Nada celingukan. Ia sempat menengok balik pada ruangan yang baru saja ditinggalkannya.
Bukan kamar tidurnya di rumah, melainkan restroom, yang hanya memuat sebiji kloset dan wastafel, tapi nyaris seukuran luas kamarnya—dan berbau harum pula. Di hadapannya adalah sebuah lorong yang suasana interiornya mengingatkannya pada hotel. Lantai keramiknya bagus sekali, dan dindingnya dipenuhi ornamen berukir yang sangat berkelas. Setelah ia cermati untuk kali kedua, dinding berukir itu ternyata penyekat ruangan, yang sengaja ditempatkan di situ untuk membuat suasana restroom menjadi sangat tertutup dan menjaga privasi penggunanya.
Jika ini rumah kediaman, yang ada di balik penyekat barangkali adalah ruang tengah, atau ruang makan.
Nada perlu waktu dua menit khusus hanya untuk mengendalikan diri, sembari tangan menutupi mulut yang ternganga. Tak dinyana, eksperimennya sukses! Ini Tay Al Arz pertamanya, yang murni atas kontrol diri sendiri.
Dan ia harus mengibaskan kepala lalu mencubiti diri sendiri hanya untuk memastikan ini semua nyata.
Sejauh ini tak ada gejala bahwa ia sedang berhalusinasi, atau tengah berada dalam sebuah mimpi yang teramat dalam sehingga semua terasa begitu nyata. Tapi jika dipikir kembali, sebenarnya kan memang tidak ada cara untuk mengetahui dan membedakan hal yang real dengan yang fantasi. Cerita Neo di film The Matrix contohnya.
Nada masih sempat menggumamkan “Oh, my God!” beberapa kali saat otak logisnya menyuruhnya untuk segera balik ke daratan dan menyiapkan langkah berikutnya, sebelum ada orang yang mendadak muncul dan syok melihat ada seorang cewek ABG yang hanya mengenakan kaus tank top hitam yang dipadu celanan ketat superpendek putih ujug-ujug bisa ada di tempat ini tanpa penjelasan yang memadai.
Ia diam untuk menajamkan kuping. Sunyi, sebagaimana layaknya pada malam pukul 22.45 WIB. Tak ada suara orang, atau bunyi langkah menapak. Baru kemudian ada bebunyian mampir ke telinganya, yaitu suara mobil direm berhenti dan mesin dimatikan, lalu suara seorang pria berbicara di telepon sambil jalan.
Om Gadingkah itu? Dia perlu lebih dekat lagi sebelum suaranya bisa dikenali.
Nada beringsut mengintai. Benar, yang ada di balik penyekat ruangan adalah ruang makan. Ada meja besar tepat di hadapannya, mewah sekali, terbuat dari kayu pilihan terbaik, menampung delapan kursi. Di atap tergantung chandelier yang pastinya tidak berbanderol grosir ala pasar kaget atau pasar barang antik. Sesuatu yang segemerlap itu mungkin bahkan dipesan secara custom kepada para perancang, dan bukan beli dari supermarket.
Sebentuk pintu lebar ada di sisi kanan tempat Nada berada, mungkin kamar tidur. Di seberang sana ada sebentuk ambang lebar yang menghubungkan ruang makan dengan ruang tengah. Dan pada ujung satunya lagi terdapat ambang satu lagi, yang bergorden rapat, dan sepertinya lurus menuju dapur atau telundakan menuju lantai atas.
Seluruh konsep interiornya mencerminkan hanya satu kata: kemewahan. Luas, lapang, elegan, dan berkelas. Bisa dimengerti sekarang betapa berhartanya orang itu. Nada mendadak jadi mual lagi. Masa Mama memilih laki-laki itu, di antara sekian banyak yang mengantre, hanya karena urusan harta benda?
Sayang ia tak sempat meresahkan itu sedikit lebih lama karena bayangan satu sosok yang sudah sangat ia kenal kemudian muncul dari ambang depan. Nada balik menyelinap ke depan pintu toilet saat pria itu muncul. Dari kontur tubuh dan nada suara, memang benar itu Om Gading. Yang jadi misteri sekarang adalah, dengan siapa ia tinggal di sini.
Suasana yang terlalu sepi membuat Nada berkesimpulan ini rumah yang memang lengang. Sepertinya tak ada tanda kehadiran orang lain. Jika ada, mungkin hanya pembantu dan tukang kebun, jauh di belakang sana. Dan tentu ia tak bisa berpikir ke arah istri dan anak, karena itu akan sama saja dengan membuat sosok Mama jadi sangat antagonis.
Nada menahan napas. Om Gading memang sedang bertelepon. Dan ia berusaha keras memahami setiap patah kata orang itu.
“...Udah, gini aja, Mas! Kalau emang si Hernadi itu nggak mau nurut, kau ambil tindakan drastis aja seperlunya. Apa kek. Yang penting bisa bikin dia ciut nyali lalu nurut. Diintimidasi, ditonjok dikit sana-sini, atau kauteror rumahnya pakai sesuatu yang berkaitan sama api. Pasti dia bakalan melting. Emang nggak tahu diri bener tu orang! Udah tahu harga yang kita kasih itu udah termasuk bagus, masih ngeyel juga! ...Besok kalau ketemu, akan kukasih tahu cara-caranya. Praktis kok. Apalagi kau kan juga punya segembreng preman yang bisa disuruh ini-itu. Dan anggarannya juga ada. Beres lah pokoknya. Aku dan orang-orangku juga bakal ikut bantu, soalnya kalau rencanamu yang itu sukses, aku kan bisa ikut terlibat juga ambil profit dari sana... Iya, sip. Aku cabut dulu ya. Ini si Yayang telepon lagi... Ya kau tahu lah gue. Fansku kan banyak, apalagi untuk urusan satu itu, hahaha...!”
Alis Nada berkerut saat Om Gading menerima panggilan lain. Dan habis itu nada suaranya jadi lain sama sekali.
“Yes, Ay? ...Udah, ini barusan nyampai rumah. Kamu juga udah di rumah, kan? Sori tadi gak sempat balas WA sama Telegram. Aku sibuk bareng Mas San. Biasa, urusan bisnis... Iya, habis ini kita VC ya, tapi aku mandi dulu, biar harum, hehe... Eh, ya ampun! Laptop jebul masih ketinggalan di mobil. Aku ambil dulu. Ini kuputus dulu. Habis ini kita lanjutin. Dah dulu, Ay! Miss you. Mmuaaach!”
Isi perut Nada seperti hendak mengombak tumpah. Untung saja itu tak lama, karena Om Gading kemudain mengakhiri panggilan, meletakkan tas dan ponsel ke meja makan, lalu bergegas setengah berlari ke arah depan.
Nada muncul menyembulkan kepala dari balik penyekat. Tak ada siapapun. Ia mengendap ke arah ponsel di meja, menggapainya sebelum benda itu masuk mode penguncian layar. Yang ia tuju adalah log panggilan telepon. Dan napas lega serta sesak muncul bersamaan saat ia lihat panggilan yang datang terakhir kali tadi ke ponsel itu bukan berasal dari nomor Mama.
Which is, membuktikan satu hal krusial yang sudah sejak awal ia curigai.
Dengan kerongkongan seperti disumpal ban pelampung kolam renang, Nada memencet salah satu nomor yang ada di log panggilan pada deretan bawah, entah punya siapa ia tak peduli. Nama yang ada di daftar kontak adalah “Aryono Bank Jateng”, pasti salah satu rekan bisnis Om Gading. Ia melintas secepat kilat kembali ke tempat persembunyiannya sembari mendengarkan nada panggil berdering di sisi sana. Sedetik kemudian terdengar sahutan “Halo!” dari ponsel, dengan nada sedikit heran.
Sahutan itu terdengar beberapa kali, persis ketika Om Gading tiba kembali di ruang makan. Tawa Nada nyaris menyembur saat ia dengar si om mendadak menggumam heran.
“Lho, lho... apa ini?” lalu terdengar suara orang itu meletakkan ponsel ke telinganya. “Halo? Ya, Pak Yon? Loh... saya juga nggak tahu. Bukan saya yang nelpon njenengan... Eh, iya, ini emang nomer WA saya, tapi bukan saya yang menelepon... Waduh, lha lantas siapa? Saya tu barusan ke garasi, ambil laptop yang ketinggalan di mobil. HP saya tinggal di meja makan...! Lantas siapa yang nelpon? Jelas bukan saya, wong saya barusan ke garasi. Dan ngapain juga saya nelpon situ jam segini? Sampean kan bukan pacar saya... LANTAS SIAPA? Saya tinggal sendirian di sini, cuman sama...”
Om Gading terdiam. Tangan Nada kembali mendekap mulut, tapi kali ini demi menahan diri agar tidak tertawa.
“Waduh! Masya Allah! Asyhadu alla ilaha ilallah! La hawla wala quwataa... Allahu akbar! La illa huwal hayyul qoyuum...!”
Di tengah gumaman panik dan ketakutan Om Gading begitu menyadari ponselnya bisa menelepon sendiri, Nada lalu berpikir lain. Sebenarnya tak salah juga jika saat ini ia tertawa.
“NGAHAHAHAHA....!”
Dan benar saja.
“Mamaaa! Tolong...!”
Nada hanya bisa mendengar suara kursi jatuh terguling. Pasti Om Gading mencelat ngacir dan menimbulkan suara gaduh karena ia nayal-nayal menabrak kursi dan entah apa lagi.
Nada tertawa makin keras.