Nada celingukan. Ia sempat menengok balik pada ruangan yang baru saja ditinggalkannya. Bukan kamar tidurnya di rumah, melainkan restroom, yang hanya memuat sebiji kloset dan wastafel, tapi nyaris seukuran luas kamarnya—dan berbau harum pula. Di hadapannya adalah sebuah lorong yang suasana interiornya mengingatkannya pada hotel. Lantai keramiknya bagus sekali, dan dindingnya dipenuhi ornamen berukir yang sangat berkelas. Setelah ia cermati untuk kali kedua, dinding berukir itu ternyata penyekat ruangan, yang sengaja ditempatkan di situ untuk membuat suasana restroom menjadi sangat tertutup dan menjaga privasi penggunanya. Jika ini rumah kediaman, yang ada di balik penyekat barangkali adalah ruang tengah, atau ruang makan. Nada perlu waktu dua menit khusus hanya untuk mengendalikan diri,

