Sejak bangun pagi tadi Eliza terus menekuk wajahnya. Bukan tanpa alasan sih kenapa Eliza murung dan cemberut begitu.
Semuanya dimulai dari drama tentang ponselnya yang berakhir tragis saat ingatannya kembali pulih. Lalu kemudian Eliza harus kembali menerima kenyataan bahwa Evanz datang ke rumahnya lagi untuk sarapan bersama.
Nafsu makan Eliza lenyap entah menguap kemana seperti biasa, hingga akhirnya Eliza memutuskan untuk segera pamit dan pergi dengan menaiki ojek.
Seluruh keluarga jadi bertanya-tanya atas perubahan sikap Eliza beberapa hari ini yang menolak tak ingin sarapan bersama lagi. Tak hanya keluarga, Evanz sendiri bahkan merasa tak enak dan tak nyaman atas sikap dari adik kekasihnya ini.
Dalam benaknya, Evanz bertanya-tanya. 'Apakah mungkin calon adik iparnya itu membencinya?'
Tapi, ah rasanya tidak mungkin. Namun, mungkin saja menjadi benar. Aisshh, entahlah.
"Tidak usah terlalu di pikirkan."
Evanz menoleh ke samping dan menemukan wajah Elinna, kekasihnya yang tadi berbisik.
"Eliza memang seperti itu. Ia terlihat cuek dari luar, tetapi hangat dari dalam."
Evanz tersenyum lembut. "Iya, aku mengerti."
"Terima kasih. Dan, ayo kembali makan." titah Elinna menunjuk ke arah piring Evanz yang masih banyak sekali makanannya.
Sarapan Evanz seperti biasa, yaitu salad buah ataupun salad sayur meskipun Evanz lebih sering mengkonsumsi salad buah tiap paginya ketimbang salad sayur.
Persis seperti Eliza, adiknya.
Terkadang, Elinna ingin bertanya kenapa Evanz lebih menyukai bahkan tergila-gila dengan makanan seperti itu?
Karena sungguh Elinna merasa sedikit terganggu dengan kesamaan diantara Evanz dan adiknya.
Elinna tentu tahu dan ingat dengan jelas bahwa sang adik menyukai Evanz. Tetapi, ia tidak ingin disalahkan merebut Evanz sebab hubungan mereka terjalin karena atas dasar rasa suka sama suka.
Evanz-lah yang lebih dulu menyatakan cinta padanya. Jadi, bukan dirinya yang kegatelan merebut pria itu.
Seharusnya Elyaz dan Eliza bisa berpikir jernih jika yang terjadi tak seperti yang mereka bayangkan.
Bagi Elinna, Eliza kalah cantik darinya hingga membuat Evanz kecantol akan kecantikannya.
Mengingat itu Elinna tersenyum-senyum sendiri, ia merasa senang, bangga dan bersyukur karena terlahir memilki wajah cantik yang banyak di kagumi para pria.
Thanks God!
****
Setelah selesai siaran Eliza memilih untuk menetap di studio sambil menemani sahabatnya, Linda. Untuk melanjutkan acara siaran berikutnya. Saat jam makan siang keduanya memutuskan untuk memesan makanan saja.
"Setelah ini bagaimana jika kita jalan-jalan ke mall?" tanya Linda saat menatap penuh antusias pada Eliza.
"Boleh," sahut Eliza mengangguk setuju.
Beberapa menit kemudian keduanya telah selesai menghabiskan makanan mereka. Satu notifikasi pesan masuk ke ponsel Linda, wanita tampak mengernyit bingung saat membaca sebuah pesan dari teman sesama profesinya, Rizal.
Dalam pesan chatnya Rizal menanyakan tentang keadaan Eliza yang sama sekali tidak bisa di hubungi. Dan itu pun menjadi tanda tanya besar untuk Linda yang menaruh Curug jika Eliza dan Rizal terlihat suatu hubungan.
Mungkinkah mereka berpacaran? pikir Linda menebak-nebak.
"Liz, nih ada yang nanyain kamu." kata Linda seraya menyodorkan ponselnya pada Eliza yang kebingungan.
"Siapa?"
"Baca deh."
Eliza menuruti permintaan Linda dan mulai membaca pesan-pesan chat dari Rizal. Setelahnya Eliza mengembalikan ponsel Linda tanpa berniat sama sekali untuk membalas pesan chat dari Rizal tersebut.
"Gak kamu balas?" tanya Linda yang langsung dijawab gelengan kepala okeh Eliza.
"Kenapa?"
"Gak apa-apa."
"Eh, nanti dia tambah khawatir loh sama kamu, Liz. Dan parahnya bakalan chat aku terus nih anak."
Eliza terkekeh, "gak mungkinlah."
"Kenapa gak mungkin? Kalian kan berpacaran."
"Uhuk!" Eliza tersedak air liurnya secara spontan ketika mendengar ucapan Linda barusan.
"A-apa kamu bilang, Lin? Pacaran?"
Linda mengangguk yakin, "iya, kalian berpacaran 'kan?"
"Astaga! Dapat gosip darimana kamu Lin?"
"Gak gosip kok, hanya tebakanku saja." Linda terkikik, "jadi bener ya?"
"Apanya?"
"Kalian pacaran?"
"Ya enggaklah!" sanggah Eliza membantah dugaan Linda tersebut.
Jelas saja Eliza tidak terima dan terlihat kesal. Karena memang ia dan Rizal hanya menjalin hubungan pertemanan sama seperti yang lainnya.
"Kalau enggak pacaran kenapa kamu terlihat marah, Liz?"
"Ya karena memang enggak, tuduhan kamu salah."
"Bukankah kalau marah itu tandanya benar ya?"
"Gak semua seperti itu. Astaga, lagian kamu kenapa bisa berpikiran seperti itu sih?" ucap Eliza terlihat sangat kesal.
"Karena Rizal terlihat sangat khawatir sekali padamu. Bukankah aneh? Tidak seperti biasanya pria itu bertingkah seperti ini."
Eliza menghela nafas kasar, ada benarnya juga memang. Tak biasanya Rizal menanyakan keadaan dirinya hingga sampai se-khawatir ini. Tetapi pemikiran Linda tidaklah benar, saat berteman terkadang kita juga memiliki perasaan peduli yang sangat tinggi.
"Dan Rizal juga sedari tadi terus menanyakan kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?" tanya Linda ikut penasaran.
Eliza tersentak dan kini baru menyadari bahwa ia sudah kehilangan ponselnya yang berakhir tragis atau hancur lebur di lantai kamarnya.
"Rusak," sahut Eliza singkat.
"Ya ampun!" pekik Linda syok, "kenapa bisa?"
"Ku banting," Eliza tersenyum kikuk sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Linda menepuk jidatnya pelan, "pantas saja Rizal mengubungimu sedari tidak bisa."
"Hehe, maaf."
Linda tidak menyahut sebab jari-jemarinya kini tengah fokus mengetikkan kata demi kata untuk membalas pesan chat Rizal.
Dalam pesan chatnya Linda menjelaskan alasan kenapa ponsel Eliza tidak bisa dihubungi secara detail.
"Yuk!" ajak Linda mengakhiri chatnya.
"Sudah kamu balas dan jelaskan pada Rizal?"
"Sudah."
"Syukurlah," Eliza merasa lega.
"Secepatnya kamu beli ponsel ya, Liz. Aku risih di chat dan di teror terus sama Rizal."
Eliza terkekeh sembari berkata, "oke!"
"Kayak cowok aku aja dia chat terus," Linda menggerutu pelan namun masih dapat di dengar oleh Eliza.
Eliza tersenyum lebar mendengarnya, tak menyangka jika kata-kata itu bisa meluncur mulus dari mulut Linda.
Mungkinkah sahabatnya ini suka dan menaruh perasaan pada Rizal?
"Kamu cemburu, Lin?"
"What?!" pekik Linda terkejut saat mendapati pertanyaan itu. "Apa maksudmu?"
"Rizal."
"Kenapa dengan dia?"
"Kamu menyukainya," tukas Eliza tersenyum geli.
"T-tidak! Aku tidak—apa kamu gila, Liz!"
Eliza kembali tertawa, kini ia sudah mendapatkan jawabannya meskipun Linda terus mengelak. Kegugupan, tatapan mata, raut wajah serta ekspresi Linda. Semua itu sudah menunjukkan kebenarannya, bahwa Linda menyukai Rizal.
Itu sebabnya Linda tadi terlihat kesal ketika Riza chat hanya untuk mengkhawatirkan Eliza. Padahal sebenarnya Linda juga ingin di perhatikan penuh oleh Rizal.
"Kamu meracau layaknya seperti orang mabuk, Liz." omel Linda menatap Eliza yang kini tersenyum jahil. Ya, jahil saat tiba-tiba sebuah ide terlintas di pikirannya.
"Baiklah. Karena kamu tidak menyukai Rizal maka ada kesempatan bagiku untuk dekat dengannya." goda Eliza mengedipkan sebelah matanya pada Linda.
Kesal dan amarah langsung menyelimuti diri Linda. Sial!
Tbc....