Larry kebingungan dan seolah membeku ditatap oleh gadis itu. Ia segera turun dari atas panggung diiringi dengan sorakan para tentara. Sang pembawa acara segera menenangkan para tentara itu dan mengalihkan pembicaraan dengan topik yang baru. Larry keluar dari tenda karena malu. Ia mengusap wajahnya dengan kasar dan menendang batu dengan begitu keras. “Arrggh!” erangnya. “Hei,” sapa seorang gadis dari belakang Larry. Larry tersentak dan segera membalikkan badannya, melihat siapa yang baru saja memanggilnya. “Kau-” Larry menutup mulutnya rapat-rapat dengan tangan kanannya setelah melihat siapa yang menghampirinya. “Kau keren. Siapa namamu? Namaku Rosalina, panggil saja Lina,” ujarnya. Lina mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan dirinya pada Larry. “Larry.” Larry memberikan t

