[5] Tugas Luar Kota

1431 Words
Hari ini, suamiku pergi. Entah mengapa aku merasa sangat kesepian ketika ia mengatakan bahwa ia harus pergi meninggalkanku sementara waktu di saat pernikahan kami yang baru seumur jagung ini. - Sarah - * * * * *             Satu bulan pertama sebagai pengantin baru tidaklah mudah, baik itu bagi Sarah ataupun Adi. Mereka berdua sama-sama mengalami suka dan duka di hari baru mereka. Tak terasa, satu bulan telah berlalu, perlahan Sarah membiasakan diri menjadi seorang istri yang baik bagi Adi. Begitu pula dengan Adi, yang dengan senang hati membiasakan diri menjadi seorang suami sekaligus imam bagi Sarah.             Jujur saja, Sarah sangat tak menginginkan hari ini datang. Hari dimana Adi harus pergi meninggalkan Sarah guna memenuhi tugas pekerjaan yang sudah menanti Adi. Meski Sarah berkata iya untuk mengiyakan kepergian Adi ke luar kota selama beberapa waktu, tetap saja hati Sarah sungguh berat.             Sebagai pengantin baru tentu saja ingin menikmati setiap hari bersama. Entah itu dalam suka maupun duka. Namun, pekerjaan Sarah sebagai seorang guru TK membuat dirinya terpaksa tidak bisa ikut bersama Adi.             Kedua insan itu kini tengah duduk di meja makan. Menyantap sarapan pagi masing-masing dalam diam. Adi menatap Sarah dalam diam, ia mengerti istrinya begitu berat mempersilahkan Adi pergi.             “Sar,” panggil Adi. Sarah menatap Adi dengan tatapan sedih sekaligus marah. Dia sedih mengapa suaminya harus pergi hari ini dan ia juga marah mengapa harus suaminya yang pergi dan bukannya karyawan lain. “Maafkan mas. Mas akan usahakan secepatnya pulang,” sambung Adi. “Mas, apa gak bisa orang lain saja yang menggantikan mas? Kenapa harus mas yang pergi? Apa mereka gak tau kalau kita ini pengantin baru. Enam bulan pertama itu seharusnya dinikmati berdua mas, bukannya ditinggal pergi ke luar kota untuk urusan kerja,” ujar Sarah kesal. Adi menghembuskan napasnya berat. Ia meraih tangan Sarah dan dikecupnya tangan sang istri. “Sar, kita udah sepakat dari satu minggu yang lalu kan? Mas hanya pergi selama dua bulan. Setelah itu kita bersama lagi,” ucap Adi berusaha menenangkan istrinya yang dibalut kesedihan. “Mas, apa aku berhenti kerja aja ya? Biar bisa ikut sama mas.” “Hei, kamu kok bicaranya melantur gitu. Gak usah, Sar. Itu kan impian kamu sedari dulu untuk menjadi guru TK. Mas tahu betul kalau kamu sangat suka dengan pekerjaan kamu. Turunkan ego kamu, Sarah. Mas pasti kembali.” Sarah tampak menganggukan kepalanya perlahan. Benar apa yang dikatakan Adi, menjadi guru TK adalah impiannya sedari dulu, bahkan jauh sebelum ia mengenal Adi. Cukup jauh perjalanan Sarah untuk dapat menggapai mimpinya itu. “Udah ya, tungguin mas sampai pulang oke? Kita tetap bisa video call kalau kamu kangen sama mas,” ujar Adi. “Mas jangan genit loh disana. Inget! Kita ini pengantin baru.” “Duh istriku ini pecemburu berat ya. Iya saying, pasti. Mas ga akan selingkuh kok.” Setelah menyelesaikan sarapan pagi mereka. Adi pun pamit pada Sarah dan mencium kening istrinya cukup lama. Adi pun berjalan ke luar rumah dan membawa koper berwarna hitam yang sudah sejak kemarin dipersiapkan oleh Sarah. “Jangan lupa kasih kabar ya, mas. Kabari aku kalau kamu udah sampai sana,” ujar Sarah. Adi tersenyum mendengarnya. Ia pun memasukkan kopernya ke dalam bagasi dan masuk ke dalam mobil. Sebelum berangkat meninggalkan pekarangan rumah, Adi membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangannya kepada sang istri. “Hati-hati di jalan ya, mas!” ujar Sarah. Setelah mobil sang suami pergi, Sarah pun kembali masuk ke dalam rumah. “Sepertinya rumah ini akan sepi tanpa mas Adi,” gumamnya. Sarah merapikan sisa sarapan dirinya dengan Adi. Ia mulai membereskan rumah dan bersiap diri untuk pergi bekerja. Baru saja ditinggal beberapa menit oleh Adi, Sarah sudah bisa merasakan rindu yang luar biasa. Ia menatap foto berukuran besar yang terpajang di kamarnya. “Mas, Sarah rindu sama mas. Cepat pulang ya,” lirih Sarah. * * * * *             Hiasan bergambar binatang tampak memenuhi dinding dari ujung ke ujung. Hiasan pada jendela dan langit-langit koridor pun tampak ramai menambah kesan ceria. Suara teriakan anak yang bergembira membuat siapapun yang mendengar kembali bersemangat.             “Terima kasih ibu guru!” sahut anak-anak itu berbarengan.             Tak lama setelah ucapan terima kasih, terdengar suara bel yang semakin membuat suasana kelas itu riuh oleh teriakan anak kecil.             Kriiiinggggg!             “Pulaaaaang!” teriak mereka berbarengan. Satu persatu pintu ruang kelas terbuka dan tampaklah rombongan anak kecil yang berlarian keluar dari ruang kelas, mencari ibu mereka yang sudah menunggu sedari pagi di ruang tunggu. Setelah kelas kosong. Sarah pun membereskan meja yang tampak berantakan. Ia menata meja serta kursi kecil itu dengan rapi dan mengembalikan mainan yang berada di atas meja ke tempat semula. Seperti inilah kegiatan Sarah setiap hari sejak bekerja menjadi seorang guru di TK Pelita Raya. Rasa lelah, sedih serta amarahnya akan cair seketika ketika ia bertemu dengan anak-anak. Meski terkadang anak-anak itu berisik dan membuat Sarah pusing, namun salah satu mood booster terbaiknya adalah anak didiknya. Usai membereskan ruang kelas. Sarah merapikan barang bawaannya dan bergegas pulang. Ia keluar dari ruang kelas dan menutup pintu kelas itu rapat. Buk! Sarah merasakan sesuatu menabrak kakinya. “Ya ampun, Farhan. Kamu gak apa-apa, kan? Maafkan Ibu, ya,” ujar Sarah sembari membantu anak kecil bernama Farhan yang telah menabrak kakinya tadi. “Maafin Farhan ya, Bu,” lirih Farhan perlahan dan menundukkan kepalanya. “Hey, udah gak apa-apa. Lain kali jangan lari seperti itu, ya,” jawab Sarah. Farhan menganggukan kepalanya dan kembali bangkit. “Bu, jika Farhan boleh memohon kepada Tuhan, Farhan ingin sekali Ibu menjadi Ibu beneran bagi Farhan,” ujar Farhan sedih. Sarah tersenyum mendengarnya dan merapikan rambut Farhan. “Farhan pasti menemukan orang tua yang baik kok. Pasti jauh lebih baik dari Ibu. Farhan kan anak baik.” Farhan menggelengkan kepalanya cepat. “Gak mau! Farhan maunya Ibu jadi Ibunya Farhan! Bukan orang lain!” pekiknya. Sarah merasa iba dengan Farhan. Beberapa bulan yang lalu, orang tua Farhan ditemukan sebagai salah satu korban kecelakaan pesawat dengan status meninggal dunia. Farhan yang kurang dekat dengan orang tuanya pun sama sekali tidak meneteskan air mata. Satu-satunya orang tua impian bagi Farhan adalah Sarah. Bahkan, Farhan jauh lebih memilih Sarah daripada orang tua kandungnya. “Farhan jangan ngomong gitu dong,” ujar Sarah. “Farhan,” panggil seseorang dari belakang Farhan. Farhan menolehkan kepalanya dan memeluk leher Farah erat. “Farhan gak mau sama Nenek! Farhan gak mau pulang!” ujarnya. “Farhan, jangan seperti ini, Nak. Ayo kita pulang,” pinta wanita yang dipanggil Nenek oleh Farhan tadi. Farhan semakin mengeratkan pelukannya pada Sarah. Sarah memberi tanda pada sang Nenek seolah ia tak apa dipeluk seperti itu dan memberi Farhan waktu sesaat untuk menenangkan dirinya. “Farhan,” panggil Sarah lembut. Farhan kembali mengeratkan pelukannya, ia takut jika Sarah meminta Farhan melepaskan pelukannya dan harus pergi dengan Neneknya. “Farhan, katanya kamu mau punya orang tua lagi yang sama baiknya dengan Ibu kan?” tanya Sarah. Farhan menganggukan kepalanya cepat. “Farhan cuma mau Ibu.” “Nak, kalau kamu terus seperti ini, selalu lari dari Nenek dan tidak menuruti apa kata Nenek, kamu gak akan ada Ibu yang mau sama Farhan,” ujar Sarah. Farhan tak menggubris perkataan Sarah. “Ibu janji, kalau Farhan pulang dan nurut apa kata Nenek, Ibu mau menjadi Ibunya Farhan,” sambung Sarah. “Beneran, Bu?” Farhan melepaskan pelukannya dan menatap Sarah. Sarah menganggukan kepalanya. “Hore! Farhan punya Ibu baru!” pekik Farhan. “Sekarang, Farhan pulang dulu ya. Nenek pasti khawatir sama Farhan. Nenek juga butuh istirahat. Farhan sayang kan sama Nenek dan Ibu?” tanya Farah. “Sayang!” jawab Farhan cepat. “Anak pintar.” Perlahan Neneknya mulai mendekati Farhan dan meraih tangan mungil anak itu. “Makasih ya, Bu. Maaf kalau cucu saya merepotkan Ibu,” ujar Neneknya Farhan. Sarah menganggukan kepalanya dan tersenyum. Farhan pun berjalan menjauhi Sarah dan sesekali menengok ke belakang untuk memastikan bahwa Sarah masih berdiri di sana dan melambaikan tangan padanya. Tubuh Farhan pun perlahan menjauh dan menghilang dari pandangan matanya. Setelah merasa Farhan pergi, Sarah pun menghembuskan napasnya lega. Sarah harus banyak bersabar menghadapi Farhan. Ia kehilangan orang tuanya di usia sangat muda serta tidak begitu dekat dengan kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya pun sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga Farhan tidak mengenal betul kedua orang tuanya. Sarah berjalan mengiringi koridor sekolah. Ia adalah orang terakhir di sekolah. Ia pun pamit pada satpam yang bersiap akan menutup sekolah. “Pak, saya pulang, ya,” ujar Sarah. “Eh Bu Sarah. Tumben pulangnya terakhir. Pengantin baru terlihat bahagia terus nih,” jawab pak satpam. “Bapak bisa aja, hehe. Saya pulang ya pak. Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD