Larry tiba di Belanda pagi-pagi buta. Ia langsung pergi menuju rumah Ibunya. “Kau sudah datang,” sapa Fanny. Larry tersenyum melihat Ibunya. Ia memeluk wanita paruh baya itu dengan sangat erat hingga Fanny serasa sulit bernapas. “Kau ingin membunuh Ibu, hah?” Larry terkekeh mendengarnya, “Aku merindukan Ibu.” “Istrimu lebih merindukanmu, Larry.” Tepat dari belakang Fanny, muncul sosok wanita yang begitu Larry benci. Ah tidak, lebih tepatnya kedua wanita itu benar-benar Larry benci. Jika bukan karena Fanny adalah Ibunya, mungkin Larry tak akan pernah pergi ke Belanda. Cecille berjalan menghampiri Larry dengan bayi dalam gendongannya. “Lihatlah bayi manis itu. Tampan bukan?” tanya Fanny. Larry tersenyum pahit. Ia menatap Cecille yang sedang menatapnya dengan tatapan benci. “Kau s

