Nada dan Sandra sangat tercengang saat melihat Hyunjin yang begitu akrab dengan anak-anak pasien kanker di rumah sakit Yulje.
Hari ini mereka mengikuti kegiatan amal dari sebuah organisasi peduli sesama yang mengajak Nada dan Sandra untuk ikut serta. Siapa sangka mereka bertemu Hyunjin di sana.
"Gila Hyunjin bener-bener gabisa ditebak." Sandra berceletuk di sana.
Nada dan Sandra mendekati Hyunjin yang mana membuat cowok itu agak terkejut melihat kedatangan mereka.
"Loh, kalian di sini?" tanya Hyunjin dengan wajahnya yang terlihat salah tingkah.
"Enggak. Kami adalah hantu." Sandra mengatakan itu dengan wajah seriusnya.
"Hah?"
Sandra lalu tertawa melihat wajah bingung Hyunjin. "Enggak lah. Iya kami di sini, lantas apa yang kamu lakukan wahai Mas Hyunjin?"
Nada hanya bisa menggelengkan kepala dan tertawa melihat tingkah Sandra.
Hyunjin menggaruk kepalanya yang bahkan tidak gatal itu.
"Kak!" Seorang anak laki-laki yang memakai kupluk lantaran kepalanya botak itu mendekati Hyunjin.
"Ini, gue habis ngejenguk dia," kata Hyunjin menunjuk anak tersebut. "Dia salah satu anak di panti asuhan amanah," ujarnya lagi sambil menatap Nada yang mana dia pasti tahu panti asuhan amanah.
Nada dan Sandra lalu mengangguk.
"Kalian mau baca dongeng?"
"Iya," jawab Nada singkat.
"Sandra juga?" Hyunjin melihat Sandra dengan tatapan meragukan.
"Heh! Ada apa dengan tatapan lo! Gini-gini gue pinter ngehibur anak-anak tahu!" Sandra sangat sadar jika Hyunjin meragukan dan hendak mengejeknya saat itu.
Hyunjin dan Nada lalu tertawa di sana melihat Sandra yang tidak terima.
"Ayo Na siap-siap." Sandra mengajak Nada untuk ke tempat dekat panggung kecil yang sudah disiapkan panitia peduli sesama untuk penampilan mereka.
Nada mengangguk lalu mereka meninggalkan Hyunjin.
Dan tidak lama kemudian pertunjukam dimulai. Bukan pertunjukan besar namun berhasil membuat anak-anak penderita kanker bersemangat menonton.
Nada dan Sandra selalu membawa properti berupa boneka tangan yang lucu-lucu itu. Mereka biasanya tampil sendiri-sendiri namun lebih sering tampil berdua karena membuat suasana semakin seru.
Karakter Sandra yang kesehariannya aneh dan receh sangat membantu untuk menghibur anak-anak, dan Nada walaupun kesehariannya tidak seaneh Sandra namun dia sangat lihai memainkan karakter di sana. Sangat terlihat jika Nada mudah menyesuaikan apa yang hatus dia lakukan di satu tempat tertentu sesuai keadaan walau pada dasarnya cewek itu agak suka menyendiri.
Setelah membawakan satu cerita dengan boneka tangan, mereka lantas membawakan satu cerita kancil lagi. Di sana juga ada beberapa properti seperti boneka kancil dan kawan-kawannya.
KANCIL DAN JERAPAH
“Awas, minggir!” terdengar suara si Jerapah, mengusir tiga binatang – Kambing, Keledai, dan Domba, yang sedang minum di pinggir sungai “Kalian ini mengganggu hakku.”
Domba berbisik, “Memangnya, sungai ini milik dia sendiri?”
“Ssst, nanti kamu ditendang lagi seperti waktu itu,” kata Kambing dan Keledai memenangkan.
“Aah, aku ini memang ganteng. Badanku keren, leherku jenjang, kukuku rapi, buluku halus,” kata Jerapah memandangi pantulan dirinya di air sungai yang jernih “Wajahku, apalagi, selalu bersih bersinar.” Lalu mencela tiga ekor binatang yang sedang menunduk. “Memangnya kalian? Lihat, deh, sudah tidak tinggi ditambah badan kalian kotor… issh! Apa sih kelebihan kalian?”
“Padahal aku haus,” bisik Kambing gelisah setelah menunggu sekian lama dan Jerapah belum selesai minum.
Ini sudah ke sekian kalinya Jerapah bertindak semena-mena kepada mereka bertiga. Dia pernah menendang dan menghina si Domba saat Domba menegurnya karena si Jerapah menggosokkan kukunya di tumpukan bulu domba. Domba mulanya akan memberikan bulu itu untuk alas tidur beberapa anak kucing hutan yang baru lahir. Bulu-bulu domba itu menjadi kotor dan Domba batal memberikannya. Jerapah juga memakan rerumputan yang dikumpulkan si Keledai tanpa izinnya lalu pergi meninggalkan tempat Keledai dalam keadaan berantakan. Jerapah juga pernah dengan sengaja menendang ember-ember berisi s**u milik si Kambing.
“Dia selalu menghina dan semena-mena terhadap kita,” bisik Keledai.
Datanglah seekor Kancil. Tanpa izin, dia mendekat lalu menyeruput air sungai, “Aaaah, segar sekali.”
“Hey, apa yang kamu lakukan? Ini sungaiku. Tidak boleh ada yang minum saat aku minum,” Jerapah berkata dengan sewot.
“Hah? Siapa bilang?” sanggah Kancil. “Sungai ini ada di hutan, dan aku tidak melihat papan tulisan jika sungai ini milikmu, jadi semestinya semua boleh minum.”
“Kamu binatang kecil, jelek, kotor yang menjengkelkan!” seru Jerapah. “Aku bisa menendangmu, atau menaruhmu di dahan pohon yang tinggi dengan kepalaku.”
“Ya, kamu memang tinggi, tapi aku tidak yakin jika kamu bisa berlari cepat untuk menangkapku.”
“Jangan menantang, kau akan menyesal, Kancil!” Jerapah berteriak marah.
“Ayo, buktikan. Kejar aku sekarang,” kata Kancil. Jerapah berjalan mendekati dan Kancil mulai berlari.
Kancil berlari sangat kencang, melewati batu-batu, pohon, ilalang, dengan zigzag. Meskipun kakinya sangat panjang, namun Jerapah agak kesulitan mengejar Kancil. Lehernya yang tinggi membuat dia kesulitan melihat ke bawah sehingga ia sering tersandung. Kadang lehernya juga tersangkut dahan tinggi. Ia juga sulit berlari zigzag, karena setiap belokan dia kesulitan berlari.
Kancil sampai ke sebuah gua, lalu masuk ke dalam. Jerapah menyusulnya. Semakin dalam, semakin gelap dan sempit. Batuan Stalaktit di atap gua menusuk-nusuk wajah dan kepala Jerapah.
“Aduuuh, kepalaku!” jerit Jerapah. Ia berhenti masuk gua, “Tolong, aku kesakitan”.
Kancil pun berhenti. Ia berbalik mencari si Jerapah.
“Aduh, kau menginjak badanku.” seru Jerapah, karena dia terbaring sementara kepalanya berdarah
“Maafkan aku. Disini gelap sekali,” kata Kancil. “Ayo, aku tolong kau untuk berdiri, dan menuju ke cahaya itu.”
Cahaya kecil itu adalah tempat mereka masuk ke gua. Kancil memapah Jerapah keluar dari gua. Ternyata di luar, sudah ada Domba, Keledai, dan Babi menunggu.
“Teman kalian ini perlu pertolongan pertama, adakah yang bisa?”
“Aku bisa,” kata Keledai.
“Aku akan mengambilkan air untuk membersihkan luka-lukanya,” kata Kambing.
“Dan aku akan mengambilkan bulu domba untuk menutup lukamu dan alat P3K,” kata Domba.
“Kenapa kalian baik sekali?” tanya Jerapah dibalik derai air matanya dan wajahnya yang mengeluarkan darah. “Padahal aku sombong dan semena-mena kepada kalian.”
“Ya, memang kamu sombong terhadap kami,” kata Keledai, “Tapi dalam keadaan luka begini dan kamu membutuhkan pertolongan, tidak mungkin kami tinggalkan jika kami bisa menolongmu.”
“Jika dirimu tinggi, kamu bisa mengambil sesuatu dari tempat lebih tinggi, sementara jika kamu pendek, kamu bisa mudah melihat hambatan di bawah. Setiap makhluk memiliki kelebihan dan kekurangan, jadi kita harus saling bekerja sama, bukan malah menghina,” kata Kancil. “Nah, kamu sudah di tangah yang tepat, Jerapah. Aku pamit pergi dulu, ya.”
“Aku minta maaf atas kesombonganku, ya.” kata Jerapah. “Mulai sekarang, mari kita berteman.”
Domba, Keledai, dan Kambing tersenyum mengiyakan.
***
Nada dan Sandra tersenyum ketika sudah selesai bercerita tentang Kancil dan Jerapah.
"Jadi, adik-adik semuanya. Dari kisah tadi kita bisa mengambil sebuah nasihat, yaitu ... apa Kak Sandra?" Nda amenatap Sandra.
"Yaitu kita tidak boleh sombong dengan apa yang kita miliki! Yeay! Semua orang pasti memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing dan tentu saja kita akan saling membutuhkan dan harus tolong-menolong satu sama lain yak! Oleh karena itu kita tidak boleh?" Sandra bertanya pada adik-adik di sana.
"Sombong!" Semuanya serentak menjawab.
"Iya, betul sekali! Yeay! Terima kasih sudah mau menjawab ya, adik-adik!"
"Sama-sama, Kak!"
Sandra dan Nada berhadapan lalu berpamitan undur diri mengakhiri pertunjukan mereka.
Seperti biasa, suasana hati dua cewek itu sangat bagus ketika baru saja selesai bercerita kepada adik-adik seperti itu. Apalagi seperti sekarang, yang mereka hibur adalah anak-anak penderita kanker yang sedang berjuang mempertahankan hidupnya.
Hyunjin mendekati mereka, dengan senyumnya yang benar-benar manis. "Keren banget kalian sumpah!" serunya dengan bersemangat.
"Ehem! Kalau menyangkut bercerita seperti ini, gue sama Nada emang juaranya, sih," ujar Sandra dengan sangat percaya diri. "Yakan, Na?"
Nada hanya tertawa menanggapi tingkah temannya itu. "Tapi emang iya sih," katanya yang akhirnya menyahut. Ikut-ikutan percaya diri di sana.
"Habis ini kalian kemana?" tanya Hyunjin.
"Nggak ada rencana, sih," sahut Nada di sana.
"Mau ngajak kami makan, ya?!" seru Sandra dengan semangat.
"Boleh deh." Hyunjin mengangguk. "Kita makan bakso gimana?" ujarnya mengajak kedua cewek itu.
"SETUJU!" seru Sandra tanpa berpikir dulu. "NADA JUGA PASTI SETUJU!" serunya lagi yang tidak peduli pendapat Nada.
Nada hanya bisa menghela napas. "Iyadeh," katanya dengan nada yang sedikit pasrah.
Mereka lalu berpamitan dengan paniitia acaradi rumah sakit itu dan pergi meninggalkan rumah sakit lantaran acara hari ini memang sudah selesai.
***