Evanz menggeram kesal saat niat hatinya yang tulus ingin mengantarkan Eliza pergi siaran malam, eh kekasihnya malah ingin ikut juga. Alhasil jadilah mereka pergi bertiga. Padahal kan Evanz sebenarnya ingin berduaan saja dengan Eliza.
Hmm, kampret!
Parahnya, Eliza malah mengalah lagi duduk di kursi belakang saat Elinna ngotot ingin duduk di kursi depan bersamanya. Haduh! Ya iyalah, Elinna kan kekasihmu Vanz. Jelas saja dia bersikeras ingin duduk di kursi depan.
Kecuali kalau yang jadi kekasihmu itu Eliza, nah mungkin dia juga akan ngotot minta duduk di kursi depan sama seperti yang Elinna lakukan.
"Sayang?" panggil Elinna seraya menyenderkan kepalanya di pundak kiri Evanz yang saat ini tengah fokus menyetir.
"Hmm?" sahut Evanz hanya berupa deheman.
"Kenapa kamu pakai repot-repot segala sih nganterin Liza?" tanya Elinna dengan nada cemburu.
"Repot?" ulang Evanz seakan tak suka mendengar kata itu. "Aku sama sekali gak repot kok. Lagian apa salahnya sih nganterin adek kamu, kan nantinya juga bakalan jadi adek aku juga."
"Hmm iya sih, tapi tetap aja seharusnya kamu gak perlu kayak gini. Eliza kan ada Derri yang biasa nganterin-ah iya, Derri kemana dek? Kok gak datang satu harian ini?" tanya Elinna menoleh ke belakang melihat Eliza yang tersentak kaget."
"Yeee dia melamun," cibir Elinna.
Eliza tersenyum kikuk, "maaf Kak. Aku gak konsen, Kakak tanya apa tadi?"
"Tanya pacar kamu kok gak kelihatan satu harian ini?"
"Pacar aku?" ulang Eliza terlihat linglung.
"Lah, kok amnesia gitu? Derri pacar kamu apa bukannya Dek?"
"Oh, Derri...." Eliza tampak berpikir. "Ah iya, dia lagi sibuk."
"Sibuk? Sampai gak ada waktu sedikit pun satu harian ini buat kamu gitu Dek?"
"Ya namanya juga lagi sibuk Kak."
"Tapi kan harus tetap perhatiin kamu juga. Ihh, gak romantis banget si Derri mah. Contoh kayak cowok aku dong, selalu nyempetin waktu buat aku tiap hari. Iya kan sayang?" Elinna mencolek dagu Evanz yang terpaksa mengangguk seraya tersenyum.
"Lagian dia sibuk apa sih malam hari gini? Lembur kerja?"
"Mungkin," sahut Eliza cuek.
"Loh, kok mungkin sih? Apa kalian gak saling komunikasi ngasih kabar gitu?"
"Ya ada, dia cuma bilang sibuk gitu aja."
"Oalah, cuma gitu doang." cibir Elinna. "Sama juga gak jelas dong kalau gitu Dek. Entah sibuk apa, takutnya nanti dia cuma bohongin kamu aja dek dengan alasan sibuk."
"Hussss! Gak boleh ngomong gitulah," protes Evanz tak suka. "Jangan berburuk sangka pada orang lain, gak baik."
"Hmm, iya iya maaf." ucap Elinna cemberut. "Yaudah deh aku gak akan tanya-tanya lagi." sambungnya seraya kembali merebahkan kepalanya di bahu Evanz.
Sementara Eliza yang tak ingin melihat pemandangan menyakitkan di depannya pun lebih memilih melihat ke arah luar jendela.
****
Diam-diam ternyata Evanz adalah penggemar rahasia Eliza. Selama ini setiap kali Eliza siaran entah itu pagi atau malam, rupanya Evanz tidak pernah absen untuk mendengarkan suara indah nan merdu milik Eliza selama dua jam.
Bahkan sesibuk-sibuknya Evanz tetap menyempatkan diri untuk mendengarkan radio kala Eliza yang siaran. Hanya mendengarkan, karena dia tidak berani untuk menelepon ataupun sms seperti yang dilakukan lainnya.
Tapi malam ini, entah kenapa Evanz ingin menelpon dan meminta satu lagu diputarkan untuk dirinya.
"Hallo...." terdengar suara ramah Eliza menyapa si penelpon. "80,0 fm. Dengan Mbak Liz disini, mau request lagu apa Mbak atau Mas nya?" sambung Eliza mencoba mengajak interaksi kepada si penelpon yang masih betah diam.
Evanz tersenyum dengan kedua mata terpejam meresapi indahnya suara Eliza di seberapa telepon.
"Hallo, dengan siapa dan dimana?" Evanz tetap diam.
"Mau request apa Mbak atau Masnya?" Evanz juga masih diam.
"Hallo....?"
Tut.... Tut....
Eliza yang kesal dan merasa di permainkan pun menutup panggilan telepon sepihak. Sementara Evanz terkekeh sendiri dengan tingkahnya. Sungguh, ia tadinya tidak bermaksud untuk mengerjai Eliza sampai kesal begitu.
Ia tadinya memang ingin menelpon dan meminta diputarkan sebuah lagu. Tapi lagi-lagi ia tidak bisa berkutik begitu mendengar suara Eliza. Oh sial, apalagi menatapnya secara langsung.
Syukurlah ia bisa membujuk Elinna agar cepat pulang sampai ke rumah agar dapat mendengar suara indah Eliza. Kalau tidak, ya sudah pasti Elinna marah padanya.
"Fokus pada kekasihmu saja. Jangan wanita lain!" seperti itulah kira-kira yang Elinna katakan sebagai perintah untuk Evanz yang langsung meringis.
"Tapi kan Eliza adik kamu, Yang? Ya gak apa-apa dong." sahut Evanz kala itu menolak pemikiran Elinna yang sudah kelewatan banyak membatasi dirinya ini itu.
"Mau adikku atau bukan, ya tetap aja dia wanita lain buat kamu sayang. Udah deh nurut aja, jangan buat aku kesal." dan Evanz pun hanya bisa pasrah mematuhi keinginan Elinna.
Alhasil makanya setiap Evanz lagi bersama Elinna, ia tidak bisa bebas melakukan hal yang dia inginkan.
Bagi Evanz, Elinna lama-lama semakin egois. Seenaknya saja sendiri tanpa mau memikirkan keinginan dan perasaannya.
Tentu hal ini pun membuat Evanz mempertimbangkan kan kembali hubungannya dengan Elinna. Jika saat masih berpacaran saja Elinna sudah kelewatan mengekang dirinya. Apalagi jika sudah menikah nanti?
Bisa-bisa Evanz kalau mau kemana-mana harus terus sama dia lagi.
Haduh, kacau yang ada kalau gitu.
"Enggak!" gumam Evanz menggeleng kuat. "Aku gak mau kayak gitu. Bisa hancur secara perlahan aku kalau kayak gitu."
Evanz mencoba memikirkan dan membayangkan dirinya dengan Eliza. Parahnya membayangkan mereka berdua menikah, dan beberapa bulan setelahnya mendengar kabar baik jika Eliza hamil.
Lalu setelah beberapa bulannya perut Eliza mulai terlihat buncit. Evanz tersenyum saat membayangkan dirinya yang tengah mengelus lembut perut buncit Eliza dengan penuh sayang dan juga mengecup perut buncit Eliza beberapa kali.
Kedua sudut bibir Evanz tertarik membentuk sebuah senyuman. Dan sepasang matanya yang tak berhenti memancarkan binar kebahagiaan.
"Ya Tuhan! Aku tergila-gila pada gadis itu. Gadis yang seharusnya tak boleh aku cintai." gumam Evanz bermonolog.
"Aku yang terlalu egois, ingin memiliki keduanya." sambungnya lagi masih bermonolog. Kemudian kepalanya menggeleng kuat. "Gak, aku gak boleh egois kayak gini. Aku harus bisa tegas memilih salah satu diantara mereka."
"Aku mencintai Eliza, jadi aku harus memutuskan hubunganku dengan Elinna secepatnya." putus Evanz dengan penuh semangat, namun kembali meredup kala terbayang wajah Elinna yang pastinya sedih dengan perasaan hancur.
Dan juga, belum tentu Eliza mau menjadi kekasihnya jika ia putus dengan Elinna. Eliza itu kan orangnya gak tegaan, apalagi ini kakaknya yang bersedih dan itu disebabkan oleh dirinya sendiri.
Tidak, tidak. Kalau seperti itu jadinya yang ada Evanz malah semakin jauh dari Eliza. Tapi, Evanz juga sudah mulai gak tahan dengan sikap Elinna yang semakin hari semakin seenaknya.
Evanz mulai merasa gak sanggup mempertahankan hubungannya dengan Elinna.
Ya Tuhan! Kenapa cinta serumit ini sih?
Andai saja dulu hatinya bisa bersabar dan tidak begitu murahan hingga mudah jatuh cinta pada Elinna. Pasti saat ini dia masih jomblo dan bebas menyatakan cinta pada gadis pujaan hatinya.
Ya, nasib!