Satu pukulan dari sebilah kayu melayang ke tangan Amanda. “Luruskan tanganmu, biar kuberikan pelajaran untukmu!” Amanda menuruti perkataan Fanny. Ia meluruskan tangannya. Tangannya tampak gemetar. Bukan hanya kali ini dia menerima pukulan dari Fanny dengan menggunakan kayu, ini sudah yang kesekian kalinya dan sekuat tenaga Amanda pun menahan rasa sakit akibat pukulan yang dilayangkan padanya. “Dasar anak nakal!” Prak!! Pukulan itu kembali melayang dengan keras. Sekali.. Dua kali... Tiga kali... Tangan Amanda seketika berubah menjadi lebam, bahkan beberapa bagian kulitnya sudah terangkat dari sana dan menimbulkan bercak darah. “Ini adalah hukuman yang pantas untukmu karena memecahkan piring kesayanganku!” Lagi. Lagi. Dan. Lagi. Fanny terus melayangkan pukulannya. Hingga tan

