Buku

1714 Words
Seperti biasa, pemandangan yang rutin terjadi begitu bel tanda jam istirahat berbunyi dan guru meninggalkan kelas adalah acara cek ponsel secara massal. SMA 29 memang tak melarang murid membawa ponsel ke sekolah, hanya sekadar memerintahkan agar mereka tak mengaktifkannya pada jam-jam pelajaran. Di luar itu, termasuk pada jam istirahat, penggunaan ponsel diperbolehkan, asal tidak menggunakan wi-fi sekolah. Password-nya hanya diketahui para guru, dan rutin diganti tiap bulan. Murid-murid pun harus puas daring menggunakan sinyal seluler masing-masing, atau hotspot memakai ponsel dari kawan yang paling tajir! Nada tentu tak beda dengan anak-anak sekelas. Yang agak aneh adalah Aren. Bukannya mengambil ponsel dari tas, anak itu malah beringsut tergesa-gesa. “Aku ke Bu Siwi bentar. Ada urusan ekskul debat. Ntar kususul ke kantin kalau masih ada waktu.” Nada mengangguk. Agak lama ia fokus pada ponsel. Dan waktu mengangkat wajah, matanya menatap heran pada Aren yang ternyata masih ada di sisi meja. Mata Aren menguliti sekujur badan Nada seperti baru kali pertama ini ketemu. “Kamu abis dari salon, Nad?” celetuk anak itu. “Salon?” tentu Nada melongo. “Iya. Kamu hari ini kelihatan... apa ya istilahnya? Glowing.” Mata Nada melebar. “Glowing dari Hongkong?” “Serius. Kulit mukamu jadi cerah dan bersih banget. Pasti hasil perawatan facial. Rambutmu juga bagus. Curly-curly dikit gimana gitu,” tangan Aren terulur meraba ujung rambut Nada yang menggantung di leher. “Semalam diajak mama kamu ke salon mana? Iiih, aku juga mau!” Jika bukan karena ada faktor pengalaman aneh terkait Bilokasi, Nada pasti bisa dengan mudah membantah itu. Pasalnya semalam ia kan justru sibuk melatih getaran energi Ingsun dan lalu mengaplikasikannya untuk mencari charger ponsel Mama. “Salon?” ia juga ikut meraba ujung rambut yang disentuh Aren, dan terheran karena bagian itu memang menjadi sedikit berlekuk, tak lurus lugu seperti biasanya. “Semalam nggak ke mana-mana kok.” “Ah, nggak mungkin! Kamu jadi keren gini pasti gara-gara di-makeover mama kamu di salon kelas atas. Ntar kutagih alamatnya.” Aren lalu bergegas pergi, menghilang cepat sekali. Dan Nada masih sibuk meraba rambut serta pipinya sendiri. Rambut jadi curly? Muka jadi cerah glowing? Bagaimana jika semalam memang kembali terjadi Bilokasi, dan dirinya yang satunya lagi entah bagaimana caranya ternyata pergi perawatan ke salon? Ia jadi ingin ke toilet dan bercermin di depan wastafel. Sayang niatnya terkendala oleh kemunculan sesosok bayangan yang menatapnya lekat. “Mau ke kantin ndak?” Nada menoleh. Itu Benu. Dan sesudah omongan Aren barusan, ia jadi tak heran mengapa cowok itu tak berkedip menatapnya. “Iya,” ia mengangguk dan memasukkan ponsel ke saku rok seragam. “Yuk!” “Aku ikut!” Radit meluncur seperti badai, yang membuat raut wajah Benu suram. Tapi tentu akan jadi aneh kalau mendadak dia menyampaikan keberatan. “Kok gak sama Haris dan Nurman?” tanya Nada. “Bosan. Mereka nggak cantik.” Nada memijit keningnya. “Hadeeeh...!” Terus terang sejak terbongkar bahwa sikap dingin itu hanya sandiwara, sosok Radit sekarang jadi tak terlihat menyebalkan lagi di mata Nada. Sebaliknya, untuk ukuran anak kecil ABG, dia sangat piawai dalam beradaptasi dengan sekolah dan murid-murid baru. Orang luar pasti mengira dia murid di sini sejak tahun ajaran kemarin, karena sikapnya dengan anak-anak sekelas sudah sangat nge-blend hanya dalam kurun waktu beberapa hari saja. “Benu juga nggak cantik,” celetuk Nada kemudian, saat mereka memasuki kantin sekolah yang luar biasa hiruk pikuk. “Biarin. Kan yang penting kamu, Nad.” Nada mendelik. “Jangan kaugombali aku seperti Aren kemarin!” Radit meringis. “Ih, siapa yang pengen ngegombal? Ge-er kamu, Nad.” Seperti biasa, agak susah bagi mereka mencari meja dan bangku kosong di kantin pada jam istirahat. Untung ternyata ada juga, di pojok dekat jendela. Itu pun hanya tersisa sedikit saja ruang di ujung bangku panjang. Sambil membawa semangkuk soto dan minuman dari counter pelayanan, mereka bergegas ke sana sebelum ruang kosong itu ditempati. Dan hasilnya membuat wajah muram Benu makin tak cerah. Radit mencuri celah kesempatan sehingga dialah yang bisa duduk jejer merapat dengan Nada. Benu ada di seberang, lalu tergeser ke ujung sekali karena didesak beberapa senior kelas XII yang bicara sambil tertawa-tawa keras. Udah gitu, karena tempat memang sempit, Nada duduk tepat berdempelan dengan Radit sehingga siku mereka saling bersenggolan saat makan. Benu hanya bisa menatap kosong. “Nad...?” “Dilarang ngegombal!” tukas Nada keji. “Aku mandiin pake kecap ntar!” “Buset, galak amat! Aku cuman mau nanya sesuatu.” “Nanya apa?” “Punya buku?” “Punya lah. Tuh di tas banyak banget.” Radit mendecak. “Bukan buku yang itu. Novel, komik, atau majalah yang udah nggak terpakai gitu. Kalau ada, kasih sini ke aku sebagai donasi!” Baru kemudian Nada menatap Radit dengan pandangan sungguh-sungguh. “Kamu punya rumah baca?” “Baru akan hendak. Makanya lagi ngumpulin harta benda dulu. Sesudah agak banyak, baru anak-anak itu akan pede pas disuruh kelola taman baca.” “Anak-anak? Siapa?” “Anak-anak di panti. Jadi, keluargaku punya panti asuhan kecil. Namanya Permata Bunda. Trus bapakku kepikiran sekalian aja membuka rumah baca di situ. Anak-anak jadi pengelolanya. Tapi untuk itu kan perlu ngumpulin buku dulu agak banyak. Sekarang ini baru punya kurang dari 100. Lalu lagi order meja-meja dan rak-rak buku.” “Serius? Punya panti asuhan? Keren banget! Ada tuh di rumah. Banyak banget. Sisa bacaanku pas kecil dulu. Ntar kukumpulin. Kubawa sekalian aja ke pantinya.” “Nggak usah. Bilang aja ntar kalau udah terkumpul. Aku ambil ke rumahmu.” Nada baru akan menjawab ketika kemunculan satu sosok yang amat menonjol di pintu kantin mengalihkan perhatiannya. Ia bahkan spontan melambaikan tangan dan berteriak. “Kak! Kak Nathan!” Dan yang menoleh ternyata hampir semua orang, termasuk Benu dan Radit. Juga para siswi yang sepertinya iri karena bukan mereka yang kemudian didatangi Nathan dengan sikap sepatuh itu. “Hai!” Nathan tersenyum cerah saat tiba di dekat Nada. “Ada apa?” Yang ditanya malah bergegas bangkit dan berlalu. “Sini bentar!” Sayang materi pembicaraan yang ini memang tak bisa terdengar orang lain, jadi Nada tak punya pilihan meski kepergian mereka diawasi sebegitu banyak pasang mata pengunjung kantin saat itu. Ia bawa Nathan ke area sepi di belakang kantin. “Aku mau minta tolong dikit,” katanya kemudian, dengan nada rendah. “Siap. Ada apa?” “Seberapa banyak yang kamu tahu soal Om Gading, teman mamaku itu? Aku perlu keterangan sebanyak mungkin soal dia.” Nathan menatap Nada lekat. “Kenapa? Dia bertingkah nggak bener sama mama kamu?” “Nggak sih. Belum. Aku cuman nggak ngerasa nyaman aja lihat mamaku beneran linglung kayak ABG mellow jatuh cinta. Aku takut Om Gading nggak bener orangnya. Semacam firasat bodoh aja sih. Cuman, aku nggak mau ambil risiko.” “Dia orangnya memang agak flamboyan gitu. Dan orang macam itu biasanya punya banyak teman wanita.” “Itu juga yang kutakutkan. Tapi kan susah ngasih warning gitu pada cewek yang lagi bucin. Dia usahanya apa sih?” “Supplier. Sering kerja sama dengan perusahaan properti papaku. Kabarnya mau ekspansi ke bisnis kuliner juga, gara-gara papaku sukses mengembangkan The Village. Terus terang aku juga nggak begitu suka orang itu. Kayak kebanyakan gaya. Info apa yang kamu perlukan? Ntar aku akan bantu cari. Papa punya banyak anak buah. Ada lawyer juga. Bisa diberdayakan.” “Aku juga nggak tahu pasti yang mana aja. Pada dasarnya semua, sampai sisi gelapnya kebuka gamblang, nggak ada lagi yang ditutup-tutupi.” Nathan mengangguk. “Oke. Nanti akan aku cari. Harusnya nggak susah. Dia cukup populer di sekitar sini.” “Kalau kamu sendiri, seberapa jauh kenal dia?” “Ya cuman gitu-gitu aja, sesekali ketemu kalau pas aku ke Village, atau diajak papaku ke mana trus tahu-tahu ketemu Om Gading di luaran. Eh, yang sebelahmu tadi siapa? Kok aku belum pernah lihat.” “Itu Radit, anak baru. Pindahan dari Bandung. Keluarganya punya panti asuhan loh. Dia lagi nyari donasi buku, soalnya mau mendirikan taman baca juga.” “Beneran? Pantinya di mana?” “Belum tahu. Tadi dia pas baru mau cerita waktu aku manggil kamu. Tanya aja sama yang bersangkutan. Yuk!” Sekali lagi Nathan patuh mengikuti Nada. Mereka balik lagi ke meja, tempat kemudian cowok itu Nada perkenalkan dengan Radit. Dan tentu Radit dengan antusias memberi penjelasan saat ditanyai soal panti asuhan. “Di dekat rumah lamaku, di Cibaduyut. Jadi dulu ada satu rumah di sebelah rumahku, yang difungsikan sebagai panti asuhan. Sekarang setelah kita sekeluarga pindah ke sini, rumah tempat tinggal itu difungsikan buat panti juga.” “Itu beneran panti milik keluargamu sendiri?” tanya Nada. “Iya. Ayahku bikin yayasan resmi, pakai akta notaris, lalu mendirikan panti asuhan. Kebetulan kan beliau kerja jadi PNS di Kementerian Agama, jadi urusannya ya seputar itu—dana sodaqoh untuk yatim piatu dan fakir miskin. Trus ada beberapa sodara dan teman ayahku di kantor yang jadi donatur, jadi pantinya lumayan bisa berjalan. Sudah ada beberapa pengasuh dan pembantu di sana.” “Sudah lama pantinya berdiri?” tanya Nathan. “Ada kalau lima tahun. Ini sedang ngumpulin dana, biar bisa bangun gedung sendiri, khusus untuk panti asuhan. Yang sekarang ditempati itu kan kontrak jangka panjang.” “Dan sekarang ingin mendirikan taman bacaan?” “Iya. Terbuka untuk umum. Kan bagus itu. Orang luar yang datang bisa terpanggil membantu anak-anak di sana. Sementara anak-anak panti ditugaskan ayahku mengelola perpustakaan, biar mereka makin suka baca dan mempelajari kemampuan bersosialisasi.” “Yuk, kumpulin buku!” Nathan sekilas menatap Nada. “Aku punya banyak. Nanti kita bawa ke rumah Radit biar dia kirim ke Bandung.” “Oke,” Nada mengangguk penuh semangat. “Kamu ikut, Nu?” “Sudah pasti,” sahut Benu cepat. “Tapi buku-bukuku kebanyakan komik Jepang. Naruto, One Piece, Detective Conan.” “Gak papa. Yang itu juga bakal banyak disuka,” kata Radit. “Oke kalau gitu. Mari kita kumpulkan!” “Thanks ya. Kalian bener-bener baik,” Radit lalu menoleh pada Nada. “Tahu nggak apa bedanya kamu dan lautan?” Nada mendelik. “Tidak menerima penggombalan!” “Jelas beda lah. Kamu manusia, lautan isinya air semua. Masa kayak gitu kamu nggak tahu?” Nathan ketawa. Benu juga. Dan entah untuk keberapa kali dalam lima menit terakhir, mata Nada bersirobok dengan milik Nathan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD