[8] Teman Mas Adi

1341 Words
Semula aku merasa akan baik-baik saja jika mereka tinggal di rumah kami untuk sementara, namun aku salah. Aku salah besar. - Sarah - * * * * * Pagi itu Sarah sibuk membereskan rumahnya. Menyapu, mengepel serta mengelap beberapa bagian perabotan rumah tangga yang sudah mulai berdebu. Hari ini dua teman Adi datang. Seperti yang dikatakan oleh Adi beberapa hari yang lalu, mereka berdua adalah perempuan bernama Rere dan Isti. Adi bilang bahwa mereka usianya tiga tahun lebih muda dari Sarah. Sarah tidak tahu pasti kapan mereka akan pulang, yang jelas mereka akan menetap beberapa waktu bersama Sarah. Sarah sama sekali tidak merasa terbebani dengan kehadiran orang baru. Sebaliknya, Sarah merasa sangat senang karena bisa ada orang yang menemaninya, setidaknya untuk makan bersama di meja makan. Usai membereskan semuanya, Sarah bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya dari sisa debu yang menempel. Sarah memutuskan untuk menjemput langsung dua perempuan itu di Bandara Halim Perdana Kusuma. Jaraknya yang memakan waktu sekitar dua jam, membuat Sarah harus buru-buru mempersiapkan dirinya. Beberapa saat kemudian, Sarah selesai mempercantik dirinya. Sarah pun keluar dari kamar dan turun ke lantai satu. Sebelum ia keluar dari rumah, Sarah berbalik badan dan menatap rumahnya. “Sudah rapi,” gumam Sarah. Merasa semuanya sudah bersih, Sarah pun menutup pintu rumahnya dan menguncinya. Lalu dikeluarkannya kunci mobil berwarna hitam dan ditekanlah tombol dengan tanda kunci terbuka. Bip! Bip! Bunyi mobil itu, sebagai tanda bahwa kunci telah terbuka yang diiringi dengan lampu berwarna oranye pada sisi kanan, kiri serta depan dan belakang mobil itu. Sarah masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah. Selama perjalanan Sarah tak henti-hentinya mengecek ponselnya. Jaga-jaga kedua teman Adi sudah tiba lebih dulu di Bandara sebelum ia sampai. Namun, hingga Sarah tiba di Bandara, ia tak mendapat notifikasi pesan dari Rere ataupun Isti.             Sarah menepikan mobilnya di jalur pemberhentian lalu memasang lampu hazard. Sekitar dua menit semenjak Sarah berhenti, datanglah dua orang perempuan yang mengetuk kaca mobil Sarah. Kedua perempuan itu masing-masing membawa koper.             Sarah membuka kaca mobilnya, “Ya ada apa, ya?” tanya Sarah. “Ini mba Sarah bukan?” tanya salah seorang perempuan yang tidak memakai jilbab, Rere. “Oh iya. Rere sama Isti ya?” tanya Sarah memastikan. Mereka berdua menganggukan kepala. “Ayo masuk, kopernya masukkan saja ke bagasi,” titah Sarah. Sarah menekan salah satu tombol yang ada dalam kemudinya lalu turun dari mobil untuk membantu Rere dan Isti memasukkan barang bawaan mereka. Satu persatu ia susun, mulai dari yang terbesar dan yang paling berat berada di atas. “Sudah tidak ada lagi?” tanya Sarah. “Udah semua, mba,” ujar Isti. Sarah menutup pintu bagasi mobilnya, “Kalian masuk ke mobil saja,” ujar Sarah. Rere duduk di kursi depan samping Sarah, sedangkan Isti duduk di kursi penumpang, tepat di belakang Rere. Sarah pun langsung masuk ke dalam mobil setelah memastikan tak ada lagi barang yang tertinggal. “Seat belt-nya jangan lupa dipakai,” ujar Sarah mengingatkan Rere yang sudah duduk namun belum memakai seat belt. Rere pun menarik belt dari arah sebelah kirinya dan menyampirkannya ke sebelah kanan. Sarah mulai melajukan mobilnya, meninggalkan Bandara dengan kecepatan sedang. “Oh ya, kalian asli mana memangnya, kok manggil saya mba?” tanya Sarah membuka suara. “Ah kami aslinya Jawa. Saya dari Lamongan dan Rere dari Indramayu. Kami besar di Kalimantan,” jawab Isti. Sarah pun menganggukan kepalanya namun dengan pandangan yang masih terfokus dengan jalanan. “Kenal mas Adi sejak kapan?” tanya Sarah. “Dulu saya pernah bekerja jadi anggota HRD bareng mas Adi, lalu sejak kami pindah sudah tidak pernah komunikasi. Sebenarnya saya agak lancing karena meminta ke mas Adi untuk menumpang tinggal selama di Jakarta,” jawab Rere. Sarah memalingkan wajahnya sesaat lalu menatap jalanan lagi. Ia melihat perubahan wajah Rere yang tampak bersalah. “Eh sudah tidak apa-apa, kok. Lagi pula sekarang ini mas Adi sedang ada tugas ke luar kota dan saya tinggal sendiri. Justru saya senang ada kalian, jadi ada yang menemani,” balas Sarah. “Wah benar gak apa-apa, mba?” tanya Rere memastikan. Sarah menganggukan kepalanya, “Santai aja.” Selama perjalanan mereka hanya bercengkrama, membicarakan hal yang sebenarnya tidak penting tapi sangat penting untuk membuka suasana keakraban di antara mereka. Tanpa terasa mobil sudah tiba tepat di depan rumah Sarah. Sarah beserta Rere dan Isti pun turun dari mobil dan mengeluarkan barang bawaan mereka dari bagasi mobil. Setelah semuanya keluar dan tak ada lagi yang tertinggal, Sarah pun menutup pintu bagasi dan mengunci pintu mobilnya. Sarah berjalan lebih dulu mendahului Rere dan Isti, lalu membuka pintu rumahnya. “Silahkan masuk,” ujar Sarah sembari membuka pintu mempersilahkan kedua tamunya masuk lebih dulu. Rere dan Isti melepaskan alas kaki mereka di depan pintu lalu masuk ke dalam rumah. “Tepat di samping tangga itu ada kamar kosong, kalian bisa pakai kamar itu,” ujar Sarah sembari menunjuk pintu berwarna putih yang lokasinya berada di samping tangga. “Makasih mba,” jawab Rere dan Isti berbarengan. Rere dan Isti membawa koper mereka masing-masing menuju kamar itu. Sesaat sebelum masuk, Sarah sudah kembali bersuara. “Nanti sore bisa temani mba ke swalayan untuk beli bahan makanan? Mba lupa kalau stok bahan masakan sudah habis,” ujar Sarah. “Bisa kok, mba,” balas Rere. Sarah tersenyum mendengarnya. Ia merasa seperti memiliki dua orang adik. “Ya sudah kalian istirahat dulu saja. Kalau kalian lapar, tadi mba sudah masak sop dan ikan goreng. Kalian bisa ambil saja di dapur. Kalau mau cemilan ada di samping kulkas. Anggap saja di rumah sendiri. Kalau ada apa-apa, mba ada di kamar, di lantai dua ya,” ujar Sarah. Rere dan Isti menganggukan kepalanya, “Makasih lagi mba,” jawab mereka. Sarah pun melangkahkan kakinya menuju lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya. * * * * * Seperti yang dikatakan oleh Sarah tadi siang, sore ini Sarah beserta Rere dan Isti pergi ke sebuah swalayan untuk membeli bahan masakan. Mereka mendatangi sebuah tempat belanja modern yang cukup terkenal di Jakarta. Rere bertugas mendorong trolley, sedangkan Isti bertugas mencari bahan makanan yang sudah Sarah tulis dalam daftar. Baik Sarah, Rere maupun Isti saling berpencar mencari bahan yang ada dalam list. Satu persatu bahan ditemukan dan dimasukkan ke dalam trolley. Butuh waktu sekitar satu jam bagi mereka bertiga untuk memenuhi daftar belanja yang ditulis oleh Sarah. Kini trolley belanja yang semula kosong, sudah penuh terisi oleh beras dan berbagai jenis lauk pauk. “Sudah semua sepertinya,” ujar Sarah sembari memeriksa bahan makanan yang sudah ada dalam trolley dan dicocokan dengan nama yang ada pada list yang sudah ia tulis. “Ayo ke kasir,” ajak Sarah menuntun arah trolley yang didorong oleh Rere. Selama mengantri, sedari tadi Sarah merasa ada yang terus mengawasi. Sarah pun mengedarkan pandangannya, mencari orang yang terus menerus melihat ke arah Sarah bahkan sejak Sarah memasuki swalayan. “Kenapa mba?” tanya Isti yang melihat tingkah aneh Sarah. “Ah gak apa-apa,” jawab Sarah berbohong. Sarah kembali melihat sekitarnya hingga pandangannya bertemu dengan seorang wanita berbaju putih. Ingatan Sarah seolah memutar memori dan rekaman kejadian. Sarah merasa ia pernah melihat wanita berbaju putih itu. Tapi entah dimana. “Bukankah itu wanita yang pernah aku temui di Bali?” tanya Sarah dengan nada pelan. “Ya kenapa mba?” sahut Rere. “Eh enggak.” Sarah kembali tersadar setelah mendengar sahutan Rere. Namun ia justru kehilangan perempuan yang baru saja ia lihat tadi. Sarah kembali melihat sekitarnya namun nihil. Ia tak menemukan wanita itu. “Mba sekarang giliran kita,” tegur Isti, mengingatkan Sarah bahwa sekarang sudah tiba giliran mereka untuk menghitung total belanja. “Oh iya,” ujar Sarah. Sarah pun membantu Isti mengeluarkan barang-barang dari dalam trolley ke atas meja kasir dan sang kasir pun memulai melakukan scan pada barcode yang tertera di tiap-tiap produk. Sesekali mata Sarah kembali melihat sekitarnya, berusaha mencari wanita berbaju putih yang tampak tak asing diingatannya. Namun tetap saja, hasilnya nihil. Hingga Sarah menyelesaikan pembayaran dan bahkan hendak memasukkan barang ke bagasi mobilnya, Sarah tetap tidak bertemu dengan wanita itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD