Beberapa Kertas Memang Sengaja Dibuang

2012 Words
Mendengar Barra yang bernada lesu membuat dua detektif tampan ini menatap Barra lekat, karena tak biasanya Barra begini. Sedangkan Jun Cheol yang tak ingin membuang-buang waktu dengan terus berdiam seperti ini, akhirnya dia memulai meeting kali ini dengan santai dan serius. "Kita ada di sini untuk meeting! Jadi saya akan memulai meeting kali ini biar gak buang-buang waktu kerja anda ya Barra? Nah kemarin tuh saya sama Jin Young nemuin beberapa kertas yang keliatannya udah lama banget terus lusuh gitu Bar," tutur Jun Cheol menjelaskan. "Bener Barra! Sekarang pun kita bawa kertasnya, oh iya disini ada kertas atau note yang pernah di tulis mendiang ayah anda Barra?" tanya Jin Young serius. "Ada Jin Young, sebentar saya ambil dulu ... oh iya beberapa kertas yang kalian temukan itu ada dimana? Lalu bagaimana bisa kalian menemukannya?" tanya Barra bingung. "Ada di cafe Ajeng tapi di tempat yang benar-benar parah," sahut Jun Cheol datar. "Jadi tuh di cafe yang Ajeng sewa ada wallpaper yang keliatannya aneh dan lain gitu Barra terus kita buka itu wallpaper dan ternyata dibalik sana ada lubang gitu yang isinya beberapa kertas ini! Coba deh anda baca kertas-kertas ini," ucap Jin Young serius. "Astaga!! Kenapa bisa gitu? Baiklah coba gue baca bentar," ujar Barra lembut. ~ Kertas Pertama ~                                                                                Untuk Putra Saya          Untuk Putra saya yang begitu saya cintai, saya tau akan ada orang yang menginginkan posisi ini dan suatu saat akan ada orang yang berusaha melenyapkan ayah yang kini tak lagi berdaya. Terkadang dunia terlalu kejam untuk orang baik seperti dirimu anakku tapi ayah percaya tuhan tidak akan membiarkanmu sendirian seperti ayah yang selalu saja sendirian karena ayah tak pernah bisa mempercayai siapapun lagi di dekat ayah, semua orang terlihat membingungkan untuk ayah mengerti dan ayah tak bisa mengerti apapun saat ini.          Ayah juga tidak tahu pasti kapan hal buruk itu akan terjadi pada ayah tapi setiap hari ayah selalu berdoa untuk keselamatanmu dan ayah berharap semoga hal buruk tidak terjadi kepada putra ayah karena ayah tak ingin kamu terluka oleh perbuatan orang-orang yang menginginkan semua hal dengan cara yang kotor, sayangnya setiap hari ayah merasa seperti sedang berjalan menuju kematian ayah sendiri nak.          Mereka tidak segan-segan mengancam ayah dengan dirimu sebagai alasannya dan ayah tak bisa melihatmu terluka lebih dari yang ayah bayangkan saat ini hingga akhirnya ayah tak tahan lagi dengan ketidak-warasan dari orang-orang yang begitu berambisi, ayah terpaksa melawan mereka demi menghentikan semua hal buruk yang terjadi kepada putra saya.          Namun hal yang terjadi pada ayah adalah kekalahan besar, jumlah mereka lebih banyak dari yang ayah perkirakan, mungkin ketika kamu membaca kertas ini orang-orang yang telah berbuat kejam pada ayah ada disekelilingmu tanpa kamu sadari.          Untuk itulah ayah menuliskan nama-nama mereka agar kamu bisa lebih berhati-hati anakku karena terkadang manusia bisa lebih menakutkan dari hal yang paling kita takutkan. ~ Kertas Tersobek ~ ~ Kertas Kedua ~                                                                             Catatan Terakhir (?)          Hal yang tak bisa ayah lakukan terakhir kali adalah menatapmu bersanding dengan wanita yang kamu cintai nak, ayah tak lagi bisa mengusap bahu ataupun punggungmu lembut, ayah tak bisa lagi mengusap wajahmu yang berlinangan air mata dan ayah sudah tak bisa lagi mendekap putra ayah lembut saat kamu merasa sedih.          Namun ayah percaya hal terakhir yang bisa ayah lakukan adalah mendoakanmu dari tempat yang tak lagi terlihat dan ayah menuliskan ini agar putra ayah bisa lebih berhati-hati tidak seperti ayah yang terlalu mudah mempercayai semuanya.          Mereka tidak melakukan hal buruk ini sendirian, karena ayah melihat mereka berkumpul dan dipimpin salah satu orang yang begitu dekat dengan .... ~Kertas Tersobek ~ ~ Kertas Ketiga ~                                                                      Kecelakaan Yang Disengaja           Musibah bisa terjadi kapan saja dan dimana saja tapi ayah percaya tidak ada hal yang terjadi secara sengaja ataupun tidak ada alasan dan maksud dibalik semuanya, karena hari ini ayahmu benar-benar melihat sendiri dengan mata kepala ayah bagaimana kecelakaan yang terjadi pada ayah adalah bukan musibah belaka melainkan kecelakaan yang disengaja.          Oleh siapa? Oleh orang yang begitu menginginkan tempat dudukmu saat ini nak, tapi meski begitu ayah percaya kamu bisa melindungi apa yang ada ditanganmu sekarang. Jangan biarkan mereka mendapatkan apa yang mereka mau nak, karena selama ayah masih hidup seperti ini maka ayah tidak akan membiarkan mereka merebut segala hal yang memang milikmu.         Dan tuhan masih menyayangi ayahmu karena ayah masih bisa selamat dari kecelakaan itu dan ayah masih di izinkan untuk melindungi putra ayah, setelah hal ini ayah benar-benar tak bisa membiarkan mereka menyakiti dirimu atau diri ayah sekalipun. Ayah sudah melaporkan hal ini tapi orang itu memiliki banyak tangan kanan dan banyak hal yang tak terduga lainnya nak, dia .... ~ Kertas Tersobek ~ ~ Kertas Keempat ~                                                                                  Surat Wasiat Pada hari ini, 13 April 2019, saya : Nama : Bagasura Nahara Adi Tempat, Tanggal Lahir : Riau, 08 Januari 1973 Alamat : Jl. Dharma Raya blok F No. 37 perumahan diamond graha adipati. Dengan sadar dan tidak ada paksaan membuat Pernyataan Surat Wasiat Waris atau Hibah Harta Saya, kepada anak – anak kandung saya, yaitu : Barra Nahara Adi. Dengan surat ini saya nyatakan bahwa saya menyerahkan sebagian harta saya kepada anak – anak saya tersebut, yaitu sebuah Rumah yang saya diami sekarang ini dan seluruh aset perusahaan milik saya pribadi. Apabila saya sudah tidak ada, dengan ketentuan harta itu digunakan, untuk menyelesaikan semua permesalahan utang piutang saya jika ada, 20% saya wakafkan dari sisa harta keseluruhan, Dan harta yang tersisa dari penggunaan yang telah disebut, maka saya serahkan dengan pembagian rata kepada anak – anak saya yang telah saya sebutkan tersebut. Demikianlah surat pernyataan Wasiat waris atau hibah harta saya buat,dengan di saksikan oleh saksi-saksi yang saya percaya. Yang Berwasiat Bagasura Nahara Adi ~ Selesai ~ Setelah membaca beberapa kertas ini membuat Barra menghapus jejak jejak airmatanya karena selama Barra kertas yang memang ditulis ayahnya maka selama itu juga Barra tak henti-henti ia menangis karena Barra begitu merindukan kehadiran ayahnya. Sementara Jun Cheol dan Jin Young yang melihat Barra terpukul dan sedih seperti ini membuat mereka berdua menepuk-nepuk bahu Barra lembut, agar perasaan Barra menjadi lebih tenang dan membaik dari saat ini. Barra yang menyadari jika tak seharusnya dirinya seperti ini membuat Barra mencoba untuk tenang dan mengendalikan dirinya, sedangkan Jun Cheol yang melihat Barra bersusah payah agar tetap tegar membuat Jun Cheol menyarankan seperti apa seharusnya Barra saat ini dan Barra harus tetap waras diantara ketidak-warasan orang lainnya. "Saya mungkin tidak tau rasanya menjadi anda tapi apa yang terjadi pasti memiliki maksud di balik semua ini dan semua hal menyakitkan pasti akan berakhir Barra, gak masalah kalo anda mau nangis atau apapun tapi saya yakin semuanya akan baik-baik saja setelah kamu berhasil menyelesaikan apa yang seharusnya anda selesaikan ... setidaknya anda jadi tau hal yang apa yang sebenarnya terjadi bukan?" ucap Jun Cheol menenangkan. Mendengar ucapan Jun Cheol membuat Barra mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti dan tak lama Barra mengusap wajahnya kasar lalu Jin Young yang tak ingin Barra terus sedih seperti ini membuatnya membahas beberapa kertas ini agar Barra meluapkan apa yang ada di kepala Barra ataupun hal yang sempat Barra rasakan sebelumnya. "Dari beberapa kertas ini hampir semuanya kehilangan bagian-bagian penting yang seharusnya ada disana tapi kertas itu malah tersobek dan membuat kita berpikir mereka yang dimaksud di sana itu siapa? Kenapa bisa mereka menemukan kertas-kertas ini? Berarti masuk akal kenapa beberapa kertas ini ada dibalik wallpaper, karena beberapa kertas ini memang sengaja dibuang oleh seseorang atau segerombolan orang untuk menghilangkan bukti ... benerkan Jun? Terus anda tadi kenapa Barra? Lesu gitu," ujar Jin Young lembut. Jun Cheol yang mendengar penjelasan Jin Young membuatnya mengangguk-anggukkan kepala Jun Cheol setuju, sedangkan Barra yang ditanya sejenak membuat dirinya menghela nafasnya lelah lalu Barra menjawab pertanyaan Jin Young. "Tadi gue lesu gara-gara dapet laporan yang isinya tuh keluhan yang tertuju buat gue Jin Young, di sana tertulis kalo gue masih terlalu muda buat memegang penuh seluruh bisnis mendiang ayah gue sedangkan selama ini gue selalu lakuin hal yang terbaik semampu gue tapi kenapa masih ada aja laporan kayak gitu," tutur Barra sedih. Jin Young mengerutkan dahinya bingung saat mendengar ucapan Barra yang terdengar masuk akal dengan apa yang tertulis di beberapa kertas tadi, karena menurut Jin Young orang-orang itu sekarang mulai beraksi dan berusaha merebut apa yang ada ditangan Barra saat ini. Sementara Jun Cheol yang tak paham dengan beberapa tulisan yang terlihat berbeda membuat Jun Cheol mempertanyakannya kepada Barra, sedangkan Barra yang ditanya oleh Jun Cheol malah baru menyadari tulisan aneh itu. "Mengapa kertas ketiga ada tulisan yang terlihat berbeda tapi seakan dimiripkan? Anda yakin ini tulisan ayah anda?" tanya Jun Cheol serius. "Sebentar ... kertas ketiga? Loh iya, kenapa tulisan ini aneh? Seperti bagian ini bukan ayah saya yang menulisnya! Tapi jika bukan ayah yang nulis lalu siapa?" ujar Barra bingung. Jin Young yang juga baru menyadari ada tulisan lain dikertas lain pun juga ikut bertanya hingga diskusipun dimulai dengan serius, sedangkan Jun Cheol yang masih mencocokan tulisan yang ada di kertas ketiga membuatnya mencari kertas lain di meja Barra karena siapa tau ada tulisan yang mirip dengan tulisan aneh ini. "Jika diperhatikan lagi ... kertas kedua ini juga terlihat berbeda Barra! Di atas ditulis tanda tanya lalu dekat dengan seperti di coret tapi ditulis kembali dan hampir semua bagian beberapa kertas ini pasti disobek paksa karena sobekannya tak rapih," ujar Jin Young serius. "Kertas kedua? Oh yang ini ... terkadang mendiang ayah gue emang sering salah nulis terus dia coret abis itu dia tulis lagi Jin Young, iya bener semua bagian penting hampir semuanya disobek dengan asal makanya keliatan gak rapih tapi kalo soal tanda tanya? Mendiang ayah saya itu gak pernah nulis tanda tanya di dalam kurung gini," sahut Barra serius. "Kalo anda nanya siapa yang nulis tulisan aneh ini, udah jelas orang yang nulis ini sama dengan orang yang ngebuang beberapa kertas ini! Siapa lagi kalo bukan pelaku yang jelas banget mau buang bukti-bukti ini! Saya boleh memeriksa kertas lain yang ada dimeja anda Barra? Saya ingin mencocokan tulisan ini dengan tulisan lain yang siapa tau mirip," ucap Jun Cheol serius. "Bener juga Jun! Iya boleh Jun, periksa aja gak apa-apa soalnya tumpukkan kertas yang ada di meja gue itu emang bukan punya gue ... jadi tuh tumpukan kertas itu dari meja mendiang ayah gue tapi kayaknya ada beberapa tulisan lain yang gue gak inget tulisan siapa-siapa aja di sana kalo gak salah kebanyakan rekan atau petinggi perusahaan," ujar Barra bingung. "Nah berarti kertas kedua ini juga ditulis orang lain lebih tepatnya diperbaiki menurut orang yang menulis ini tapi kalo gitu ceritanya berarti kertas lain ditulis juga gak coba kita liat-liat lagi siapa tau ada yang kelewatan," sahut Jin Young serius. "Coba gue baca juga Jin Young ... kayaknya kertas pertama sama kertas keempat ini gak di tulis sama orang lain! Karena tulisan mendiang ayah gue emang gini Jin Young," ucap Barra serius. "Berarti yang ditulis oleh orang lain itu hanya kertas kedua dan kertas ketiga? Anda yakin Barra? Coba anda periksa lagi Barra siapa tau ...," ucap Jin Young terhenti. Belum selesai pertanyaan Jin Young kepada Barra, tiba-tiba pintu ruangan Barra di buka dengan asal dan pintu di banting dengan cukup keras hingga ucapan Jin Young terhenti dan pandangan mereka bertiga beralih ke arah pintu yang kini telah berdiri seseorang disana. Namun setelah melihat siapa pelaku bar-bar yang membuka pintu tadi membuat Jun Cheol, Jin Young dan Barra menghembuskan nafas mereka lelah, orang yang masih berdiri disana adalah Xin Qian yang kini menatap Jun Cheol marah. Sementara Jun Cheol sendiri tidak perduli ditatap seperti apapun oleh Xin Qian, karena ia lebih memilih menyibukkan dirinya dengan kertas yang Jun Cheol pegang daripada keabsurdan Xin Qian yang tak ada habisnya. Xin Qian yang melihat Jun Cheol tetap acuh padanya membuat Xin Qian berjalan mendekati Jun Cheol yang masih sibuk, sedangkan Jin Young yang melihat pergerakan Xin Qian membuatnya melarang Xin Qian untuk tidak mengganggu Jun Cheol yang sedang serius. "Mending anda duduk diem di sofa dan jangan gangguin Jun Cheol yang lagi serius Xin Qian!! Sekarang saya peringatkan anda untuk jangan membuat masalah di sini karena saat ini kami sedang serius! Saya gak main-main dengan ucapan saya jadi lebih baik anda duduk di sofa atau pergi sekarang juga!!" ujar Jin Young tegas. |Bersambung|
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD