Nada duduk bersila di lantai. Mata terpejam rapat.
Lalu ia memraktikkan pengetahuan yang pernah ia baca suatu kali di internet tentang teknik olah pernapasan untuk relaksasi. Tidak bernapas dengan cara biasa, yaitu bernapas alami tanpa dikontrol, kita menggunakan apa yang disebut teknik empat-tujuh-empat: napas ditarik perlahan selama empat detik, ditahan tujuh detik, lalu dikeluarkan lewat mulut selama empat detik.
Ia tak selalu menggunakannya, beberapa kali saja saat perlu. Misal saat kena insomnia, ketiga nervous menjelang ujian, atau saat pikiran keruh dan sepertinya dikejar atau mengejar sesuatu yang jauh lebih cepat darinya. Dan teknik pernapasan itu selalu bisa membuatnya rileks. Pada penerapan yang lebih dalam, konon seperti itu juga caranya para pendekar pencak silat melatih tenaga dalam.
Tak ada petunjuk jelas dari Dayu tadi mengenai bagaimana cara mengenali kekuatan Ingsun dalam diri, ia pakai metoda itu saja. Meditasi toh pasti memerlukan keadaan fisik dan mental yang rileks, sehingga fokus ke Satu Titik Tunggal bisa tercapai dengan mudah. Yang penting mulai saja dulu, terserah hasilnya bagaimana nanti. Andai tak ada hal aneh yang terjadi pun, bisa meditasi sejenak pastinya akan cukup bermanfaat bagi tubuh esok pagi.
Ia mulai melupakan dan mengabaikan hal-hal di sekelilingnya. Hawa AC, suara-suara TV di ruang tengah, dan juga PR yang masih bersisa lima nomor. Perlahan semuanya menghilang saat ia mulai bernapas pelan. Satu kali, dua kali, tiga kali, dan seperti ada semacam suplemen makanan ajaib yang mengendurkan seluruh otot di sekujur tubuhnya.
Detik itu, saat ia sebenarnya belum bersiap sama sekali, ia merasakannya!
Benar kata Dayu, ada semacam letupan-letupan elektrik muncul dari titik tempat jantung berada—tepat di pusat d**a. Nada awalnya cemas ada gangguan jantung yang mendadak menyerang, lalu ia terkena stroke atau gangguan kardiovaskular pada usia remaja. Namun tidak. Getaran itu tidak menyakitkan. Bahkan justru seperti menyelimuti organ tubuh paling vital itu dengan rasa hangat seperti berada di depan api unggun pada jarak yang tepat.
Dan ia kaget ketika perintah isengnya pada energi listrik itu untuk meluncur ke arah telapak tangan kanan ternyata dipatuhi. Berikutnya lalu lengan dan telapak tangan kiri, kedua tungkai, dan berakhir di kepala.
Badannya sedikit bergetar seperti ponsel pada mode getar yang menerima pesan atau panggilan telepon. Matanya spontan membuka oleh kemunculan sesuatu yang membuatnya terpana.
Tepatnya bukan sesuatu, tentu saja, karena tak hanya berjumlah satu biji.
Sebagai indigo, sudah sejak lama ia tahu dan melihat mereka semua di sekeliling rumah. Ada pula yang berdiam di dalam—pada sudut WC atau di atas lemari kamar ini. Namun biasanya ia melihat mereka secara terpisah.
Kali ini mereka semua ada di sekitarnya, memutarinya seperti mengepung, tapi dalam posisi berlutut dan menundukkan kepala. Tak ubahnya mirip tawanan perang, atau pengikut setia, atau musuh-musuh dalam peperangan yang telah menyatakan diri menyerah tanpa syarat.
Jantung Nada berdegupan kencang bukan karena keder, melainkan karena pemandangan itu sangat tak biasa. Matanya beredar hingga lehernya nyaris berputar 360 derajat, sambil tetap belum menghentikan olah pernapasannya.
Apa-apaan ini? Apakah mereka jadi tunduk patuh padanya begitu ia mengalirkan kekuatan Ingsun itu ke seluruh penjuru tubuhnya?
Lima sosok arwah, dua pocong, tiga kuntilanak, dan satu genderuwo, semua memasang sikap yang sama. Dan diam membeku seperti patung.
Ia menunggu, barangkali ada hal lain yang akan mereka lakukan. Tapi tidak. Hingga hampir 120 detik, mereka semua tetap diam. Seperti tak berani melakukan apa pun sebelum ia beri perintah.
Semua berubah justru oleh hal yang tak terduga, yaitu ketukan di pintu kamar.
“Nad, Nad! Kamu lagi apa?”
Nada buru-buru bangkit dan membuka pintu. Mama muncul sambil memakai jaket dan memakai helm.
“Kunci motormu mana?”
Nada membalik ke meja belajar untuk memungut benda mungil yang ia beri gantungan kunci bertuliskan “BLACKPINK” itu.
“Mau ke mana, Ma?”
“MikroMart depan, beli roti. Kamu mau nitip nggak?”
“Roti juga, tapi yang beneran.”
Mama mengangguk. “Oke. Eh, Nad, cariin charger HP Mama dong!”
Nada berkacak pinggang dengan alis berkerut. “Pasti lupa lagi naruhnya di mana.”
Mama tertawa. “Iya.”
Nada pun berkeliaran ke seluruh penjuru rumah mencari charger ponsel begitu Mama meluncur pergi menggunakan sepeda motor. Meski masih jauh dari kelayakan untuk disebut tua dan pikun, Mama memang asli pelupa. Barang-barang sepele seperti kunci mobil, charger, power bank, flashdisk, dan bahkan ponsel, sering mendadak lenyap dari genggaman.
Kadang tak cukup waktu satu-dua jam untuk mencarinya, hingga mereka lantas menyerah. Esok harinya, atau besok lusa, kadang barang yang dicari baru ditemukan secara tak sengaja di tempat-tempat yang ajaib. Charger ponsel di kotak peralatan bengkel di garasi, flashdisk terselip di tumpukan baju dalam di lemari, dan satu kali ponsel pernah duduk manis di wadah sikat gigi di kamar mandi!
Kali ini entah kenapa langkahnya tertapak mantap—seperti ada yang suruh, dan bukan sekadar atas kehendak sendiri menelusuri ruang satu demi satu. Ia melintasi ruang tengah, lalu dapur, melintasi pintu belakang. Agak tak mengerti, tapi ia turutkan saja “perintah” itu. Bukankah kata Dayu kemarin adalah soal ikuti saja alurnya? Kini ia sedang mengikuti alur itu, yang membawanya membelok ke kanan menuju sudut tempat mesin cuci berada.
Tangannya bergerak memencet saklar lampu. Kamar cucian terang benderang. Ember-ember besar bertumpuk di sisi mesin cuci. Dan baru ia menyadari betapa jarang ia ada di sini, karena memang tak ada urgensi untuk itu. Pekerjaan cuci baju sudah di-handle sepenuhnya oleh Bu Ranti tiap pagi, sebelum membuat makan siang untuk Mama dan dirinya. Dan tiap kali Bu Ranti mudik ke Magetan menjelang Lebaran, Mama lebih suka mempergunakan laundry daripada mencuci sendiri.
Maka agak aneh juga ia dengan enteng beringsut menepi ke sudut tempat mesin cuci berada seakan ia akrab betul dengan tempat itu. Di pojok, antara mesin dan dinding, terdapat mangkuk plastik kecil tempat Bu Ranti menyimpan sabun cuci sebungkus besar. Tangannya terulur mengangkat sabun cuci dari piring. Seketika matanya melebar.
“Buset! Bagaimana caranya sampai charger HP bisa nangkring di sini...?” dan ia ngomong sendiri seperti tokoh di FTV remaja.
Pasalnya yang berikutnya ia pungut memang charger. Hitam dengan kabel sudah tergulung rapi ke badannya, jelas memang benda itulah yang tadi Mama suruh ia untuk mencari. Nada sudah akrab betul dengan benda itu. Karena merek ponsel keduanya sama, dan setipe, pemakaian charger bersama adalah sebuah kelumrahan. Dan Mama lah yang jauh lebih sering melakukan itu karena sering kelupaan di mana terakhir kali menaruh benda itu. Terdesak kebutuhan, Mama bakalan langsung meminjam charger Nada, yang sangat jarang nyasar entah ke mana.
Namun di antara seluruh riwayat barang-barang Mama yang tersesat, ada charger ponsel bisa tersembunyi di balik sabun cuci baju kemasan 2 kilogram benar-benar berkelas epik!
Sesudah kembali mematikan lampu, ia bawa benda itu ke kamar Mama. Lalu ia ke kamarnya sendiri untuk mengambil ponsel. Jarinya bergerak menghubungi nomor Dayu. Gadis itu menerimanya tepat saat ia meletakkan p****t di kursi meja makan.
“Hai! Gimana eksperimennya? Sukses?”
“Nggak cuman sukses. Udah masuk kategori mengagetkan.”
Dayu tertawa. “Menarik sekali. Ceritakan!”
“Begitu aku mulai meditasi dan energi aneh yang mirip arus listrik di dalam tubuh itu kerasa, semua makhluk halus di sekeliling rumah tahu-tahu mengelilingiku dalam posisi berlutut. Habis itu mamaku minta dicariin charger HP-nya yang ilang. Mendadak kaki dan tanganku seperti gerak sendiri persis ke tempat charger itu berada, yaitu di bawah kemasan sabun cuci gede dekat mesin cuci. Mama mungkin nggak kerasa naruh charger di sana waktu masukin baju kotor ke tempat cucian.”
“Berapa lama waktu antara kamu mulai meditasi dengan energi Ingsun kamu rasakan?”
“Nggak lama. Mungkin bahkan nggak sampai dua menit.”
“Wow, luar biasa! Dan aku pun sengaja nggak kasih tahu gimana teknik yang baik untuk memulai meditasi. Cuman kukaitkan itu dengan salat.”
“Aku emang melakukannya persis abis salat isya. Lalu pakai teknik pernapasan relaksasi—dihirup lama, ditahan bentar, lalu dikeluarkan lewat mulut.”
“Itu kamu langsung tahu sendiri atau pernah baca di suatu tempat sebelumnya?”
“Baca artikel di majalah online. Lalu kupraktikin aja. Kupikir yang namanya meditasi itu perlu relaksasi agar pikiran bisa fokus. Dan hal pertama yang terpikir soal relaksasi ya soal teknik pernapasan itu.”
“Perfect. Itu improvisasi namanya. Dan metodamu udah bener banget. Sekarang tinggal melanjutkan dan merutinkan. Sebagaimana salat lima waktu yang juga kudu rutin, meditasi untuk melatih kekuatan Ingsun juga harus rutin.”
“Ada batasan waktu minimalnya?”
“Normalnya, minimal 15 menit sehari. Tapi dalam kasusmu, mungkin jauh lebih singkat pun tak apa. Nyatanya kau sudah kenal di bawah lima menit pada kesempatan pertama. Tak banyak yang bisa begitu.”
“Lalu apa kemudian? Aku tetap belum lihat keterkaitan antara kemampuan mengendalikan energi itu dengan semua hal aneh yang kemarin kualami. Kalau aku harus mengendalikan itu, aku belum ada pandangan sama sekali bagaimana itu bisa menuntunku pada semua keanehan itu.”
“Simpel saja, dengan niat.”
Alis Nada berkernyit. “Niat? Kayak niat mau salat gitu?”
“Ya. Pikiran adalah kekuatan terbesar. Mind creates reality. Dan pemantik menuju kekuatan pikiran adalah berniat. Ucapkan niat, maka semesta akan mengikuti. Salat perlu niat agar seluruh diri kita fokus pada satu titik tunggal, yaitu Allah SWT. Itu seharusnya bisa diaplikasikan pada kehidupan harian. Sesudah fasih berniat lima kali sehari untuk salat wajib, lakukan hal yang sama untuk semua hal yang kita kerjakan. Kita disuruh beriman. Iman berarti yakin, percaya. Ketika niat disertai keyakinan, yang kita lakukan pasti terwujud. Persis seperti ketika kamu berniat nyari charger HP mamamu dan tubuhmu dibimbing langsung oleh energi Ingsun menuju tempat barang yang kamu cari berada—sekalipun tersembunyi di tempat aneh.”
“J-jadi, aku cukup berniat saja? Misal sekarang ini mau ke Jakarta pakai Tay Al Arz...”
“Coba aja kalau emang udah siap! Buka pintu, pintu apa pun, sambil bayangkan tempat tujuanmu di niatnya. Juga saat kamu mau Bilokasi, atau mau berangkat tidur untuk menginfiltrasi mimpi orang lain.”
Nada tertawa dan mengelus tengkuk yang mendingin. “Belum berani. Besok-besok aja. Takut nanti nggak kuat dan semaput.”
Dayu ikut tertawa juga. “Kalau gitu praktikkan di urusan yang lebih urgen. Apa masalahmu yang paling urgen saat ini?”
Nada terdiam. Matanya menyipit.
“Mama. Kayaknya cowok yang sekarang deket sama Mama orangnya nggak baik.”
“So, go find the evidence then! Meski ini lebih ke pekerjaan detektif sebenarnya, belum terlalu perlu pakai kekuatan Ingsun.”
Nada terpana. “Betul juga. Dan aku udah punya titik masuk ke sana, yaitu Nathan. Papanya adalah teman Om Gading. Mungkin bahkan dia pun tahu soal orang itu.”
“Dan misi detektif pun dimulai! Cari informasi mendetail tentang teman kencan mamamu dari teman sekolahmu yang ganteng itu!”
“Dari mana kamu tahu Nathan ganteng? Aku bahkan belum cerita soal dia.”
Dayu tertawa pelan. “Banyak yang kau belum tahu soal aku.”
Nada mendesah. “Dan itulah yang bikin aku tambah pusing.”
Dayu tertawa makin keras.