[10] Terror Makhluk Tak Kasat Mata

1456 Words
Hingga pada akhirnya, aku merasakan kehadiran lain. Kehadiran yang justru membuatku semakin terganggu…. - Sarah - * * * * * * * * * * Hari-hari sepi kembali dijalani Sarah seorang diri. Setelah kepergian Rere dan Isti kemarin, Sarah kembali merasa rumah ini semakin sepi. Terkadang ia memutar music apapun yang membuat hari-harinya berwarna dan terasa tak sendiri. Rasanya satu hari dijalani cukup lama tanpa kehadiran orang-orang yang ada di sampingnya. Hari ini, Sarah tak memiliki jadwal mengajar di sekolah, ia pun memutuskan untuk membereskan rumahnya dan mencuci beberapa pakaian. Sambil bersenandung menikmati musik yang ia putar, Sarah memilah pakaian yang ia cuci menjadi pakaian yang berwarna, putih dan juga hitam. Suara musik Blackpink – Ddu Ddu Ddu Ddu menggema ke seluruh ruangan. Sarah pun menikmati musik itu. Setidaknya musik bisa menemani pagi harinya yang sepi itu. “Hit you with that ddu ddu ddu!” ucap Sarah mengikuti nyanyian lagu itu sembari memperagakan tarian yang seperti menggenggam sebuah pistol di kedua tangannya. Setelah selesai memilah pakaian, Sarah pun memasukkan pakaian itu ke dalam mesin cuci sesuai urutan dan menyalakan mesin cuci. Air yang berada di dalam mesin tampak berputar, mengaduk rata pakaian yang ada di dalamnya. Sarah pun meninggalkan tempat mencuci baju dan berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan paginya sekaligus masak untuk siang ini. Tuk! Tuk! Sarah menghentikan langkahan kakinya ketika mendengar suara ketukan yang seolah mengikutinya. Sarah menolehkan pandangannya dan tak menemukan apapun di sana. Sarah berhenti sesaat untuk mendengarkan dari mana asal suara itu. Srek! Srek! Kali ini suaranya berbeda, lebih seperti orang yang menggarukan tubuhnya ke dinding. Sarah menatap ke arah dinding dan berusaha menajamkan pendengarannya. “Ah mungkin cuma kucing aja,” gumam Sarah. Sarah kembali berjalan menuju dapur dan kembali mendengar suara langkahan kaki. Namun ini terdengar seperti empat kaki, bukan dua. Tuk! Tuk! Tuk! Tuk! Langkahan kakinya cukup cepat membuat Sarah rasanya ingin berlari saja saat itu juga. Tuk! Tuk! Tuk! Tuk! Lagi. Suara itu semakin cepat dan berjalan mendekati Sarah. Sarah pun berhenti dan melirikkan pandangannya ke kanan, berusaha melihat sesuatu yang ada di belakangnya. “Apa lagi ini,” ujar Sarah dalam hati. Sarah memejamkan matanya sesaat, menguatkan hatinya bahwa ini masih pagi dan tidak mungkin ada hantu yang berkeliaran di dalam rumahnya. Sejak awal pindah, Sarah sudah terbiasa bangun pagi untuk menyiapkan sarapan bagi dirinya dan sang suami, bahkan sedikitpun Sarah tak pernah merasa diganggu ataupun merinding. Sarah membuka matanya perlahan. Ia berusaha melangkahkan kakinya lagi. Dan ketika ia melangkah, ia kembali mendengar langkahan kaki. Tidak hanya kaki, ini juga dengan tangannya. “Apa dia merangkak?” tanya Sarah dalam hatinya. Seolah sosok tersebut pendengar pertanyaan Sarah, sosok itu pun berjalan mendekati Sarah yang kini sudah mulai terpaku. Tubuhnya seakan membeku dan tidak dapat bergerak. Sarah kembali memejamkan matanya, berharap sosok itu pergi meninggalkannya. Ia sekuat mungkin menahan keinginan untuk membuka matanya. Ia tidak ingin melihat sosok itu. Tangan kotor, kuku hitam dan rambut panjang, sosok itu berjalan merangkak tepat di belakang Sarah. Perlahan ia berjalan mendekati Sarah yang mulai ketakutan. Air liurnya menetes sedikit demi sedikit ke lantai. Bau busuk pun menyeruak melalui hidung Sarah. Ia tahu, itu berasal dari sosok yang kini berada di belakangnya dan berjalan semakin dekat ke arahnya. Tut! Tut! Tut! Suara mesin cuci terdengar. Menandakan bahwa mesin itu sudah selesai mencuci selama 5 menit. Sarah bernapas lega karena suara itu yang membuat dirinya bisa lepas dari rasa takut. Pelan-pelan Sarah melirikkan pandangannya dan semakin lama pun ia menolehkan kepala. Tak ada siapapun disana. Entah apa yang dipikirkan oleh Sarah hingga ia merasa begitu takut dan tubuhnya seolah kaku dalam sesaat. Sarah menyingkirkan pikiran itu dan berjalan kembali ke arah ruang mesin cuci dan mengganti airnya dengan air bersih untuk membilas pakaian dari sabun-sabun. * * * * * Pakaian sudah dijemur di tempat menjemur pakaian dan Sarah pun sudah menyelesaikan sarapan dan masakan untuk dirinya siang nanti. Peluh keringat membanjiri pelipis Sarah. Ia pun menyekanya dengan punggung tangan. Rasanya pagi ini sangat melelahkan. Ia butuh sedikit refreshing dengan berendam air hangat. Sarah pun meraih handuk dan mempersiapkan air hangat ke dalam bathub dan menaburkan sedikit pink salt untuk mereleksasikan ototnya yang sudah menegang sejak tadi pagi. Sarah meletakkan ponselnya di atas wastafel dan menyalakan beberapa musik untuk dia dengar. Setidaknya bisa mencairkan suasananya saat ini. Sarah pun melepaskan pakaiannya dan masuk ke dalam bathub yang sudah dipenuhi oleh air hangat. “Ah rasanya nyaman sekali,” gumam Sarah ketika menikmati hangatnya air itu menyapu kulitnya dan seolah masuk dan memijat otot-otot Sarah yang menegang. Lantunan musik orchestra menggema di kamar mandi. Sarah bersenandung mendengarnya. Ia sangat menikmati mandi pagi nya itu. Ia membasuh tangannya dengan air hingga ke bahu dan melakukan itu berulang pada bagian tubuh sebelah kirinya. Srrkkk Musik itu seketika berubah menjadi kaset rusak. Lantunan lagu yang seolah terdengar merdu tiba-tiba saja menjadi sedikit tersendat. Sarah mengulurkan tangannya dan berusaha meraih ponsel yang ia letakkan di atas kloset. Tangannya yang licin justru menjatuhkan ponsel itu ke lantai dan membuat lagu itu terhenti seketika. “Kayaknya hari ini s**l sekali ya,” gumam Sarah. Sarah kembali mengulurkan tangannya dan sialnya ia tak bisa meraih ponsel itu. “Ah menyebalkan!” ucap Sarah. Sarah pun membasuh kembali badannya dengan air. Ia menatap langit-langit kamar mandi yang sengaja di cat berwarna putih sesuai dengan permintaannya. Pandangannya tertuju pada ventilasi kamar mandi yang terbuka cukup besar. Sudah lebih dari satu bulan ia tinggal di rumah ini dan mandi di kamar mandi itu, tapi baru kali ini ia menyadari ventilasi ruangan di kamar mandi yang cukup besar. Bagaimana jika selama ini ada yang mengintip ketika ia mandi? Pikir Sarah. Sarah pun menatap ventilasi itu cukup lama. Pandangannya kabur sesaat dan kepalanya berubah menjadi sangat memusingkan. Ia memejamkan matanya dan membasuhnya dengan air. Setelah merasa lebih lega, ia pun kembali menatap langit kamar mandi. Deg! Pupil matanya seketika membesar. Tubuhnya kembali menjadi kaku. Sarah membulatkan matanya lebar-lebar. “Itu siapa? Kenapa dia bisa mengintip?” gumam Sarah. Sarah mencipratkan air ke ventilasi itu namun tak berhasil membuat si pengintip pergi. Sarah kembali menyiramkan air itu lagi dan untuk yang kedua kalinya, orang itu pun pergi. “Jangan-jangan dia sudah sering mengintip? Aku harus menelfon mas Adi untuk segera memanggil tukang dan menutup ventilasi itu. Sangat berbahaya!” Sarah bangkit dari bathub dan meraih handuknya. Ia segera mengeringkan tubuhnya dan mengambil ponselnya. Ia pun keluar dari kamar mandi. * * * * * “Halo mas?” ucap Sarah setelah panggilannya terhubung dengan sang suami. “Halo sayang. Ia kenapa? Tumben kamu telepon aku. Ada apa sayang?” tanya Adi dari seberang sambungan. “Aku baru sadar deh mas kalau ventilasi kamar mandi itu besar banget.” “Hahaha. Kamu baru sadar? Kan dari sebelum kita pindah mas udah bilang sama kamu kalau ventilasi kamar mandi itu cukup besar. Tapi kamu bilang gak usah ditutup karena ventilasi itu juga cukup tinggi dan di lantai dua. Jadi sangat tidak mungkin orang bisa mengintip,” jawab mas Adi. Sarah terdiam kaku. Ia baru ingat bahwa ia mandi di kamar mandi lantai dua. “Tapi mas-” “Memangnya ada apa? Ada yang berani mengintip istriku ini?” “Tadi aku baru aja selesai mandi dan ada yang mengintip mas!” ujar Sarah berusaha meyakinkan sang suami dengan apa yang baru saja ia lihat. “Gak mungkin sayang. Itu di lantai dua. Halaman rumah kita cukup luas dan ada pagar pembatas juga yang tinggi. Ga mungkin orang manjat hanya untuk lihat kamu mandi dan lagi pula ga ada tangga di taman. Semua tangga dan perlengkapan untuk rumah aku letakkan di dalam gudang,” jelas sang suami. Sarah pun menggigit jarinya. “Lalu tadi siapa yang mengintip mas?” “Mungkin itu perasaan kamu aja ah. Makanya kamu tuh apa-apa sarapan, jadi ngelindur kan. Udah dulu ya, mas mau lanjut kerja lagi. Mas sayang sama kamu,” ujar Adi lalu mematikan telepon. Sudah jadi kebiasaan Adi yang selalu mengakhiri telepon terlebih dahulu tanpa mendengarkan jawaban dari Sarah. Kini Sarah pun dirundung ketakutan. Ia kembali mengingat dengan kejadian malam itu dan tadi di dapur. Apa rumah ini berhantu? Pikirnya. Sarah pun berjalan ke luar rumah dan melihat sisi samping rumahnya. Benar saja apa kata adi, ia tak menemukan tangga di taman rumah, serta pagar pembatas rumah yang tinggi dan kamar mandi yang ia gunakan tadi terletak di lantai dua. Sangat tidak mungkin bagi manusia untuk melihat setinggi itu. Mata Sarah tertuju pada tanaman yang tertanam tepat di pinggir rumahnya dan berada di bawah kamar mandi itu. Tanaman itu rusak, seolah sehabis diinjak habis oleh orang lain. Sarah pun meringis ngeri melihatnya. Ia tahu betul, penglihatannya tadi tentang seseorang yang mengawasinya ketika mandi tidak salah. Ia merasa itu bukan manusia, justru hantu yang mengawasi Sarah dengan tujuan tertentu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD