Erdita

1365 Words
“Alamanda 108”. Sambil rebahan di kasur, iseng saja Nada mengetikkan itu di kotak pencarian aplikasi Google di ponsel pintarnya. Koneksi wi-fi supercepat rumah ini membawa hasil pencarian dengan amat singkat. Dahi Nada berkerut. Keyword itu muncul pada banyak hasil pencarian teratas, dan beberapa kata petunjuk di hasil pencarian menyebut kota Surabaya, yang berarti pencariannya benar. Alamanda 108 yang muncul sepertinya memang alamat rumah seperti yang diinformasikan ayah Aren pada sesi infiltrasi tempo hari. Dan tanpa memerlukan keterangan lebih lanjut, Nada langsung mudeng bahwa penyebutan alamat rumah tersebut terkait dengan urusan jual beli rumah dan tanah. Jempolnya lalu mengetuk hasil pencarian teratas, yang berasal dari sebuah laman bernama YourHome. Itu agaknya sebuah layanan jual-beli properti secara daring. Begitu masuk ke halamannya, yang didominasi warna hijau muda, Nada tahu dugaannya benar. Sebagaimana layanan daring lain pada masa kini, YourHome juga tersedia dalam format aplikasi Android dan iOS. Yang ditawarkan di sana selain rumah dan lahan tanah adalah apartemen, rumah untuk homestay, dan tempat indekos. Alamanda 108 sendiri adalah sebuah rumah hunian di satu kompleks perumahan kelas menengah ke bawah di perkotaan, sama seperti rumah tinggal Nada sekarang ini di Griya Permata. Dari foto-foto yang dihadirkan di halaman penawaran, terlihat rumah itu bertingkat dua, dengan cat dinding luar menggunakan warna kuning gading. Halaman depan yang tak terlalu lebar disesaki tanaman-tanaman hias, dan tinggal menyisakan ruang singgah seperlunya bagi mobil dan sepeda motor tepat di depan garasi di sisi kiri bangunan. Sesuatu dalam bentuk rumah pada lantai atas menunjukkan bahwa bagian yang itu ditambahkan kemudian oleh pemilik rumah, dan bukan merupakan bentuk asli bangunan dari pengembang kompleks perumahan. Beberapa foto lain tersaji, yang menampakkan wujud rumah dari berbagai sisi, termasuk pekarangan belakang dan juga interiornya. Harga yang dilempar senilah Rp 1,8 miliar, yang Nada tak tahu apakah itu tergolong murah atau tidak. Orang dewasa seperti Mama pasti tahu standar harga rumah. Hal berikut yang seketika membuat kerutan di dahi Nada menajam adalah nama akun pemilik properti terkait. Bahkan jantungnya sempat berdegupan sesaat. Yang tertulis di sana adalah “Erdita Auliani”, nama yang disebut Pak Irfan sebagai mantan kekasihnya dari era puluhan tahun lalu, saat dia masih ABG. Dan tanggal pada time tag unggahan menunjukkan bahwa penawaran itu baru dinaikkan pada dua pekan lalu. What a coincidence! Pada kolom komentar di bagian bawah terpampang jelas akun-akun lain dari laman YourHome yang menunjukkan ketertarikan. Semua dijawab Bu Dita dengan kalimat yang sama, yaitu rekues untuk japri. Beberapa menyampaikan penawaran langsung di situ. Dan malah ada satu akun yang mengajak kenalan. Seketika mengingatkan Nada pada Om Gading! Ia bangkit untuk duduk menyandar pada kepalaan tempat tidur, saat jempol berpindah dari laman kembali ke kotak Google. Kali ini yang ia cari adalah nama itu, yang segera menampilkan hasil pencarian berupa akun-akun medsos di f*******:, i********:, dan Twitter. Membuka salah satunya, yaitu f*******:, Nada langsung tahu itu Erdita Auliani yang terkait dengan Alamanda 108, karena pada salah satu unggahan teranyarnya terpampang foto rumah yang sama dengan yang ada di layanan YourHome, dan dalam rangka melakukan penjualan juga. Foto yang sama juga ada di feed i********: akun Bu Dita. Jadi ia memang sedang berusaha melego rumah kediaman yang sudah ia tempati sejak kecil itu. Apakah dia sedang berada dalam kesulitan keuangan? Atau hanya sekadar untuk pindah tempat tinggal saja? Yang jelas, dari foto-foto itu terlihat bahwa Bu Dita punya dua anak, satu cowok satu cewek. Yang cowok sudah berumur ABG seusianya, sedang si adik baru 10 atau 11 tahun. Melalui banyak caption, Bu Dita mengungkap bahwa keduanya adalah permata, harta paling berharga yang merupakan sumber kebahagiaan. Namun tak ternampak satu pun sosok pria dewasa di foto-foto itu, hingga unggahan paling awal dulu. Mungkin suaminya sudah meninggal, sehingga kini Bu Dita harus mengasuh kedua buah hatinya sebagai single parent. Dan sungguh menarik untuk diketahui apa sebenarnya yang terjadi pada hubungannya dengan Pak Irfan dulu itu, serta yang membuat mereka kemudian terpaksa berpisah. Saat mengecek ponsel dan tahu Dayu sedang online, jempol Nada beringsut otomatis melakukan panggilan suara. “Mbak, bisa minta tolong dikit nggak?” tanyanya, begitu Dayu menerima panggilannya. “Apaan? Soal si om?” “Bukan. Ini kasus lain. Soal bapaknya Aren dan rumah Alamanda 108 itu.” “Oke. Apa yang bisa kubantu?” “Jadi aku barusan tahu nih, kalau rumah di Surabaya itu mau dijual. Ini kukirimi skrinsyut penawaran penjualannya, di app jual rumah YourHome. Dan yang jual beneran Bu Dita, Erdita Auliani, mantan pacarnya Pak Irfan. Kukirimi juga akun sss sama IG-nya Bu Dita. Kak Dayu bisa nggak pura-pura nawar rumahnya, cuman biar bisa kenal Bu Dita dan lalu bisa mancing dia curhat-curhat soal masa lalunya bareng Pak Irfan?” “Of course. Aku master dalam hal berteman dekat sama orang lain dan membuat mereka curhat bahkan sampai nyeritain rahasia terkelamnya. Tapi bukankah dengan cara yang lebih gampang, kamu sendiri bisa lakukan?” “Misalnya?” “Infiltrasi mimpi lagi. Kali ini ke si Dita itu. Begitu Kunci Memorinya kamu pegang, dia akan jawab jujur semua apa pun yang kamu tanyakan.” Nada menggaruk tengkuk sembari menata duduknya agar lebih nyaman. “Bisa kucoba juga sih, cuman aku nggak yakin hasilnya. Kan baru nanti itu kali pertama kujajal. Dan lagian, kupikir sebelum make fitur-fitur yang istilahnya semacam kekuatan super, kenapa nggak make cara manusia biasa aja dulu, demi efisiensi energi?” Dayu tertawa. “Dan itu satu lagi bukti bahwa kamu adalah salah satu anak didikku yang paling spesial.” “Hah? Anak didik? Emangnya kamu buka semacam kelas anak indigo?” “Pretty much. Ntar kuceritain kalau saatnya sudah tiba. Betewe, apa asal-usulnya kamu secara khusus ingin menyelidiki Bu Dita?” Nada terpaku sejenak. “Nggak tahu juga. Mungkin cuman firasat, tapi aku merasakan sesuatu yang kelam. Awalnya sih cuman karena kata-kata mamaku, bahwa Aren terlalu sering sakit. Kayak sakit nggak wajar gitu. Kalau bener, mungkin asalnya dari Bu Dita, yang terkait dengan masa lalu dia bareng ayahnya Aren.” “Sebagai pendahuluan, kamu bisa cek dulu temenmu itu.” “Memang. Aku juga udah mikir ke sana. Yang aku nggak langsung bisa tahu dengan segera kan urusannya.” “Oke. Ini bisa langsung aku add dan japri. Siapa tahu rumahnya berjodoh, jadi aku bukan hanya bohong soal nanya-nanya harga. Soal si om sendiri gimana? Udah ada perkembangan?” “Belum. Baru tadi siang aku minta tolong Nathan nyari info mendetail soal Om Gading.” “Kamu bisa juga cari petunjuk sendiri ke rumahnya.” “Pakai Tay Al Arz?” “Iya. Coba aja dilatih! Kalau masih belum fokus caranya gimana, bayangin aja mukanya, lalu niatkan bahwa kamu akan menuju rumah tinggalnya. Tahu alamat rumahnya di Solo?” “Nggak apal alamat persisnya, tapi tahu. Suatu saat pernah diajak Mama lewat sana. Rumah Om Gading di Banjarsari. Salah satu umah paling bagus di sana.” “Bisa nemu titik lokasinya pakai Map?” “Bisa. Aku masih ingat jalan-jalannya.” “Nah, coba aja! Cari titik lokasinya di peta, lalu gunakan itu sebagai pembentuk citra ingatan di otakmu pas meditasi. Begitu kamu niatkan dengan tindakan, ke mana jasadmu dibawa pergi tinggal ngikut imaji yang udah ada di otak sebelumnya.” Nada menegakkan punggung dan menahan napas. “Dan aku hanya tinggal buka pintu, untuk membuatnya terjadi?” “Ya. Sama persis seperti kejadian pas di rumah Benu. Come on! Selalu nggak ada jeleknya untuk mencoba. Toh kalau gagal juga, kamu nggak perlu bayar apa-apa.” Nada tertawa. Sepuluh menit kemudian, setelah mencari di Map lalu bermeditasi sejenak, ia sudah bersiaga di depan pintu kamar. Matanya terpejam, memvisualisasikan letak rumah Om Gading yang ia lihat di peta. Tangan kemudian terulur menggapai handel daun pintu. Tak ada salahnya mencoba, seperti kata Dayu tadi. Toh kalau gagal, ia hanya akan melintas keluar kamar ke ruang tengah, yang mana sesungguhnya bukan hal aneh sama sekali. Ia sudah lakukan itu ribuan kali sejak kali pertama bisa mengingat kehidupannya di rumah ini, 11 atau 12 tahun yang lalu. Sekali ini, yang bakal menghebohkan adalah justru kalau ia berhasil. Apalagi ini percobaan pertamanya, dengan kehendak sendiri dan bukannya kejadian acak seperti tempo hari. Napasnya tertahan saat memuntir pegangan dan menarik daun pintu ke arah dalam. Lalu mata membuka, dan seketika membelalak. Astaga!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD