BAB 15

1041 Words
Nada tercengang begitu melihat Dion, Papanya yang sudah berdiri di ambang pintu bersama seorang gadis kecil. Pria itu tersenyum dengan mudahnya. “Nada … katanya kamu sakit, ini Papa bawain buah-buahan sama bahan-bahan buat bikin bubur ayam, Papa masakin, ya” ujar pria itu yang mendekati Nada di sana. Gadis itu masih terpaku, bahkan menyahut perkataan Papanya saja tidak sanggup. “Gimana, Nak? Sudah mendingan kan badannya?” tanyanya lagi yang hendak menyentuh kening Nada namun keburu ditepis oleh anaknya itu. Nada sangat ingin marah, dia sangat ingin mengomel dan berkata kasar kepada Papanya saat itu juga, namun begitu melihat senyuman yang sangat Nada rindukan itu dirinya hanya bisa membeku, terdiam tidak tahu harus apa. “Kakak cantik.” Suara itu berasal dari anak kecil yang sedari tadi berdiri di samping Dion. Dia mendongak menatap Nada dengan senyumnya yang sederhana namun terlihat manis. “Cepat sembuh ya,” katanya lagi yang membuat hati Nada terasa amat perih apalagi anak itu melemparkan senyum yang sama sekali tidak berdosa. “Tasya tunggu di sini ya, duduk sini, Papa mau masak di dapur,” ujarnya pada gadis kecil yang tak lain dan tak buukan adalah anak Dion bersama perempuan lain selain Rina. Mendengar Papanya berbicara dengan gadis kecil itu membuat Nada semakin merasakan retakan demi retakan di hatinya. Dion menuju dapur di sana dan diikuti Jaehyun yang sedari tadi memang masih berada di rumah Nada. “Biar Jaehyun bantu, Om,” ujarnya yang langsung mengambil alih bahan-bahan yang dibawa oleh Dion. Pria itu tersenyum pada Jaehyun. "Sudah lama di sini?" "Iya, Om, dari tadi pagi," katanya yang memang sekarang sudah hampir sore. Nada menatap televisi dengan matanya yang memanas, air matanya pun tidak bisa dia bendung lagi, menetes perlahan. “Kakak nangis? Jangan sedih.” Gadis kecil bernama Tasya itu memeluk Nada di sana. Nada sangat ingin berontak dan menepis pelukan anak itu namun tubuhnya tiba-tiba membeku. Dia tidak bisa bergerak sama sekali speerti orang lumpuh yang kuasa menggerakkan tubuhnya sendiri. Rasanya benar-benar sakit, saat seseorang yang amat kita benci ada di hadapan, kita tidak sanggup marah-marah lantaran rasa sayang dan rindu yang amat berat kepada orang itu. Pada dasarnya, kita tidak bisa benar-benar membenci orang yang sudah kita sayang bertahun-tahun, apalagi dia adalah ayah kita sendiri. Nada benar-benar benci kepada Papanya. Namun, dia tidak bisa benar-benar marah. Dia sangat kesal memiliki perasaan seperti itu sekarang. *** “Saya kerja di sini, Pak. Bantu nemenin sama masakin Kakak Nada sama Mas Nino.” Bu Ning langsung menjelaskan begitu dia bertemu dengan Dion di dapur. Begitu melihat Dion, Bu Ning langsung tahu bahwa pria itu adalah ayah dari Nada dan Nino. Dion membalas dengan senyuman. “Oh iya, Ibu yang menghubungi saya, kan?” Bu Ning mengangguk. “Iya Pak, saya di suruh sama Bu Rina, katanya Kak Nada keliatan kangen sama Papanya, jadi saya disuruh hubungin Bapak,” katanya lagi menjelaskan. Rina benar-benar wanita yang kuat, walaupun dia sebenarnya tidak sanggup, namun dia masih memikirkan anak-anaknya dan berusaha menghubungi Dion walau secara tidak langsung untuk mengabari tentang keadaan anaknya. “Terima kasih banyak, Bu.” Dion tersenyum. “Iya, sama-sama. Yang penting Kak Nada senang.” Jaehyun yang sedang menyusun buah-buahan itu memasang wajah kesal. Tak dipungkiri, dia juga ikut kesal dengan apa yang dilakukan oleh Dion, namun apa daya dia tidak benar-benar tahu apa yang terjadi dan sangat tidak etis jika dia marah-marah kepada orang tua. "Sini saya bantu, Pak. Mau masak apa?" tanya Bu Ning yang melihat Dion menyiapkan bahan-bahan. "Bubur ayam, Nada paling suka sama bubur ayam buatan saya," katanya sambil tersenyum, senyum yang benar-benar tulus untuk anaknya. Padahal tadi Bu Ning sudah membuatkan Nada bubur ayam, namun mendengar Nada sangat suka bubur buatan ayahnya membuat Bu Ning tidak mengatakannya kepada Dion. "Oh iya, ada titipaan dari Bu Rina, Pak." Bu Ning menyerahkan sebuah amplop besar berwarna coklat. Lantas Dion membukanya dan ekspresinya benar-benar terlihat sedih saat melihat ternyata itu adalah surat gugatan cerai dari Rina. *** "Ih, siapa ini lucu banget!" Nino baru pulang sekolah dan mendapati anak kecil yang duduk di antara Nada dan Jaehyun. "Bukan anak kalian berdua, kan?" ujar Nino yang masih saja suka meledek Kakaknya. Gadis kecil itu tersenyum. "Nama aku Tasya," ujarnya dengan suara yang benar-benar imut.  "Ah, lucu banget!" Nino menguyel-nguyel pipi anak itu gemas dengan senyum dan pipi gembulnya. "kamu dari mana?" tanya Nino lagi. Nada dan Jaehyun masih diam dan tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya pada Nino. "Aku ke sini sama Papa," katanya masih dengan suara yang membuat Nino gemas. "Oh ya?" kata Nino yang kini menatap Kakaknya. "Siapa sih, Kak?" tanya Nino lagi yang benar-benar tidak bisa menebak anak itu siapa. Baru saja Nada ingin menjawab, Nino sudah terlebih dulu dikejutkan oleh Dion yang muncul membawa dua mangkuk bubur ayam di sebuah nampan. Disusul Bu Ning yang membawakan bubur lainnya agar semua orang di sana bisa amkan sama-sama. Nino yang tadi duduk di hadapan Tasya itu itu langsung berdiri, dia langsung menyadari Tasya adalah anak Papanya dnegan perempuan lain. Tatapan Nino yang begitu teduh dan gemas terhadap Tasya itu seketika runtuh dan berubah menjadi tatapan benci. Tanpa berkata apa-apa Nino langsung memundurkan tubuhnya, berbalik, dan lari ke kamarnya. Dion yang hendak berteriak memanggil Nino itu dia urungkan, lantaran mengingat apa yang telah dia lakukan dan sudah pasti hal seperti ini harus dia hadapi, dan Nino tidak akan mungkin langsung bisa menyambutnya dengan baik. "Ayo, kita makan buburnya," ujar Dion yang duduk di hadapan Nada." Nada masih diam membeku di sana. "Nada? Ayo makan, nanti keburu dingin," ujar Dion pada putri sulungnya itu. Nada benar-benar ingin pergi dari sana, namun melihat keringat di kening Dion itu membuatnya tidak tega untuk tidak memakan bubur buatannya terlebih bubur itu adalah adalah bubur paling kesukaan Nada sedunia. "Papa, panas." Tasya mengeluh saat menyendokkan bubur ke mulutnya.  Jaehyun yang duduk tepat di samping Tasya itu langsung mengerti agar Papanya bisa berkomunikasi lebih banyak lagi dengan Nada. "Sini, Kakak suapin," ujar Jaehyun yang mengambil mangkok Tasya sambil tersenyum. Tasya mengangguk dan terlihat senang dengan apa yang dilakukan Jaehyun di sana. "Terima kasih, Kakak," ujarnya dengan suara yang benar-benar membuat siapapun yang mendengarnya merasa gemas. "Maafin Papa," ujar Dion tiba-tiba di tengah keheningan dan membuat Nada menyuapkan bubur ke dalam mulutnya itu dengan air mata yang menetes. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD