“Sekarang kamu istirahat aja ya, nggak usah masuk kuliah dulu sampai besok,” ujar Rina yang menggandeng Nada menuju kamarnya. Gadis itu sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit hari ini.
Nada hanya mengangguk pelan dan sebenarnya dia terlihat sangat tidak bersemangat. “Iya,” ujarnya singkat seraya membenarkan posisi di atas ranjangnya.
Rina terlihat memandangi jam tangannya, “Yaudah, Mama mau ke kantor lagi ya, kalau mau apa-apa bilang sama Bu Ning. Dah, cepat sehat ya anak Mama,” katanya sambil mencium kening Nada di sana.
Nada hanya membalas dengan senyuman, senyum tipis yang bahkan tidak mencapai matanya. “Oke.”
Begitu Rina menutup pintu kamar Nada, gadis itu langsung membenamkan diri dalam selimut, suasana hatinya benar-benar buruk. Keadaan rumah sangat berubah seratus persen, Nada terlalu syok dengan perubahan yang sangat berbeda ini.
Dia sangat tahu jika usianya sekarang telah menginjak 20 tahun, dia juga sangat tahu tidak seharusnya dia larut dalam kesedihan seperti ini, dan dia sangat tahu menjadi dewasa itu adalah hal yang sulit. Dan sekarang, dia benar-benar tidak bisa menjadi dewasa yang dibicarakan orang-orang. Dia terlalu tidak siap dengan perubahan yang ada hingga membuatnya bingung dengan diri sendiri.
“Kak ….” Bu Ning mengetok pintu kamar Nada. “Bu Ning buatin bubur ayam kesukaan Kakak ni,” ujarnya lagi dari luar sana.
Nada membuka selimutnya, matanya agak memanas mengingat yang mengatakan itu bukan Mama atau Papanya. Dulu, jika Nada sakit, Mama atau Papanya selalu membuatkan bubur ayam kesukaannya.
“Kak ….” Bu Ning mengetok lagi.
“Iya,” ujar Nada yang akhirnya menyahut dan membuka pintu kamarnya.
“Ayo makan dulu,” kata Bu Ning yang sedang tersenyum melihat nada, senyum yang sangat teduh.
Nada mengangguk dan mengambil mangkuk yang dibawa Bu Ning.
“Mau makan di mana? Ayo Bu Ning temani,” ujar Bu Ning masih dengan sneyumnya yang belum luntur.
“Di depan tv aja deh,” ujar Nada seraya membalas senyum Bu Ning di sana. Setidaknya melihat Bu Ning yang sedang tersenyum membuat suasana hatinya agak membaik.
Mereka kemudian berjalan menuju ruang televisi, menuruni tangga karena kamar Nada terletak di lantai dua. Bu Ning langsung mencari remot televisi dan mencari saluran yang menarik. “Mau nonton apa Kak?”
“Upin-Ipin ada nggak?” tanya Nada sambil tertawa.
Bu Ning memandang Nada kemudian ikut tertawa di sana. “Nggak papa, Bu Ning juga masih suka nonton Upin-Ipin kok,” ujarnya lagi kemudian melanjutkan tawanya yang renyah. "Betul, betul, betul!" katanya yang membuat Nada ikut tertawa.
“Ayo di makan buburnya, dulu Bu Ning pernah jualan bubur ayam lho.”
“Oh ya? Berarti ini pasti enak dong?” kata Nada yang langsung menyendok bubur di tangannya. Matanya berhasil membulat begitu satu sendok bubur ayam mendarat dalam mulutnya. ”Ini enak banget Bu!”
Bu Ning langsung menegakkan tubuhnya lalu berkacak pinggang di sana. “Yaiyalah, kan Bu Ning yang masak!” katanya yang membuat Nada tertawa di sana.
“Enak beneran,” ujar Nada seraya memakan bubur tersebut sambil memandang televisi yang dari tadi salurannya berubah-ubah lantaran Bu Ning yang masih belum kunjung menemukan Upin-Ipin di sana.
***
"Assalamualaikum!"
Mendengar suara itu Nada langsung tahu siapa yang datang. Jaehyun. Dan tanpa disuruh, cowok itu langsung masuk ke rumah Nada saking seringnya dia main ke sini sejak kecil.
"Gimana Na, sudah enakan? Nih, gue bawain bacaan, kemarin kebetulan lewat toko buku," ujar Jaehyun sambil menyerahkan sebuah novel yang tentu saja membuat Nada terlihat begitu bersemangat.
Tidak langsung mengambil, Nada menatap Jaehyun dengan tatapan sendu. "Lo nggak marah sama gue?" tanya Nada mengingat kejadian tidak enak kemarin yang membuat Jaehyun meninggalkan rumah sakit padahal cowok itu sudah menemani Nino untuk mengurus Nada saat pingsan.
Jaehyun mendengus. "Ya marah sih. Tapi emang kita bisa ya marahan lama-lama?" katanya yang langsung menyomot toples berisi kacang goreng di atas meja.
Nada tertawa. Iya juga, selama mereka berteman memang sering berdebat dan saling kesal satu sama lain, namun keduanya sama-sama tidak bisa bertahan untuk marah lebih lama. toh besok langsung kembali normal seperti biasa.
"Maaf ya," ujar Nada yang benar-benar merasa bersalah kepada sahabatnya itu.
"Gue lebih minta maaf," sahut Jaehyun yang lebih merasa bersalah lagi kepada Nada.
"Loh, ada siapa ini?" tanya Bu Ning yang membawa sebuah olahan tempe yang baru saja dia buat di dapur.
Jaehyun menatap Nada dengan bingung, pasalnya cowok itu baru kali ini melihat Bu Ning di rumah Nada. "Siapa?" tanya Jaehyun pada Nada.
"Kenalin Jae, ini Bu Ning. Bu Ning, kenalin ini Jae tetangga sebelah yang main nyelonong aja tadi masuk," ujar Nada memperkenalkan mereka.
"Oh ... temen Kak Nada dari kecil itu ya? Ganteng pisan, hehe. Kenalin Mas, saya Bu Ning sudah kerja di sini lebih dari seminggu kali ya, bantu masak-masak sama ngurus rumah." Bu Ning mengulurkan tangan pada Jaehyun.
Jaehyun menyambutnya dengan senyum dan mereka bersalaman. Di sini Jaehyun benar-benar ada yang beda dengan ekspresi Nada. Dia sangat tahu, keberadaan Bu Ning sepertinya bukan yang dia inginkan, bukan karena tidak suka dengan Bu Ning, namun di sini Nada merasa kehilangan sosok Mamanya walau sebenarnya Mamanya tidak pergi kemana-mana hanya saja jarang pulang sejak kejadian itu.
"Tumben lo nggak sibuk," ujar Nada pada Jaehyun yang kembali asyik mengunyah kacang goreng.
Jaehyun berhenti mengunyah, dia menegak es cocopandan yang dibuatkan Bu Ning. "Hm, gatau sih, lagi males aja," katanya yang membuat Nada merasa aneh, ini seperti bukan Jaehyun.
"Males? Sejak kapan seorang Jaehyun bisa mengatakan kata males?"
"Emang nggak pernah?"
"Enggak lah! Enggak ada rumus males di dalam hidup seorang Jaehyun."
Jaehyun tertawa tipis, "Gue cuma coba istirahat Na, sudah capek terlalu sibuk selama ini sampai lupa sama yang ada di sekitar gue, termasuk lo," katanya membuat Nada terdiam.
"Nggak usah kaget kali, biasa aja ah! Aneh, Na!"
Nada menjitak kepala sahabatnya itu. "Lo aneh dodol!"
"Aw!"
Nada mengempaskan tubuhnya pada sandaran sofa.
"Oh iya, Na. Lo kayaknya dekat banget ya sama Hyunjin?"
"Enggak." Nada menjawab dengan cepat.
"Masa?"
"Iya, enggak kok. Kami cuma selalu ketemu secara kebetulan," ujarnya lagi tidak terima dikatai dekat dengan Hyunjin.
"Takdir," ujar Jaehyun yang membuat Nada sangat kesal.
Nada sangat tidak suka dengan kata "takdir" apalagi jika yang mengatakan itu adalah Jaehyun. Nada hanya tersenyum miris di sana seraya menatap Jaehyun yang kini beralih mengunyah olahan tempe Bu Ning itu.
Yang gue suka itu lo Jae, bukan Hyunjin.
Nada mencoba menepis pikirannya. Bukankah dia sudah memutuskan untuk tidak berharap kepada siapapun lagi?
***