[4] Pelayan Hotel

2824 Words
Hanya satu pesan yang aku dapatkan dari wanita itu agar aku untuk berhati-hati. Tapi, hati-hati untuk apa? - Sarah - * * * * * “Wah segarnya,” ujar Sarah sembari membalut rambutnya yang basah dengan sebuah handuk berukuran sedang. Sarah membuka pintu kamar mandi, Sarah mengedarkan pandanagannya mencari sang suami. Ia sedikit menyipitkan matanya untuk memperjelas penglihatannya. Di ujung sana, tepatnya di atas meja, ia melihat Adi sibuk menaruh sesuatu ke dalam tas yang Sarah gunakan. “Mas?” panggil Sarah membuyarkan kegiatan Adi. Adi yang tampak terpergoki langsung salah tingkah dan membetulkan posisi bedirinya. “Kamu ngapain?” tanya Sarah sembari menatap Adi. Sarah melihat tangan Adi seperti memasukkan sesuatu ke dalam tas Sarah yang ia letakkan di atas meja. Lalu, wajah Adi pun berubah menjadi panic ketika tanpa sengaja diketahui oleh Sarah. Sarah melangkahkan kakinya menghampiri Adi. “Ah ini, tadi aku lihat ada kecoa masuk ke tas kamu,” ujar Adi. “Kecoa? Di hotel elit seperti ini ada kecoa?” tanya Sarah. “Coba sini aku lihat, mas,” ujar Sarah sembari menarik tas nya namun ditahan oleh Adi. “Udah kamu pakai baju dulu sana, sudah aku siapkan di atas tempat tidur. Urusan kecoa biar aku saja yang urus,” ujar Adi. Sarah pun hanya menatap Adi. Ada benarnya juga ia memberikan urusan serangga menjijikan itu pada Adi. “Ya udah. Tolong dikeluarin ya, mas,” ujar Sarah kemudian berjalan meninggalkan Adi. Sarah bingung, antara ia harus percaya atau tidak. Tapi mungkin ada benarnya jika di dalam tas nya memang ada seekor kecoa yang berhasil menyelinap. “Semoga ketemu,” gumam Sarah. Setelah selesai memakai pakaian yang sudah disiapkan oleh Adi, Sarah pun kembali menghampiri Adi yang kini duduk di balkon.Ia melihat Adi sibuk menyesapi secangkir teh ditemani dengan pemandangan indah berwarna biru. “Mas?” panggil Sarah. Adi tak bergeming. Sarah pun berjalan menghampiri Adi dan disentuhnya bahu suaminya itu. “Kamu gak masuk? Bentar lagi magrib loh,” ujar Sarah. Adi tampak meletakkan cangkir berwarna putih yang ia gunakkan kemudian membalikkan pandangannya ke arah Sarah. “Aku mau lihat sunset. Kamu mau ikut?” tanya Adi. Sarah menganggukan kepalanya kemudian duduk di kursi yang ada di samping Adi. Mereka berdua sama-sama menatap pemandangan matahari beserta langit yang semakin lama berubah menjadi oranye. Hingga pada akhirnya matahari itu seolah lenyap ditelan oleh hamparan laut biru nan luas. “Makasih ya, mas. Udah ajak aku ke Bali,” ujar Sarah. Sarah menatap mata Adi dan disusul oleh balasan Adi yang kini menatap Sarah. “Aku tahu, sedari dulu kamu sangat ingin ke pantai Bali hanya untuk melihat matahari terbenam. Sekarang sudah tercapai, kan?” tanya Adi. Sarah menganggukan kepalanya dan tersenyum. “Terima kasih, mas,” ujar Sarah lagi kini dibarengi dengan pelukan hangat yang ia adukan pada Adi. “Sama-sama, sayang,” balas Adi sembari mengusap punggung Sarah. “Oh ya, Sar. Aku lupa mau memberitahu kamu sesuatu,” ujar Adi. Sarah menatap Adi yang kini tampak sibuk melihat matahari yang kian lenyap seakan dilahap oleh hamparan laut berwarna biru. “Sepertinya bulan depan aku akan pergi ke Yogyakarta untuk tugas pekerjaan. Aku sudah menunda untuk tidak pergi tahun lalu dan sebagai gantinya aku pergi tahun ini,” jelas Adi yang masih sibuk menatap matahari tenggelam. “Loh, memangnya harus banget pergi ya, mas? Kita ini pengantin baru loh, mas. Masa sih kantormu tega mengirim kamu ke luar kota. Apa tidak bisa orang lain aja?” tanya Sarah. Adi memalingkan wajahnya menatap Sarah lalu disentuhnya pipi Sarah dengan lembut. “Maaf sayang,” ujar Adi. Rasanya Sarah ingin berteriak detik itu juga. Mengapa Adi harus mengatakan itu tepat di hari honeymoon mereka? “Mas janji hanya dua bulan setelah itu, kita akan kembali berlibur ke tempat lain sesuai permintaanmu. Okey?” Sarah menatap Adi. Pandangannya sama sekali tak teralihkan dari wajah suaminya itu. Lalu Sarah pun akhirnya mengalah. Ia harus mengalah demi kepentingan Adi. Bagaimana pun, pekerjaan adalah hal yang utama selain keluarga. “Iya mas,” jawab Sarah lesu. Adi menyentuh kening Sarah dan diciumnya bagian itu. “I love you,” ujar Adi. Tanpa terasa, matahari pun sudah terbenam dan bahkan cahayanya sudah tak terlihat lagi sepanjang mata memandang. Kini yang ada hanyalah cahaya bulat berwarna putih yang menjadi penerang gelapnya langit. * * * Suara desiran ombak terdengar begitu indah di telinga Sarah. Matahari mulai menampakkan kegagahannya di atas luasnya hamparan laut berwarna biru. Mata Sarah memicing ketika cahaya itu mulai naik dan menunjukkan kekuasaannya. Angin pagi berhembus cukup kencang, terasa dingin ketika menerpa kulit putih Sarah. Ini adalah pagi pertama bagi Sarah di Bali. Pemandangan yang tak biasa sekaligus ia dambakan hadir di depan matanya. Di bawah sana banyak orang yang sudah sibuk dengan aktifitas harian mereka. Tak jarang turis mancanegara ikut andil dalam urusan itu.  Suasana pagi ini benar-benar membuat Sarah semakin jatuh cinta dengan pulau Bali. “Selamat pagi sayang,” ucap seorang pria dengan lantunan serak khas orang baru saja bangkit dari tidur lelapnya. Tangan kekarnya dilingkarkan pada pinggang Sarah sedangkan dagunya ditumpu pada bahu Sarah. “Sudah bangun?” tanya Sarah. Sarah membalikkan badannya namun dengan kondisi masih dalam lingkar tangan Adi. Mata Adi masih setengah terpejam. “Yuk kita sarapan dulu di bawah,” ujar Sarah. Adi hanya menganggukan kepalanya. Mata yang semula terpejam kini perlahan terbuka menatap bayangan istrinya yang berdiri di hadapannya. “Sarapannya gak bisa diantar ke kamar saja, ya?” tanya Adi dengan nada manjanya. Sarah menggelengkan kepalanya. “Nanti kita akan kena charge kalau minta diantarkan ke kamar,” jelas Sarah. “Biar aku yang bayar charge-nya. Aku masih mengantuk sekali, sayang.” Sarah kembali menggelengkan kepalanya kemudian mulai mendorong tubuh Adi hingga melepaskan tangan yang melingkar di pinggang Sarah. “Jangan manja. Ayo bangun. Cuci muka kamu lalu kita turun ke bawah,” ujar Sarah. Sarah meninggalkan Adi yang masih berdiri di balkon kamar. Adi pun memutar balik tubuhnya dan kembali masuk ke dalam kamar hotel mereka. * * * * * “Sudah selesai, mas? Yuk kita turun, sudah jam tujuh,” ujar Sarah. Mata Sarah masih lekat menatap Adi yang sedari tadi sibuk dengan pakaiannya hanya untuk sarapan ke bawah. “Gak perlu dandan dulu lah, mas. Kan nanti bisa ke atas lagi. Lagi pula acara untuk tarian barong mulai jam 10 loh, mas,” sambung Sarah. Sarah tampak risih melihat Adi yang berdandan melebihi dirinya. Srrrt! Srrrt! Adi menyemprotkan parfum dengan cairan berwarna kuning itu ke bagian lehernya lalu kembali meletakkan parfum itu ke dalam tas. “Sudah?” tanya Sarah lagi. Adi membalikkan badannya dan menatap Sarah, “Yuk,” ajak Adi. “Kamu ini laki-laki tetapi dandannya melebihi aku loh, mas. Lihat saja, aku hanya pakai celana biasa kamu sudah rapi dengan celana jeans,” ujar Sarah sembari melihat penampilan suaminya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. “Ya ini kan supaya nanti aku ga dandan lagi. Jadi nanti aku tinggal menunggu kamu aja, sayang,” bela Adi. “Ah udah ayo kita ke bawah. Nanti kita kehabisan makanannya loh.” Sarah menarik tangan Adi dan tak lupa mengambil kartu yang digunakkan sebagai kunci untuk masuk ke kamar hotel. Lorong hotel tampak remang-remang dengan pencahayaan yang minim. Setiap cahaya hanya diletakkan di setiap ujung dari jalan dan depan pintu kamar saja. Meski di ujung lorong sana terdapat jendela sebagai jalan masuknya cahaya matahari, tapi itu sama sekali tak membantu pencahayaan di lorong hotel. Sarah meraih lengan Adi dan mereka mulai berjalan meninggalkan kamar mereka setelah memastikan pintu kamar mereka tertutup rapat. Tuk! Tuk! Suara langkahan kaki mereka terdengar menggema. Suasana lorong benar-benar sepi. Tuk! Tuk! Mata Sarah memicing kemudian ia melihat ke sekelilingnya sembari mendengarkan langakahan kaki yang terus mengiringi mereka. “Mas dengar sesuatu gak, sih?” tanya Sarah seketika ia langsung menghentikkan langkahan kakinya kemudian memutar balik badannya melihat sesuatu yang ada di belakang mereka. “Maksud kamu apa, Sar?” tanya Adi. Sarah berusaha menajamkan indra pendengarannya namun hasilnya nihil. “Ah mungkin perasaanku saja, mas,” ujar Sarah. Mereka pun kembali melanjutkan mereka menuju lift. Tuk! Tuk! Lagi, langkahan kaki itu terdengar begitu dekat di telinga Sarah. Suaranya mirip dengan sepatu heels yang beradu dengan lantai. “Sar?” panggil Adi ketika ia melihat istrinya seperti memikirkan sesuatu. “Kamu kenapa?” tanya Adi lagi. “Aku mendengar suara langkahan kaki di belakang kita. Tapi ketika kita berhenti berjalan, suara itu juga hilang,” jawab Sarah. “Ya lorong ini kan sepi, sayang. Mungkin itu langkahan kaki kita yang bergema jadi seperti itu,” ujar Adi. “Tapi mas-” Ting! Suara lift tiba pun terdengar nyaring. “Tuh kamu dengar sendiri kan? Suara lift saja nyaring dan menggema,” ujar Adi. Sarah tersenyum kaku. “Ah mas benar, mungkin hanya gema saja,” ujar Sarah. Setelah pintu lift terbuka, Adi pun mempersilahkan Sarah masuk terlebih dahulu diikuti dengan dirinya. Pintu lift kembali tertutup setelah dua orang itu masuk ke dalam lift. Tapi, baru beberapa saat pintu itu tertutup, pintu lift kembali terbuka. “Loh kok dibuka lagi, mas?” tanya Sarah melihat Adi yang berdiri di dekat tombol-tombol lift itu. Adi melihat ke arah tombol lift. “Mas, gak nekan kok,” ujar Adi. “Apa ada orang yang mau naik ya?” ujar Sarah. Mereka menunggu beberapa saat tetapi tak ada yang datang. “Mungkin tadi kepencet sama mas,” ujar Adi. Adi pun menekan tombol lainnya untuk menutup pintu lift. Lift berjalan turun ke bawah diikuti dengan gravitasi yang terasa akan menerbangkan mereka. Tak perlu menunggu waktu lama, suara lift pun kembali terdengar, menandakan bahwa mereka sudah tiba di lantai yang mereka tuju. Ting! Adi meraih tangan Sarah dan menuntun wanita itu ke arah restaurant hotel. Buk! Seorang perempuan menabrak Sarah dari arah belakang, dan tanpa kata maaf perempuan dengan baju berwarna putih itu meninggalkan Sarah begitu saja. “Sayang, kamu gak apa-apa?” tanya Adi. Sarah memegangi bahunya yang tadi ditabrak oleh wanita yang tidak ia kenal. “Gak apa-apa, mas. Mungkin dia gak lihat dan terburu-buru.” Adi dan Sarah melihat wanita itu berjalan ke arah restaurant, sama seperti tujuan mereka. “Yaudah kita ke sana, yuk,” ajak Adi dan kembali meraih tangan Sarah. Restaurant dengan nuansa khas Bali kini berada di hadapan mata Sarah. Lantunan musik khas tari Bali pun terdengar hingga ke telinga Sarah. Salah seorang pelayan dengan pakaian dan topi yang sama seperti pelayan kemarin datang menghampiri mereka. “Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” tanya pelayan itu. “Saya mau sarapan, untuk dua orang,” jawab Adi. “Baik akan saya tunjukkan jalannya,” ujar pelayan itu kemudian berjalan mendahului Adi dan Sarah. Pelayan itu mengarahkan sebuah tempat duduk tepat di samping kaca dengan pemandangan hamparan pantai Bali. “Untuk makanannya bisa diambil langsung,” ujar pelayan itu lagi sembari menunjuk sebuah meja dan diatasnya banyak sekali makanan. “Terima kasih,” ujar Sarah. Pelayan itu pun pergi meninggalkan Adi dan Sarah. Sarah merogoh saku celana yang ia pakai dan raut wajahnya pun berubah seketika. “Kenapa, Sar?” tanya Adi yang melihat kepanikan dalam wajah Sarah. “Duh ponsel aku kayaknya tertinggal di kamar, mas. Aku lupa harus menyerahkan hasil penilaian anak-anak ke Bu Eka dan semua data itu ada di ponsel aku, mas,” ujar Sarah. “Yaudah kamu ambil dulu ke atas. Ini kunci kamarnya. Gak aku temani, gak apa-apa, kan?” tanya Adi. “Iya gak apa-apa, mas. Bentar ya aku ke atas dulu.” Sarah mengambil kunci kamar yang tadi diserahkan oleh Adi dan langsung pergi meninggalkan restaurant. Ting! Pintu lift langsung terbuka dan Sarah segera masuk ke dalam sana. Salah seorang wanita berbaju putih dengan rambut yang cukup panjang pun ikut masuk ke dalam lift bersama Sarah. Sarah mengingat dengan jelas bahwa itu adalah perempuan yang tadi menabrak Sarah, tapi sepertinya wanita itu tidak melihat siapa orang yang dia tabrak, bahkan kata maaf pun sama sekali tidak keluar dari mulut wanita itu. Sarah menekan tombol angka 7. Selama di lift wanita itu tak bersuara atau bahkan menekan tombol lantai yang ia tuju. “Maaf, anda ingin ke lantai berapa?” tanya Sarah memulai suara ketika sebentar lagi akan tiba di lantai tujuh. Ting! Tiba-tiba saja pintu lift terbuka dan Sarah melihat ke arah layar yang menunjukkan ia sudah tiba di lantai tujuh. Wanita berbaju putih itu keluar mendahului Sarah. “Terima kasih,” ujar wanita itu dengan suara yang lembut, bahkan hampir tak terdengar oleh Sarah. Wanita itu berbelok ke arah kiri, arah yang berlawanan dengan Sarah. Sarah kembali mengingat tujuannya kembali ke kamar, ia segera keluar dari lift dan berbelok ke arah kanan. Sarah menolehkan pandangannya ke belakang untuk melihat perempuan tadi, namun nyatanya ia sudah tidak ada. “Mungkin ia tinggal di kamar 710, yang persis di samping lift,” gumam Sarah. Tuk! Tuk! Langkahan kaki itu terdengar lagi. Sarah benar-benar mengabaikan suara itu dan hanya fokus pada tujuannya. Setibanya di depan pintu kamar, Sarah pun membuka pintu dengan kartu yang tadi ia bawa dan masuk ke dalam kamar lalu meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas meja samping tempat tidur. Pandangan Sarah teralihkan. Ia melihat ke arah pintu kamar menuju balkon yang terbuka. “Apa dari tadi itu terbuka, ya?” tanya Sarah pada dirinya sendiri. Sarah pun menutup pintu itu dan tak lupa menguncinya. Setelah yang dituju ia dapatkan, Sarah kembali keluar dari kamar. Ketika ia akan mengunci pintu kamar, ia baru sadar bahwa sedari tadi Sarah mengenakkan sandal hotel dan sangat mustahil jika terdengar suara langkahan kaki bagai aduan sepatu dengan lantai. Sarah menolehkan pandangannya ke kanan dan ke kiri. Tak ada orang di sana. “Ah sudahlah,” ujar Sarah. Sarah menutup pintu kamar dan memeriksa bahwa sudah terkunci. Setelah selesai Sarah kembali berjalan ke arah lift dan selama ia berjalan sudah tak terdengar suara apapun lagi. Grep! Tangan Sarah tertahan oleh sesuatu, atau lebih tepatnya ditahan oleh seseorang. Sarah pun segera membalikkan pandangannya dan melihat siapa yang baru saja menahan tangannya. “Ibu?” ujar Sarah ketika menyadari bahwa itu adalah wanita tua yang ia temui kemarin di depan lift lobby. Wanita itu hanya tersenyum lalu melepaskan genggaman tangannya dari Sarah. “Hati-hati,” ujar wanita itu. Sarah hanya tersenyum. “Iya. Terima kasih, Bu,” jawab Sarah dengan penuh senyuman. Wanita itu kembali melangkahkan kakinya berlawanan arah dengan Sarah. Ting! Pintu lift kembali terbuka dan Sarah pun masuk ke dalam sana. Setelah itu pintu lift kembali menutup. Sarah menekkan tanda huruf L. Selama di lift Sarah sibuk mengirimkan berkas berbentuk pdf melalui e-mail. Ting! Pintu lift terbuka dan menampakkan pemandangan khas lobby hotel itu. Di depan pintu lift sudah ada seorang pelayan hotel yang sepertinya akan mengantarkan makanan ke lantai atas. Sarah kembali mengingat pria itu, itu adalah orang yang mengantarkan bawaan koper milik Sarah dan Adi. “Selamat pagi,” sapa Sarah. “Pagi, Bu,” balas pria itu yang sepertinya mengingat Sarah. “Oh ya,” ujar Sarah membuka suara sebelum pria itu berjalan memasuki lift. “Iya ada apa, Bu?” “Ingat gak dengan ibu-ibu yang pernah kemarin ketemu disini,” ujar Sarah. Pria itu tampak berpikir sejenak dan kemudian menganggukan kepalanya, “ Oh iya, saya ingat Bu. Kabarnya Ibu itu meninggal hari ini di kamarnya karena serangan jantung. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ya, Bu,” ujar pria itu. “Meninggal?” gumam Sarah. Padahal jelas-jelas tadi wanita itu memegang tangan Sarah. “Loh, tadi saya baru saja ketemu Ibu itu di lantai tujuh,” ujar Sarah. Pria itu tampak bergidik ngeri dan membulatkan matanya. “Ah masa sih, Bu. Jelas-jelas subuh tadi saya lihat sendiri mayatnya langsung dipindahkan sama pihak keluarga,” ujar pria itu. “Bener kok. Tadi saya lihat sendiri. Dia bahkan berkata pada saya untuk hati-hati,” ujar Sarah. Pria itu pun mengingat kembali apa yang ada dalam ingatannya, “Ah iya Bu, kemarin Ibu itu juga bilang tolong sampaikan pada Ibu untuk hati-hati. Seingat saya yang tinggal di lantai tujuh pun hanya Ibu dan suami Ibu saja. Saya juga heran kenapa resepsionis menempatkan pasangan baru di lantai sana,” ujar pria itu. “Loh memang ada yang salah?” Pria itu menggaruk tengkuknya, “Selama saya kerja disini, jarang sekali orang yang ditempatkan di lantai itu. Karena kabarnya, angker, Bu,” jelas pelayan itu. “Sar?” panggil salah seorang pria yang suaranya sangat dikenal oleh Sarah. Sarah pun menolehkan pandangannya dan melihat suaminya. Sarah memperhatikan sandal yang dipakai oleh Adi, sama dengan yang Sarah pakai. Jadi saat tadi mereka berjalan di lorong, itu suara langkahan kaki milik siapa? “Saya duluan ya, Bu,” ujar pelayan itu lalu masuk ke dalam lift meninggalkan Sarah dan Adi. “Kamu dari tadi aku tungguin loh. Tuh omelette kamu sudah mau dingin. Ayo sarapan. Ponsel kamu sudah diambil?” tanya Adi. Adi berjalan menghampiri Sarah dan meraih tangan Sarah. “Oh iya maaf, mas. Tadi aku keasikan ngobrol sama pelayan hotel yang kemarin. Yuk kesana. Aku juga lapar banget.”   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD