Elara, bocah cantik nan imut itu cemberut tak suka dengan Derri. Namun ia langsung semangat kala melihat Evanz.
Evanz yang memang suka dengan anak kecil pun tanpa ragu menggendong tubuh Elara yang mungil. Tubuh Elara tak terlihat seperti usianya, sehingga tak banyak orang yang percaya kalau Elara berumur delapan tahun. Orang-orang malah mengira umur Elara baru menginjak usia lima tahun.
"Om Evanz, ini hari libur kan?" tanya Elara begitu menggemaskan di mata Evanz.
Evanz mengangguk, "terus kenapa kalau ini hari libur?" goda Evanz balik bertanya.
Elara mendekatkan bibirnya ke telinga Evanz, membisikkan sesuatu disana hingga membuat yang lainnya merasa penasaran.
"Hayoo, bisik-bisik apa itu?" tanya Elinna yang paling kepo diantara yang lainnya.
"Tante kepo!" ejek Elara memeletkan lidahnya pada Elinna yang terlihat kesal.
"Elara! Gak boleh gitu sayang," tegur Elyaz pada sang anak. Meskipun ia tidak suka pada Elinna tetapi bukan berarti putrinya bisa bersikap tak sopan begitu. Sebisa mungkin Elyaz mengajarkan hal-hal yang baik pada putri semata wayangnya ini.
Elara yang merasa kena marah mamanya pun lantas mengadu pada Eliza. Seakan mengerti Evanz pun menurunkan Elara dalam gendongannya dan langsung disambut Eliza yang kini gantian menggendongnya.
"Dia meminta untuk jalan-jalan," ucap Evanz hanya menatap pada Eliza yang tertegun.
"Jalan-jalan?" ulang Eliza menatap bergantian pada Evanz dan Elara yang menganggukkan kepalanya.
"Iya, tapi jalan-jalannya sama Om Evanz dan Tante Eliza aja." ucapan polos Elara mengundang pekikan kaget semua orang kecuali Elyaz yang biasa saja mendengarnya. Justru malah tersenyum senang mendengarnya.
Bahkan anak kecil saja tahu siapa yang cocok menjadi pasangannya. batin Elyaz tersenyum puas.
"K-kenapa hanya Tante, dan Om Evanz aja sayang?" tanya Eliza terbata.
"Karena kalian berdua itu cocok, iya kan Mama?" Elara menatap Elyaz yang gelagapan.
Semua pasang mata tertuju pada Elyaz yang terkejut, perlahan Elyaz pun menganggukkan kepalanya.
"Elara dan Mama setuju kalau Tante Eliza sama Om Evanz bersama-sama. Iya kan Mama?" lagi Elara menatap Elyaz, meminta persetujuan darinya.
Astaga, anak itu! batin Elyaz menggerutu. Bagaimana bisa anaknya begitu hebat memojokkan dirinya hingga terlihat bersalah di mata yang lainnya.
Dan untuk yang satu ini Elyaz tak berani menganggukkan kepalanya. Namun Elara kembali mengulangi ucapannya hingga mau tak mau membuat Elyaz pada akhirnya menganggukkan kepala.
Elinna yang sudah terlampau kesal mendengar segala celotehan menyebalkan keponakannya ini pun akhirnya meledak juga. Ia menarik kesal tangan Elyaz sedikit menjauh dari mereka.
"Apa-apaan ini?!" sembur Elinna kesal. "Kakak sengaja kan menyuruh Elara bicara seperti itu untuk mempermalukan aku dan Derri?"
"Eh, Elinna kamu jangan asal nuduh dong. Aku gak pernah nyuruh anak aku buat ngomong kayak gitu ya. Demi Tuhan, aku tidak pernah mengajari dia bicara seperti itu." elak Elyaz tak terima.
"Halahh, bulshit! Aku tahu watak Kakak kayak apa. Jadi aku gak percaya sama mulut Kakak."
"Terserah kamu mau percaya apa enggak, yang pasti aku sudah mengatakan yang sejujurnya sama kamu." tutup Elyaz ingin menyudahi percakapannya ini dengan sang adik.
Namun sepertinya Elinna belum ingin menyudahinya, "aku gak terima ya Kak!" tekannya menjerit kesal. "Arrgghh!"
"Dasar wanita gila!" umpat Elyaz melangkah meninggalkan Elinna yang masih meraung-raung kesal.
"Sama anak kecil aja baper, apalagi ini keponakannya yang asal bicara udah mencak-mencak gitu. Dasar Tante sinting!" sambung Elyaz masih mengomel.
Setibanya di hadapan keluarganya yang lain Elyaz berhenti mengomel dan merubah ekspresinya yang cemberut kesal menjadi tersenyum.
"Ara, ayo kita pulang sayang." bujuk Elyaz pada sang anak yang menolak.
"Ara mau jalan-jalan sama Tante El dan Om Evanz, Ma."
"Enggak sayang!"
"Mbak!" tegur Eliza yang juga ikut terkejut sama seperti yang lainnya saat mendengar suara bentakan Elyaz.
"Tuh kan, dia jadi nangis." ucap Eliza merasa sebal dengan kakaknya yang paling tua ini. "Mbak sih, kenapa pakai bentak-bentak Ara segala coba. Kan jadi nangis nih anaknya."
Eliza mencoba menenangkan Elara yang menangis saking terkejutnya di bentak oleh sang mama.
"Gimana Mbak gak bentak coba, Ara sih mulutnya minta dicabe." Elyaz melotot pada putrinya yang bertambah kencang nangisnya.
"Mbak, ihh!!" Eliza balas melototi Elyaz yang tak peduli dan berusaha meraih putrinya yang di gendong Eliza.
"Gak mau, Mama jahat!" Elara menggeleng, menolak ajakan Elyaz yang memintanya untuk pulang.
Elyaz merasa kalah dan menyerah, pada akhirnya membiarkan kemauan sang anak yang begitu manja pada tante Elizanya.
Elyaz harus bisa menjaga sikapnya. Apalagi disini ada Evanz dan Derri, hampir saja Elyaz melupakan dua pria tampan bersaudara itu.
***
"Yeayyy! Akhirnya Ara bisa jalan-jalan sama Tante Eliza dan Om Evanz." seruan Ara menjerit kesenangan.
"Eitss, gak cuma sama Tante Eliza dan Om Evanz aja loh." kata Eliza mencolek hidung mancung dan kecil milik Ara. "Ada Tante Elinna dan Om Derri juga," Ara mengikuti arah pandangan Eliza yang tengah melihat ke arah kedua orang tersebut.
Elinna dan Derri kompak hanya diam dengan wajah masam, mereka tak berkomentar sedikitpun dan terlihat sekali kekesalan mereka pada si kecil Ara yang imut dan menggemaskan. Dan lebih menyebalkannya lagi adalah ketika Ara tak mau jika Eliza dan Evanz berjauhan.
Jadilah Evanz dan Eliza selalu berdampingan layaknya sepasang kekasih. Tidak, bahkan seperti sepasang suami istri jika orang lain lihat. Sebab ada Ara di tengah mereka, dan masing-masing sebelah tangan mereka dipegang erat oleh Ara.
"Ara suka jalan-jalan kemari?" tanya Evanz mencubit gemas pipi Ara.
"Suka Om."
"Waah, syukurlah jika Ara suka."
"Tapi, masih ada yang kurang Om."
"Apa itu?" tanya Evanz terkejut.
Ara melambaikan tangannya meminta Evanz untuk berjongkok disampingnya. Eliza yang berdiri disisi Ara terlihat penasaran akan apa yang tengah dibisikkan keponakannya itu pada Evanz.
Sementara Derri dan Elinna sudah tak lagi ambil pusing pada segala tingkah juga celotehan Ara. Keduanya merasa bosan karena tidak di gubris sedikitpun oleh Evanz maupun Eliza yang justru sibuk pada si kecil Ara.
Jadi daripada makin kesal Derri, dan Elinna memutuskan pergi dari sana dan memilih ke tempat lain untuk bersenang-senang.
Kepergian Elinna dan Derri sama sekali belum mereka sadari, dan perasaan Eliza mulai gelisah saat melihat tatapan intens Evanz.
"Apa yang Ara bisikan?" tanya Eliza pada Evanz. Sungguh, ia tak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
"Ara minta foto bersama," sahut Evanz tersenyum kikuk.
"Foto bersama maksudnya Ara, aku dan kamu gitu?"
Evanz mengangguk, "iya foto bertiga."
Mendadak tenggorokan Eliza terasa kering sehingga membuat ia hanya mampu terdiam tak lagi menanggapi ucapan Evanz barusan.
Foto bertiga? Ah, yang benar saja!
Ishhh, Ara! Ada-ada aja sih permintaan keponakanku yang satu ini. Ya Tuhan! Apa jadinya jika kami bertiga foto bersama?
Aduh, kak Elyaz, bagaimana ini? Tolong beri pencerahan dan pengertian untuk anakmu yang sayangnya kelewat lucu dan menggemaskan ini.
Ara menggoyangkan masing-masing tangan Eliza dan Evanz yang masih di genggamnya. "Om, Tante, kok diam sih? Ayo kita foto bersama." rengeknya memasang raut wajah memelas membuat orang yang melihatnya pun tak sanggup menolak.
"Baiklah...." sahut Eliza dan Evanz kompak dan terlihat pasrah.
Pasrah menuruti segala keinginan si kecil Ara.
Yeayyy!
****
Akan aku update cepat kalau lovenya nambah lumayan banyak.
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu update'an cerita ini. ?❤️