Melemparkan diri ke sofa yang super empuk adalah jalan ninja Nada untuk mengurangi rasa kesalnya. Gadis itu sangat kesal mengingat Jaehyun tadi menatapnya dengan tatapan yang membuat Nada tidak bisa mengontrol detak jantungnya yang terus saja berdegup kencang.
Tetapi dia benar-benar kesal dan marah dengan Jaehyun, bisa-bisanya cowok itu menyalahkan Nada karena tidak menceritakan kepada Jaehyun apa yang terjadi padanya, padahal si Jaehyun Sibuk Surendra lah yang super sibuk hingga celah untuk Nada sekedar meluapkan kesedihan saja tidak ada lagi.
Nada membuka layar ponselnya yang bordering.
Pesan dari Jaehyun di sana.
Na, kunci motor lo gue taroh di kantong depan motor ya, sudah gue parkirin di garasi.
Nada menarik napas panjang membaca pesan itu, karena kalut dalam kemarahan pada Jaehyun, dia sampai mengabaikan motornya.
Tunggu, Nada tiba-tiba terperanjat dan langsung bangun dari rebahannya, dia teringat dengan Hyunjin yang mana cowok itulah yang mengantarkannya tadi. Astaga bisa-bisanya dia lupa karena Jaehyun benar-benar mengalihkannya dari apapun.
Nada kembali melihat layar ponselnya, tidak ada tanda-tanda pesan dari Hyunjin di sana. Pasalnya gadis itu sangat merasa tidak enak telah mengabaikannya padahal hari ini Hyunjin sangat berjasa dalam membuatnya merasa lebih tenang walau tidak sepenuhnya, setidaknya, Nada bisa tersenyum hari ini.
“Kak, lo kok kucel banget sih?! Ih, basah lagi!” Nino menyentuh baju Nada yang masih agak sedikit basah.
Gadis itu ikut menyentuhnya, “Astaga, lupa, tadi kehujanan,” ujarnya yang langsung berdiri dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
“Gila.” Satu kata itu keluar dari mulut Nino dengan kepalanya yang tergeleng akibat sangat heran dengan tingkah kakaknya itu.
“Gue denger!” teriak Nada dari dalam kamar mandi.
Nino tidak menanggapi kakaknya itu dan niat bermain game di ponselnya lalu duduk di sofa terdekat. “Anj—Kak! Sofanya jadi basah gara-gara lo!”
Giliran Nada yang tidak menggubris teriakan adiknya dan beruju Nino yang mengomel panjang-lebar bak ibu-ibu yang kesal terhadap kelakuan anaknya.
“Nino! Ambilin handuk!”
Helaan napas kesal tentu saja Nino lakukan. “Kebiasaan deh! Sebelum masuk kamar mandi tuh ambil handuk dulu, Bambang!”
“Lo juga kayak gitu, kan? Cepetan ini gue kedinginan, Joko!”
Nino berdiri, dia memang sangat kesal hingga game yang dia mainkan kalah detik itu juga, namun entah kenapa tubuhnya secara otomatis bergerak mengikuti apa perintah kakaknya. “Joka Joko Joka Joko, mau gue panggilin Joko?!” serunya kesal sambil mencarikan handuk di kamar kakaknya.
“Nih handuknya,” kata Nino saat dia sudah sampai di depan pintu kamar mandi dengan handuk putih di tangannya. Nada meraih handuk tersebut dari celah pintu yang dia buka sedikit.
“Terima kasih adikku yang ganteng maksimal.”
Nino memutar bola matanya, “Lebay!”
“Dih!”
Nino kembali rebahan di lantai, dan ingin melanjutkan bermain game, baru saja diaa ingin mmebuka aplikasi pada ponselnya, aktivitasnya terhenti ketika melihat notif w******p dari temannya, Daffa yang ternyata sudah spam chat sejak tadi.
No, Kakak lu baik-baik aja kan?
No
P
P
P
P
Nino bales!
Ah, Abang gue rese banget, nanyain Kakak lo mulu, kenapa nggak tanya langsung coba
Nino, helloooo
Emang mereka habis ngapain sih?
Nino? Ih, ini Abang gue nungguin jawaban lo
Heh Nino Bambang Sujoko jawab! b***k ya lo?
Nino mengernyitkan dahi begitu membaca pesan dari Daffa. “Kak, lo habis ngapain sih sama abangnya Daffa?” tanyanya langsung pada Nada yang sibuk mengeringkan rambutnya.
Fokus Nada pada rambut dan hairdryernya langsung teralihkan, “Hah? Kenapa lo nanya gitu?”
“Daffa ngechat gue, terus katanya ini—“
Belum selesai Nino menjelaskan, ponselnya langsung dirampas oleh Nada yang ining langsung membaca pesan itu sendiri.
“Aneh, kalian ada hubungan apa sih?” tanya Nino dnegan wajahnya yang sangat meledek. “Kok dia bisa mau sama lo sih?”
Tanpa aba-aba Nada langsung menggaplok kepala adiknya itu. “Nggak usah mikir aneh-aneh!”
“Kak Nada Navya yang cantik, bagaimana bisa adikmu yang ganteng ini tidak berpikir aneh-aneh? Pertama, lo kemarin ada di rumah dia, terus hari ini dia tanya ke gue melalui adiknya yang sebagai temen gue ini tentang lo apakah lo baik-baik aja atau enggak. Siapa yang nggak curiga? Emang ada orang yang positif thinking terus-terusan?” Daffa menjelaskan sampai napasnya tesengal. “Jangan-jangan lo tadi main hujan sama Bang Hyunjin ya?!”
Padahal Nino hanya menebak seara acak dan ngasal, namun tanpa dia ketahui itu adalah sebuah fakta yang benar terjadi pada kakaknya. Nada yang mendengar itu pun langsung tersedak angina yang entah dari mana.
“Nggak mungkin dong ya kalau kalian main hujan-hujanan,” timpal Nino lagi smabil tertawa membayangkan jika itu benar-benar terjadi.
Nada semakin batuk-batuk dan berlari ke dapur untuk mencari air minum.
“Ribet banget sih, tanya aja sendiri langsung sama orangnya, jangan tanya sama gue!” Nino bersuara agak sedikit kencang, ternyata anak itu sedang mengirimkan sebuah pesan suara ke Daffa dan dia benar-benar kesal, bisa-bisanya Hyunjin bertanya hal tersebut ke Nino.
“Kak, cepetan telpon tuh pacarnya, kayaknya khawatir banget deh sama lo. Hahaha!”
“Bukan pacar gue!”
“Bodo!”
“Ada apa to ini ribut-ribut?” tanya Bu Ning yang baru saja dari pasar dengan tas belanjaanya yang penuh dengan sayur dan belanjaan lain.
“Bu Ning, Kak Nada punya pacar!” ujar Nino dengan ekspresi wajah mengejeknya, dia tertawa puas di sana.
Bu Ning terlihat antusias. “Wah, siapa? Ganteng nggak? Baik nggak?”
“Bohong Bu! Nada nggak punya pacar kok!” teriak Nada dan langsung mengejar dengan penuh amarah Nino yang sudah berlari lantaran merasa terancam itu. “Gue kejar lo walau sampai ke ujung dunia!”
***
Senin pagi adalah hari yang paling banyak dibenci orang-orang, termasuk Nada, rasanya berat sekali jika sudah bangun di pagi senin ini, dan sekarang rasanya benar-benar berat. Tubuhnya seperti susah digerakkan hingga dia menyadari suhu tubuhnya yang agak tinggi membuat gadis itu sangat lemas.
Ternyata rasa malasnya bukan karena ini adalah hari senin, namun karena dia jatuh sakit. Nada berusaha beranjak duduk dan melihat jam di kamarnya sudah menunjukkan pukul enam pagi.
“Kak, lo nggak masuk pagi?!” teriak Nino dari luar dan mengetuk pintu kamar kakaknya. “Kak?”
Rasanya lemas sekali bahkan untuk menyahut pertanyaan Nino saja Nada tidak sanggup mengeluarkan suaranya.
“Kak?”
Nada sudah berusaha menyahut, namun suaranya amat lirih hingga tidak terdengar sampai ke luar.
“Kak, Mama udah berangkat, ada nasi goreng di meja makan tadi dibuatin Mama,” ujar Nino lagi.
Nada yang mendengar itu tiba-tiba saja merasakan sesak di dadanya. Sejak kejadian itu mamanya sangat jarang berada di rumah dan Nada amat sangat merindukan momen mereka dulu yang sangat bahagia. Apalagi saat dia merasa tidak enak badan begini, biasanya Papa dan Mamanya siap siaga mengurusnya dan khawatir setengah mati hinga rela tidak masuk kerja. Tetapi sekarang, rasanya sangat hampa dan membuat kepala Nada yang sudah pusing itu semakin terasa nyeri.
Dia berusaha berjalan dan membuka pintu kamarnya, namun rasa pusing yang sudah tidak tertahankan lagi membuat Nada tumbang tepat saat dia membuka pintu. Semuanya terasa buram hingga hanya gelap yang dilihat Nada.
“KAK!”
Nino yang melihat kakaknya itu sangat kebingungan mengingat di rumahnya tidak ada lagi orang selain dirinya. Bu Ning belum datang jika masih sepagi ini.
“Kak bangun!”
***