BAB 10

1436 Words
Nada tidak habis pikir, dia memandang tubuhnya sendiri yang sudah basah kuyup hasil dari main hujan-hujanan bersama Hyunjin. Yang dia tak habis pikir lagi, bisa-bisanya sekarang dia duduk di hadapan Hyunjin yang tengah menikmati dengan lahap semangkuk bakso. “Nggak makan?” tanya cowok itu seraya mengunyah bola-bola daging dengan semangat. Nada memandangi mangkuk di hadapannya, baksonya belum tersentuh sama sekali. “Eh iya, makan kok,” ujarnya yang kemudian meraih mangkuk tersebut. “Ternyata makan bakso dengan kondisi basah kuyup gini enak banget anjir!” Hyunjin mencoba mencairkan suasana. Nada hanya mengangguk dan merasa semakin canggung. Dia hanya tidak bisa mengerti dirinya sendiri. Duh Nada, apa lagi ini? Kenapa bisa main hujan-hujanan plus makan bakso bareng Hyunjin sih? Nada, sadar! Jangan seneng Nada! “Ngelamunin apa?” Hyunjin kembali bertanya. Nada masih terdiam sambil mengunyah bakso. Gadis itu memang kalau sudah fokus dengan satu hal, jangan harap apa yang di sekitar akan terdengar di telinganya. “Hello! Nada?” Akhirnya gadis itu tersadar, “Hah?” Hyunjin menghela napas, “Nggak papa, gue ganteng,” katanya lalu menyeruput es teh manis. “Hah?!” Nada mengernyitkan dahinya, bergidik ngeri, semakin merasa ini tidak benar. Semuanya tidak benar hari ini, mulai dari pertemuannya dengan Hyunjin sampai berakhir makan bakso berdua seperti ini, jika Sandra mengetahui bisa-bisa anak itu sangat heboh dan teriakannya menggema di seluruh penjuru bumi. *** Cuaca sudah kembali cerah, bahkan semesta saja begitu cepat berganti suasana, bagaimana dengan hati? Semua orang juga tahu, namun sering menyangkalnya jika hati sering terbolak-balik dengan cepat. “Gue bisa balik sendiri, kok.” Nada bersikeras agar Hyunjin yang sedari tadi ngeyel ingin mengantarkannya pulang. “Lagian gue kan bawa motor.” “Udah cepetan naik, gue mah gampang nanti pulangnya.” Hyunjin tetap keras dengan niatnya, bahkan cowok itu sudah nangkring di jok depan motor milik Nada. “Please, gue nggak mau ngerepotin orang.” “Gue nggak merasa kesepotan, kok.” “Hah?!” “Kerepotan! Ah elah pakai typo segala nih mulut gue,” Hyunjin memukul bibirnya sendiri. Nada yang tadinya sangat serius tiba-tiba tertawa melihat tingkah Hyunjin. “Bisa ketawa juga lo ternyata.” Kalimat itu langsung membuat Nada menghentikan tertawanya, dia lalu berdecak sebal. “Ini sudah sore,” ujar Nada langsung mengalihkan pembicaraan dan masih berharap Hyunjin berubah pikiran untuk tidak mengantarkannya pulang. “Justru sudah sore, Nada. Daripada berdebat gini, mending lo naik deh, seharusnya kita sudah sampai rumah lo ini dari tadi.” Hyunjin menatap Nada lekat, “Ini sampai baju kita keburu kering di badan saking lamanya lho.” Nada akhirnya menyerah dengan perdebatan panjang ini dan berakhir duduk di jok belakang dengan perasaan campur aduk. Sepanjang jalan, mereka hanya sama-sama diam, tidak ada yang memulai pembicaraan. Hanya suara knalpot dan klakson yang bersahutan di jalanan. Nada menatap punggung Hyunjin yang entah kenapa membuatnya sedikit lebih tenang, paling tidak hari ini cowok itu telah berhasil membuatnya tertawa, dan rela hujan-hujanan demi ajakan Nada dan hal itu membuatnya merasa setidaknya di dunia ini dia tidak sendiri. “Makasih,” perkataan singkat itu keluar dari mulut Nada begitu saja. Hyunjin yang mendengar itu sampai oleng mengendarai motor saking terkejutnya. “Maaf, oleng. Makasih untuk apa nih?” Nada terlalu gengsi untuk melanjutkan percakapan. “Ya makasih aja,” sahutnya yang begitu singkat dan tidak jelas. Walaupun Nada menyahut seperti itu, tetapi tidak dipungkiri, hal tersebut membuat kedua sudut bibir Hyunjin menungging hingga sulit dihentikan. Dan Nada dapat melihat dengan jelas dari kaca spion yang kebetulan mengarah ke wajah cowok itu. Senyumannya benar-benar sangat terlihat puas dan membuatnya merasa menjadi lelaki paling bahagia di seluruh dunia. Nada agak terkejut melihat Jaehyun yang sudah berdiri di depan pagar rumahnya, dari raut wajahnya terlihat seolah dia sudah menunggu Nada sejak lama. “Kok kalian bisa berdua?” Jaehyun langsung bertanya begitu dua orang itu berhenti di depan rumah Nada. Alih-alih menjawab pertanyaan Jaehyun, Nada langsung balik bertanya kepada sahabatnya itu. “Lo ngapain di situ, Jae? Kayak nggak punya rumah aja.” Jaehyun menatap Nada dengan aneh, seolah ada yang ingin dia sampaikan tetapi bingung bagaimana memulainya. “Kok lo basah sih?” tanyanya yang melihat pakaian Nada agak sedikit basah. “Kehujanan apa sengaja hujan-hujanan?” “Nggak papa kok, lo belum jawab pertanyaan gue Jae, lo ngapain di situ?” tanya Nada lagi dengan wajah yang memang menunggu jawaban sedari tadi. “Gue nungguin lo, sudah dua jam.” “Ih, ngadi-ngadi lo, dua jam di situ? Kayak nggak punya rumah aja sih lo Jae, rumah lo kan di sebelah doang, kan bisa pulang dulu,” ujar Nada yang terlihat kesal. Jaehyun mendekati Nada yang memang sudah turun dari motor, “Gue khawatir, Na. Lo kenapa nggak cerita sama gue?” Deg. Jantung Nada agak bergetar, dia langsung tahu saat mendnegar perkataan Jaehyun. Gadis itu lalu tersenyum hambar, “Kenapa baru sekarang khawatirnya, kemana aja lo selama ini?” tanyanya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Hyunjin yang melihat dua orang di hadapannya itu merasa seperti tidak dianggap keberadaannya. Dia dapat melihat dengan jelas dari sorot mata Nada, bahwa gadis itu benar-benar menyukai sahabatnya sendiri yang membuat Hyunjin juga tersenyum hambar, sangat hambar padahal beberapa saat lalu dirinya merasa menjadi orang paling bahagia. “Tapi lo nggak cerita sama gue, Na.” Jaehyun mencari pembelaan. Nada menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajahnya karena angin. “Gimana mau cerita, waktu lo buat gue sudah nggak ada, kan?” “Bukan gitu, Na. Gue cuma—“ Belum selesai kalimat Jaehyun, gadis itu sudah meningalkan dua cowok di sana, suasana hatinya benar-benar berubah sangat buruk karena Jaehyun. Dia langsung masuk ke rumah tanpa meninggalkan kata-kata sama sekali. Hyunjin yang melihat itu menggaruk kepalanya, bingung dengan suasana itu sekaligus merasakan sedikit retakan pada hatinya. “Yaudah gue pulang juga, nih kunci motornya Nada, titip ya.” Hyunjin langsung berpamitan dengan teman sekelasnya itu. “Lo belum jawab kenapa bisa bareng Nada tadi?” Jaehyun menahan lengan Hyunjin menuntut penjelasan. “Lebih penting mana, kenapa gue bisa sama Nada atau kenapa Nada bisa marah sama lo begitu?” Hyunjin membalas pertanyaan Jaehyun yang membuat temannya itu semakin pusing. Jaehyun menelan ludah, dirinya benar-benar bingung dan merasa menjadi sahabat paling bodoh di dunia. “Gue emang bodoh banget, Jin, nggak ada saat Nada butuh tempat apapun itu. Padahal dia selalu ada saat gue butuh.” “Selamat menikmati penyesalan,” sahut Hyunjin seraya memenepuk punggung Jaehyun di sana, lalu melanjutkan niatnya untuk pulang. “Gue cabut dulu.” Hyunjin melangkahkan kaki dari sana dengan pandangan kosong, sudah seperti sadboy yang kehilangan arah. Mweowwww! Hyunjin terperanjat dan menyadari bahwa kakinya baru saja menginjak buntut seekor kucing yang agak gempal. “Soju! Nahkan diinjek orang lu, makanya jangan keliaran lu, dibilangin Bapak lu nggak pernah didengerin ye!” ujar seorang lelaki yang langsung menghampiri kucing tersebut. Hyunjin menatap lelaki itu dengan aneh yang memperlakukan seekor kucing selayaknya anaknya sendiri. “Maaf Om, nggak sengaja nginjek ekor anaknya, eh kucingnya maksudnya, eh anaknya, kuc—“ ujarnya yang bingung memanggil seekor kucing tersebut dengan sebutan apa. Lelaki itu malah tertawa melihat tingkah Hyunjin, “Lucu juga lu anak muda, iya nggak papa, santai aja, Soju juga salah kok keliaran sembarangan mana duduk di tengah jalan juga.” Hyunjin tersenyum canggung, “Namanya Soju, Om?” tanyanya yang tidak bisa menyembunyikan ekspresi herannya karena mengingat soju adalah nama minuman beralkohol yang berasal dari Korea. “Gue masih muda wahai anak muda, nggak usah panggil Om lah, ahelah kayak om om banget ye muka gue?” Lelaki tersebut malah protes dengan Hyunjin yang memanggilnya Om. “Sayang! Ngapain di situ? Sake ilang!” teriak seorang perempuan yang mendekati mereka. Hyunjin terlihat tertekan, dia berpikir lagi, siapa pula Sake yang disebut perempuan itu. “Eh! Sayang, ini kan yang kemarin itu, yang mirip member Stray Kids!” Perempuan itu menunjuk wajah Hyunjin dan mendekatinya. Hyunjin semakin tertekan, drama apa lagi ini? “Masa sih? Nggak mirip ah.” “Mirip sayang!” “Enggak!” “Mirip!” “Enggak!” “Mirip sayang, sumpah deh! “Enggak sayang!” Hyunjin menatap dua orang yang terlihat seperti sepasang suami-istri dan memiliki dua ekor anak—kucing. “Om, Tante, katanya anaknya tadi ada yang ilang? Kenapa nggak dicari aja daripada debatin wajah saya?” “Lah, iya, Sake ilang! Cepet cari sayang!” ujar perempuan itu dan langsung menarik suaminya. Baru beberapa langkah, pasangan tersebut kembali mendatangi Hyunjin. “Kok lu manggil gua Om lagi, sih?” “Iya, sejak kapan kamu jadi keponakan saya?” ujar perempuan itu. Hyunjin tidak menjawab lagi, dia hanya memijit kedua pelipisnya yang mulai terasa nyeri. ***    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD