BAB IV

983 Words
Selamat Membaca! Sebelum membaca dipersilahkan vote dahulu dan comment di akhir❤ ~ Perfect Family Action ~ KELUARGA besar Angkasa dan Azel telah berkumpul di mansion milik Angkasa. Tidak seluruhnya keluarga mereka hadir, hanya kedua orang tua mereka ditambah abang-abang dan kakak Azel yang datang beserta squad setia mereka. Azel sempat terkejut saat semuanya datang apalagi melihat kehebohan mommy Luna dan mamah Maya yang terkumpul dengan Mommy Abilla. Menambah keramaian mansion Angkasa. Angkasa pun sempat mendengus melihat rencana kegiatannya dan Azel harus batal karena kedatangan tiba-tiba keluarga dan squad mereka. "Sumpah, Angkasa sekali main langsung jadi anjir," serbu Daffa membuat yang lainnya tertawa, "Ih selamat loh kalian," ucap Sherren antusias sambil tersenyum. Azel hanya terkekeh, "Usia kehamilan kamu udah berapa minggu, sayang?" Tanya Luna menatap putrinya, "Baru 2 minggu mom," jawab Azel. "Nuel, jaga istri dan calon anak kamu. Usia kehamilan dia masih muda dan kamu harus menjaganya dengan baik," ucap Redrick mengingatkan putranya yang dibalas anggukan singkat Angkasa. "Kita bakal jadi Grandma dong, astaga!" Pekil Abilla senang sambil memegang tangan Luna dan Maya, "Iya, aduh cucu pertama nih," sambung Maya. "Heboh banget sih," ucap Arkan, "Arkan..." tegur Luna membuat Arkan kicep, "Kalo anak lo lahir, bilangin uncle Arkan adalah manusia tertampan ye," ucap Arkan membuat Azel mendelik. "Apaan kaga ya, abang sama bang Aska masih gantengan bang Aska," cibirnya membuat Alaska tersenyum mengejek kearah Arkan, "Abang emang tampan, ra." Ucap Alaska membuat Azel tersenyum. "Noh bang, adek lo aja udah mau punya anak masa lo abang-abang nya kaga ada yang mau punya anak juga," ejek Renjun membuatnya mendapat tatapan maut. "Bentar lagi gue nyusul," ucap Saga santai sambil menyenderkan tubuhnya ke senderan sofa. "Iyain aja," jawab Alaska cuek, "Gue lagi nyari yang tepat," ucap Arkan sambil merapikan rambutnya. "Idih songong banget bocah," ucap Gaga menimpali, "Alasan banget lo, ga laku mah ga laku aja," cibir Mitchell. "Anjir si Mitchell suka bener kalo ngomong," Daffa tertawa mendengar Mitchell mencibir kearah Arkan. "Papah mau kamu jaga diri kamu sama anak kamu ya, jangan sampai kamu kenapa-kenapa," ucap Martin menatap lembut putrinya, "Iya pah," "Angkasa, biar Daddy dan Mommy beserta yang lainnya mempersiapkan barang-barang untuk baby kalian nanti. Daddy akan memberikan yang terbaik untuk cucu pertama Daddy," ucap Alva menatap Angkasa dengan tatapannya. "Aku bisa mempersiapkan semuanya, Dad," tolak Angkasa karena dia juga ingin mempersiapkan semuanya untuk anak pertamanya. "Jangan sayang, biarkan kami memberikan yang terbaik untuk cucu pertama di keluarga besar kita," ucap Abilla menatap putranya lembut. "Yaudah, ga papa sayang," Azel menggenggam tangan Angkasa dengan lembut. "Ah iya, Daddy akan memberi hadiah untuk kalian berdua. Kalian bisa melihatnya nanti," ucap Redrick. "Oke," "Azel, gimana rasanya hamil?" Tanya Kelly yang berada di sebelah Clara, "Seneng banget, lo cepet nyusul ya. Biar si Devan ada keturunannya juga tapi buat sisi buruknya jangan di turunin," bisik Azel di akhir kalimat membuat Devan mendelik. "Kaga usah ngomongin gue, setan!" Umpat Devan tak tahan dan menatap Azel kesal, "Ye gue ngomong fakta," balas Azel tak mau kalah. "Berisik amat lu berdua," ucap Clara. "Zel, lo udah kasih tau Jason tentang ini?" Tanya Malvin menatap Azel lekat, "Belum, rencananya nanti gue mau kesana ngasih tau dia. Dia pasti seneng banget," ucap Azel semangat. "Lo yakin? Gimana kalo dia malah emosi denger lo hamil?" Tanya Mark hati-hati, "Gue yang lindungin," jawab Angkasa datar. "Jason ga bisa apa-apa selama ada gue," Angkasa merangkul Azel dengan mesranya membuat semua orang bersorak. "Udah mau jadi orang tua masih aja kek orang pacaran," cibir Argha, "So sweet banget," ucap Kelly terkekeh. "Sok lu anjir," umpat Daffa, "Ga usah percaya, Zel. Cowok kalo terlalu dipercayain akhirnya malah ngingkarin," kompor Daffa membuat Angkasa menatapnya tajam. "Iya kayak kamu," desis Asel yang daritadi diam, "Kok aku yang?" Daffa menatap istrinya dengan heran, "Ya kan kamu kayak gitu," "Mampus lu," ejek Raksa menatap Daffa. "s****n," "Udah, mending kita makan siang sama-sama aja. Tadi tante udah pesan makanan buat kita semua," ucap Maya menghentikan aksi adu mulut remaja di depannya. "Asik makan dong," ucap Aland yang mendapat toyoran dari Mark, "Makanan aja lu cepet nyet," "Bodo, like-like gue," ucap Aland sewot. "Mah, Azel jangan di pesenin sembarangan ya," ucap Angkasa mengingatkan Maya, "Iya sayang, mamah tadi pesenin yang lain buat Azel." Akhirnya keluarga besar beserta squad itu memilih makan siang bersama dengan obrolan ringan. Canda tawa terdengar dimana-mana membuat semuanya bisa melihat betapa hangatnya mereka. Azel bersyukur, semuanya masih baik-baik saja sampai sekarang. Dan Azel tidak ingin ada masalah apapun setelah ini, biarkan keluarga kecilnya terbentuk tanpa ada yang menyakiti. Dress selutut berwarna peach itu terlihat indah di tubuh seorang gadis yang memiliki wajah imut itu. Hari ini dia sudah sampai di Indonesia. Setelah sekian lama menempuh perjalanan antara London-Jakarta membuatnya mengalami jet lag, untungnya gadis itu mampu bertahan sampai sekarang. "Kakak kemana sih? Katanya mau jemput gue?" Gerutunya celingak-celinguk mencari keberadaan kakaknya itu. "Hai," Suara berat seseorang membuat gadis itu menoleh, "Ih kakak, ngagetin tau ga. Kemana aja?" Tanyanya mulai kesal, "Kakak daritadi di belakang kamu loh," jawabnya terkekeh. "Tuan Fathan dan Nona Laura sudah ditunggu nyonya dan tuan besar di rumah," Salah seorang bodyguard menghampiri dua saudara itu dengan memakai pakaian serba hitam ditambah kacamata hitam disana. "Aku rindu mami sam papi, ayo pulang!" Ajaknya semangat. "Ayo!" Fathan membawa adiknya masuk ke dalam mobil Marcedez putihnya yang terlalu menyoroti banyak mata orang karena mobil mewah itu terparkir di bandara. Apalagi gaya Fathan terlihat sangat keren sekarang, Fathan menyunggingkan senyumnya melihat Laura sudah masuk ke dalam. Fathan akan kembali ke rumah utama untuk mengantar adiknya sekaligus bertemu dengan orang tuanya, dia sudah lama tidak kesana karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya yang menjadi CEO muda di perusahaannya. "Kangen Indonesia?" Tanya Fatha yang tetap fokus dengan jalanan kota. "Banget, udah hampir 5 tahun ga kesini. Perubahannya drastis banget ya," jawab Laura semangat. Fathan hanya tersenyum, "Nanti temuin aku sama dia ya kak, kakak tau kan maksud aku siapa?"  Fathan mengangguk mengiyakan lalu kembali fokus, dia harus segera sampai di rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD