[9] Suara Geraman

1369 Words
Jika saja aku sadar lebih awal dan lebih cepat, mungkin aku tidak akan terbawa sejauh ini. - Sarah - * * * * * * * * * * Sarah mengawali pagi harinya dengan menyiram tanaman di halaman rumahnya. Sesekali ia bersenandung menikmati pagi hari yang cerah ditemani dengan siulan burung yang saling sahut menyahut. Sudah dua minggu sejak kepergian mas Adi dan sudah satu minggu pula dirinya ditemani oleh kedua teman mas Adi, Rere dan Isti. Entah mengapa harinya seolah menjadi cerah kembali ditemani dua perempuan yang sudah dianggap sebagai wanita itu. Meski Sarah tak tahu apa pekerjaan atau urusan yang dilakukan dua perempuan itu Jakarta, tak membuat Sarah menjadi pesimis kepada Rere dan Isti. “Mba Sarah,” panggil salah seorang wanita dari belakang Sarah. Sarah menolehkan pandangannya dan tersenyum ketika melihat siapa yang memanggilnya. “Eh, Rere. Ada apa, Re?” tanya Sarah. Sarah meletakkan alat penyiram tanaman di lantai dan berjalan menghampiri Rere yang sedang berdiri di ambang pintu. “Sepertinya aku dan Isti akan pergi ke luar hari ini, gak apa-apa kan mba kalau ga aku temani makan malamnya?” tanya Rere. “Kok kamu jadi minta izin gitu. Kalian kan disini untuk bekerja, jadi ya gak apa-apa kalau kalian tiba-tiba pergi atau mendadak sibuk dengan urusan kalian,” ujar Sarah. “Oh gitu ya mba,” sahut Rere perlahan. “Yaudah kamu siap-siap aja sama Isti. Nanti mba makan malam sendiri juga gak apa-apa.” “Oke deh mba kalau begitu. Makasih ya,” ujar Rere kemudian masuk ke dalam rumah. Rere dan Isti sudah dianggap seperti adik bagi Sarah. Apalagi Rere dan Isti sama-sama gemar dengan anak kecil dan memasak, membuat mereka bertiga semakin dekat. Sarah merasa sangat berterima kasih pada mas Adi yang telah memperkenalkan dirinya dengan Rere dan Isti. Sarah tidak tahu, sampai kapan Rere dan Isti akan menetap di rumahnya. Justru yang Sarah inginkan hanyalah tetap bersama Rere dan Isti hingga mas Adi kembali dari Yogyakarta. * * * * * Seperti yang dikatakan oleh Rere dan Isti tadi pagi, mereka akan pulang telat dan tidak dapat menemani Sarah untuk makan malam. Malam ini, Sarah pun terduduk sendirian di atas meja makan. Ia menikmati hidangan masakan yang ia buat untuk dirinya sendiri. Tak seperti malam kemarin, malam ini sangatlah sepi tanpa kehadiran dua teman Adi. Suasana hening menyelimuti sesi makan malam Sarah, dimana hanya terdengar suara dentuman sendok dan piring. Malam ini, Sarah merasa suasana dalam rumahnya sangat dingin bahkan gelap. Entah mengapa Sarah justru mematikan lampu sebagian ruangan yang justru menambah kesan gelap di rumahnya. Ia hanya ingin menikmati waktu sendirinya dan makan malamnya yang nikmat itu. Pikirnya. Sarah berulang kali melirikkan matanya ke kanan dan ke kiri, seolah mencari sesuatu yang sepertinya saat ini sedang memperhatikan dirinya. Terkadang dentuman sendok dan piring pun dibuat kencang oleh Sarah dan kemudian kembali mengecil ketika Sarah sudah merasa aman. “Ada yang aneh disini,” gumam Sarah. Sarah kembali melanjutkan makan malamnya dan kali ini dengan suapan yang lebih banyak agar ia bisa cepat menyelesaikan makan malamnya. Perlahan, Sarah kembali mendengar suara. Suara yang sama seperti yang ditimbulkan Sarah. Dentuman antara sendok dan piring. Seolah suara yang dihasilkan oleh piring Sarah menggema ke penjuru ruangan. “Mungkin perasaan ku saja,” gumam Sarah lagi. Sarah sebisa mungkin mengabaikan perasaan takut yang semakin menyelimuti dirinya. Ia yakin betul bahwa rumah yang tempati bukanlah rumah berhantu. Sejak awal ia menempati rumah itu, tak pernah sekalipun ia merasakan terror dari hal-hal mistis atau sebagainya. Lagi. Sarah merasakan ada seseorang yang mengikuti gerakannya. Entah itu suara dari dentuman piring dan sendok ataupun suara mulut Sarah yang sibuk mencerna makanan di dalam mulutnya. “Rere?” panggil Sarah berteriak. Tak ada jawaban. Sarah tahu itu. Tak mungkin Rere dan Isti ada disini. Jelas-jelas dia hanyalah seorang diri saat ini. Gggrrmmmm “Astagfirullah!” Sarah mendengar suara geraman yang begitu dekat. Seolah berada di sisi Sarah. Sarah bangkit dari duduknya dan melihat ke kanan, kiri, depan, belakang hingga bagian atas. Tak ada apapun disana dan Sarah yakin betul dia sedang sendirian saat ini. Rasa takut yang semakin memuncak membuat Sarah harus mengalah dengan rasa laparnya. Ia terpaksa menyelesaikan makan malamnya dan segera membawa piring sisa makanannya ke dapur dan mencuci piring itu segera. Sarah masih terlalu waspada. Ia melihat ke kanan dan ke kiri untuk berjaga-jaga sesuatu menyerangnya. “Apa ada maling ya?” pikir Sarah. Sarah memutuskan untuk berkeliling rumahnya dan memeriksa setiap kamar dan ruangan di rumahnya sembari membawa piring yang bisa saja ia gunakan untuk melempar ke maling. Sarah tak menemukan apapun bahkan hal mencurigakan lainnya. “Syukurlah bukan mal-” Prang! Sarah sukses melemparkan piring tepat ke hadapan dinding ketika ia melihat sosok bertubuh tinggi dan berwarna hitam yang terlihat seperti bayangan di hadapannya. “Mba Sarah?” panggil seorang perempuan dari belakang Sarah. Tek! Lampu pun menyala dan menerangi ruang keluarga yang saat itu hanya dalam kondisi cahay minim. Sarah menolehkan pandangannya dan melihat siapa yang datang. “Ya ampun Rere, syukurlah kamu disini,” ujar Sarah sembari berjalan terburu-buru menghampiri Rere dan segera memeluk perempuan itu dengan erat. “Ada apa mba? Kenapa mba lempar piringnya ke dinding?” tanya Isti. “Ah enggak. Kayaknya mba lagi gak enak badan. Dari tadi ngebayangin hal yang nggak-nggak,” jawab Sarah. Sarah membenarkan anak rambut yang menutupi wajahnya. Pandangan Sarah pun melihat Rere dan Isti yang baru saja datang. Ia merasa sangat lega, rasa takutnya tadi bukanlah apa-apa. Sudah jelas, rumah ini tak berhantu. “Kalian katanya pulang larut?” tanya Sarah. “Kerjaan kami selesai dengan cepat mba, jadi bisa pulang cepat. Mba kayaknya udah makan ya? Aku beliin martabak telor nih buat mba,” ujar Rere. “Ah yaudah kita makan bareng-bareng aja, ayo.” “Itu piringnya gimana mba?” tanya Isti. “Mba duluan aja sama Isti. Biar Rere yang beresin.” Tanpa menunggu persetujuan dari sang pemilik rumah, Rere langsung berjalan melewati Sarah dan mengambil peralatan untuk membersihkan pecahan dan sisa makanan Sarah yang baru dilemparkan ke dinding. “Ayo mba,” ajak Isti sembari menuntun Sarah. Raut wajah Sarah masih benar-benar terkejut. Beberapa waktu yang lalu ia baru saja merasakan ketakutan dan merinding yang luar biasa. Setidaknya dia merasa lega ketika Rere dan Isti datang dan kini bisa menemani Sarah malam ini. * * * * * Setelah selesai membersihkan sisa pecahan piring dan makanan yang berserakan di lantai. Rere pun berjalan menghampiri Sarah dan Isti yang sedang asik menyantap martabak yang ia beli di ruang tv. Rere berjalan menghampiri mereka dan duduk di sebelah Sarah. “Mba jadi gini, sepertinya besok aku dan Isti harus sudah balik ke Kalimantan,” ujar Rere tanpa berbasa-basi. Sarah hampir saja tersedak dan segera meletakkan potongan martabak ke atas piring. “Loh kok mendadak gitu?” tanya Sarah. “Iya mba. Jadi kerjaan kita disini itu udah selesai dan tadi itu rapat perpisahan. Jadi, mulai besok kita harus balik lagi ke kantor. Apalagi kan besok hari kerja,” sahut Isti. “Oh begitu. Gak bisa lebih lama lagi ya disini?” tanya Sarah. “Maaf mba. Kalau aja kerjaan kami gak menunggu, kami lebih senang tinggal disini dan menemani mba,” jawab Rere. Perasaan sedih pun menyelimuti Sarah. Baru saja ia merasakan bahagia sebagai seorang kakak, kini ia harus kembali menjadi sendiri, tanpa adik dan tanpa suami di sampingnya. “Yaudah kalau begitu. Besok mba bantu bereskan barang kalian ya.” “Gak perlu mba. Kita udah membereskan barang-barang kami kok,” jawab Rere. “Loh? Atau kalian sudha tau akan pergi besok?” Rere dan Isti menggelengkan kepalanya bersamaan. “Kita memang sudah bersiap aja mba. Kami gak mau merepotkan mba. Kami udah cukup dan sangat berterima kasih pada mba dan mas Adi yang sudah mempersilahkan kami untuk tinggal disini selamat satu minggu. Kami bahkan mendapat makanan dan kemurahan hati mba,” jawab Isti. Hati Sarah seolah terenyuh mendengar ucapan Isti. “Kalian udah mba anggap sebagai adik sendiri kok,” jawab Sarah. “Makasih banyak mba,” ucap Rere. “Makasih mba,” sahut Isti. Sarah merentangkan kedua tangannya sebagai tanda ia ingin memberikan pelukan terakhir sebelum berpisah dengan Rere dan Isti besok. “Kalau kalian ada waktu, pastikan kalian ke Jakarta ya,” ujar Sarah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD