Kanuragan

1743 Words
“Buset!” Nada menatap mendelik pada Aren senyampang meletakkan tas ransel di meja. “Apaan nih, pagi-pagi begini mendadak langsung misuh?” Aren yang tadi sedang sibuk main ponsel beringsut bangkit dan memutari meja hanya agar bisa mendapat angle yang bagus untuk menghadap ke arah Nada. “Oke, sekarang kamu nggak bisa bohong atau mengelak lagi!” Aren galak, berkacak pinggang. “Sebenernya kamu selama ini perawatan di salon mana?” Tak langsung menyahut, Nada meringis saat balas bersikap gahar pada Aren. “Ini pada kenapa, sih? Tadi anak-anak di luar juga pada nanyain salon. Salon pala lo peyang!? Orang aku nggak pernah ke mana-mana. Semalam kan kita telponan sampai lama. Nggak mungkin aku telponan kayak gitu kalau pas di luar kamar.” “Tapi ini jelasinnya gimana?” Aren meraba ujung rambut Nada, yang hari itu memang sengaja tidak diikat. “Rambutmu jadi bagus kriwil gini. Pasti ini hasil olahan hairstylist kenamaan. Dan mukamu makin glowing mulus kayak Jisoo gitu. Kamu pasti nggak cuman facial, tapi juga suntik kolagen sama antioksidan sama entah apa lagi. Mamamu kan orang terkenal. Pasti bisa mengongkosi perawatan yang kayak gitu. Soalnya mama kamu juga cakepnya nggak ketulungan gitu.” “Aku enggak pernah ke salon, Dodol!” meski mendelik, tak urung ujung jari Nada spontan meraba ujung rambutnya. “Kalau Mama sih emang udah cantik sejak dari sononya, yang sayangnya, enggak menurun ke aku.” “Kamu terlalu rajin di mapel agama sih, jadinya terlalu canggih dalam hal merendah. Coba deh kamu selfie! Pasti nggak lama langsung dapetin seribu likes di IG, persis kayak mama kamu.” “Ogah! Aku bukan tukang selfie dan menjajal-jajal filter kamera jahat.” “Dasar keras kepala!” Cekatan Aren mengambil ponselnya, lalu melakukan swafoto untuk dirinya sendiri bersama Nada. Dan meski sedetik sebelumnya menolak, pas difoto juga Nada tetap memasang ekspresi muka termanis yang bisa terpikirkan. Aren lalu mengunggah foto itu ke akun Instagramnya, sambil mengomel panjang pendek tentang orang kuper yang tak menyadari diri mereka menarik sehingga tidak bisa mendapatkan manfaat yang maksimal dari pergaulan. Tak sampai dua menit, Aren menunjukkan layar ponselnya pada Nada. “Nih, baru juga di-posting, yang komen malah pada nanyain siapa yang di sebelahku!” Mau tak mau perhatian Nada terbetot ke sana. “Masa?” “Coba aja cek sendiri di HP-mu! Kan kamu ku-tag di foto itu tadi.” Suasana sunyi saat keduanya asyik dengan ponsel masing-masing. Mata Nada lekat menatap pada unggahan foto hasil jepretan Aren barusan. Anak itu berpose sok kiyut dengan meruncingkan bibir dan jari membentuk tanda “V”, sedang Nada sendiri cukup memiringkan kepala dan tersenyum. Bukan sesuatu yang luar biasa tentu, karena sepanjang berteman dekat sejak kelas X dulu, keduanya sudah terlalu sering berfoto berdua. Namun yang ini tetap diakui ada sedikit perbedaan. Awalnya Nada curiga Aren menerapkan semacam filter pemulus kulit pada aplikasi kamera ponselnya, yang langsung terbantahkan karena wajah Aren sendiri di gambar itu nampak nyata dan gamblang, dengan beberapa jerawat di pipi dan dagu terlihat tanpa tedeng aling-aling. Sementara ia, di sisi lain, sempat membuat pangling diri sendiri. Kalau fotonya tidak difilter, kenapa mukanya jadi secerah dan sehalus itu? Penasaran, Nada lalu bercermin menggunakan kamera depan, yang kurang lebih menampakkan hasil yang sama. Oke, ini aneh. Kulitnya benar-benar tanpa cacat, di seantero pipi, jidat, ujung hidung, bawah mata yang tak berkantung, hingga dagu. Dan asli ia baru nyadar detik sekarang ini. Karena tak berjenis riweh terhadap penampilan, ia juga jarang mematut-matur diri. Jarang pula menatap wajah sendiri berlama-lama di cermin. Ia pikir, asal sudah pakai sabun muka dan bedakan dikit, itu sudah cukup sebagai syarat penampilan standar saat ada di luar. Yang penting wajah tak terlihat kusam dan lusuh. Plus badan harum dengan semprotan parfum secukupnya. Dan ia bahkan tak ingat kapan terakhir kali bercermin. Mungkin pada hari ia main ke rumah Benu dulu itu. Yang jelas, kala itu ia masih merasa kulit wajahnya sawo matang menjurus gelap, sebagaimana pada umumnya cewek-cewek Jawa. Kenapa tahu-tahu ia jadi glowing begini? Padahal ia ke rumah Benu kan baru beberapa hari yang lalu, dan bukannya tahun. “Nah, akhirnya penasaran sendiri kan,” celetuk Aren. “Betewe, ini jumlah yang pada nanya kamu siapa sudah jadi 21 orang! Mereka temen-temen SMP-ku, temen jaman SD, sama sodara-sodara sepupuku. Ada yang curiga aku mainan Photoshop sama artis K pop!” Nada termangu. Tak ia dengar omongan Aren, karena ingatannya mendadak tertuju ke sesuatu. “Unless...” ia mendesis. “Unless apa?” Aren menukas penasaran. Nada memutar posisi duduknya agar tepat menghadap Aren. “Kamu tahu aku indigo, kan? Dan aku bisa tahu bahwa ayah kamu dulu pernah punya pacar bernama Bu Dita. Nama lengkapnya Erdita Auliani. Dia tinggal di Surabaya, tepatnya di kompleks Villa Aster Permai, kawasan Ketintang Baru. Nama jalannya Alamanda nomer 108. Coba tanyain itu ke bokap kamu, pasti dia kaget dan nanya balik, kamu tahu dari mana.” Aren melongo. “Alamanda... yang kamu omongin pas di kafe...” Nada mengangguk. “Yap.” “Kamu tahu dari mana? Dan apa hubungannya itu sama muka kamu yang jadi glowing?” Bel tanda pukul 7 telah tiba dibunyikan. “Ada yang akan kuceritain, tapi nanti. Ini udah mau bel jam 7. Yang jelas, semua bakal sangat mengguncang keimananmu, andai kamu tak lantas jadi edan begitu mendengarnya.” Ia telah hendak menonaktifkan ponselnya, tapi kemunculan satu pesan dari Nathan membuatnya belok sebentar ke aplikasi itu. Isinya singkat, dan agak misterius, Jam istrht kutunggu di kantor sekuriti Alisnya berkerut. Kantor sekuriti? Ada urusan apa cowok itu mengajaknya ke sana? Aneh.   ***   Yang disebut kantor sekuriti sebenarnya adalah kantor merangkap ruang istirahat satpam sekolah, yang dijabat seorang pria besar berkumis tebal bernama Pak Suyamto. Dia juga yang bertugas mengunci pintu gerbang sekolah dan membunyikan bel tanda pelajaran dimulai pukul 7 pagi. Nada dan Aren pernah nyaris terlambat satu kali, pada zaman mereka kelas X dulu. Gara-garanya, ada tabrakan di dekat pasar, sehingga jalanan macet dan mereka terpaksa turun dari angkot untuk berlari-lari melintasi jarak hampir 800 meter dari lokasi kecelakaan ke sekolah. Namun meski situasi ngeri karena mereka harus berkejaran dengan tangan Pak Yamto yang menutup gerbang, raut wajah pria itu justru menunjukkan sebaliknya. Bagi Nada, Pak Yamto seperti selalu sedih dan nelangsa, tapi bukan yang mengundang simpati, melainkan justru yang terasa lucu, seperti air muka Dodit Mulyanto yang saat cemberut dan serius pun selalu mengundang tawa. Kantor Pak Yamto berlokasi di sudut paling belakang gedung sekretariat sekolah, tak jauh dari ruang cleaning service dan tepat di belakang ruang guru. Saat Nada masuk, ia melihat wajah sedih Pak Yamto di sana. Pria itu duduk menghadapi satu unit komputer dengan layar terbagi empat—citra dari kamera-kamera CCTV yang terpasang di titik-titik strategis kompleks SMA 29. Nathan berdiri di sisi kursi Pak Yamto, terlihat luar biasa gembira bahwa Nada telah tiba di ruangan tersebut. “Nah, sini, sini, Nad! Kamu harus lihat ini.” Nada beringsut mendekat, memosisikan diri di sisi Pak Yamto pada arah yang berlawanan dengan Nathan. “Lihat apaan?” tanya dia penasaran. “Mainkan, Pak Yamto!” Nathan menoleh pada Pak Yamto. Yang ditoleh malah melihat pada Nada. “Nada harum banget,” katanya polos. “Wanginya sedep.” Nathan juga mengamati Nada, sekilas menyempatkan diri memandangi lekat-lekat wajah gadis itu. “Iya nih. Kamu barusan mandi lagi ya, Nad?” Sambil berkerut dahi, Nada spontan membaui lengan dan keteknya sendiri. “Wangi piye sih? Aku justru sudah akan bau kecut karena keringetan. AC di kelas agak soak hari ini.” “Tapi beneran wangi kok, Nad,” tukas Pak Yamto. “Saya ndak bohong. Parfumnya kece.” “Ini kenapa malah membahas bau badanku? Mana tadi katanya yang mau dimainin?” “Oh, iya,” Pak Yamto seketika mengalihkan wajahnya ke arah monitor komputer. Dengan gerakan terlatih ala tokoh hacker di film eksyen Amerika, pria itu memencet-mencet keyboard sehingga kini layar tak terbagi empat, melainkan fokus pada satu angle kamera tertentu. Nada menyorongkan wajah ke depan karena perlu waktu mengenali itu area yang mana dari sekolah ini. “Ini kamera CCTV yang dipasang di seberang gedung koperasi sekolah,” penjelasan Nathan membuat Nada dengan cepat mengenali lokasi yang terlihat di layar. “Dari sini, kita bisa lihat dua arah sekaligus, yaitu jalan yang dari kantor sini dan yang dari arah pintu gerbang depan. Perhatikan!” Rekaman kamera diputar. Ada banyak angka-angka di bagian tepi layar, menunjukkan hari, tanggal, dan waktu saat rekaman diambil. Nada tengah akan mengira-ira itu hari apa tepat ketika ia melihat dirinya sendiri terlihat di layar. “Loh, itu aku sama Benu!” katanya. “Iya. Dan ada aku dari sisi satunya lagi, yang nggak terlihat dari arah kedatanganmu.” Memang benar. Sedetik kemudian terlihat sosok Nathan berlari-lari belingsatan dari arah satunya lagi. Cowok itu membawa setumpuk buku. Ia sungguhan berlari, mirip Lalu Muhammad Zohri tengah berburu medali emas di track lari 100 meter Olimpiade. Tepat di sudut gedung koperasi ia menabrak sosok mungil Nada. “DHUAR!” teriak Pak Yamto memberi efek suara pada kejadian itu. Begitu tumbukan terjadi, Nathan mencelat ke arah belakang. Buku-buku berhamburan dan ia menabrak tempat sampah besar hingga seluruh isinya berceceran. Nada sendiri di rekaman itu terlihat hanya melongo sambil celingukan, baru kemudian berlari menghampiri Nathan bareng Benu. “Nah, lihat kan? Aku yang nabrak kamu, bukan sebaliknya.” Nada melongo. Mata menatap layar, yang kini menampakkan gambar freeze karena rekaman di-pause oleh Pak Yamto. “Eh... oh...” “Masih ragu? Ulangi lagi, Pak Yamto!” Pak Yamto memundurkan waktu 10 detik, dan kemudian memutarnya kembali. Hasilnya tentu saja sama. Nathan nabrak, lalu mencelat menimpa tempat sampah. “Pertanyaannya tetap sama. Aku yang nabrak, kenapa malah aku juga yang nyungsep? Dan kamu tetap segar bugar baik-baik saja. Geser dikit juga enggak. Padahal kalau itu terjadi pada anak perempuan lain, dia pasti terlempar seenggaknya empat atau lima meter, soalnya waktu itu aku bener-bener lari.” Nada garuk-garuk kepala. Mata menatap bergantian pada Nathan, Pak Yamto, dan Nathan lagi. Ia bukannya tak tahu jawabannya. Hanya saja, ia tak tahu cara menceritakannya ke mereka. “Nada pasti belajar ilmu kanuragan,” gumam Pak Yamto, sok yakin. “Apaan itu, Pak?” tukas Nathan. “Itu, ilmu kesaktian di pencak silat. Biasa dipelajari murid-murid perguruan silat Setia Hati, Bangau Putih, atau Sinar Bumi. Trus mereka bisa ilmu kebal, bisa setir mobil dengan mata tertutup, ajaib lah pokoknya!” Nathan terpana, menatap Nada. “Beneran, Nad?” Nada masih memasang tampang bloon. “Aku... aku malah ke salon...”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD