Bab 5: Kabar di Balik Pintu Ruang Rawat
Dunia seolah berhenti berputar di tempat kejadian itu. Segala sesuatu bergerak dengan kecepatan yang menyakitkan, namun terasa begitu lambat di mata Alex. Tanpa membuang sedetik pun, dengan ketenangan yang hanya muncul di saat-saat terberat, Alex segera berlari kembali ke mobilnya. Ia tidak membiarkan kepanikan melumpuhkan akal sehatnya.
Dengan hati yang berdegup kencang seperti palu yang menghantam d**a, Alex membukakan pintu mobil dengan lembut namun sigap. Ia menempatkan Viera di kursi belakang, berbaring dengan posisi senyaman mungkin, sementara gadis misterius yang selamat itu duduk di sebelahnya, masih gemetar ketakutan dan syok. Alex melesat membelah jalanan kota yang sepi malam itu. Sirine darurat yang terpasang pada mobil pribadinya menyala, memberi jalan agar mereka bisa sampai ke tujuan dengan cepat.
Tujuan Alex bukanlah rumah sakit umum sembarangan, melainkan Rumah Sakit Xavier. Sebuah bangunan megah, bersih, dan canggih yang berdiri tegak sebagai lambang pelayanan kesehatan kelas dunia milik keluarga Viera sendiri di negara itu. Di sana, fasilitasnya lengkap, dan tim medisnya adalah yang terbaik di antara yang terbaik.
Sesampainya di sana, pintu mobil belum sempat benar-benar terbuka lebar, para petugas medis yang sudah siaga atas panggilan darurat Alex langsung menyambut kedatangan mereka. Viera dipindahkan dengan hati-hati ke atas tandu roda dan segera dibawa masuk ke dalam bangunan putih yang menyala terang itu. Suasana di dalamnya hening namun sibuk, penuh dengan aroma antiseptik dan kesibukan yang teratur.
Viera dibawa masuk ke ruang rawat khusus yang terisolasi untuk mendapatkan penanganan intensif segera. Pintu ruangan itu tertutup rapat, menjadi batas yang menyakitkan bagi Alex yang harus menunggu di luar lorong yang panjang dan sepi.
Di sana, di depan pintu kaca buram itu, hanya ada dua orang yang tersisa: Alex yang berdiri tegak meski hatinya hancur, dan gadis cantik yang menjadi penyebab keselamatan itu. Wajah Alex pucat, matanya menatap tajam ke arah pintu tertutup itu dengan tatapan penuh doa dan harap yang tak putus-putusnya. Namun, ia sadar ia tidak boleh melupakan gadis di sampingnya yang juga mengalami trauma hebat.
Alex menoleh perlahan ke arah gadis itu. "Kamu juga harus diperiksa. Jangan sampai ada luka yang tidak terlihat atau syok yang berbahaya," ucapnya lembut namun tegas. Ia segera memanggil perawat untuk membawa gadis itu ke ruang pemeriksaan terpisah.
Setelah memastikan gadis itu ditangani dengan baik, Alex tidak menyia-nyiakan waktu lagi. Tangannya gemetar sedikit saat menekan nomor telepon orang tua Viera. Ia harus memberitahu mereka, meskipun ia tahu betapa beratnya kabar yang harus ia sampaikan.
Waktu berlalu begitu lambat di lorong itu. Detik terasa seperti jam. Hingga akhirnya pintu ruang pemeriksaan terbuka. Dokter Jae-Hwa keluar dengan langkah tenang namun wajahnya serius. Di belakangnya, pintu lift terbuka dan orang tua Viera tiba dengan napas terengah-engah, wajah mereka penuh ketakutan dan kecemasan yang luar biasa.
Mereka segera menghampiri dokter Jae-Hwa yang berdiri di ambang pintu ruang rawat Viera.
Mami langsung bertanya dengan suara bergetar, matanya berkaca-kaca menatap dokter yang sudah ia percayai bertahun-tahun:
"Dokter Jae... bagaimana keadaan Viera anakku? Apakah dia selamat? Tolong katakan padaku, bagaimana keadaannya sekarang?"
Suasana menjadi hening seketika. Dokter Jae menatap kedua orang tua itu dengan tatapan penuh pengertian dan simpati yang mendalam. Ia menghela napas panjang sebelum menjawab dengan nada rendah hati namun serius.
"Tante, Om... sebenarnya ada hal penting yang ingin saya sampaikan secara khusus dan berdua saja dengan kalian. Boleh ikut saya ke ruang kerja sebentar? Ada hal yang agak rumit yang tidak bisa saya bahas di sini," ajak Dokter Jae sambil menunjuk ke arah lorong yang lain.
Papi mengangguk pelan, tangannya merangkul bahu istrinya yang gemetar.
"Baiklah, Dokter Jae. Ayo, Mi. Mari kita ikut beliau."
Mami menatap sekilas ke arah pintu ruangan tempat putrinya berada, lalu dengan berat hati mengikuti langkah suaminya dan dokter menuju ruang konsultasi di ujung lorong.
Sementara itu, di depan ruang rawat Viera, suasana perlahan berubah menjadi lebih tenang. Tak lama kemudian, pintu ruang pemeriksaan terbuka kembali dan keluarlah gadis cantik itu. Ia tampak lebih tenang sekarang setelah diperiksa dan diberi obat penenang ringan. Ia berjalan perlahan mendekati Alex yang masih duduk menunggu di bangku panjang.
Alex melihat kedatangannya dan segera menepuk tempat kosong di sebelahnya dengan senyum tipis yang berusaha ia tampilkan agar tidak menakuti gadis itu. Gadis itu duduk dengan sopan, menunduk sedikit seolah merasa bersalah atas segala kejadian yang menimpa mereka semua.
Alex memecah keheningan dengan suara lembut dan ramah, berusaha membuat suasana menjadi lebih hangat. Bahkan, ia beralih menggunakan bahasa yang ia rasa mungkin lebih nyaman bagi gadis itu:
"Annyeonghaseyo, yeppeun sonyeo. Ireumi mwoeyo?"
(Hai, gadis cantik. Siapa namamu?)
Gadis itu mendongak terkejut, lalu perlahan senyum tipis terukir di bibirnya yang pucat. Ia menjawab dengan suara lembut dan sopan:
"Nae ireumeun Ara."
(Namaku Ara.)
Alex mengangguk paham, rasa kagum muncul di hatinya melihat ketulusan di mata gadis itu.
"Oh, annyeong Ara. Nae ireumeun Alex. Mannaseo bangawayo."
(Oh, hai Ara. Namaku Alex. Salam kenal ya.)
Ara tersenyum sedikit lebih lebar kali ini, rasa canggungnya perlahan hilang.
"Ne, jeodo mannaseo bangawayo."
(Iya, salam kenal juga.)
Mereka berdua pun saling berkenalan dengan baik. Ara ternyata gadis yang sangat sopan, cerdas, dan memiliki hati yang baik. Percakapan kecil itu di sela-sela keheningan rumah sakit menjadi sedikit penawar bagi hati Alex yang sedang remuk redam. Ia melihat betapa beruntungnya Ara selamat berkat pengorbanan Viera.
Di ruang kerja Dokter Jae-Hwa, suasananya jauh lebih berat dan khidmat. Ruangan itu berbau wangi lembut dan kertas medis. Dokter Jae duduk di kursi kerjanya yang besar, lalu memberi isyarat agar kedua orang tua Viera duduk di hadapannya.
Dokter Jae menatap mereka dengan tatapan profesional namun penuh empati.
"Om, Tante... jujur saja, kondisi Viera lebih rumit dari yang terlihat di permukaan. Meski kami sudah memiliki fasilitas yang sangat baik di sini, ada beberapa penanganan khusus dan alat medis terbaru yang paling canggih yang belum tersedia lengkap di negara kita saat ini. Sangat disayangkan, tapi untuk pemulihan total dan perawatan tanpa risiko sekecil apa pun, saran medis terbaik saya adalah Viera harus segera dibawa ke luar negeri. Di sana, di pusat medis tempat saya pernah berlatih, tersedia segala kebutuhan yang paling mutakhir untuk kasusnya."
Orang tua Viera saling berpandangan. Ada kecemasan, namun juga sedikit harapan baru. Mereka sadar, demi keselamatan putri semata wayang mereka, jarak bukanlah penghalang.
"Kami setuju, Dokter Jae. Segera atur keberangkatan terbaik," kata Papi dengan tegas meski matanya berkaca-kaca.
Namun, sebelum rencana itu disusun lebih lanjut, Mami tiba-tiba teringat akan sesuatu yang sangat penting. Wajahnya berubah serius. Ia teringat pada Alex. Bagaimana dengan Alex?
Mami menatap Dokter Jae dengan tajam namun memohon.
"Baiklah, kami akan pergi ke luar negeri bersama Viera. Tapi ada satu permohonan mutlak yang harus kami minta pada Dokter Jae. Ini demi kebaikan semua dan ketenangan hati Viera nanti."
Dokter Jae menyimak dengan saksama.
"Jika ada seseorang—terutama seorang pemuda bernama Alex—datang ke sini atau menelepon mencari kabar, tolong Dokter Jae..." Mami mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Alex yang tersimpan di galeri, "...bilang saja bahwa Viera sudah tidak ada di rumah sakit ini. Bilang dia sudah dibawa pergi jauh, ke tempat yang tidak diketahui."
Papi melanjutkan dengan nada rendah namun tegas:
"Jangan katakan kepada siapa pun, termasuk Alex, bahwa kami pergi ke luar negeri atau ke mana tujuan kami. Biarkan dia berpikir apa adanya. Kami butuh waktu untuk putri kami pulih sepenuhnya tanpa gangguan apa pun, sebelum mereka bertemu kembali. Apakah Dokter Jae bersedia merahasiakan ini demi kami?"
Dokter Jae terdiam sejenak. Ia memahami beban perasaan orang tua yang sedang ketakutan demi anaknya. Akhirnya, ia mengangguk perlahan dengan penuh pengertian.
"Baiklah, saya mengerti kekhawatiran kalian. Saya berjanji akan menjaga rahasia ini dengan baik. Saya akan mengatakan apa yang kalian minta jika Alex atau siapa pun bertanya. Tenanglah," janji Dokter Jae setia sebagai dokter pribadi keluarga Xavier.
Sementara itu, di lobi rumah sakit, Alex sudah menyelesaikan urusannya dengan Ara. Ia merasa tidak enak membiarkan gadis itu sendirian dalam keadaan seperti ini. Alex pun memutuskan untuk mengantar Ara pulang ke rumahnya dengan selamat.
Perjalanan menuju rumah Ara berlangsung tenang. Alex berusaha menjadi pendengar yang baik dan menenangkan gadis itu. Setelah memastikan Ara berada di tangan keluarganya dengan selamat dan menjelaskan sedikit kejadian yang terjadi, Alex pun berpamitan.
Setelah mengantar Ara pulang, Alex berniat untuk kembali ke rumah sakit besok pagi-pagi sekali. Ia butuh waktu sejenak untuk membersihkan diri, berganti pakaian, dan mengumpulkan kekuatan batinnya agar bisa kembali menemani Viera dengan semangat baru. Akhirnya, Alex melajukan mobilnya menuju kediamannya, meninggalkan gerbang rumah sakit Xavier yang masih terang benderang di kejauhan.
Ketika Alex pergi, orang tua Viera dan Dokter Jae pun keluar dari ruangan konsultasi. Mereka berjalan dengan langkah mantap namun hati-hati menuju ruang rawat Viera. Keputusan sudah bulat, rencana perjalanan sudah disepakati. Sebelum benar-benar berangkat, mereka memastikan bahwa tidak ada satu pun informasi yang bocor.
Janji yang terucap di ruangan itu kini mengikat hati Dokter Jae. Di depan pintu ruang rawat Viera, Papi menatap sekali lagi ke arah lorong yang kosong tempat Alex tadi menunggu, lalu berbisik pada dirinya sendiri: "Ini semua demi keselamatanmu, Viera. Dan demi masa depanmu kelak."
Malam itu berakhir dengan rahasia besar yang tersimpan di antara dinding rumah sakit Xavier, menyisakan harapan yang samar namun tak tergoyahkan di hati mereka semua.