1.
.
Bab 1: Pagi yang Lembut & Janji Senja
Sinar matahari pagi baru saja menyelinap perlahan melalui celah tirai jendela yang terbuat dari kain sutra tebal berwarna krem. Di dalam kamar yang luas dan sangat elegan itu, suasana masih hening dan damai, seolah waktu sengaja berhenti berdetak untuk membiarkan keindahan tidur itu berlangsung lebih lama. Ruangan itu beraroma lembut, perpaduan antara bunga melati segar dan keharuman kayu mahoni yang menghiasi setiap sudutnya.
Di atas tempat tidur berukuran besar yang dihiasi kelambu halus, terbaring seorang gadis remaja yang tampak seperti putri dongeng dalam tidurnya. Itu adalah Viera. Rambut hitam panjangnya terurai indah di atas bantal empuk, napasnya teratur dan tenang, wajahnya bersinar dengan kedamaian yang jarang dimiliki orang lain. Di rumah besar dan megah milik keluarga Xavier ini, hari itu adalah hari libur sekolah—waktu yang paling dinanti Viera untuk memanjakan diri dan beristirahat tanpa beban pelajaran.
Namun, pagi yang indah itu tak bisa berlalu selamanya. Ketika jarum jam di dinding kayu berukir itu menunjuk tepat ke angka enam, ketukan lembut terdengar di pintu kamar yang kokoh namun anggun itu.
Tok... tok... tok...
Suara itu begitu lembut namun cukup untuk menyentuh kesadaran Viera. Tak lama kemudian, terdengar suara wanita yang sangat lembut dan penuh kasih sayang dari balik pintu—suara yang paling ia kenal di dunia ini.
"Viera... bangun, sayang. Matahari sudah menyapa bumi sejak tadi," ucap Mami dengan nada lembut, seolah takut mengganggu keindahan tidur putrinya.
Viera menggeliat pelan, kelopak matanya terasa berat namun perlahan terbuka menampakkan sepasang mata bening yang masih berkabut sisa mimpi indah. Ia menarik selimut lebih tinggi sebentar, lalu menjawab dengan suara yang masih terdengar serak dan manja.
"Iya, Mami... sebentar saja. Aku masih terasa sangat mengantuk, rasanya baru saja memejamkan mata," jawabnya sambil tersenyum malu ke arah pintu yang kini sedikit terbuka.
Mami melangkah masuk perlahan, langkahnya ringan dan anggun seperti biasanya. Ia mendekati tempat tidur dan menatap putrinya dengan tatapan penuh kasih yang tak terhingga. Rambut Mami yang rapi dan wajahnya yang selalu bersinar membuatnya tampak lebih seperti kakak daripada orang tua.
"Baiklah kalau begitu, Mami tunggu sebentar di bawah. Tapi ingat, kalau sudah bangun, jangan lama-lama lagi ya. Segera mandi dan bersiaplah. Mami dan Papi sudah menunggu di meja makan, dan sarapan pagi ini sudah disiapkan khusus untukmu," ucap Mami sambil mengusir rambut halus di dahi Viera, lalu memberikan senyum hangat yang mampu menghangatkan hati siapa saja yang melihatnya.
"Iyaa, Mami. Viera janji akan segera turun," jawab Viera dengan anggukan pelan, senyum manis mengembang di bibirnya.
Mami pun berbalik badan dengan anggun dan melangkah keluar kamar, menutup pintu perlahan hingga kembali tertutup rapat.
Begitu ditinggalkan, Viera menarik napas panjang, merasakan kesejukan udara pagi yang menyejukkan jiwa. Lima menit berlalu, ia akhirnya memberanikan diri untuk bangun dari ranjang empuknya. Kakinya menyentuh lantai yang dilapisi karpet tebal dan lembut, membuatnya merasa seolah berjalan di atas awan. Ia berjalan menuju kamar mandi pribadinya yang luas dan mewah, lalu membasuh wajanya dengan air dingin yang menyegarkan.
Beberapa menit kemudian, Viera sudah tampil segar dan bersinar. Ia mengenakan pakaian santai yang sederhana namun terlihat sangat elegan, sesuai dengan seleranya yang selalu rapi dan sopan. Rambutnya disisir rapi dan dibiarkan terurai indah di bahunya, memancarkan pesona alami yang murni.
Setelah memastikan penampilannya sudah sempurna, Viera melangkah keluar kamar dan berjalan menuruni tangga lebar yang terbuat dari marmer berkilau. Di setiap langkahnya, ia merasakan kehangatan rumah ini—bukan hanya dari kemewahan perabotannya, tapi dari suasana penuh kasih yang selalu menyelimuti kediaman keluarga Xavier.
Sesampainya di ruang makan, pemandangan yang indah menyambutnya. Ruangan itu terang benderang dengan cahaya alami yang masuk dari jendela besar. Di ujung meja makan panjang yang terbuat dari kayu jati pilihan, sudah duduk Papi dengan wajah teduh dan Mami yang sedang menunggunya dengan senyum lebar.
"Selamat pagi, Papi... Selamat pagi, Mami," sapa Viera lembut sambil mencium tangan kedua orang tuanya dengan sopan.
"Selamat pagi, putri kesayangan Papi," jawab Papi sambil tersenyum bangga melihat penampilan anaknya yang selalu rapi.
"Mari duduk, sayang. Makanlah dengan lahap hari ini," tambah Mami sambil menuangkan s**u segar ke dalam gelas kesayangan Viera.
Suasana di meja makan itu begitu tenang dan khidmat. Tak ada suara bising, tak ada keributan. Hanya terdengar suara halus dari pertemuan sendok dan garpu yang saling bersahutan, serta sesekali percakapan ringan yang menyentuh hal-hal baik dan menyenangkan. Viera sangat menyukai momen ini—ketika ia merasa menjadi bagian dari keluarga yang begitu utuh, penuh rasa hormat, dan saling menyayangi tanpa syarat. Waktu terasa berjalan lebih lambat di sini, membiarkan setiap detik kebersamaan mereka terasa berharga.
Setelah jamuan pagi selesai dan piring-piring bersih telah dibawa pulang oleh pelayan dengan tertib, ketiganya beranjak menuju ruang keluarga yang lebih santai dan luas. Di sana, mereka duduk bersandar di sofa empuk sambil menikmati waktu luang dengan menonton acara televisi yang ringan dan bercanda satu sama lain. Kebahagiaan sederhana namun murni mengalir di antara mereka seperti sungai yang tenang.
Namun, kebahagiaan Viera pagi itu belum berakhir.
Tiba-tiba, suara notifikasi yang renyah terdengar dari ponsel cerdasnya yang tergeletak di atas meja kecil samping sofa.
Ting!
Viera segera meraihnya dengan rasa penasaran yang menggelitik. Begitu layar menyala dan ia membaca nama pengirimnya, jantungnya berdetak sedikit lebih kencang dan senyum lebar tak bisa ia sembunyikan lagi. Itu pesan dari kekasih hatinya, seseorang yang selalu mampu membuat harinya menjadi lebih cerah dan berwarna.
Ia segera mengetik balasan dengan jemari yang lincah namun hati yang berbunga-bunga.
??: "Hai, baby. Apakah hari ini kamu sibuk dengan kegiatan lain?"
Viera: "Enggak kok, Honey. Aku nggak sibuk sama sekali. Hari ini libur dan aku santai saja di rumah. Kenapa ya? Ada kejutan apa?"
??: "Kalau begitu, aku punya ide bagus. Bagaimana kalau aku mengajakmu makan malam istimewa nanti malam? Aku sudah menyiapkan tempat yang spesial buat kita."
Mata Viera berbinar-binar mendengar tawaran itu. Rasa antusiasme memenuhi dadanya seketika.
Viera: "Wah, tentu saja aku mau! Pasti menyenangkan. Ngomong-ngomong kira-kira jam berapa kita akan bertemu?"
??: "Ehm, mungkin sekitaran jam tujuh malam ya, Sayang. Apakah itu sudah pas?"
Viera: "Oke deh, jam tujuh aku ingat. Aku pasti siap menunggumu di sini. Sampai jumpa nanti malam, aku sudah tidak sabar!"
??: "Baiklah, sampai nanti. Hati-hati dan jaga dirimu sampai bertemu lagi."
Viera: "Iya, Honey. Kamu juga."
Setelah percakapan manis itu selesai, Viera menyembunyikan ponselnya dan menatap kedua orang tuanya yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh selidik dan senyum mengerti. Wajahnya sedikit memerah karena malu, namun ia memberanikan diri untuk menyampaikan permintaannya.
"Mami, Papi..." panggilnya pelan dengan nada hati-hati namun penuh harap.
"Ya, sayang? Ada apa?" tanya Papi sambil menoleh sepenuhnya ke arahnya.
"Bolehkah aku pergi ke mall sebentar pagi ini? Aku ingin mencari beberapa kebutuhan kecil dan sekalian melihat-lihat barang baru untuk persiapan nanti malam," ungkap Viera dengan sopan.
Mami menatap Papi sekilas, lalu keduanya kembali menatap putri tunggal mereka dengan senyum bangga.
"Tentu saja boleh, sayang. Kamu sudah besar dan kami percaya padamu," jawab Mami dengan lembut.
Papi pun ikut menimpali dengan nada tegas namun penuh kasih. "Tapi jam berapa rencananya kamu ke sana? Dan jangan lupa berjanji untuk tidak lupa makan dan istirahat, ya?"
Viera bersorak dalam hati dengan gembira. "Sekitar jam sepuluh atau sebelas pagi aku berangkat, Papi. Dan aku janji akan makan tepat waktu, tidak akan lupa!"
"Ya sudah, kalau begitu silakan saja. Hati-hati di jalan," izin Papi dengan lega.
"Terima kasih banyak, Mami! Terima kasih, Papi!" seru Viera dengan antusias sambil memeluk kedua orang tuanya dengan penuh kasih sayang dan rasa syukur. Pelukan yang hangat dan tulus itu terasa begitu mengikat hati mereka bertiga.
Mami dan Papi tersenyum bahagia membalas pelukan erat putrinya. "Sama-sama, kesayangan kami."
Waktu berjalan cepat dan tak terasa jarum jam sudah menunjuk pukul setengah sepuluh pagi. Viera berpamitan lagi kepada orang tuanya di ruang keluarga setelah memastikan penampilannya sudah sempurna dan tas kecilnya sudah terisi semua perlengkapan yang dibutuhkan.
"Mami, Papi... aku berangkat dulu ya," ucapnya lembut sambil mencium pipi kedua orang tuanya dengan penuh rasa hormat.
"Hati-hati di jalan, ya. Jangan terburu-buru," pesan Mami sambil melambaikan tangan dengan lembut.
"Iya, Mami Papi. Sampai jumpa nanti siang," jawab Viera sambil membalas lambaian tangan itu dengan ceria.
Ia pun melangkah keluar dari pintu depan rumahnya yang megah menuju halaman samping tempat garasi berada. Udara luar pagi itu sangat segar, dipenuhi aroma rumput basah dan bunga-bunga taman yang sedang mekar sempurna. Viera berjalan dengan langkah ringan menuju salah satu mobil di garasi yang mengkilap dan mewah.
Ia memilih kendaraannya sendiri, lalu dengan sigap ia naik ke dalamnya, memasang sabuk pengaman dengan rapi, dan menyalakan mesin yang menderu halus. Perlahan ia melaju keluar dari gerbang rumahnya yang luas dan berkelok-kelok, menuju jalan raya utama kota yang mulai ramai.
Perjalanan menuju pusat perbelanjaan berjalan mulus. Viera menikmati pemandangan gedung-gedung tinggi dan pepohonan hijau yang berlalu-lalang di kaca jendela. Pikirannya melayang pada rencana makan malam nanti malam—rasa penasaran dan antusiasme membuatnya tersenyum sendiri di balik kemudi.
Tak lama kemudian, mobilnya memasuki area parkir yang luas dan rapi milik pusat perbelanjaan Clamall. Tempat ini bukan sembarang tempat belanja, Clamall adalah salah satu pusat perbelanjaan paling bergengsi di kota dan bahkan sebagian sahamnya dimiliki oleh keluarga Viera. Itulah sebabnya ia merasa sangat nyaman dan akrab di sini, seolah-olah sedang berjalan di rumahnya sendiri.
Setelah memarkirkan mobilnya dengan rapi dan aman, Viera turun dengan anggun. Langkah kakinya ringan dan mantap saat ia melangkah masuk ke dalam gedung yang ber-AC sejuk dan diterangi lampu-lampu gantung yang mewah. Suasana di dalamnya sangat bersih, tenang, dan sangat rapi.
Viera berjalan dengan santai menyusuri lorong-lorong toko yang berjejer rapi. Ia berhenti di butik-butik pakaian pilihan, menyentuh kain-kain halus dan melihat koleksi musim terbaru dengan penuh minat. Ia mencari gaun yang paling pas dan memukau untuk acara makan malam nanti malam—sesuatu yang sederhana namun elegan, yang mampu memancarkan pesona dirinya yang sebenarnya.
Setelah mencoba beberapa potong dan bertanya pada dirinya sendiri dengan teliti, akhirnya ia menemukan satu gaun yang sangat indah berwarna lembut yang pas sekali di tubuhnya. Ia juga membeli beberapa perlengkapan kecil dan aksesoris yang melengkapi kebutuhannya.
Saat semua barang yang ia inginkan sudah terkumpul di dalam tas belanjaan yang cantik, Viera berjalan menuju kasir dengan langkah lega. Ia membayar dengan tenang dan ramah kepada pelayan yang menyapanya dengan sopan dan hormat.
Rasa lapar mulai menyelinap di perutnya setelah berkeliling sebentar. Viera pun memutuskan untuk mencari tempat makan yang nyaman di lantai atas mal tersebut. Ia memilih sebuah restoran yang bersih dan wangi, lalu memesan makanan ringan dan minuman segar yang lezat. Sambil menyantap makan siangnya sendirian dengan tenang, ia menikmati pemandangan kota dari kaca jendela yang luas, merasa sangat bersyukur atas segala kemudahan dan kebahagiaan yang ia miliki.
Setelah selesai makan dan membayar tagihannya dengan senyum ramah, Viera bersiap untuk pulang. Ia merasa puas dan bahagia, perasaannya sangat menyenangkan. Langkah kakinya kembali ke mobil membawa kantong-kantong belanjaan dan hati yang penuh dengan harapan indah untuk malam yang akan datang.
Perjalanan pulang berjalan lancar, dan pikiran Viera perlahan mulai tertuju sepenuhnya pada persiapan menyambut malam yang istimewa itu—tanpa ia sadari, takdir sedang menyiapkan kejutan besar yang akan mengubah hidupnya selamanya di sebuah persimpangan jalan yang tak terduga.