Xin Qian yang mendengar nada sedih mommynya membuat ia tak kuasa menahan tangisnya sejak tadi, Xin Qian juga ingin berhenti hanya saja hatinya begitu menginginkan Jun Cheol dan Xin Qian ingin melindungi Daddynya agar tak kena masalah apapun.
Namun karena dirinya terlalu mengikuti kata hatinya yang tak suka melihat Jun Cheol bersama gadis lain membuat Xin Qian menjadi seperti ini hingga Daddynya marah dan Mommy sedih, sedangkan Mayleen yang melihat Xin Qian menangis membuatnya memeluk putrinya dengan cukup erat agar hati Xin Qian menjadi lebih tenang.
"Nangis aja kalo kamu mau nangis sayang, jangan ditahan karena semakin kamu nahan nangis kamu yang ada kamu semakin tersiksa loh?" tutur Mayleen lembut.
Mendengar ucapan mommynya membuat Xin Qian semakin tak kuasa menahan rasa sakit yang menekan hatinya selama ini, melihat hal ini membuat Mayleen membantu putrinya meluapkan apa yang menyakiti hati Xin Qian dengan menenangkannya.
"Jangan simpan lukamu sendirian sayang, coba sini cerita sama mommy kamu kenapa Xin Qian? Everything will be okay sayang ... liat mommy disini sayang," ucap Mayleen lembut.
Sejenak Xin Qian terdiam mendengar ucapan mommynya tapi karena ia merasa membutuhkan teman cerita membuat Xin Qian mengatakan apa yang ia tahan selama ini, sedangkan Mayleen mendengarkan cerita Xin Qian dengan serius sambil sesekali Mayleen mengusap-usap bahu Xin Qian lembut agar perasaan putrinya tetap tenang meski ia merasa sedih.
"Xin Qian gak bisa berhenti mom ... Xin Qian suka kerja disana, Xin Qian cuma mau ngelindungin Daddy dan Xin Qian cuma cinta ke seseorang yang gak cinta sama Xin Qian mom! Semua hal ini bikin Xin Qian gak ngerti lagi harus apa mom," lirih Xin Qian terisak-isak.
"Banyak cara buat ngelindungi Daddy sayang gak harus nyakitin diri kamu kayak gini Xin Qian dan soal seseorang yang kamu cintai tapi gak cinta sama kamu ya kamu gak bisa paksa dia buat bales perasaan kamu sayang karena cinta itu rasa bukan perlombaan yang harus selalu di menang bukan gitu sayang," ujar Mayleen lembut.
"Cara apa lagi mom? Bukannya cinta itu selalu bersambut mom? Aku cuma pengen dia mom tapi kenapa dia jahat banget mom! gak pernah liat apalagi anggep aku mom," lirih Xin Qian sedih.
"Banyak cara sayang nanti kita pikir sama-sama ya ... gak selalu Xin Qian terkadang ada cinta yang hadir untuk disimpan sendiri ataupun hadir lalu terpaksa harus kita lepaskan karena nyata nya rasa cinta itu bukan kita Xin Qian! Gak semua cinta itu harus kita milikin nak karena belum tentu dengan memilikinya kamu akan bahagia, mungkin dia gak mau ngebuat kamu berharap sama dia! Kamu paham maksud mommykan?" tanya Mayleen lembut.
"Berpikir tidak jelas seperti itu tidak akan bisa melindungi Daddy mom, kalo cinta itu bukan buat Xin Qian lalu kenapa dia hadir dihati Xin Qian mom? Terus Xin Qian harus gimana mom? Xin Qian cuma mau milikin dia aja! Kenapa dia gak mau bikin Xin Qian gak berharap? Emang salah kalo Xin Qian cinta sama dia?" tanya Xin Qian semakin sedih.
Mayleen yang mendengar pertanyaan putrinya membuatnya kembali memberikan penjelasan lain tapi sayangnya Li Quon menghampiri mereka berdua dan saat Mayleen ingin melanjutkan penjelasannya suaminya justru mengajak putrinya berdiskusi di ruangan lain.
"Jadi cinta itu luas sayang gak seharusnya kamu ...," ucap Mayleen terhenti.
"Sudahlah sayang! Anak ini bebal jadi dia tak akan paham apapun yang kamu katakan! Xin Qian lebih baik kamu ikut Daddy bahas rencana lain di halaman belakang, kali ini Xin Qian jangan sampai mengacaukannya lagi! Mengerti?" ujar Li Qoun datar.
Xin Qian yang mendengar perintah ayahnya membuat Xin Qian berjalan mengikuti ayahnya yang terlihat begitu menakutkan diusianya yang terbilang tak muda lagi, sedangkan di kamarnya Jun Cheol tiba-tiba terbangun ketika mendengar suara panggilan dari teleponnya.
"Hm? Halo? Ini siapa? Ada apa?" ucap Jun Cheol panik.
Mendengar pertanyaan Jun Cheol membuat penelpon terkekeh geli lalu tak lama ia menyadari jika yang menelponnya adalah Ajeng dan benar saja, Ajeng menelponnya karena ia mendengar keributan di depan cafenya tapi Ajeng yang tak ingin kejadian tadi terulang lagi membuatnya memilih untuk menelpon Jun Cheol daripada memeriksanya sendiri dan berakhir dengan bahaya.
"Ahahaha sekop lu kalo ada telpon gak pernah liat nama penelponnya ya? Ini sekop gue denger ada kayak ribut-ribut depan cafe gue masa? Gue mau periksa tapi takut kayak tadi lagi sekop?! Jadi gue harus gimana ini?" ujar Ajeng panik.
"Iya saya langsung menjawabnya, ribut-ribut? Orang berantem maksud anda? Coba anda liat dari jendela dulu disana ada apa?" tutur Jun Cheol mengarahkan Ajeng.
"Harusnya lu jangan gitu sekop! Iya rame gitu sekop, oke bentar gue liat dari jendela dulu ... hm? Disana ada segerombolan orang sama beberapa pemilik toko sekitar sini terus ada karyawan beberapa toko di sekitar sini juga! Loh ada apa ya disana? Aman gak sekop kalo gue turun buat liat langsung biar jelas?" tanya Ajeng bingung.
"Lebih banyak mana segerombolan orang itu sama orang-orang yang emang ada sekitar sana? Muka mereka keliatan gimana? Baiklah saya dan Jin Young akan ke sana," ujar Jun Cheol lelah.
"Hm? Sama banyaknya kayaknya tapi gak jelas sekop ini kan mereka deket-deketan gitu jadi gue gak ngerti deh banyakan mana! Keliatannya kayak pada marah-marah gitu tapi gak tau mereka ngomong apa gak kedengeran! Oh hati-hati ya kalian berdua," tutur Ajeng lembut.
"Kalo keadaan di sana belum jelas dan tidak memungkinkan anda untuk melihat langsung lebih baik anda jangan turun! tunggu saya dan Jin Young sampai disana, anda mengerti Ajeng? Anda pahamkan ucapan saya," ucap Jun Cheol lembut.
Ajeng yang mendengar ucapan Jun Cheol membuatnya menyahutinya dengan gumaman, lalu panggilan telepon pun berakhir dan Jun Cheol bergegas membangunkan Jin Young agar segera bersiap-siap ke cafe Ajeng karena sepertinya Ajeng membutuhkan bantuan disana.
"Young-ah! Bangun Jin Young! Ajeng perlu bantuan kita woy!" teriak Jun Cheol kesal.
Jin Young yang mendengar teriakan tak biasa Jun Cheol membuatnya segera menyahuti Jun Cheol dan bergegas bersiap-siap karena ia tak ingin melihat Jun Cheol marah-marah di pagi hari seperti ini, sedangkan Jun Cheol yang sudah selesai membangunkan Jin Young membuatnya berjalan memasuki kamarnya untuk bersiap-siap pergi ke cafe Ajeng.
"Iya Jun iya! Ini saya udah bangun kok! Oke saya siap-siap dulu ya," teriak Jin Young mengantuk.
Setelah mereka berdua telah selesai bersiap-siap untuk pergi ke cafe Ajeng tak lama Jin Young dan Jun Cheol kini berjalan dengan langkah besar yang terlihat terburu-buru, karena yang ada di pikiran mereka berdua saat ini adalah keselamatan Ajeng yang entah bagaimana disana.
Beruntungnya jarak cafe Ajeng dan apartemen tidak terlalu jauh hingga tak lama Jun Cheol dan Jin Young sampai di cafe Ajeng, dengan rasa bingung dan penasaran yang tinggi membuat Jin Young mencoba bertanya kepada orang yang ada di sebelahnya.
"Ini rame-rame ada apa ya pak? Bukannya cafenya sedang tutup ya?" tanya Jin Young bingung.
"Itu loh mas ada segerombolan orang yang ketahuan mau maksain masuk ke cafe orang yang kami semua kenal sama ownernya mas jadi kami ngehalangin," ujar salah satu pria itu kesal.
"Loh tujuan dia maksain masuk apa emangnya pak? Tiba-tiba mereka datang gitu aja? Terus ini sekarang masih ribut soal apa?" tanya Jin Young masih bingung.
"Tadi bilangnya perintah dari atasannya! Iyaa tiba-tiba mereka datang aja terus maksa masuk ya jelas gak kami biarin mas, masih soal maksain masuk itu pak!" ucap salah satu pria itu kesal.
Di saat Jin Young ingin bertanya lagi tak lama suara jeritan terdengar kencang hingga membuat Ajeng berlari turun ke lantai bawah dan tak lama suasana di luar menjadi hening karena Jun Cheol ada di depan orang yang hendak memecahkan pintu kaca cafe Ajeng dengan palu besar.
Merasa pekerjaannya di ganggu membuat pria yang memegang palu besar itu memarahi Jun Cheol karena ia merasa tak mengenal pria yang ada di hadapannya, sedangkan Jun Cheol yang dimarahi tetap memasang wajah datarnya dan tak segan-segan Jun Cheol balik memarahinya.
"Minggir!! Anda menganggu pekerjaan saya! Saya tak mengenal anda jadi pergi sekarang atau anda ingin merasakan palu besar ini menghantam anda!" murka salah satu pria itu marah.
"Otak anda tertinggal heh! Anda yang menganggu ketertiban tempat umum tuan! Tak mengenal tidak berarti membuat saya membiarkan anda yang membuat onar seperti ini!! Kenapa saya harus merasakan hantaman palu besar itu jika saya bisa melawan anda," tutur Jun Cheol dingin.
"Bocah tengik seperti anda berani melawan saya? Baiklah jika anda ingin melawan saya silahkan saya akan ladeni semua keinginan anda," sindir salah satu pria itu marah.
"Baiklah saya juga tidak keberatan melawan anda," sahut Jun Cheol dingin.
Pria itu melempar palu itu ke belakang tubuhnya untuk melarang siapapun mendekat atau ikut campur dalam perkelahian mereka dan tak lama pria itu mencoba menarik kerah kemeja Jun Cheol membantingnya ke tanah tapi Jun Cheol tak tertarik sedikitpun hingga Jun Cheol menarik tangan pria itu dan menekuk pergelangan tangannya hingga pria itu kesakitan.
Melihat hal ini membuat Jun Cheol tak kehilangan kesempatan dengan menendang kaki pria itu dari samping hingga membuatnya ambruk tanpa perlawanan, merasa tak terima di permalukan seperti ini membuat pria itu bangkit dengan menahan rasa sakit yang ia tahan dalam diamnya.
Jun Cheol yang merasa kasihan ketika melihat pria itu membuatnya memberi peringatan untuk segerombolan orang ini pergi dengan sukarela atau mereka ingin merasakan sakit yang sama tapi dengan kompak mereka balik mengancam Jun Cheol.
"Kalo kalian masih mau disini maka jangan salahkan saya bila kalian merasakan hal yang sama seperti dia! Jadi cepat putuskan sekarang! Jangan buang waktu saya," murka Jun Cheol kesal.
"Hanya karena anda berhasil mengalahkannya tidak berarti anda bisa mengalahkan kami yang sudah jelas lebih unggul secara jumlah! Jadi lebih baik anda minggir dari sana sekarang dari pada anda kehilangan tangan atau kaki anda," ancam segerombolan orang itu tegas.
Mendengar ancaman seperti ini membuat Jun Cheol terkekeh geli, ucapan seperti ini sudah tak ada artinya lagi bagi Jun Cheol karena dirinya telah sering mendengar hal ini berulang-ulang kali dan tentu saja ucapan ini hanya gertakan saja, sedangkan Jun Cheol yang tak merasa khawatir sedikitpun membuatnya menyahuti ancaman tak berarti dari mereka.
"Kalian pembual! Terlalu banyak bicara hingga lupa bahwa menang atau kalah tidak di tentukan oleh jumlah melainkan kemampuan anda untuk mengalahkan lawan! Sebelum saya kehilangan kaki atau tangan milik saya maka lebih dulu saya yang akan mematahkan anggota gerak tubuh kalian! Ayok serang saya tapi jangan menangis jika tulang kalian patah," sahut Jun Cheol dingin.
Segerombolan orang yang mendengar ucapan Jun Cheol membuat mereka terasa terpancing emosinya karena baru pertama kali ada orang yang berani menantang bahkan melawan mereka seperti ini, perkelahian pun tak terelakkan lagi hingga beberapa orang yang mulai menyerang secara sembarangan hingga perlahan-lahan mulai jatuh tumbang dan kesakitan.
Ajeng yang melihat hal ini membuatnya menutup mulutnya rapat-rapat karena ia terkejut dan juga mengkhawatirkan Jun Cheol jika sampai dirinya terluka dalam perkelahian ini, lalu disaat Jun Cheol sedang sibuk melawan mereka satu per satu tak lama suara sirene polisi datang dan beberapa anggota kepolisian menahan beberapa orang yang berusaha kabur dari cafe Ajeng.
Awalnya Jun Cheol berpikir mungkin ada salah satu pemilik toko dari tempat ini menghubungi polisi untuk membantunya tapi baru beberapa menit Jun Cheol berusaha mempercayai hal itu tak lama Jun Cheol melihat Xin Qian memborgol beberapa orang yang tertangkap dan seperti berpura-pura menyibukkan dirinya dengan terlihat bahwa ia adalah rekan.
Melihat hal ini membuat Jun Cheol mengulas senyum sinisnya dan tak lama Ajeng melihat-lihat apakah Jun Cheol terluka atau ada memar di tubuhnya, sedangkan Jun Cheol yang di putar ke kanan dan ke kiri membuatnya diam saja dan menuruti kemanapun Ajeng mengarahkan tubuh tegap milik Jun Cheol.
"Sekop! Coba ke sini! Liat sini sekop! Luka gak? Sakit gak? Ada yang sakit gak? Bilang aja kalo ada yang sakit sebelah mana," ujar Ajeng khawatir.
"Hm ...," gumam Jun Cheol mengiyakan.
Disaat Jun Cheol dan Ajeng menyibukkan diri mereka dengan apa yang Ajeng lakukan, tak jauh dari tempat mereka berdua berdiri ada hati yang merasa dihancurkan. Ya! Hati itu adalah milik Xin Qian yang kini menatap mereka dengan pandangan nanar dan tangan yang mengepal kuat karena ia menahan rasa kesal yang menyiksa dan amarah yang membelenggunya.
Jun Cheol dan Ajeng sesekali bercanda saat Ajeng terlihat begitu khawatir padanya sedangkan Jun Cheol sejenak berpikir entah mengapa wajah Ajeng yang saat ini terlihat menggemaskan dan menghangatkan ruang dihatinya yang dulu sengaja ia biarkan membeku tetapi hari ini semuanya berubah.
|Bersambung|