Lubang di Dinding Yang Tak Pernah Terpikirkan

2000 Words
Mendengar ucapan Jun Cheol membuat Ajeng dan Jin Young mengangguk-anggukkan kepala mereka mengerti, lalu tak lama Jun Cheol pun segera berjalan menghampiri dinding dengan wallpapper yang terlihat aneh dimatanya. Jin Young dan Ajeng yang melihat Jun Cheol memulai rencananya, membuat mereka berdua kompak mengikuti langkah Jun Cheol yang terlihat fokus dan serius dengan apa yang akan ia lakukan meski hal yang Jun Cheol lakukan bisa jadi bukan tugasnya. Namun Jun Cheol tetap melakukan rencananya dengan serius karena ia tak ingin ada kesalahan atau hal lain yang membuat hasil pekerjaannya menjadi tak sempurna, lalu di saat Jun Cheol melepaskan lapisan-lapisan wallpaper di dinding cafe Ajeng. Tak lama salah satu karyawan Ajeng menghampiri mereka bertiga dan mempertanyakan apa yang sedang dilakukan Jun Cheol dengan wallpaper yang ada di dinding cafe, sejenak Jun Cheol mengalihkan pandangannya dari wallpaper jadi menatap salah satu karyawan Ajeng dengan tatapan serius dan tajam karena ucapannya yang terdengar aneh di telinga Jun Cheol. "Loh ini lagi pada ngapain bu? Itu dia ngapain ngelepasin wallpaper cafe bu? Mana cafe ini berantakan banget lagi bu Ajeng," tanya salah satu karyawan Ajeng bingung. "Ngapainnya kami bukan urusan anda! Anda seorang pekerja tapi anda malah baru saja datang bagaimana sih kinerja anda selama ini?! Sudah tahu berantakan anda harusnya merapihkannya bukan malah menonton kami disini," ucap Jun Cheol dingin. Ajeng yang mendengar ucapan Jun Cheol yang terdengar marah membuat Ajeng menyuruh salah satu karyawan itu mengerjakan pekerjaannya saja, setelah mendengar perintah Ajeng membuat salah satu karyawan itu segera melanjutkan pekerjaan yang seharusnya ia lakukan. "Kalau begitu kamu aja yang rapihin ya, oh iya tolong yang cepat ya ngerjainnya karena biasanya para pelanggan akan datang sebentar lagi!" ujar Ajeng tegas. "Hm ... baik bu saya akan kembali melanjutkan pekerjaan yang seharusnya saya lakukan sejak tadi karena tidak seharusnya saya menonton seperti ini," sahut salah satu karayawan itu sopan. Setelah kepergian salah satu karyawan Ajeng, akhirnya mereka bertiga kembali fokus dengan wallpaper yang terlihat biasa ini. Menit telah berganti menit hingga lapisan wallpaper yang aneh itu bisa juga terlepas dari dinding, ternyata dibalik lapisan wallpaper itu ada lubang di dinding yang tak pernah terpikirkan oleh siapapun bahkan orang normal sekalipun. Jun Cheol yang melihat hal ini membuatnya mengerutkan dahi tanda ia sedang berpikir dengan serius karena Jun Cheol merasa ada yang tidak beres disini, bukankah jika ada lubang di dinding maka akan lebih baik jika bangunan ini direnovasi bukan ditutupi dengan wallpaper seperti ini? tak lama timbul tanda tanya besar di kepala Jun Cheol. "Lubang dinding hanya ditutupi dengan wallpaper? Kenapa tidak dilakukan perbaikan bangunan saja? Kenapa malah memilih hal mudah seperti ini," gumam Jun Cheol serius. Jin Young yang mendengar gumaman Jun Cheol membuatnya teringat dengan kasus yang pernah dulu mereka tangani, sedangkan Jun Cheol yang mendengar ucapan Jin Young tanpa sadar membuat Jun Cheol memahami satu hal yang terlintas dikepalanya. "Karena ada hal yang tak ingin diketahui orang lain Jun makanya dinding ini hanya ditutupi dengan wallpaper ... anda ingatkan dengan kasus pria tua yang kita tangani beberapa tahun lalu? Iya melubangi dinding rumahnya sendiri hanya agar menyimpan bukti-bukti penyelidikan karena ia telah membunuh anaknya sendiri," gumam Jin Young sedih. "Jangan bilang hal sama juga terjadi di tempat ini?" lirih Jun Cheol sendu. Tak ada jawaban dari Jin Young yang berarti Jin Young mengiyakan apa yang dikatakan Jun Cheol barusan, dengan perasaan khawatir dan pikirannya yang kalut membuat Jun Cheol memeriksa sendiri apa isi lubang dindung yang berukuran tidak terlalu besar itu. Dengan langkah yakin Jun Cheol mendekati lubang itu dan ia menyalakan senter di ponselnya dan ia memeriksa dengan serius dan benar saja disana Jun Cheol melihat ada beberapa kertas yang terlihat lusuh seperti sudah lama ditulis tapi mengapa ada kertas seperti itu disini. Jun Cheol pun mengambil beberapa kertas itu dengan kesulitan karena jaraknya cukup jauh dan tak lama ia berhasil mengambilnya, sementara Jin Young dan Ajeng terdiam setelah melihat apa yang di pegang oleh Jun Cheol. Tak butuh lama Jun Cheol mengamankan beberapa kertas itu kedalam jaketnya lalu dirinya dan Jin Young segera merapihkan wallpapernya seperti semula, setelah selesai mereka bertiga duduk sejenak karena pikiran mereka masih tidak menyangka dengan apa yang mereka lihat. "Saya masih gak nyangka dinegara yang terkenal ramah bisa-bisanya menyembunyikan hal yang tak pernah terpikirkan oleh logika, bukankah ada brankas? Mengapa harus melubangi dinding seperti ini? Saya tidak mengerti dengan pikirannya," ucap Jin Young sedih. "Orang yang melakukan ini benar-benar tak menggunakan pikirannya atau orang itu sengaja melakukannya agar orang lain yang di persalahkan karena buktinya tidak ada dirinya melainkan di tempat lain?! Jika benar begitu hal ini jelas keterlaluan," tutur Jun Cheol dingin. "Bener sekop! Parah banget kalo sampe ucapan lu itu bener tapi berarti tempat gue gak aman dong sekop? Terus usaha gue disini gimana?" ujar Ajeng bingung. Mendengar pertanyaan Ajeng sejenak membuat Jun Cheol dan Jin Young berpikir keras agar bisa mengamankan Ajeng tapi Barra sudah mengamankan beberapa bodyguard di sekitar cafe Ajeng bukan? Sayangnya hati Jun Cheol jadi tak tenang jika memikirkan soal keamanan. Namun meski hatinya tertelan rasa khawatir dan perasaan yang selalu Jun Cheol hindari tapi dirinya tak ingin membuat Ajeng merasa ketakutan dan tak nyaman ditempatnya sendiri, hingga Akhirnya Jun Cheol menenangkan Ajeng agar gadis dihadapannya tetap tenang. "Tenang aja Ajeng ... Barra udah nyuruh bodyguardnya buat jaga-jaga di sekitar cafe anda tapi kalo anda masih belum tidur atau merasa khawatir anda bisa menelpon atau mengirim pesan ke saya nanti saya balas pesan anda," tutur Jun Cheol menenangkan. Mendengar ucapan Jun Cheol membuat Ajeng meminta Jun Cheol untuk berjanji dengan apa yang ia katakan, sedangkan Jun Cheol yang mendengar permintaan Ajeng membuat Jun Cheol mengiyakannya karena sejujurnya dirinya pun akan kepikiran mengenai keadaan Ajeng disini. "Bener ya sekop! Lu harus janji dulu gak mau tau gue! Lu gak boleh kacangin gue ya awas aja kalo gue sampe dikacangin," ucap Ajeng dingin. "Iya Ajeng, lagian ngapain saya bohong gak ada untungnya Ajeng, ngapain juga saya ngomong kayak gini kalo saya gak janji? Udah jelas saya ngomong gini karena saya menyanggupi kok udah anda tenang aja, pegang aja omongan saya!" ucap Jun Cheol serius. "Tapi lu gak pernah nelpon gue sekop! Lu kesel sama gue?" tanya Ajeng kesal. Disaat Jun Cheol ingin menjawab pertanyaan Ajeng, tak lama terdengar suara Xin Qian yang datang-datang malah memarahi Ajeng karena ia pikir Ajeng sedang menggoda Jun Cheol. Melihat hal ini membuat Jun Cheol melerai perdebatan mereka berdua. "Ngapain saya kesal Ajeng ...," ucap Jun Cheol terhenti. "Parah banget sih lu jadi cewek keganjenan! Bukan siapa-siapa aja lu kegatelan banget! Dasar cewek penggoda lu!!" omel Xin Qian marah. "Heh anak kodok! Lu gak tau apa yang kita omongin daritadi terus tiba-tiba lu dateng malah marah-marah gak jelas! Heh mikir dong! Lu juga bukan siapa-siapanya sekop kok sewot amat minta gue gorok lu hah! Penggoda bilang penggoda dasar gak waras lu! Gue sih malu kalo bertingkah kayak lu tapi gak tau apa-apaan," murka Ajeng ikut kesal. "Lu yang anak tapir gak usah sok deh! Jelas-jelas lu godain Jun Cheol masih aja ngelak! Gak tau malu apa gak punya malu banget sih lu!" maki Xin Qian kesal. "Sebutin aja semua sodara lu g****k! Godain apaan sih! Orang gue nanya dan emang kita lagi bahas soal telepon! Makanya dateng-dateng tuh salam dulu kek permisi dulu kek! Jangan main selonong aja kayak rumah lu sendiri aja," balas Ajeng marah. "Ajeng tenang, ada perlu apa anda kesini? Azka mana?" sahut Jun Cheol melerai keduanya. Sedangkan Xin Qian yang di tanya Jun Cheol membuat Xin Qian menjawab ucapan Jun Cheol dengan senyuman terbaiknya tapi sayangnya Jun Cheol tidak perduli dengan Xin Qian yang terus saja menatap kagum pada wajah Jun Cheol. "Udah jelas ikut penyelidikan Jun Cheol! Gak tau tuh gak ada di depan," ucap Xin Qian lembut. Ajeng yang tak suka melihat gadis dihadapannya menatap Jun Cheol lekat membuat Ajeng menutupi wajah Jun Cheol dengan kedua tangannya, sedangkan Jun Cheol yang di tutupi oleh Ajeng membuatnya terkekeh geli melihat kelakuan Ajeng terlihat menggemaskan. "Ahahahahahahahahahahahahahaha!" tawa Jun Cheol terdengar bahagia. Jin Young, Ajeng dan Xin Qian yang mendengar suara tawa Jun Cheol membuat mereka bertiga tertegun sejenak, sementara Jun Cheol yang sadar dirinya ditatap oleh tiga orang dihadapannya membuat Jun Cheol berdehem lalu ia mencoba mengalihkan pembicaraan. "Anda dan saya memang ditugaskan oleh orang yang sama tapi rekan saya Jin Young bukan orang yang tak saya kenal jadi anda tidak perlu repot-repot ikut penyelidikan ini Xin Qian, bukan kah anda memiliki tim dan rekan anda sendiri," tutur Jun Cheol datar. Mendengar ucapan Jun Cheol membuat Jin Young mengangguk-anggukkan kepalanya setuju, sedangkan untuk beberapa menit Xin Qian terlihat gugup tapi Xin Qian memilih berdalih hingga membuat Jun Cheol menyeringai sinis melihat tingkah tak biasa Xin Qian. "Hm, gue emang bukan rekan se-tim lu tapi Barra gak ngomong ke kita soal gimana proses penyelidikan kasus ini Jun Cheol! Jadi mau sendiri-sendiri ataupun barengan ya bebas! Terserah gue dong mau ikut ke tim gue atau tim ke lu," ujar Xin Qian gugup. "Anda mau seperti itu? Baiklah tapi saya juga bebas melarang orang lain yang ingin ikut campur ditim saya! Karena saya yang bertanggung jawab penuh pada kasus ini," sahut Jun Cheol dingin. Dalam diamnya Xin Qian mengepalkan tangannya kesal dan Jun Cheol melihat hal itu, walaupun begitu Jun Cheol tak memperdulikan Xin Qian bahkan Jun Cheol tak segan-segan balik menatap tajam Xin Qian yang seakan menantang Jun Cheol melalui tatapan matanya. Lalu tak lama Xin Qian terkekeh senang dan ia menyerigai ke arah Ajeng, sedangkan Ajeng yang mendengar suara tawa gadis aneh di depannya membuat Ajeng melemparkan tisu yang Ajeng bulat-bulat sejak tadi ke arah mulut Xin Qian. "Ahahahahahahahahaha! Aduh sakit! Apaan sih lu?! Ngajak berantem hah?! Sini lu jangan berani nimpuk-nimpuk doang deh," omel Xin Qian kesal. Jun Cheol dan Jin Young terkekeh geli melihat Ajeng yang menimpuk Xin Qian, sedangkan Ajeng yang dimarahi Xin Qian tak membuatnya takut bahkan ia sengaja menantang balik Xin Qian karena Ajeng benci bila harus kalah dari manusia ular satu itu. "Lebay banget lu! Suara tawa lu kayak mak lampir tau gak! Berisik! Aneh! Tua lagi lu! Ayok ribut sini mau gaya apa gue ladenin! Dasar kampungan lu!" maki Ajeng ikut kesal. Xin Qian hendak menjambak Ajeng tapi sayangnya Jun Cheol menghalangi Xin Qian karena kini Jun Cheol berdiri ditengah-tengah mereka berdua dan justru rambutnya yang ditarik Xin Qian, tak lama Xin Qian sadar bahwa ia salah menjambak orang membuatnya ingin meminta maaf. Namun sayangnya Ajeng yang lebih dulu menyadari pergerakan dan keberadaan Jun Cheol yang melindunginya membuat Ajeng melepaskan tangan Xin Qian dari kepala Jun Cheol, lalu Ajeng segera mengusap-usap kepala Jun Cheol lembut agar mengurangi rasa sakit dikepalanya. Disaat Xin Qian ingin meminta maaf pada Jun Cheol, tak lama terdengar suara Jin Young yang memarahinya karena Jin Young sudah berjanji akan melindungi Jun Cheol sebagai teman terbaiknya dan saat Jin Young melihat rambut Jun Cheol di tarik dengan cukup kuat jelas saja kemarahannya tak lagi bisa Jin Young tahan. "Eh sorry Jun Cheol! Astaga gue ...," ucap Xin Qian terhenti. "Anda gak waras ya!! Kenapa anda jadi cewek tapi gak bisa lembut dikit! Mata anda ke mana sampe anda ngejambak rambut teman saya hah!! Mending sekarang anda pergi sebelum saya kehilangan kesabaran! Pergi Xin Qian!" murka Jin Young marah. Tatapan mata Jin Young tak lagi menunjukkan kelembutan ataupun sorot mata yang penuh dengan candaan yang menyenangkan karena kali ini ia benar-benar marah, sedangkan Jun Cheol yang mengerti jika Jin Young sangat benci orang dengan orang yang berani menyakiti dirinya membuat Jun Cheol menenangkan rekan sekaligus teman terbaiknya. "Pergi Xin Qian!!" bentak Jin Young marah. "Jin Young ... apa yang pernah saya katakan? Keep calm Young-ah, i am good! Saya gak apa-apa jadi anda gak perlu khawatir! Dan untuk anda Xin Qian lebih baik anda pergi sekarang juga saya gak butuh permintaan maaf dari orang yang selalu nyakitin orang lain," tutur Jun Cheol datar. Mendengar ucapan Jun Cheol membuat Xin Qian menundukkan kepalanya sejenak, lalu ia pergi dari sana dengan berlari tanpa menoleh sedikitpun kearah Jun Cheol, Jin Young dan Ajeng yang kini sibuk memeriksa kepala Jun Cheol apakah dirinya terluka atau tidak. |Bersambung|
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD