11.

1069 Words
Sesuatu hal yang tak Eliza inginkan, namun harus ia lakukan agar dapat membantu dirinya melupakan cintanya pada sosok Evanz yang semakin hari justru semakin sering datang berkunjung ke rumahnya. Begitu pula dengan Derri yang semakin kelewatan lancangnya. Mengatakan pada semua orang bahwa mereka berdua sudah jadian dan saling mencintai. Sial! Derri benar-benar menyebalkan! Mengambil kesimpulan sepihak tanpa bicara dulu padanya. Eliza kesal dan marah? Tentu saja. Bahkan sangking geramnya rasanya Eliza ingin memukul wajah Derri. Tapi Eliza tahan, karena setelah ia pikir-pikir sepertinya tidak ada salahnya untuk ia manfaatkan. Mungkin terdengar kejam, dengan memanfaatkan Derri untuk ia gunakan sebagai alat agar tujuannya tercapai. Yaitu, melupakan Evanz! Mungkin dengan Derri perlahan namun pasti ia bisa melupakan rasa cintanya pada Evanz dan mungkin saja bisa digantikan dan diisi oleh sosok Derri. Ya walaupun setengah dari diri Eliza tidak ikhlas. Tapi, apa salahnya untuk mencoba? Lagian, Derri juga memiliki perasaan padanya. Semoga saja kata cinta hadir dengan dirinya yang mau mencoba menerima sosok Derri. "Makasih ya, karena kamu udah mau jadi pacarku." ucapan Derri menyadarkan Eliza dari lamunannya. Gadis itu mengangguk dan tersenyum, "sama-sama." "Tapi, kamu beneran juga cinta kan sama aku Liz?" tanya Derri yang langsung membuat Eliza terdiam seribu bahasa. Ya Tuhan! Apa yang harus aku katakan padanya? batin Eliza bingung. "Iya," sahut Eliza merasa menyesal karena telah berbohong. Membohongi dirinya sendiri dan juga Derri yang saat ini merasa sangat senang hanya karena satu kata yang Eliza ucapkan. Oh, sungguh malangnya Derri. Eliza merasa sangat menyesal karena telah berbohong. Tapi, ia tidak punya pilihan lain. Semoga saja kehadiran Derri ke dalam hidupnya mampu membuat dirinya melupakan sosok Evanz. "Ini pesanannya," ucap seorang pelayan pria yang mengantarkan pesanan ke meja Eliza dan Derri. "Terima kasih, Jordan." Eliza tersenyum menatap Jordan yang hampir sebulan ini cuek padanya. Tak seperti biasanya, sosok Jordan yang hangat dan bersahabat pun seakan lenyap dari diri pria itu. Eliza sudah tak menemukan sosok itu lagi di dalam diri Jordan yang kini cuek dan dingin. Ingin rasanya Eliza bertanya kenapa Jordan bersikap seperti ini padanya? Apakah Jordan membencinya? "Ayo makan, setelah itu aku akan mengantarkan kamu pulang." "Iya," Eliza mengangguk semangat. Ia paling senang jika mendengar kata pulang. Berlama-lama dengan Derri semakin membuatnya merasa tak nyaman. Derri menepati janjinya, setelah kenyang ia benar-benar mengantarkan Eliza pulang. Namun sepertinya keputusan pulang salah karena Eliza merasa sakit dan terluka begitu membuka pintu rumah yang tak terkunci dan menemukan adegan tak senonoh yang tersaji di depan matanya. Dengan sigap Derri menutup kedua mata Eliza dengan sebelah telapak tangannya yang besar. Elinna dan Evanz kalang kabut membenahi diri mereka yang nyaris berantakan. Terutama Elinna yang hampir nyaris telanjang jika saja tidak ada Derri dan Eliza yang memergoki mereka. Eliza menepiskan telapak tangan Derri, "pulanglah." titahnya yang kemudian beralih menatap Elina dan Evanz sekilas. "Aku tahu kalau kalian berdua saling mencintai. Tapi tolong, lain kali tutup pintunya jika kalian ingin bermesraan seperti tadi." ucap Eliza melangkah cepat menuju kamarnya. Evanz menatap lesu punggung Eliza yang semakin lama menjauh, ingin rasanya ia berlari mengejar dan memeluk tubuh Eliza sembari mengucapkan kata maaf. Tapi, untuk apa ia bertindak demikian? Eliza sudah memiliki Derri di dalam hatinya. Dan ia juga sudah memiliki Elinna yang mungkin hanya tinggal beberapa persen saja di hatinya. Dan sisanya sudah di renggut semua oleh Eliza. Evanz juga tak habis pikir, kenapa bisa ia sampai kelepasan begini mencium Elinna yang tadinya ia pikir Eliza. Bayangan Eliza selalu memenuhi pikirannya hingga pandangannya pun seolah-olah hanya melihat Eliza seorang saja. Makanya ketika Elinna menggoda dirinya yang saat itu Evanz pikir Eliza langsung terpancing. Untung saja semuanya bisa dihentikan sebelum terjadi hal yang tidak-tidak. Namun sayangnya kejadian ini justru kepergok oleh Eliza sendiri. sial!! *** Seperti dugaan Evanz sebelumnya, bahwa Eliza pasti akan bersikap cuek kembali padanya setelah kejadian mempergokinya kemarin yang tengah b******u mesra dengan Elinna. Hmm, padahal beberapa waktu ini mereka sudah hampir dekat. Eliza sudah tak secuek dulu, tapi karena satu kesalahan saja yang Evanz buat berdampak buruk pada kedekatan mereka. "Eliza?" Evanz memberanikan diri memanggil nama gadis yang di cintainya. Alias calon adik iparnya sendiri. Eliza menoleh dan cukup kaget mendapati bahwa ternyata Evanz lah yang memanggil namanya. "Ya?" Evanz melirik ke segala arah, memastikan terlebih dulu bahwa keadaan aman sebelum ia bicara dengan Eliza. "Kamu marah sama aku?" tanyanya. "Hmm... marah?" ulang Eliza dengan kedua mata mengerjap bingung. Lalu ia tersenyum geli, "kenapa aku harus marah sama Abang Evanz?" "Mengenai tadi malam—" Evanz menggantungkan kalimatnya. Merasa bingung bagaimana ingin mengatakannya pada Eliza. Mendengar kata tadi malam Eliza langsung mengerti kemana arah pembicaraan Evanz. "Oh, mengenai itu aku sama sekali nggak marah. Bahkan aku berusaha mengerti, bahwa mungkin saja hal seperti itu sudah biasa bagi sepasang kekasih yang di mabuk asmara." urai Eliza berusaha tersenyum. "Lagian, kenapa aku harus marah Bang?" sambungnya pura-pura bingung. "Justru aku senang kalau hubungan Kakakku dan Abang baik-baik aja dan malah bertambah mesra. Hanya saja satu yang sangat disayangkan, lain kali cari tempat lain kalau kalian berdua mau bermesraan." kekehnya seraya mengedipkan sebelah matanya pada Evanz yang terperanjat kaget ditempatnya. "Hmm, oke kalau gitu aku pamit mau pergi siaran ya—" "Biar aku antar," sela Evanz memberanikan diri menawarkan tumpangan untuk Eliza yang tercengang kaget. "Kalau boleh," sambung Evanz lirih. Eliza masih diam dengan raut wajah yang masih menunjukkan terkejutnya. Seolah merasa niat baiknya akan ditolak Eliza, Evanz mengangguk samar. "Baiklah, tidak apa-apa jika kamu tidak mengizinkannya. Aku bisa mengerti." ucap Evanz sendu. "T-tapi aku mau." kata Eliza gugup dan terbata. Mendengar itu, kini gantian Evanz yang tercengang kaget. "Coba ulangi," pintanya yang ingin memastikan bahwa kedua telinganya tak salah mendengar. Eliza menggigit bibirnya, menahan segala perasaan gugupnya. Tadi saja ia terbata mengatakannya, eh ini malah di suruh ngulang oleh Evanz. "Eliza, bisa kamu ulangi ucapan kamu yang tadi?" ucap Evanz gemas dan tak sabar. Eliza menghela nafas sejenak sebelum menganggukkan kepalanya. "Aku mau, Bang." "Mau apa?" goda Evanz tanpa sadar. Eliza mencebikkan bibirnya kesal, ini calon abang iparnya kok jadi lola gini. batin Eliza yang mengira bahwa Evanz lambat berpikir. "Mau Abang antarlah, memangnya mau apa lagi?" tukas Eliza yang Evanz artikan sebagai balasan dari godaannya. "Ah, iya juga ya." sahut Evanz nyengir. "Yaudah kalau gitu, yuk!" "Eh!" "Upss, maaf." ucap Evanz merasa malu karena sudah kelepasan diri atau lancang memegang tangan Eliza. Ya ampun! Kenapa pakai sadar segala sih kalau aku pegang tangannya. batin Evanz seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali. Poor Evanz!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD