14.

1138 Words
Sepasang lawan jenis itu tampak sangat menikmati waktu mereka saat ini, mengobrol banyak tentang segala hal yang diselingi canda dan tawa. Elinna tak pernah menyangka bahwa Derri ternyata adalah sosok pria yang menyenangkan. Ia merasa tenang dan nyaman bersama Derri walau hanya dalam waktu kurang lebih dua jam ini. "Aku gak tau kalau sebenarnya kamu ini ternyata orangnya asyik." ucap Elinna memuji. "Selain baik dan tampan, kamu sangat menyenangkan dan humoris." Derri tersenyum, "Kak Elinna bisa aja. Kan kami berdua sama sih, sama-sama menyenangkan semua orang. Apalagi kepada pasangan, tentu yang paling diutamakan." "Kami berdua? Siapa?" "Iya kami berdua, aku dan Evanz." "Haduh!" Elinna mengibaskan sebelah tangannya, "kamu sama Evanz jauh bedalah. Duh, jauh banget deh." "Masa sih?" pekik Derri meragu. "Sejauh yang aku tahu, Evanz itu orangnya asyik dan menyenangkan. Kami udah saling paham dengan watak masing-masing." "Hmm, kok aku gak percaya ya? Soalnya sih kalau sama aku Evanz itu dingin, dan terkesan cuek banget. Kadang aku ini ngerasa kayak bukan pacarnya gitu." ucap Elinna tanpa sadar curhat. "Awal-awal sih iya aku akui sikap Evanz manis. Tapi, sekarang enggak, Evanz udah berubah total sikapnya. Makanya aku lama-lama jadi bosan sama dia." "Waduh! Kok gitu ya Kak?" Elinna mengendikkan kedua bahunya, "entahlah. Aku juga gak tahu apa yang membuat sikapnya jadi berubah gini." "Apa mungkin ada wanita lain, Kak?" tuduh Derri asal. "Maksudnya, selingkuh gitu?" "Yupss!" Derri mengangguk. "Bisa jadi kan?" "Masa iya sih, Evanz selingkuh...?" Elinna terlihat meragu dengan tuduhan Derri. Tapi, ada sedikit kemungkinan juga sih kalau Evanz selingkuh. "Coba Kak pikir aja. Kenapa sikap Evanz bisa berubah total sekarang sama Kakak? Ada dua kemungkinan. Yang pertama karena udah gak ada perasaan cinta lagi sama Kakak, dan yang kedua karena ada wanita lain. Bukankah keduanya berkaitan?" "Karena ada wanita lain makanya Evanz jadi hilang perasaan cintanya ke aku, gitu?" "Maaf banget Kak, aku jawab iya. Karena udah banyak banget kejadian yang kayak gini. Sebenarnya ya aku juga gak mau berpikiran buruk sama sepupu aku sendiri. Tapi, ya aku juga gak mau kalau Kak Elinna semakin merasa terluka gini dibuat Evanz. Dan aku juga takut kalau ternyata dugaanku ini benar." "Astaga!" pekik Elinna syok. "Hmm, semoga aja gak benar ya Kak. Aku berharapnya sih semoga dugaanku ini gak benar." Sepasang mata Elinna tampak berkaca-kaca. "Tapi gimana kalau dugaan kamu ini ternyata benar, Der?" suara Elinna terlihat bergetar bersama isakan yang lolos. "Ya kalau misalnya dugaan aku benar, maka Kak Elinna harus putusin Evanz." "Aku yang putusin?" Derri mengangguk. "Memangnya Kakak mau nunggu sampai diputusin Evanz walaupun setelah Kak tahu dugaan aku ini benar?" "Jadi aku harus segera putusin Evanz ya?" "Ya kalau memang itu keputusan yang terbaik. Kenapa enggak? Bukankah Kakak juga ingin bahagia?" Elinna menganggukkan kepalanya namun sesaat kemudian menggelengkan kepalanya. "Aku ingin bahagia, dan aku juga mencintai Evanz. Sepertinya aku gak akan bisa putusin ataupun diputusin dia." "Lalu bagaimana?" "Aku berharap semoga dugaan kamu gak benar. Karena aku sangat mencintai Evanz. Aku yakin dia termasuk pria yang setia meskipun sikapnya cuek dan dingin padaku." "Hmm, baiklah Kak. Semoga aja ya, aminn." "Yaudah yuk sekarang kita balik kesana nemuin mereka. Takutnya mereka nyariin kita berdua lagi yang pergi tanpa pamit ke mereka." "Kak yakin untuk balik kesana? Gak lebih bagusan kita langsung pulang aja?" "Kenapa gitu?" "Kita pergi dari sana udah hampir dua jam'an lebih loh. Kak yakin mereka masih disana?" "Uhmm...." Elinna tampak berpikir sebelum menjawab. "Yaudah deh kita langsung pulang aja." "Oke." Keduanya pun melangkah pergi dari sana, dan begitu lembutnya perlakuan Derri pada Elinna yang merasa tersanjung. "Perhatian dan kelembutan tentu harus diterima untuk wanita secantik Kak Elinna." Elinna tersipu malu, "jadi maksudmu wanita lainnya tidak berhak mendapatkan perhatian serta kelembutan dari kalian para pria karena tidak cantik, begitu?" "Eh, aku gak ada bilang gitu ya. Jadi aku gak salah," gurau Derri pura-pura panik. "Lagian apa aku salah ngomong? Kakak kan memang cantik." Elinna memukul pelan bahu Derri, "apa sih?" ucapnya masih tersipu malu. "Duh, makin cantik dan manis banget deh kalau senyumnya kayak gini." Derri pun semakin gencar memuji Elinna. "Gombal banget!" "Enggak ya, aku ngomong jujur loh Kak." "Hmm iyain aja deh." ucap Elinna tak ingin berdebat, sementara Derri tersenyum geli mendengarnya. *** Eliza dan Evanz yang sudah menyadari perginya kedua orang itu pun tak langsung memutuskan pulang. Sebab, Elara masih ingin bermain. Jadilah mereka masih menetap lebih lama disana sampai Elara merasa puas bermain. Setelah puas Elara kelelahan dan berakhir ketiduran di dalam mobil. Eliza tersenyum memandangi wajah damai Elara yang tidur dengan posisi kepala di pahanya. Evanz yang fokus menyetir pun sesekali menyempatkan dirinya melirik Eliza dari kaca spion. Sayang sekali karena Elara yang tertidur membuat Eliza duduk di kursi belakang. Hmm, padahal Evanz sudah berharap Eliza duduk di sampingnya dan mengobroli banyak hal. Tapi meskipun begitu sama sekali tak mengurangi rona bahagia di wajah Evanz. Harus ia akui bahwa sosok Eliza sangatlah keibuan. Wanita itu tak berhenti tersenyum dan sangat sabar dalam menghadapi sikap Ara, tak sedikitpun Eliza membentak ataupun marah pada segala keinginan dan celotehan Ara. Dan Evanz salut padanya! Salut pada kecantikan dan kembutan hati gadis itu. Tiga puluh menit kemudian mereka telah sampai di rumah Eliza. Evanz keluar dari mobil kemudian beralih ke sisi mobil bagian belakang, membantu Eliza dan Ara keluar. Eliza menenangkan Ara yang terbangun namun dengan mata yang masih terlihat sangat mengantuk. "Bobok lagi sayang," titah Eliza yang diangguki Ara dengan lemah efek mengantuk. Eliza dan Evanz tersenyum melihat tingkah menggemaskan Ara. Keduanya pun melangkah pelan bersama, namun langkah keduanya terhenti begitu melihat siapa orang yang berdiri di depan pintu yang terbuka. Elinna menatap tajam kekasih dan juga adik kandungnya itu, tak lama Derri pun ikut menyusul Elinna dan cukup terkejut melihat Eliza dan Evanz. "Kalian terlihat sekali sangat menikmati waktu kebersamaan kalian." sindir Elinna telak, "terlihat seperti keluarga kecil berbahagia." sambungnya seraya menunjuk ke arah Ara yang tidur dalam gendongan Eliza. "Kenapa kalian berdua baru pulang?" "Kakak, kenapa bisa bersama Derri disini?" bukannya menjawab pertanyaan sang kakak, Eliza justru balik bertanya. Sebenarnya Eliza merasa sedikit curiga dengan kehadiran Derri di rumahnya. "Kakak cuma berduaan di rumah sama Derri?" tanya Eliza lagi yang sesungguhnya sama sekali tak merasa cemburu. "Iya, kenapa memangnya? Kamu cemburu?" sembur Elinna merasa puas dan bangga karena telah berhasil membuat Eliza terbakar oleh cemburu, sama seperti dirinya yang juga terbakar oleh cemburu. Satu sama. Seruan batin Elinna tersenyum senang. "Aku juga berhak cemburu dong. Kamu sama Evanz juga berduaan dari tadi." tukas Elinna. "Siapa bilang kami hanya berdua saja?" sahut Evanz tak terima. "Kamu gak lihat apa ada Elara? Dan kamu masih bilang kami berduaan?" "Halahh! Kalian berdua jangan mengelak lah, sampai menjadikan Elara sebagai alasan untuk menutupi perselingkuhan kalian." Eliza terbelalak kaget mendengarnya. Selingkuh? Jadi, kakaknya punya pemikiran buruk seperti itu padanya? Astaga, ya Tuhan! Eliza benar-benar tak menyangka. Bisa-bisanya kakaknya sendiri menuduh dirinya berselingkuh dengan calon kakak iparnya. Keterlaluan!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD