Tetapi toko buku menjadi pilihan Nada sekarang, dia benar-benar perlu bacaan baru demi kebahagiaan dirinya sendiri. Dengan perasaan bahagia, dia lalu menjalankan motornya dengan suasana hati yang baik entah dibaik-baikkan atau memang benar-benar baik. Dari kejauhan, Nada tidak sengaja melihat sekumpulan cowok dengan pakaian serba hitamnya yang sedang nongkrong di depan halte sebuah taman. Mereka tampak mengerikan dengan rokok yang masing-masing bertengger di tangannya serta penampilan yang benar-benar seperti preman salah gaul. Pasalnya mereka masih terlihat muda, tidak jauh dari usia Nada. Nada dapat melihat dengan jelas motor mereka tersusun rapi di sana, dan semua motor adalah RX-King. Benar-benar geng motor klasik yang terlihat mengerikan. Nada jadi teringat, motor milik Hyunjin juga bermerk RX-King.  Hyunjin? Tunggu, Nada yang mengendarai motornya itu mulai mendekat, dan benar saja dia melihat Hyunjin dengan gitarnya di sana. Cowok itu asyik bernyanyi dan sesekali menyesap rokoknya. Cowok itu tidak menyadari jika Nada lewat di depannya. Nada hanya tetap menjalankan motornya dan ... astaga, ada polisi tidur di depan dan pandangan Nada masih melihat Hyunjin di sana hingga membuatnya tidak bisa mengendalikan motor dan oleng lalu akhirnya ambruk. Sungguh memalukan. "Owww!" "Ih, ada cewek jatuh, Ges!" "Tolongin, tolongin!" "Eh cantik nih." Nada dapat mendengar dengan jelas suara-suara itu yang mulai mendekat. Padahal posisi jatuhnya bukan di hadapan sekumpulan cowok itu, agak jauh ke depan namun masih dalam jangkauan pandang orang-orang itu.  Merutuki dirinya sendiri adalah yang dilakukan Nada saat ini. Sangat memalukan. Mau ditaruh di mana wajahnya? Mana ada Hyunjin lagi di sana. Ah, hari ini rasanya benar-benar s**l bagi Nada. "Neng, kenapa jatuh?" Cowok yang mendekat segera bertanya dan membantu Nada mendirikan kembali motornya. Nada tersenyum tipis, "Nggak tahu," jawabnya polos yang membuat beberapa cowok itu tertawa. "Makasih," katanya lagi tidak lupa mengucapkan kata tersebut karena orang itu telah membantunya mendirikan motor miliknya. "Ada yang luka enggak?" ujar cowok yang lain tetapi tampangnya sangat mengerikan dengan wajah yang penuh bekas luka, membuat Nada tidak berani menatapnya. "Muka gue emang ngeri tapi nggak usah gitu juga kali natapnya," ujar orang itu yang tahu jika Nada ketakutan. "NADA?!" Ah, rasanya Nada sangat ingin tenggelam sekarang, dia sangat malu dengan Hyunjin. "Dih, emang lo kenal sama dia?" tanya orang yang wajahnya penuh bekas luka itu dan mengejek Hyunjin yang terlihat sok kenal. Hyunjin tidak menyahut dan tidak banyak cekcok, dia langsung mendekati Nada, merampas helm di tangan temannya, lalu duduk di motor Nada. "Ayo, gue antar." "Owww! Suit-suit!" "Seorang Hyunjin!" "Sejak kapan lo tertarik sama cewek, Jin?" "Jangan dibikin mainan lho ya!" Hyunjin menatap Nada. "Cepet naik, jangan dengerin mereka." "Uhuy! Hati-hati di jalan Mas Bro dan calon Mba Bro!" "Beneran kenal ya sepertinya," ujar lelaki yang wajahnya penuh bekas luka tadi. Nada langsung naik di jok belakang dan tersenyum ringan kepada cowok-cowok itu, berpamitan dengan menganggukkan kepalanya sekali saat Hyunjin mulai menjalankan motornya. Hyunjin terus menjalankan motornya kemudian berhenti di sebuah apotek. Dia tidak banyak bicara, bahkan sepanjang perjalanan hanya diam, pun sekarang, cowok itu turun dari motor dan langsung menuju apotek tanpa berbicara sepatah kata pun pada Nada. Dia lalu kembali dengan sebuah obat merah dan plester luka. Sejenak Nada kebingungan hingga akhirnya Hyunjin berbicara. "Lutut lo luka, obatin dulu," katanya yang menyerahkan obat merah kepada Nada. Nada menatap lututnya, ah benar-benar luka ternyata, bahkan celana denimnya itu sobek hingga melihatkan kulitnya yang memerah dengan sedikit darah akibat terluka. Bisa-bisanya Nada tidak sadar jika lututnya terluka lantaran yang dia rasakan hanya malu yang teramat dalam. Gadis itu tertawa, "Saking malunya, gue sampai nggak sadar kalau kaki gue luka," katanya seraya meraih obat merah dari tangan Hyunjin. Cowok itu sangat tahu dan tidak lancang jika langsung mengobati kaki Nada, dia benar-benar tahu batasan makanya dia menyuruh Nada untuk mengobati lukanya sendiri. Hyunjin balik tertawa. "Lo ngeliatin apa sampai-sampai jatuh?" "Eng--E--Enggak ngeliatin apa-apa!"  "Pantes jatuh, orang nggak liat apa-apa. Ngendarain motor tuh lihat jalan!" Hyunjin tertawa membuat Nada semakin malu. Nada tersenyum tipis, dia rasanya benar-benar malu ditambah gagap segala akibat panik jika ketahuan dia jatuh karena sedikit terpaku melihat Hyunjin di sana. Bukan, bukan karena Nada sudah menyukai Hyunjin. Nada hanya merasa takjub melihat sekumpulan cowok seperti preman itu dan sangat mengerikan, terlebih Hyunjin ada di sana, dia jadi sadar betapa mengerikannya seorang Hyunjin. Oh iya, sepertinya sejak awal Nada memang sudah sadar dan selalu menganggap cowok itu anak nakal. Tetapi bagaimana ini? Di situasi Nada sekarang, pasti dia sangat bingung. Apakah Hyunjin baik atau jahat? Mengapa dia selalu bertemu dengan Hyunjin? Mengapa Hyunjin selalu sangat baik terhadapnya? Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang berputar di otaknya. Lalu kata-kata Nino dan Jaehyun yang tentang takdir kini ikut berputar di otaknya yang membuatnya benci dengan pikirannya sendiri. "Nih, plesternya, pake sendiri apa gue yang pakein?" "Sendiri aja." Nada mengambil plester dari tangan Hyunjin dan menempelkan pada lututnya. "Sudah?" "Sudah," jawab Nada singkat. "Gue antar pulang," ujar Hyunjin yang langsung naik ke motor Nada.  Nada mengikuti tapi dirinya belum naik di jok belakang. "Ayo," ujar Hyunjin yang melihat Nada belum kunjung naik juga. Nada tersenyum tipis, "Gue mau ke toko buku," katanya yang memang maish belum ingin pulang walau lututnya terluka. "Dengan kaki yang pincang-pincang begitu?" tanya Hyunjin yang dari tadi memerhatikan cara berjalan Nada agak sedikit pincang lantaran lutut kanannya yang terluka. "Enggak papa kok, sakit sedikit doang," kata Nada yang benar-benar yakin. "Yaudah gue antar ke toko buku." Nada masih belum naik. "Tapi gue bisa sendiri kok," katanya yang secara tidak langsung menolak niat baik Hyunjin. "Gue anter aja, janji deh gue nggak banyak ngomong," ujar Hyunjin yang masih teguh untuk tetap mengantar Nada. "Yaudah," kata Nada yang akhirnya menuruti Hyunjin di sana. Entah kenapa setelah beberapa kali bertemu dan ngobrol dengan Hyunjin, Nada mulai tidak segan lagi dengan cowok itu. Dan sepanjang perjalanan, Hyunjin benar-benar menetapi janjinya untuk tidak banyak bicara. Membuat Nada semakin merasa nyaman di sana. Nada! Sadar Nada! Lo enggak boleh nyaman sama siapapun! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD