Perasaan Baru Yang Tak Mereka berdua Sadari

2033 Words
Barra yang mendengar ucapan tak biasa Ajeng membuatnya segera memerintahkan Azka untuk memeriksa sendiri laporan rekan-rekan bodyguard yang Barra perintahkan untuk berjaga-jaga di sekitar cafe Ajeng, sedangkan Azka yang tak mengerti apapun hanya menuruti perintah Barra. "Azka!! Lu aja yang periksa sendiri laporan bodyguard yang gue suruh jaga di cafe Ajeng, cepet ya Azka!! Gak pake lama," ucap Barra tegas. "Baiklah," ujar Azka serius. Selama menunggu Azka mencari informasi membuat Barra mempertanyakan apa yang terjadi disana hingga Ajeng menelponnya seperti ini, sedangkan Ajeng yang merasa kesal dengan para bodyguard Barra membuatnya mengomeli Barra yang kebingungan karena tak tau apapun. "Emang disana ada apa sih Ajeng? Lu sampe nelpon gue kayak gini," ujar Barra bingung. "Lu gimana sih Bar!! Lu yang bayar mereka masa lu gak tau apa-apa! Si dodol ampun dah kalo gue sampe nelpon berarti apa? Berarti serius Bar!!" omel Ajeng kesal. "Maklum Ajeng, yang gue kerjain kan gak cuma satu doang jadi gue gak tau apa yang terjadi kalo gak ada laporan ke gue! Situasi serius yang gimana Ajeng? Bentar Azka balik! Gimana Azka udah dapet informasi yang gue minta," ucap Barra serius. "Udah ... beberapa jam yang lalu datang segerombolan orang membawa palu besar dan hendak memaksa masuk ke dalam cafe Ajeng tapi beberapa pemilik toko di sekitar sana melihat hal itu dan melarang segerombolan orang itu dengan menghalangi pintu kaca menggunakan diri mereka lalu tak lama detektif Jun Cheol dan Jin Young tiba di cafe sebelum salah satu dari segerombolan orang itu hendak memecahkan pintu kaca cafe Ajeng dengan palu besar yang ia pegang tapi terhalangi oleh detektif Jun Cheol yang berdiri dihadapannya dan perkelahian tak terhindarkan lalu kemenangan diraih detektif Jun Cheol, setelah itu rekan Xin Qian datang dan menangkap orang-orang yang berlarian! Sudah selesai laporannya," tutur Azka menjelaskan. Mendengar laporan yang disampaikan Azka membuat Barra mengerutkan dahinya bingung, lalu tak lama Barra memerintahkan Azka untuk memanggil Gruger ke ruangannya karena ia masih tak mengerti bagaimana bisa dua hal sangat terlihat berbeda padahal di waktu yang jelas-jelas sama tapi keduanya justru saling tarik-menarik. "Lu dapet laporan ini darimana Azka? Kenapa omongan Gruger sama laporannya ini berbeda? Panggil dia kesini gue mau tau alasen dia apa ngomong kayak tadi," tutur Barra kesal. "Baiklah," ucap Azka bingung. Setelah Gruger sampai diruangan Barra, Barra menyuruh Gruger duduk dihadapannya lalu tanpa basa-basi lagi Barra mempertanyakan apa yang terasa aneh menurutnya. "Barusan anda bilang tidak ada masalah, tidak ada laporan, tidak ada apanya! Gruger!! Hampir saja cafe Ajeng dihancurkan entah apa masalahnya mereka tapi bagaimana bisa anda bilang hal seperti itu dengan tenang? Apakah anda musuh saya," omel Barra bingung. Sejenak mendengar ucapan Barra membuat Gruger menundukkan kepalanya takut lalu tak lama ia berdalih jika rekan-rekannya melaporkan memang seperti apa yang dikatakannya, sedangkan Azka yang setuju dengan Barra tanpa sadar melontarkan pertanyaan yang seakan-akan sedang menyudutkan Gruger saat ini. "Maafkan saya pak ... saya hanya mengatakan apa yang di laporkan rekan-rekan saya! Saya tidak bermaksud menjadi musuh anda atau apapun pak," sahut Gruger ketakutan. "Semudah itu anda meminta maaf padahal rekan-rekan anda mengatakan hal sebaliknya? Tidak merasa bersalahkah anda seperti ini? Karena saya setuju dengan ucapan Barra yang memang benar adanya, saya peringatkan anda untuk jangan berbohong!" ucap Azka tegas. Gruger yang mendengar ucapan Azka membuatnya terdiam karena ia tak punya alasan apapun lagi lalu tak lama terdengar suara Jun Cheol menyahut di telepon Barra, mendengar ucapan Jun Cheol membuat Barra menyetujui apa yang dikatakan Jun Cheol barusan. "Barra!! Bisakah saya menyelidiki pria yang bernama Gruger karena ini sudah kedua kalinya dia melakukan hal mencurigakan dan bisa jadi dirinya adalah salah satu orang yang tertulis dalam surat yang tersobek itu, Bagaimana Barra? Anda mengizinkan saya?" tanya Jun Cheol serius. "Benar juga Jun Cheol! Bisa saja kemungkinan seperti itu terjadi, baiklah gue izinin lu kalo mau dateng dan nyelidikin langsung silahkan aja Jun Cheol!" tutur Barra tegas. "Baiklah saya akan kesana jadi tolong jaga pria itu agar tak meninggalkan ruangan anda apapun alasan yang ia katakan jangan biarkan dia pergi dari sana," ujar Jun Cheol serius. "Oke gue ngerti, cepetan ya Jun Cheol! Jin Young!" ucap Barra tegas. Jun Cheol yang mendengar ucapan Barra membuatnya menyahuti dengan gumaman lalu telpon pun ditutup dan tak lama Barra memperingatkan Gruger untuk duduk di sofa di awasi oleh Azka yang memang tidak sedang sibuk saat ini. "Detektif akan memeriksa anda jadi duduklah di sofa karena Azka akan mengawasi anda hingga dua detektif itu sampai disini! Jangan mencoba memancing kemarahan saya jadi cepat lakukan apa yang saya katakan!" tutur Barra serius. Melihat Barra yang menatap dirinya tajam dan ucapan Barra yang terdengar serius dengan apa yang ia katakan hingga membuat Gruger menuruti ucapan Barra dan tak lama Azka pun berdiri di samping Gruger untuk mengawasinya sampai Jun Cheol dan Jin Young datang ke ruangan ini. Sementara Jun Cheol dan Jin Young yang mendengar ucapan Barra membuat mereka berdua bergegas menuju kantor Barra karena entah mengapa Jun Cheol merasakan seperti ada yang sengaja melakukan ini tapi baru beberapa langkah Jun Cheol menyadari ada hal yang tidak beres jika mereka meninggalkan Ajeng sendirian disini. "Tunggu Jin Young! Kayak ada yang gak beres disini, sadar gak kalo kita ninggalin Ajeng sendiri apa yang bakal terjadi? Siapa yang dapet kesempatan? Jadi Ajeng, mending anda ikut kita dan tutup cafenya sementara itu lebih aman," tutur Jun Cheol serius. Mendengar ucapan Jun Cheol membuat Jin Young mengangguk-anggukkan kepalanya setuju dengan apa yang dikatakan Jun Cheol tapi tak lama Jin Young menyadari hal lain yang bisa juga membahayakan Ajeng meskipun Ajeng bersama mereka berdua. "Bener sih apa yang anda omongin Jun! Tapi kalo liat kemungkinan lainnya bisa aja Ajeng dalam bahaya karena mereka pasti meletakkan ataupun menjebak Ajeng hingga ia dituduh bersalah oleh musuh bukan? Jadi bagaimana baiknya Jun?" tanya Jin Young bingung. Jun Cheol yang mendengar pertanyaan Jin Young membuatnya mengerutkan dahinya tanda jika dirinya sedang berpikir keras bagaimana cara mereka berempat mengamankan keadaan seperti ini, rasanya musuh sedang mempermainkan Jun Cheol untuk mengorbankan salah satunya lalu tak lama Ajeng mengatakan hal yang menguatkan apa yang dipikirkannya saat ini. "Kenapa rasanya apa yang terjadi sekarang tuh kayak penawaran akan satu hal yang harus di korbanin ya? Soalnya tadi Xin Qian bilang kalo dia akan ngebunuh salah satu dari kita, gimana kalo gue aja yang di korbanin biar musuh gak bisa buat kalian tertekan dalam menyelesaikan kasus mendiang ayah Barra? Kalo itu emang maunya mereka yaudah ayok," ujar Ajeng lembut. Jin Young yang melihat sorot mata Jun Cheol dipenuhi kesedihan dan kebingungan tanpa sadar membuat Jin Young ikut merasakan kekhawatiran dan dilemanya perasaan Jun Cheol saat ini, lalu tak lama Jun Cheol mengusulkan apa yang ada di otaknya saat ini. "Gini aja? Gimana kalo Ajeng ikut anda ke kantor Barra nanti saya akan disini bersama beberapa orang bodyguard kepercayaan Barra? Gimana aman kan?" ujar Jin Young serius. Sejenak Jun Cheol dan Ajeng terdiam saat mendengar ucapan Jin Young yang terdengar begitu tulus dan menyejukkan hati Ajeng dan Jun Cheol, lalu tak lama mereka berdua menyetujui saran Jin Young yang terlihat lebih aman untuk mereka bertiga meskipun sebenarnya Jun Cheol dan Ajeng khawatir jika sesuatu terjadi pada Jin Young. "Oke itu pilihan paling tepat saya rasa, kalo gitu saya hubungi Barra dulu!" ucap Jun Cheol serius. "Boleh aja sih kalo Jin Young mau gitu tapi lu serius Jin Young? Lu gak apa-apa? Lu gak bakal terluka atau kenapa-kenapa kan?" ujar Ajeng khawatir. Ajeng masih saja merasa khawatir dengan Jin Young membuatnya terus menatap Jin Young agar Jin Young membatalkan apa yang ada dipikirannya saat ini, sedangkan Jin Young yang sadar jika Ajeng sedang berusaha memberi tau Jin Young untuk membatalkan idenya membuat Jin Young pun menenangkannya karena saat ini nyawa Ajeng dan Jun Cheol yang berada dalam masalah dan bisa kapanpun dalam bahaya. "Tenang Ajeng, saya akan berusaha sebaik mungkin melindungi tempat ini dan diri saya sendiri karena saya tidak mungkin membiarkan Jun Cheol kembali ke korea sendirian bukan? Jadi saya pasti akan baik-baik saja," ucap Jin Young menenangkan. Disaat Jin Young dan Ajeng saling menenangkan, tak jauh dari mereka berdua mengobrol Jun Cheol sibuk menelpon Barra untuk menurunkan beberapa orang kepercayaannya di cafe Ajeng selama dirinya tak ada disini. "Barra! Saya dan Ajeng akan ke kantor anda tapi saya minta tolong untuk anda perintah orang-orang yang anda percaya untuk menjaga cafe Ajeng karena disini hanya Jin Young sendirian! Bahaya kalo sampai musuhnya datang banyakan," tutur Jun Cheol khawatir. "Kenapa begitu? Kenapa tidak dibiarkan kosong saja?" tanya Barra bingung. "Ada dua kemungkinan yang akan terjadi, satu ketika saya dan Jin Young meninggalkan Ajeng sendirian di cafe orang-orang yang tidak jelas bisa datang kembali lalu kedua bisa juga orang-orang memuakkan datang ke sini untuk menghancurkan atau meletakkan sesuatu agar mereka bisa menjebak Ajeng jadi Jin Young memberikan jalan tengah untuk keselamatan kita semua dengan Jin Young tetap disini menjaga cafe Ajeng bersama beberapa orang kepercayaan anda Barra karena dengan begitu Jin Young bisa melawan mereka jika dia tidak sendirian disini, anda paham maksud saya kan Barra?" tutur Jun Cheol menjelaskan. Mendengar penjelasan Jun Cheol membuat Barra melirik Gruger yang terlihat tertarik dengan menatap Barra penasaran seakan-akan sedang menunggu untuk memberikan kode entah pada siapa yang jelas bukan Barra ataupun para detektifnya. Lalu Barra menjawab ucapan Jun Cheol melalui pesan karena memang apa yang Jun Cheol katakan terdengar masuk akal dan terlihat membahayakan jika Barra salah membuat langkah bisa saja pilihannya justru menyenangkan untuk musuh. "Begitu ya, baiklah saya akan menjawab ucapan anda melalui pesan singkat! Anda paham bukan kenapa saya seperti ini?" ujar Barra serius. Jun Cheol yang mendengar ucapan Barra membuatnya menjawab dengan gumaman lalu telpon ditutup dan tak lama pesan masuk berbunyi di ponsel Jun Cheol, melihat balasan pesan Barra membuat Jun Cheol mengulaskan senyum terbaiknya tanpa ia sadari. "Baiklah akan saya kirim orang terbaik untuk menjaga orang terbaik seperti kalian berdua, saya mohon tolong jaga Ajeng dan diri kalian berdua! Oh iya kalian boleh ke sini setelah orang-orang kepercayaan saya sampai disana, ada yang kalian perlukan lagi?" balas pesan Barra. Jun Cheol yang telah selesai dengan apa yang ia perlukan hanya membalas pesan Barra dengan singkat lalu tanpa sadar Jin Young dan Ajeng menghampiri Jun Cheol yang terlihat sibuk sendiri, sedangkan Jun Cheol yang namanya dipanggil membuat mereka mengobrol sebentar sambil menunggu orang-orang yang Barra perintahkan. "Terima kasih, saya dan Jin Young hanya memerlukan itu saja Barra!" balas pesan Jun Cheol. "Sekop lu kenapa? Sibuk amat sih mana senyum-senyum lagi?! Chat sama siapa lu? Xin Qian? Jangan bilang lu kepentok sekop," tanya Ajeng bingung. "Benar Ajeng! Sepertinya dia habis terbentur sesuatu jadi dia g****k," canda Jin Young senang. "Hah? Senyum apanya? Barra siapa lagi yang saya kirimkan pesan? Kenapa jadi Xin Qian? Saya tidak punya nomernya ponselnya, kepentok apa? Ini lagi! Terbentur apanya?! Gak kok saya baik-baik saja oh iya kita ke kantor Barra pas orang kepercayaan Barra sampai sini ya Ajeng? Agar kita tau seperti apa mereka yang bersama Jin Young," ucap Jun Cheol serius. "Itu lu senyum tau sekop!! Kenapa lu ngirim pesan ke Barra aja sampe senyum-senyum gitu hah? Emang apa yang kalian omongin? Kalian ngomongin soal cewek ya? Apa soal hal aneh-aneh? Terus kalo punya nomernya anda chat sama dia? Iya sekop? Oh jadi ada gayung bersambut toh disini," tutur Ajeng sebal. "Oke Jun, hayoloh sekop eh Jun Cheol! Hayo ada yang cemburu," ledek Jin Young senang. "Gak saya gak senyum, mana ada saya senyum Ajeng? Apalagi kalo bukan kerjaan?! Hah? Cewek apanya? Gak ada ngomongin cewek apalagi hal aneh-aneh! Nih baca aja pesan saya dan Barra, buat apa saya kirim pesan ke Xin Qian? Gayung bersambut apanya? Siapa juga yang mau mandi orang udah mandi tadi," sahut Jun Cheol bingung. "Lu tuh senyum sekop! Duh gak gue foto lagi buat bukti! Ya barangkali kalian pengen gosipin cewek-cewek yang kalian temuin kan? Coba mana? Hm, gue cewek sekop! Itu kalian ngomongin gue ya kali gue laki! Ya siapa tau anda rindu sama dia! Astaga siapa yang nyuruh lu mandi sekop! Itu pepatah lama tau gak, aduh kesel banget gue!" omel Ajeng kesal. Disaat Jun Cheol dan Ajeng berdebat karena perasaan baru yang tak mereka berdua sadari, Jin Young justru tertawa terbahak-bahak melihat kepolosan dua orang dihadapannya ini. Sementara Ajeng dan Jun Cheol yang tak sukai di tertawai kompak menutup mulut Jin Young agar suara tawa menyebalkan Jin Young berhenti. |Bersambung|
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD