Percayalah padaku, ketika sudah menikah satu hari pun akan terasa lebih lama. Seolah kamu ingin hari cepat berganti menjadi esok dan rindu akan rumah lama beserta keluarga di dalamnya yang menanti akan semakin menggebu dan itulah yang aku rasakan….
- Sarah -
* * * * * * * * * *
Seperti yang dikatakan oleh Sarah kemarin bahwa hari ini ia akan berkunjung ke rumah orang tuanya. Berbekal dua kotak brownies pemberian Adi, Sarah pun tancap gas dari rumahnya menuju rumah lamanya.
Selama perjalanan, Sarah memutar musik dari music player yang terpasang di dalam mobil barunya. Meski Sarah memang bisa mengendarai mobil tetapi ini adalah pertama kalinya bagi Sarah mengendarai mobilnya sendiri.
Sarah tak pernah menanyakan perihal pembayaran atau bagaimana cara Adi membayar mobil ini, bukan karena tidak peduli, hanya saja jika salah bertanya mungkin saja Adi menjadi merasa risih atau bahkan terganggu oleh pertanyaan Sarah. Jadi biarlah Adi yang mengurus mengenai mobil itu.
Rumah dengan cat berwarna kuning pastel terasa tak asing di mata Sarah. Perasaannya benar-benar rindu akan rumah beserta isi dari rumah itu. Akhirnya, Sarah tiba ke rumahnya, rumah saat ia masih melajang.
Sarah menepikan mobil persis di depan rumah itu. Ia membereskan barang bawaannya lalu turun dari mobil. Perasaannya pun sangat bahagia, akhirnya ia bisa berkunjung ke rumahnya.
Bip!
Bip!
Suara mobil terdengar ketika Sarah menekan tombol kunci dari car key yang ia gunakan.
Sarah melangkahkan kakinya menuju pintu berwarna putih lalu menekan bel yang letaknya tak jauh dari pintu.
“Tunggu sebentar,” ujar salah seorang wanita yang suaranya sangat dirindukan oleh Sarah.
Beberapa saat kemudian pintu pun terbuka. Menampilkan seorang wanita paruh baya dengan pakaian berwarna senada dengan rumah itu.
“Loh, Sarah?” ujar wanita yang dipanggil Ibu oleh Sarah.
Sarah tak menjawab apapun. Ia hanya memeluk wanita itu dengan erat. Mencurahkan seluruh perasaan rindunya yang selama sebulan ini belum ia sampaikan.
“Kamu apa kabar, Sar? Baik-baik saja, kan? Kok kamu tambah kurus sih,” ujar Ibu melihat putri semata wayangnya itu yang tampak kurus di matanya.
Sarah menggelengkan kepalanya dan tersenyum, matanya pun berkaca-kaca.
“Sarah baik-baik saja, Bu. Sarah tidak mengurus, kok,” ujar Sarah.
“Ayo masuk,” ajak Ibu sembari menarik tangan Sarah.
“Pak, Sarah pulang nih,” teriak Ibu dari ruang tamu.
Pintu kamar pun terbuka, menampilkan sosok pria yang samanya dirindukan oleh Sarah. Sarah segera berlari ke arah pria itu dan memeluknya.
“Anak Bapak akhirnya berkunjung juga,” ujar Bapak.
Sarah melihat wajah pria itu. Tampak aura lelah menyelimuti Bapak.
Sarah teringat akan sesuatu yang ia bawa, “Bu, ini ada brownies dari mas Adi,” ujar Sarah.
Ibu yang melihat bingkisan itu segera mengambil alih dari tangan Sarah lalu diletakannya dua kotak brownies itu ke atas meja makan diikuti dengan Bapak dan Sarah yang turut berjalan ke arah meja makan.
“Loh ada non Sarah?” teriak salah seorang wanita yang juga sangat dikenal oleh Sarah.
Sarah menolehkan pandangannya melihat wanita yang berlarian kecil ke arahnya. Wanita itu langsung memeluk Sarah dan mengusap punggung Sarah.
“Apa kabar, non?” tanyanya.
“Alhamdulillah baik, Bi. Bibi apa kabar?” tanya Sarah kembali.
Bibi hanya menganggukan kepalanya.
“Bibi kangen banget sama non Sarah,” ujar Bibi.
“Kamu harus tau, Sar. Setiap hari Bibi itu selalu tanya ke Ibu, kapan kamu datang. Setiap hari it uterus. Bahkan yang paling khawatir itu Bibi loh, Sar. Sudah makan apa belum, apa Sarah bahagia, apa Sarah sehat, sampai Ibu tuh mumet,” celetuk Ibu.
Sarah tertawa mendengarnya.
“Sarah baik-baik saja, kok, Bi. Semua pelajaran masak yang diajarkan oleh Bibi sudah bisa Sarah terapkan satu persatu. Ya walaupun kadang suka asin atau bahkan tak ada rasanya, hehe,” ujar Sarah.
“Kalau non mau minta diajarin masak lagi, bisa kok, non. Bibi siap ajarin non Sarah kapan aja. Bahkan kalau Bibi disuruh datang ke rumah non Sarah, Bibi siap grak!” ujar Bibi bersemangat.
Bapak, Ibu beserta Sarah yang mendengar itu hanya tertawa.
“Sudah dulu ngobrolnya, lebih baik kita makan nih brownies dari suaminya Sarah,” ajak Ibu mempersilahkan Sarah dan yang lainnya untuk memakan brownies yang kini sudah terpotong menjadi slice yang rapi di atas piring.
“Ayo ikut makan, Bi,” ujar Sarah sembari menarik tangan bibi dan mempersilahkan wanita itu untuk duduk bersama mereka di meja makan.
Ibu mengambilkan sepotong brownies itu ke dalam piring dan diberikan pada Sarah, lalu diambil lagi potongan lainnya untuk diberikan pada Bapak.
Bibi yang melihat itu hanya mengambil piring dan memberikannya pada Ibu. Ibu dan Bibi sama-sama saling bertatapan untuk beberapa saat. Ibu melihat piring kosong itu dan wajah Bibi secara bergantian.
“Ih ambil sendiri ah, Bi,” ujar Ibu ketika menyadari apa maksud dari Bibi.
Sarah tertawa melihat itu. Sedangkan Bibi hanya bersikap malu karena ia baru saja menitah majikannya sendiri.
“Maaf, Bu,” ujar Bibi kemudian mengambil sepotong brownies ke dalam piring itu.
“Oh ya, Sar. Kamu gimana sama Adi, baik-baik saja kan? Kemarin Adi sudah berangkat ke Yogyakarta?” tanya Bapak memulai pembicaraan.
Sarah menganggukan kepalanya, “Sarah sama mas Adi baik-baiks aja, kok, Pak. Iya kemarin mas Adi sudah berangkat, kebetulan sampainya sekitar jam 2an dan langsung ke kontrakannya,” jelas Sarah.
“Sar, awal pernikahan itu memang semua akan terasa baik-baik saja. Tapi kamu akan segera tahu watak suamimu bahkan permasalahan rumah tangga yang sebenarnya itu akan muncul ketika kalian sudah bersama 3 bulan hingga satu tahun. Pokoknya, masa pernikahan yang berat itu ada di tahun pertama,” ujar Bapak.
“Iya bener itu, Sar. Dulu Ibu saja sering bertengkar sama Bapak hanya karena masalah sepele. Pokoknya semua watak suami tuh jadi ketahuan deh di awal tahun pertama pernikahan. Dulu tuh ya, Bapak kamu itu gantengnya kebangetan bahkan idola wanita, tapi setelah nikah baru deh ketahuan gimana suka ngoroknya, joroknya, jahilnya. Sampai Ibu aja bingung, kok bisa ya Ibu nikah sama Bapak,” ujar Ibu.
Sarah tertawa mendengarnya, “Ibu jangan gitu ah, kalau Ibu gak jadi nikah sama Bapak nanti gak ada Sarah.”
Ibu mengelus kepala Sarah lembut.
“Iya, semenjak Ibu mengandung kamu, semuanya berubah, Nak. Semua derita seakan sirna. Sikap Bapakmu yang jelek juga Ibu terima. Karena hanya satu keinginan Ibu saat itu, memiliki anak yang sholehah dan baik seperti kamu,” ujar Ibu membuat Sarah menjadi berkaca-kaca.
“Ah Ibu bisa aja,” ujar Sarah.
“Non Sarah tau gak, dulu pas Bibi pertama kali kerja sama Ibu, Bibi tuh dimarahin kalau pegang non Sarah. Alasannya urusan anak itu hanya untuk Ibu, sedangkan Bibi bisa kerjakan yang lain. Ya kan namanya juga perempuan ya, non, paling gemes kalau lihat bayi apalagi dulu non Sarah itu lucu banget,” ujar Bibi.
Siang itu pun dihiasi dengan nostalgia, dimulai dari masa kecil Sarah, masa muda kedua orang tuanya hingga sang Bibi yang memutuskan ingin mengabdi pada keluarga Sarah. Banyak sekali cerita yang baru Sarah dengar.
Selama ini, Sarah mengaku benar-benar sibuk. Sibuk dengan pendidikan dan pekerjaan, hingga lupa bahwa quality time bersama keluarga benar-benar berharga.
Tanpa terasa matahari sudah tak menunjukkan dirinya. Jam pun sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sarah pun berpamitan pada keluarganya.
“Terkadang Ibu sedih, menyadari bahwa anak Ibu sudah bersuami dan sekarang bahkan pulang sudah bukan kemari,” ujar Ibu saat mengantarkan Sarah hingga ke ambang pintu.
“Bu, jangan sedih. Nanti kalau ada waktu Sarah akan berkunjung lagi,” ujar Sarah.
“Sering-sering main ke sini ya, Sar. Ibu dan Bapak kangen,” ujar Bapak.
Bibi datang dari arah dapur dan berjalan terburu-buru dengan sebuah kotak makan berwarna hijau di tangannya.
“Non, ini udang goreng asam manis kesukaan non Sarah. Tadi Bibi lihat di kulkas masih ada, jadi Bibi sempetin masak untuk non,” ujar Bibi sembari memberikan kotak makan itu pada Sarah.
“Itu kan udang untuk Bapak, Bi?” ujar Ibu ketika menyadari kata udang dan diucapkan oleh Bibi.
“Hehe, Bibi bagi dua kok, Bu. Jadi tenang aja Bapak kebagian,” ujar Bibi.
Sarah kembali tertawa melihat kelakuan Bibinya itu.
“Ya udah. Pulangnya hati-hati ya, Sar. Jangan terlalu ngebut,” ujar Bapak.
“Jangan lupa makan yang banyak dan kabari Ibu kalau sudah sampai rumah. Kalau ada waktu main ke sini lagi ya,” ujar Ibu.
Sarah menganggukan kepalanya, “Pak, Bu, Bibi. Sarah pamit ya,” ucap Sarah lalu mencium tangan ketiga orang itu bergantian.
“Assalamualaikum,” ujar Sarah.
Sarah membalik badannya dan melangkahkan kaki menjauhi rumah itu. Perasaan sedih pun menghiasi hati Sarah. Sarah meremas kotak makanan yang tadi diberikan oleh Bibi.
Meski jarak rumahnya tak begitu jauh, tetapi rasanya tinggal berbeda rumah sangat berat bagi Sarah.
Sarah pun masuk ke dalam mobilnya. Tak lupa ia membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangannya pada tiga orang yang paling berjasa dalam hidup Sarah.
“Hati-hati di jalan, ya, non!” teriak Bibi ketika mobil Sarah sudah meninggalkan halaman rumah itu.