Tetaplah Tenang Meski Tak Mudah

2003 Words
Jun Cheol yang merasa kepalanya terasa pusing karena dirinya diputar-putar dan ia diminta menunduk untuk melihat keadaan kepalanya setelah dijambak tadi, membuat Jun Cheol bangkit dari posisinya yang melelahkan. Sementara Jin Young dan Ajeng yang melihat Jun Cheol seperti ini membuat mereka berdua menatap Jun Cheol lekat hingga mereka bertiga pun berdebat karena mengkhawatirkan keadaan Jun Cheol setelah Jin Young dan Ajeng melihat sendiri bagaimana Xin Qian menarik rambut Jun Cheol dengan cukup kuat. "Astaga Jun! Diam sebentar kami sedang melihat apakah kepalamu terluka atau tidak Jun Cheol tenanglah sebentar saja," ujar Jin Young sebal. "Tau nih sekop!! Orang tinggal diem aja susah lu mah, masih sakit gak? Pusing gak? Lu gak apa-apakan sekop?" tanya Ajeng khawatir. "Punggung saya sakit Ajeng, Jin Young!! Kalian lupa saya lebih tinggi dari kalian!! Saya 178 cm terus kepala saya harus nunduk agar sejajar dengan kalian bagaimana saya tidak pegal? Tenang tenang kepalamu tenang Jin Young! Anda bahkan tadi tidak bisa tenang Jin Young! Saya tidak merasa sakit dan tidak pusing Ajeng! Saya tidak apa-apa jadi tenanglah," ujar Jun Cheol sebal. Mendengar ucapan Jun Cheol membuat Jin Young dan Ajeng merasa bersalah karena mereka berdua menahan kepala Jun Cheol untuk melihat apakah ada luka atau lecet di sana karena Ajeng dan Jin Young merasa khawatir sampai mereka berdua lupa bahwa Jun Cheol tak nyaman jika ia menunduk seperti itu. "Maaf Jun ... kami terlalu khawatir sampai kami lupa jika anda menunduk seperti itu kepala anda pasti akan terasa lelah dan maafkan kami ya," ujar Jin Young sedih. "Iya Jin Young bener ... maafin gue sama Jin Young ya sekop? Kita gak maksud bikin lu ngerasa pegel atau gimana, kita cuma khawatir aja karena tadi cewek s***p itu narik rambut lu gak kira-kira jadi kita takut kepala lu ada luka atau gimana gitu sekop! Maaf ya," tutur Ajeng lembut. Jun Cheol yang mendengar ketulusan dari permintaan maaf Jin Young dan Ajeng membuat Jun Cheol mengulas senyumnya lembut, lalu tak lama ponsel Ajeng berdering hingga membuat Ajeng permisi karena ia perlu mengangkat teleponnya. Jin Young dan Jun Cheol tak keberatan jadi mereka mengizinkan Ajeng mengangkat teleponnya, setelah kepergian Ajeng membuat Jun Cheol menegur Jin Young yang kehilangan kendali akan dirinya sendiri hingga Jin Young bersikap kasar dengan mengusir Xin Qian. "Jin Young-ah! Anda tidak seharusnya kehilangan kendali seperti tadi, anda telah bersikap kasar dengan mengusir orang lain seperti itu ... saya tau dia salah tapi bagaimana pun juga dia tetap perempuan anda perlu untuk menghargainya," tutur Jun Cheol lembut. Sementara Jin Young yang mendengar teguran dari Jun Cheol membuatnya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, lalu tak lama mereka berdua kembali mengobrol karena Ajeng masih sibuk dengan panggilan teleponnya. "Maaf Jun saya kehilangan kendali diri saya sendiri karena gadis itu menjambak anda hingga wajah anda terlihat menahan rasa sakit dan daripada saya membalas perbuatannya akan lebih baik jika ia pergi dari sini karena saya tak ingin menyakitinya seperti apa yang telah ia perbuat pada anda Jun Cheol ... sekali lagi maafkan saya Jun," ucap Jin Young sedih. "Saya mengerti Jin Young-ah tapi lain kali anda harus tetaplah tenang meski tak mudah, anda paham maksud saya bukan? Karena menghindar dari apa yang sedang terjadi tidak akan menyelesaikan apa yang perlu anda hadapi jadi anda perlu tetap waras," ujar Jun Cheol lembut. "Baik Jun, saya akan tetap waras dan saya tak akan menghindar dari apa yang sedang terjadi Jun Cheol ... terima kasih sudah menegur saya Jun," ucap Jin Young lembut. "Sama-sama Jin Young-ah, lagipula saya percaya anda orang yang paling menghargai orang lain hanya saja saya tak ingin membiarkan anda salah jalan Jin Young! Anda mengerti maksud saya bukan Young-ah," tutur Jun Cheol lembut. "Iya Jun Cheol ... saya mengerti dan terima kasih karena tak membiarkan saya salah jalan Jun! Anda memang teman terbaik," ujar Jin Young lembut. "Apaan dah makasih, makasih mulu Jin Young-ah oh iya Ajeng teleponannya gak kelar-kelar ya? Ngomongin apaan sih dia? Sama siapa lagi dia ngobrolnya," gumam Jun Cheol sebal. Jin Young yang mendengar gumaman Jun Cheol membuatnya terkekeh, lalu Jin Young meledek Jun Cheol agar Jun Cheol semakin merasa hatinya panas karena Jin Young paham saat ini Jun Cheol sedang cemburu tapi ia menahannya saja. "Cewek kalo udah teleponan sama cowo pasti dari A sampe Z terus balik lagi ke A! Dari ekspresi muka Ajeng sih kayaknya mereka lagi ngobrolin soal makan malam dimana soalnya daritadi Ajeng tuh ketawa terus .. kayaknya Ajeng lagi ngobrol sama Barra," ledek Jin Young senang. Mendengar ucapan Jin Young membuat Jun Cheol menatap tajam Ajeng yang masih saja sibuk mengobrol di telepon, hingga tak lama Ajeng pun menghampiri Jun Cheol dan Jin Young yang menatap dirinya dengan pandangan yang berbeda. Ajeng yang melihat ada hal yang tidak beres di sini, membuat Ajeng menghela nafasnya gusar dan tak lama Jun Cheol sudah memberikan banyak pertanyaan ke Ajeng hingga membuat Ajeng bingung dengan ucapan Jun Cheol yang seakan-akan sedang menginterogasi dirinya. "Udah telponannya Ajeng? Abis ngobrolin apa aja? Seneng gitu keliatannya, Telponan sama siapa? Barra ya? Oh jadi kalian mau pergi makan-makan? Yaudah anda siap-siap Ajeng jangan buat orang lain nunggu loh," tanya Jun Cheol dingin. "Lu ngomong apaan sih sekop? Banyak banget lu nanyanya, lagian siapa yang mau pergi makan-makan? Gue gak kemana-mana kok, orang yang tadi nelpon gue itu orang yang kemarin kita survei itu loh sekop ... inget gak sih yang lu nyetirin mobil gue?! Nah dia bilang disana udah beres semua terus gue bisa check lagi gitu, lu kenapa sih gak jelas banget!" omel Ajeng kesal. "Terus muka anda harus seneng gitu ya Ajeng," sahut Jun Cheol datar. "Namanya juga yang diurusin kelar ya senenglah sekop, masa muka gue sedih gitu! Astaga lu kenapa sih? Kayak kesel gitu sama gue? Lu salah makan ya sekop?" tanya Ajeng bingung. Jun Cheol yang mendengar pertanyaan Ajeng membuat dirinya terdiam sejenak lalu Jun Cheol memilih untuk mengalihkan pembicaraan, entah mengapa rasanya Jun Cheol merasa malu karena tak bisa tenang dan mengendalikan dirinya hingga ia berbicara ngawur seperti itu. "Hm benar juga, saya kenapa? Saya baik-baik saja oh iya kami harus kembali karena masih ada yang perlu saya dan Jin Young selidiki lagi, benar bukan Jin Young?" ucap Jun Cheol datar. Sementara Jin Young yang ditanya oleh Jun Cheol membuatnya terkekeh geli tapi Jin Young tetap menjawab ucapan Jun Cheol, lalu tak lama Jin Young dan Jun Cheol pamit pergi karena mereka berdua perlu kembali bekerja setelah menemukan hal baru. "Ahahahahahaha ... iya benar Jun! Kami harus kembali bekerja Ajeng," ujar Jin Young senang. "Baiklah kami harus pergi sekarang Ajeng ... oh iya nanti kalo ada yang aneh anda jangan lupa bilang ke saya, mengerti?" tutur Jun Cheol lembut. "Tenang aja pasti saya bakal lapor sama bapak sekop yang terhormat! Kalian hati-hati ya pulang ke apartemennya," ucap Ajeng lembut. Mendengar ucapan Ajeng membuat Jin Young dan Jun Cheol menganggukkan kepala mereka mengerti, setelah berpamitan mereka berdua pun terdiam selama di perjalanan tapi tak lama Jin Young menahan tawanya dan ia meledek ucapan Jun Cheol yang tak seperti biasanya. "Pffft ... tinggal bilang aja anda cemburu Jun," ledek Jin Young geli. Sebenarnya Jun Cheol mendengar candaan Jin Young tapi dirinya memilih mendiamkan Jin Young, karena entah mengapa sebagian hati Jun Cheol masih menghindari hal yang telah Jun Cheol akui selama beberapa waktu ini. Sedangkan Jin Young yang masih penasaran dengan sikap tak biasa Jun Cheol membuatnya kembali meledek Jun Cheol hingga mereka berdua berdebat sepanjang perjalanan pulang, di saat mereka berdua sibuk dengan ucapan mereka seseorang memperhatikan mereka dari jauh. "Yailah Jun! Tinggal ngaku aja apa susahnya sih? Entar kalo Ajeng direbut orang aja gimana coba? Anda mau gitu? Emang anda sanggup Jun Cheol?" ledek Jin Young senang. "Ngaku apaan sih Young-ah ... emang siapa yang mau ngerebut Ajeng? Mau apaan lagi nih anak mulai gak jelasnya! Sanggup apaan sih Jin Young?" sahut Jun Cheol dingin. "Ngaku aja kalo anda cemburu Jun, bisa Barra! Bisa juga cowo lain atau pelanggan cafe banyak yang cowo kan Jun! Emang anda mau Ajeng direbut cowo lain? Jun Cheol bener-bener deh! Emang anda sanggup liat Ajeng gandengan sama cowo lain?" omel Jin Young sebal. "Cemburu apaan sih Young-ah! Orang saya biasa aja ... yang memang milik saya gak akan bisa direbut sama cowok lain! Udah jangan ngawur," tutur Jun Cheol datar. Sebenarnya ucapan Jin Young malah membuat Jun Cheol memikirkan dengan perasaan yang tak ingin Jun Cheol akui tapi entah mengapa ucapan Jin Young seakan-akan mengusik pikiran Jun Cheol saat ini, lalu tak lama mereka berdua pun sampai di tempat tinggal mereka. Jin Young menyadari jika wajah Jun Cheol kini berubah menjadi suram dan lesu tapi dasarnya Jun Cheol adalah pemuda yang pekerja keras hingga membuatnya terlihat tenang saat meminta Jin Young untuk duduk dihadapannya karena mereka berdua akan membahas perihal beberapa kertas tadi yang mereka temukan di cafe Ajeng. "Jin Young! Duduk sini! Kita perlu membahas kertas yang tadi kita temukan ... coba kita lihat apa isi yang tertulis dikertas ini," tutur Jun Cheol serius. "Iya Jun, oh iya Jun kenapa kita gak bahas kertas ini di cafe Ajeng Jun?" tanya Jin Young serius. "Karena apa yang gue bilang sebelumnya Young-ah! Saat ini kita belum bisa percayain siapapun apalagi anda lihat sendiri tingkah aneh salah satu karyawan Ajeng tadi bukan? Hm, disini tertulis surat wasiat lalu yang ini note untuk putraku ... ya ampun banyak sekali?" ucap Jun Cheol datar. "Begitu ya ... baiklah saya mengerti Jun! Surat wasiat itu yang ditulis sebelum kematian ya Jun? Eh atau salah ya? Putraku? Putra ... ku? Mungkinkah maksudnya Barra? Iya bukan atau orang lain tapi entah mengapa feeling saya surat ini untuk Barra," tutur Jin Young serius. "Benar surat wasiat itu biasanya ditulis sebelum kematian ... bisa juga ini memang untuk Barra tapi sepertinya besok kita perlu mencocokkan tulisan mendiang ayah Barra dengan tulisan ini jika benar berarti beberapa kertas ini memang ditulis untuk Barra," ujar Jun Cheol serius. "Kalau begitu anda perlu membicarakan hal ini dengan Barra, Jun!" ucap Jin Young serius. Mendengar ucapan Jin Young membuat Jun Cheol menganggukkan kepalanya mengerti lalu tak lama ia meraih ponselnya untuk menghubungi Barra dan tak butuh waktu lama panggilan telpon Jun Cheol tersambung hingga mereka berdua menyusun meeting besok hari. "Halo, Barra! Anda punya waktu sebentar?" tanya Jun Cheol serius. "Ada Jun Cheol, lu mau ngomong penting apa gimana? Ada apa?" ucap Barra bingung. "Benar saya ingin membicarakan tentang hal penting yang saya dan Jin Young temukan tadi di tempat yang tak pernah terpikirkan oleh orang waras sebelumnya," ujar Jun Cheol serius. "Lu mau gue ke tempat lu biar lebih jelas atau sekarang dibahas lewat telpon terus besok kita adain meeting lagi? Oh iya kalian nemuin apaan emangnya?" ucap Jin Young. "Mending sekarang kita bahas lewat telpon dulu terus besok kita obrolin lagi dimeeting, gimana? Deal gak Barra? Kami menemukan beberapa kertas tapi kami perlu memahami kertas ini dulu dan oh iya apa mendiang ayah anda sering menulis di note atau semacamnya Barra? Kalau ada tolong besok dibawa ya Barra," tanya Jun Cheol serius. "Begitu ya? Baiklah gue gak masalah kok ... deal Jun Cheol! Seinget gue dia emang seringkali menulis di kertas atau note! Iya nanti bakal gue bawa jika disini masih ada," tutur Barra lembut. "Baiklah ... kalau bisa jam meeting nanti itu seperti jam sebelumnya saja Barra, bukankah di jam itu anda tidak sibuk karena itu jamnya makan siang kan Barra?" ucap Jun Cheol serius. "Iya Jun Cheol! Gue bakal tetep tunggu! Benar gue tidak sibuk dijam segitu," ujar Barra lembut. Panggilan telpon pun terputus dan Jun Cheol kembali menyibukkan dirinya dengan tumpukan kertas yang ia temukan, sedangkan Jin Young sudah melarikan diri ke kamar mandi sejak awal Jun Cheol menghubungi Barra. Walaupun pikiran Jun Cheol berusaha keras memahami tulisan yang menumpuk dihadapannya tapi entah mengapa rasa khawatir dan perasaan tenang Jun Cheol masih saja memeluk dirinya dengan begitu erat hingga tak lama Jun Cheol mengirimi pesan pada Ajeng. "Bagaimana disana aman? Anda baik-baik saja bukan? Apakah disana bodyguard Barra masih memeriksa sekeliling cafe? Jika terjadi sesuatu atau anda belum bisa tidur, anda bisa mengirimi saya pesan atau menelpon saya!" pesan Jun Cheol lembut untuk Ajeng. |Bersambung|
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD