Berhentilah

2014 Words
Jun Cheol, Ajeng dan Barra yang melihat Jin Young tersenyum aneh seperti begini membuat mereka bertiga mempertanyakan apa yang terjadi selama dirinya di luar tadi, sedangkan Jin Young yang ditanya pun membuat dirinya menjelaskan alasan dia tersenyum seperti ini. "Lah lu kenapa Jin Young? Nyengar-nyengir gitu," tanya Ajeng bingung. "Lu gak kesambet pohon yang diseberang jalan kan?" tanya Barra ikut bingung. "Anda kepentok pintu masuk Young-ah? Apa yang terjadi disana sampe lu senyum-senyum aneh gini? Jangan bilang lu ngeledek Xin Qian?" tanya Jun Cheol bingung. "Kalian jahat banget dah! Masa orang senyum dibilang kesambet, kepentok, astaga! Saya gak apa-apa tau tapi saya habis menemukan cara yang luar biasa! Tau gak Jun cara apa yang saya pake buat kasus ini? Tenang aja saya gak ngeledek Xin Qian kok," sahut Jin Young sebal. "Abis anda aneh Young-ah! Gak ada angin gak ada hujan malah senyum-senyum kayak orang waras aja! Cara? Cara apa emang? Iya jangan ngeledek orang gak baik," ujar Jun Cheol bingung. "Tadi saya abis ngerekam suara Xin Qian kalian mau denger gak? Pasti kalian bakal terkejut dengernya! Nih saya play rekaman suaranya," tutur Jin Young senang. Mendengar pertanyaan Jin Young membuat ketiga orang itu mengangguk-anggukkan kepala mereka mengerti lalu tak lama suara Xin Qian dan Jin Young mulai terdengar, seketika suasana cafe menjadi hening karena mereka tiga serius mendengar apa yang di bicarakan dua orang ini. "Kenapa anda masih saja seperti ini! Anda tidak merasa malu atas apa yang anda perbuatkah! Apakah anda bahagia dengan menyakiti orang lain seperti ini!" omel Jin Young kesal. "Lu yang mempermalukan gue ya!! Apaan sih orang gue di fitnah sama Ajeng kok lu bukannya belainnya rekan lu sendiri sih!! Gak adil banget," murka Xin Qian marah. "Astaga! Masih sempat-sempatnya anda nyalahin orang lain bukannya berkaca sama apa yang anda lakuin! Di fitnah apanya jelas-jelas anda memang ada di pondok itu karena anda terlihat lewat di jendela!! Kenapa saya harus belain orang yang jelas salah! Gak gini caranya kalo anda ingin mendapatkan yang anda mau! Gak gini caranya anda nyampein perasaan anda yang gak berlogika ini!! Cinta itu rasa bukan paksaan!" murka Jin Young semakin kesal. "Jadi anda liat? Oke gue disana tapi kalian gak punya bukti tuh ke Barra?! Salah? Kalo mencintai orang lain adalah kesalahan terus kenapa rasa cinta harus ada Jin Young! Terus gue harus apa supaya gue dapetin Jun Cheol hah!! Gara-gara cewek itu Jun Cheol gak liat gue sedikitpun! Dia yang ngerusak apa yang seharusnya milik gue!!" maki Xin Qian semakin marah. "Tentu saya jelas melihat anda! Really? Tunggu saja Barra pasti tau kebusukan anda dan pria tua yang serakah itu! Saya gak bilang mencintai itu sebagai kesalahan! Saya bilang cara anda yang salah karena anda menginginkan cinta tanpa menggunakan logika yang seharusnya ada pake! Kalo dengan mencintai malah membuat anda lupa akan berpikir! Cinta mana yang anda maksud! Karena peraaaan cinta itu gak akan pernah bisa untuk egois! Bukan karena Ajeng tapi karena sikap anda yang seperti ini membuat Jun Cheol menjauhi anda! Saharusnya milik anda? Mana ada yang tau siapa yang akan menjadi milik siapa!" sindir Jin Young kesal. "Kalo ternyata gue bisa buat kalian jatuh gimana? Kalian gak tau siapa gue dan pria tua yang kalian anggap musuh, gimana kalo setelah ini lu gak bisa berhasil melawan kami? Lu masih berani meneruskan hal yang udah buntu? Meskipun Jun Cheol mencintai atau bahkan ia melindungi gadis itu gak berarti gue gak bisa ngebunuh salah satu kalian bukan? Well gue jadi tau gue harus gimana buat lawan kalian semua, gue gak takut! SEDIKITPUN!" ujar Xin Qian datar. Setelah rekaman suara tersebut berhenti, cafe Ajeng semakin terasa hening seakan-akan tak ada kehidupan di tempat ini tapi tak lama suara kemarahan Jun Cheol dan Barra memecahkan keheningan yang terasa menakutkan sejak tadi. "Apa maksud ucapan dia gitu?! Dia nantang saya? Dia mencari lawan yang salah jika ia berpikir semudah itu mengalahkan kami! Kalo gitu kita gak boleh berhenti melawan orang-orang yang pola pikirnya ngegampangin orang kayak gini!" murka Jun Cheol marah. "Keterlaluan sih kalo dia mikir gitu! Egois namanya kalo dia ngejer hal yang seharusnya gak dia paksain kayak gini! Bener Jun Cheol kita harus buat perlawanan kalo dia udah mulai ngajak ribut gini!! Gue akan buat dia nerima hukuman yang seharusnya dia terima!" murka Barra ikut marah. Disaat suasana sedang dipenuhi rasa amarah dan kekesalan yang tak tertahankan membuat Ajeng mengusap-usap bahu Jun Cheol dan Barra lembut untuk menenangkan mereka berdua karena tak baik bila menghadapi masalah dengan emosi seperti ini. "Gue tau kalian marah dan kesel banget sama cewek jelek itu tapi kalo kalian kayak gini itu gak baik buat kalian ngikutin emosi disaat kalian perlu nyelesain kasus ini, jadi mending kalian tenang dulu biar lebih bisa berpikir dengan jernih," tutur Ajeng lembut. Mendengar ucapan Ajeng membuat Jun Cheol dan Barra menganggukkan kepala mereka setuju lalu tak lama Jin Young mengingat mereka bertiga untuk istirahat karena matahari mulai terlihat dan mereka berempat belum tidur sama sekali. "Eh liat deh itu matahari makin tinggi dan kita berempat belum tidur sama sekali?! Astaga! Gak bagus nih mending kita lanjut diskusinya nanti sore atau malam biar kita semua bisa istirahat sebentar pasti pada cape bukan?" ucap Jin Young khawatir. Jun Cheol, Ajeng dan Barra menatap ke arah luar dan benar saja matahari sudah mulai terlihat memancarkan sinarnya yang berarti mereka berempat memang perlu istirahat terlebih Ajeng dan Barra perlu menjalankan aktifitas mereka, begitupun Jin Young dan Jun Cheol yang perlu mencari hal lain agar menguatkan bukti yang mereka dapatkan. Sebelum mereka bertiga meninggalkan cafe Ajeng membuat Jun Cheol, Jin Young dan Barra mengingatkan Ajeng untuk berhati-hati dan akan lebih baik untuk hari ini cafenya di tutup dulu sementara sampai sore hari atau malam disaat mereka berempat kembali berkumpul. "Lu jangan lupa kunci pintu dan lu gak usah keluar kamar Ajeng! Oh iya lu tutup dulu cafenya sampe entar sorean atau agak maleman kalo ada kita atau ada Jun Cheol sama Jin Young baru lu buka lagi soalnya kalo cafenya lu buka pas lu lagi tidur kita gak tau Xin Qian nyuruh atau ngirimin hal aneh apa ke dalem cafe lu Ajeng," tutur Barra khawatir. "Nah bener tuh Ajeng! Mending sekarang anda kabarin karyawan anda kalo hari ini libur dulu biar mereka gak bolak-balik juga Ajeng terus pas udah kunci semua pintu baru deh kita bertiga pergi dari sini, ok Ajeng?" sahut Jin Young khawatir. "Saya setuju sama Barra dan Jin Young, dari apa yang Xin Qian omongin pasti mereka nyusun rencana lain buat nyulik atau ngebunuh salah satu dari kita makanya kita semua penting banget buat waspada terlebih Xin Qian bilang jumlah mereka banyakkan! Jadi Barra anda jangan lupa suruh bodyguard anda berkeliling disekitar sini," ujar Jun Cheol mengingatkan. Ajeng yang mendengar rasa kepedulian Jun Cheol, Barra dan Jin Young padanya membuat ia menenangkan mereka karena Ajeng tak ingin membebani pikiran orang lain, setelah tak ada lagi yang dibicarakan Ajeng masuk ke dalam cafenya sementara Jin Young dan Jun Cheol berjalan menuju apartemen mereka lalu Barra naik ke mobil untuk kembali ke rumahnya. "Iya nanti gue kabarin karyawaan gue buat libur dan bakal gue pastiin semua pintu di kunci kok! Kalian juga hati-hati ya! Tenang aja gue bakal selalu waspada kok, yaudah gue masuk ke cafe duluan ya ! Makasih banget kalian bertiga udah nolongin dan perduli banget ke gue, makasih loh ya! Udah sana pada balik," ucap Ajeng lembut. Barra, Jun Cheol dan Jin Young pun akhirnya sampai dengan selamat ditempat tinggal mereka bertiga lalu tak lama mereka segera merebahkan diri untuk mengistirahatkan raga yang lelah ini, semuanya tampak tenang tanpa tau bahwa diluaran sana banyak mata yang tengah berkumpul dan membahas apa yang telah terjadi pagi-pagi seperti ini. "Ngapain sih pria tua itu nyuruh kayak gini! Masih pagi banget tau," omel Xin Qian kesal. "Tuan bilang ada masalah yang terjadi ...," sahut salah satu pria terhenti. Belum selesai salah satu pria itu mengatakan apa yang ingin ia katakan lalu tak lama seorang pria yang belum terlihat terlalu tua datang dan menampar wajah salah satu pria itu dengan cukup keras hingga membuatnya jatuh ke lantai dengan sudut bibir yang sobek. Tidak sampai disana pria yang tadi menamparnya kini menarik rambutnya kasar agar membuat salah satu pria itu berdiri dan mendonggakan wajahnya menatap pria yang terlihat masih gagah meski usianya tak lagi muda, sedangkan Xin Qian yang tidak mengerti dengan tujuan mengapa dirinya bisa disini membuatnya mempertanyakan pada pria tua yang ternyata adalah ayahnya. "Berhentilah marah-marah Dad! Untuk apa Daddy menyuruh Xin Qian berkumpul sepagi ini?! Xin Qian belum tidur jika ini tidak penting mending Xin Qian ...," ucap Xin Qian terhenti. Mendengar pertanyaan Xin Qian membuat ayahnya memarahinya tapi pria itu menahan dirinya agar tidak memukul putri satu-satunya, sementara Xin Qian yang dimarahi seperti ini membuat Xin Qian mengepalkan tangannya kesal karena ia memang mengakui dirinya salah. "Kamu bilang berhenti?! Daddy yang seharusnya menyuruh kamu berhenti mengacaukan semua hal yang Daddy lakukan! Hasil autopsi hilang! Mereka menemukan kertas catatan dan wasiat s****n itu lalu apa yang kamu perbuat tengah malam tadi Xin Qian! Kamu menculik gadis itu membuat kita kehilangan orang yang bisa kita kambing hitamkan! Bagaimana Daddy tidak semarah ini Xin Qian?! Dan kalian bawahan Xin Qian bukannya melarang anak satu ini malah kalian biarkan saja! Kalian semua ingin mati cepat hah!!" murka Li Quon marah. Kemarahan Li Quon terdengar ke seluruh sudut ruangan hingga membuat Mayleen terkejut dan menghampiri suami dan putrinya karena ia begitu takut mereka berdua akan bertengkar hebat, melihat kemarahan yang begitu besar dimata Li Quon membuat Mayleen menenangkannya. "Tenanglah Li Quon! Setiap masalah bisa diselesaikan dengan baik, ada masalah apa ini sampai membuatmu semarah ini?" tutur Mayleen lembut. Xin Qian yang melihat mommynya datang membuat dirinya memeluk mommya erat sementara Mayleen yang belum mengerti apapun hanya bisa membalas pelukan putrinya, lalu tak lama Li Quon menjawab pertanyaannya dengan nada marah yang tak bisa ia tahan. "Bagaimana bisa saya tenang jika putri kita membuat masalah seperti ini sayang! Dia masih saja gegabah dan membahayakan Daddynya ke penjara jika ia terus seperti ini?! Kenapa Xin Qian harus menculik gadis itu padahal semuanya telah sempurna!" murka Li Qoun marah. Mayleen yang mendengar penjelasan Li Quon membuatnya mengusap-usap bahu suaminya lembut lalu Mayleen mengingatkan Li Quon untuk menyudahi semua ini karena dirinya tak ingin merasakan kehilangan suaminya atau putrinya. "Bukankah sudah saya katakan untuk kalian berhenti seperti ini sayang, Xin Qian belajar darimu dan seharusnya kalian tidak melakukan ini, tidak taukah kalian jika saya tidak ingin kehilangan kalian berdua? Tapi mengapa kalian masih saja seperti ini," lirih Mayleen sedih. Sejenak Xin Qian dan Li Quon terdiam saat mendengar nada sedih Mayleen yang berusaha agar melindungi dan mengingatkan mereka berdua tapi mereka berdua pun tak bisa mengabaikan keinginan hati mereka yang sebenarnya ingin membahagiakan Mayleen. Melihat suami dan putrinya terdiam membuat Mayleen menghela nafasnya sedih tapi Mayleen tau bahwa apapun yang ia katakan tak ada artinya bagi dua orang yang begitu ia cintai, suasana yang hening pun terasa menyedihkan hingga Li Quon pergi dari sana dan tak lama Mayleen meminta pelayannya untuk mengobati salah satu bawahan Xin Qian dan ia meminta maaf atas apa yang dilakukan suaminya tadi. "Mba, Mba!! Tolong obatin mas ini mba! Itu obatnya di kotak obat dan mas maafkan suami saya ya dia hanya tak bisa mengendalikan dirinya ketika marah," tutur Mayleen lembut. Salah satu bawahan Xin Qian mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti lalu orang itu dibawa oleh pelayan Mayleen untuk segera diobati, sedangkan Xin Qian yang masih betah didalam pelukan mommynya membuat Xin Qian meledek mommynya yang terlalu baik. "Orang baik itu tertindas mommy, seharusnya mommy gak usah terlalu baik jadi orang biarin aja orang itu ngobatin lukanya sendiri! Mommy mah lemah," ledek Xin Qian kesal. Mendengar ledekan dari putri kesayangannya membuat Mayleen mengusap-usap punggung Xin Qian lembut lalu tak lama Mayleen menasehati putrinya untuk berhenti karena Mayleen tak bisa jika harus kehilangan putrinya karena apa yang Xin Qian perbuat. "Gak selamanya orang baik itu tertindas sayang, karena terkadang menjadi jahat bukan solusi untuk menyelesaikan ataupun mendapatkan apa yang Xin Qian mau! Mommy takut banget putri manisnya mommy dibawa pergi dari mommy jadi berhenti ya sayang, berhenti ngelakuin semua hal yang udah salah dari awal Xin Qian," tutur Mayleen sedih. |Bersambung|
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD